Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Di ikuti


__ADS_3

"Untuk apa pak Hermawan memberi racun pada Clarisa ?" tanya pak Adam dengan ketakutan.


"Karena itu yang saya inginkan, dari Clarisa. Kalian bertiga tidak usah banyak bertanya. Sebaiknya lakukan apa yang saya perintahkan, kalau kalian masih ingin tinggal di sini, sebaiknya jangan banyak tanya lagi, mengerti kalian ?"


Pak Hermawan kemudian berdiri dan hendak pulang.


"Saya permisi dulu. Ingat Nadia lakukan tugasmu dengan baik. Atau tidak kau oulang dari karantina nanti, kau sudah tidak melihat ke dua orang tuamu." Ancam pak Hermawan, setelah itu dia pulang.


Sepulangnya pak Hermawan dari rumah mereka. Nadia merasa ketakutan dengan tugas itu.


"Pi, Nadia gak mau akh melakukan itu. Masa tangan cantik aku harus rusak ?"


"Terus, kamu mau tidak melihat papi dan mami lagi ?" tanya mami Nadia.


"Bukan begitu mi, tapi Nadia takut. Ini itu merupakan kejahatan yang tidak main-main."


"Trus sekarang kita bagaimana ? kita sudah terlanjur melakukan kerjasama dengan pak Hermawan." ucap papi Nadia bingung.


"Kita pergi aja dari sini pi ! Kita tulis surat kalau kita membatalkan kerjasama itu. Mami takut, mami gak mau Nadia kenapa-napa karena tugas itu. Nadia gak mungkin bisa melakukannya pi." pinta bu Herni dengan wajah bingung.


"Iya pi ! apa yang mami bilang benar. Aku memang benci dengan Clarisa, tapi kalau sampai mau membunuhnya aku takut. Kalau cuma mau memberikan Clarisa pelajaran, aku masih bisa melakukannya."


"Trus kita mau kemana ? Kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Usaha papi hampir bangkrut bahkan mungkin sudah bangkrut. Rumah kita sudah lama disita. Sekarang kita mau kemana ?"


Pak Adam, bu Herni dan Nadia, terdiam mereka bertiga merasa bagaikan buah simalakama, mau mundur gak punya apa-apa, mau maju resikonya besar.


"Begini saja, Nadia kau tidak usah melakukan itu. Biar semua papi yang urus. Papi akan bicara sekali lagi dengan pak Hermawan."


"Benar pi ?" tanya Nadia senang.


"Kita cukup membawa Clarisa ke hadapan pak Hermawan, selanjutnya biar pak Hermawan sendiri yang melakukannya. Kalau Clar mati di tangan Hermawan, banyak keuntungan yang kita dapatkan."


"Keuntungan ? apa itu pi ?" tanya istri pak Adam.


"Pertama kita gak akan terlibat dengan pembunuhan itu, kedua kalau Clar berhasil dilenyapkan itu artinya semua harta Clar akan jatuh ke tangan kita.? Gimana ? hahahaha." ungkap pak Adam sambil tertawa sombong.


"Waahh mami gak nyangka otak papi cerdas juga, hahaha."


"Kalau begitu, ini papi ambil racunnya. Nadia takut pegangnya."


"Besok sebelum antar Nadia masuk karantina kita akan ke rumah pak Hermawan."


"Kita ? artinya mami sama Nadia juga ?" tanya istri pak Adam.


"Ya iyahlah mi, papi gak berani sendiri, atuutt !" kata pak Adam dengan wajah melas.


Nadia dan maminya melengos masuk kembali melanjutkan makan malam mereka yang tertunda.


...***...


"Clar bangun !" Ardan menepuk-nepuk pelan pipi istrinya.


Clarisa membuka matanya malas, kemudian dia menggeliat untuk mengumpulkan nyawanya kembali.


"Kamu udah pulang mas ? emang ini jam berapa ?"


"Jam setengah 7 malam."


"Apaa?! Ya ampuun kok bisa aku tidur selama itu ?"


Ardan hanya mengangkat bahu.

__ADS_1


" Aku mau mandi dulu ." Ucap Clar kemudian turun dari tempat tidur dan mengambil handuknya. Dia tidak sadar kalau Ardan mengikutinya dari belakang dan masuk bersama dengan dia ke kamar mandi.


Setelah pintu kamar mandi terkunci, dia berbalik dan kaget melihat Ardan sudah berada di dalam bathtup sambil tersenyum genit.


"Maas kapan masuknya ? bukannya tadi di luar ?" tanya Clarisa kebingungan.


"Akukan masuk bersamamu tadi, masa kau tidak ingat ?"


"Yah sudah kalau begitu aku nanti saja mandinya." ucap Clarisa.


Clarisa hendak berbalik, tapi Ardan menahan tangannya dan menariknya jatuh ke dalam bathtup bersama dia.


"Maas apaan sih ? handukku basah."


"Gak apa-apa nanti aku ambilkan handuk yang lain lagi. Sudah terlanjur basah, jadi kita mandi sama-sama, hehehe."


"Gak mauuu !!" teriak Clar.


"Ssstt...jangan teriak-teriak nanti mama dengar. Kalau mama dengar habis kita digodain."


Clarisapun pasrah, malam ini mandi bersama Ardan.


...***...


Ritual mandi bersama yang biasa dilakukan Clar hanya memakan waktu 15 menit, tapi kali ini memakan waktu 30 menit.


Clarisa masih duduk diam di tepi ranjang tempat tidur, dengan handuk kimono dan handuk yang melilit di kepalanya.


Dia melihat Ardan kesana kemari berganti pakaian sambil bersiul. Tanpa merasa malu dan risih di depan Clarisa.


Clarisa melipat ke dua tangannya, dan memutar bola mata malas, melihat gaya suaminya yang bersiul terus.


Ardan bersiul terus karena bahagianya. Bagaimana tidak ? meskipun belum sepenuhnya dia dapatkan dari Clar, tapi setidaknya sudah bisa menuntaskan sedikit hasratnya di kamar mandi tadi.


" Lho memangnya kenapa ? "


"Aku mau ganti baju."


"Yah sudah tinggal ganti juga kan ?"


"Aku ganti di kamar mandi aja."


" Eitts tidak boleh ! di sini saja." ucap Ardan yang menghalangi langkah istrinya.


"Iiihh mas !" Clar merasa kesal sekali, dia menunduk berpura-pura menangis. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Ardan panik mendengar tangis Clar, " Eh jangan nangis ! Aku minta maaf Clar, ya sudah kau ganti di kamar mandi."


Clarisa tersenyum di balik tangannya. Dia bergegas masuk ke kamar mandi.


" Huuh..memang susah menikah dengan anak-anak, bawaannya takut terus." Gerutu Ardan, kemudian keluar kamar untuk makan malam.


5 menit kemudian Clarisa menyusul ke meja makan.


Bu Rani mengulum bibirnya, menahan senyum melihat suami istri di depannya dengan keadaan rambut yang basah sehabis keramas.


"Hmmm...pantasan kalian lama mama tungguin, rupanya lagi keramas berjamaah toh." Goda bu Rani.


Ardan dan Clarisa jadi salah tingkah.


"Mm..mas sini aku ambilin." ucap Clarisa dan mengambilkan makanan di piring Ardan, untuk menghilangkan groginya.

__ADS_1


...***...


Keesokan paginya, Clarisa sudah siap untuk masuk ke karantina School Idol.


"Semangat ya sayang semoga berhasil. Mama mendukungmu, nanti setiap kamu tampil mama pastikan akan datang."


"Makasih ma." ucap Clarisa, dia memeluk mama mertuanya.


Setelah itu Ardan mengantar istrinya ke tempat yang akan menjadikan cita-cita istrinya terwujud.


"Clar nanti kalau di sana jangan lupa selalu kasih kabar ke aku."


"Iya."


"Ingat jangan banyak makan. Aku suka kamu kayak sekarang."


"Maksudnya ?"


"Lupakan ! Oh iya Clar, apapun yang diberikan Nadia jangan pernah kau mengambilnya !"


"Iya !"


Mobil Ardan seketika berhenti, karena lampu di perempatan jalan berganti menjadi warna merah.


Clarisa mengedarkan pandangannya melihat di depan dan pinggir jalan.


Tiba-tiba dia membulatkan matanya karena kaget. Clarisa melihat dari kaca spion di samping pintu mobil, sepertinya dia mengenal seseorang di belakang mobil mereka.


Orang itu menaiki motor besar. Meskipun dia memakai helm dan kacamata. Tapi gaya orang itu sudah dikenalnya.


"Mas…mas ! Dibelakang kita itu sepertinya Yudi, orang yang sudah mau menculikku 2x."


Ardan melihat seseorang yang di maksud Clarisa melalui kaca spion.


Sepertinya yang dibilang Clarisa benar.


"Mas, jangan-jangan dia ikutin kita. Aku takut mas !" ucap Clarisa dengan wajah yang cemas.


"Udah tenang aja, kamu jangan panik." Ardan mencoba menenangkan Clarisa.


Tiba-tiba lampu berganti menjadi hijau. Ardan segera menginjak gas dan melajukan mobilnya ke arah tujuan mereka.


Ardan sesekali melihat kebelakang melalui kaca Spion di depannya.


'Sepertinya mereka memang sedang mengikuti.' Gumam Ardan dalam hati.


Ardan kemudian mengambil hp, dan menelfon salah satu rekannya.


Setelah menjelaskan kepada temannya, Ardan kembali fokus menyetir.


"Berarti benarkan ? mereka ikutin kita. Aku takut mas !" Raut wajah Clarisa benar-benar panik.


"Tenang Clar, ada aku !"


Tiba-tiba Ardan terpaksa ngerem me ndadak. Mobil yang mengikuti mereka sudah berada didepan.


Clarisa semakin cemas, "Ardan jangan keluar ! " pintanya.


"Kau tenang ya, jangan kau buka pintu mobilnya, meskipun mereka menyuruhmu keluar. Saat aku keluar, cepat kunci mobilnya. Sebentar lagi temanku juga datang. Oke !"


Clarisa mengangguk. Ardan kemudian keluar dari mobilnya. Clarisa dengan gerakan cepat mengunci semua pintu mobil.

__ADS_1


"Ardaaaaan awaas !" teriak Clarisa dari dalam mobil.


__ADS_2