
Tubuh Vanya terpental jauh, Rangga berlari ke arah Vanya. Dia membalikkan tubuh Vanya, darah keluar dari hidung dan telinganya.
Vanya masih tersadar, mukutnya sempat berucap tolong pada Rangga, di rangkulnya tubuh yang penuh darah itu.
"Bertahanlah !" ucap Rangga sambil sesegukkan, dia mengangkat tubuh gadis yang selama ini berada di hati dan pikirannya.
Dia menggendongnya masuk ke dalam mobilnya. Segera dia tancap gas menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Rangga menggendong tubuh Vanya, dia masuk ke ruang UGD.
"Susteer...tolooong !" teriak Rangga kemudian dia membaringkan tubuh Vanya di brankar.
Para suster bergerak cepat menangani Vanya. Tidak berapa lama dokter datang, melakukan tindakan.
Rangga terlihat frustasi di samping Vanya.
"Vanya bertahanlah, aku mohon !" ucapnya sambil terus menangis.
"Maaf mas sebaiknya tunggu di luar dulu ya. Biar dokter memeriksa pasien." ucap salah satu suster yang ada di situ.
"Dok ! lakukan yang terbaik untuk teman aku dok !"
"Iya mas sabar ya, kami akan berusaha. Silahkan mas tunggu di luar."
Rangga melangkah keluar dan menunggu di depan ruang UGD.
Rangga tiba-tiba teringat sesuatu, dia segera ke mobilnya mengambil handphone Vanya yang ada di tas. Kemudian menghubungi pak Damar.
...***...
Selesai sarapan Ardan pamit untuk pergi ke kantor.
"Hari ini kau tidak kemana-mana Clar ?" tanya bu Rani.
"Enggak ma, aku mau di rumah aja."
"Bagus kalau begitu, hari ini kita bikin kue ya. Mama habis dapat resep baru."
"Siap ma !"
Clarisa segera membersihkan meja makan dan mencuci piringnya.
"Lho non Clar biar bibi saja yang cuci."
"Gak apa-apa bi aku sudah biasa cuci piring. Bibi kerjain yang lain aja yah."
Bu Rani yang sedari tadi memperhatikan anak menantunya dari jauh tersenyum.
"Pintar juga Ardan cari istri, meskipun masih sekolah dia gak malas."
Haduh bu Rani, itu karena anak menantumu jadi Clarisa. Coba jadi Airin, bu Rani pasti tiap hari elus dada. Bangun suka telat, malas bantu cuci piring, gak pintar masak. Masak nasi di ricecooker saja dia tungguin. Haduuhh , angel wes angeell !!!
...***...
Ardan sampai dirumah duka, dia melihat semua teman-teman kepolisian sudah berada di sana.
Salah satu teman Ardan, memberitahunya tentang musibah yang di alami Vanya.
"Ardan kau sudah dengar tentang anaknya pak Damar!"
"Belum, ada apa ?"
"Kemaren anaknya kecelakaan."
Ardan terkejut mendengar berita itu, "Hah Vanya maksudmu ? " tanya Ardan tidak percaya.
"Iya kemaren sore sebelum kejadian baku tembak di lapas."
"Trus bagaimana keadaan Vanya sekarang ?"
"Saya tidak tau. Memangnya pak Damar tidak cerita semalam waktu kalian ketemu di kantor?"
Ardan menggeleng, "pak Damar tidak cerita apa-apa. Cuma semalam dia kebanyakan diam. Aku pikir karna kejadian dilapas."
"Sebaiknya kau pergi menjenguknya, karena kaukan hampir jadi mantunya lalu."
__ADS_1
"Oke, aku ke rumah sakit dulu. terima kasih bro infonya !" ucap Ardan.
Ardanpun beranjak dari duduknya setelah pamit dengan keluarga temannya. Kemudian segera mengemudikan mobilnya ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit dia ke bagian informasi untuk menanyakan keberadaan Vanya.
"Pasien atas nama Nona Vanya, ada di ruang ICU pak."
"Oh iya terima kasih."
Ardan bergegas ke ruang ICU.
Sampai di sana dia terkejut dengan apa yang dia lihat.
Rangga ! Pria yang sudah merubah takdir cinta antar Vanya dan dirinya.
"Kau ? kenapa bisa ada disini ?" tanya Ardan.
" Kemaren aku yang membawa Vanya ke rumah sakit."
"Terus dimana pak Damar ?"
"Dia ada di dalam."
"Bagaimana keadaan Vanya ?"
"Dia belum sadar !" jawab Rangga dengan wajah sedih. Dia kemudian duduk dikursi dengan menunduk.
Tiba-tiba dokter datang tergesa - gesa memasuki ruang ICU.
Tidak berapa lama, pak Damar keluar dengan wajah sedih dan panik. Ardan sangat prihatin melihat kondisi pak Damar.
"Ardan ? kau disini ?"
"Iya pak ! aku dengar dari Roni. Bagaimana keadaan Vanya pak ?"
"Dia masih belum sadar, tadi dia tiba-tiba sesak nafas." ungkap pak Damar sedih.
Pintu ruang ICU terbuka, dokter keluar dan memberitahu kalau pasien masih memerlukan sekantong darah lagi.
"Om, aku akan tanya teman-teman semoga ada yang cocok dengan darah Vanya." Ucap Rangga menawarkan bantuan.
Pak Damar mengangguk, sebenarnya pak Damar masih tidak suka dengan Rangga. Hanya saja, saat ini buat dia tidak ada gunanya mempertahankan ego. Untuk itu, dia tidak pernah marah melihat Rangga yang masih setia menunggu bahkan membantu putrinya.
"Memangnya golongan darah Vanya apa pak ?"
"Rhesus negatif dan itu langkah Ardan."
Ardan kemudian berpikir, dia ingat saat dia menyamar jadi anak sekolah dulu, para murid ada kegiatan melakukan pemeriksaan golongan darah. Ada 3 murid yang golongan darahnya Rhesus negatif. Salah satunya Clarisa.
"Pak aku tau siapa yang punya golongan darah sama."
"Siapa ?"
"Clarisa !"
"Clarisa ? kau yakin dia mau ?"
Ardan tersenyum, "aku mengenal dia dengan baik pak. Bapak tenang saja, aku akan membawanya kemari."
...***...
Clarisa yang lagi asyik buat kue dengan mama mertuanya, tiba-tiba di ganggu oleh telfon Ardan.
"Ya ada apa mas ?"
"Kamu bisa ke rumah sakit Harapan Indah gak sekarang ? Aku butuh bantuanmu ."
"Rumah sakit ? Mas kenapa ?" tanya Clarisa kaget dan panik.
"Bukan aku ! tapi Vanya. Dia kecelakaan, saat ini kondisinya kritis. Dia membutuhkan donor darah. Golongan darahnya sangat langkah."
"Golongan darah apa mas ?"
"Rhesus negatif dan aku tau golongan darahmu sama."
__ADS_1
"Aku ?"
"Iya kamu ! mau ya ?"
"Aku takut jarum mas. Aku gak mau !"
"Kau gak usah takut, ada aku. Kasian Vanya, dia saat ini sedang berjuang. Bantulah dia !"
Clarisa menarik nafas, " huuft...baiklah. Aku ke sana sekarang !"
"Ada apa ?" tanya bu Rani setelah Clarisa menutup telfon.
"Vanya kecelakaan ma, dia butuh darah. Kebetulan golongan darahku sama dengan dia. Mas Ardan menyuruhku untuk membantunya."
"Oh kasian sekali dia. Yah sudah mama temani kamu kesana."
"Makasih ma"
...***...
25 menit kemudian, Clarisa dengan bu Rani datang.
Pak Damar menyambut bahagia kedatangan Clarisa.
"Clar terimakasih ya, sudah mau membantu putriku."
"Iya pak sama-sama", ucap Clar tersenyum.
'Benar kata mas Ardan, aku harus membantu Vanya. Kasihan sekali wajah pak Damar.' Bathin Clarisa sedih.
"Kalau begitu, ku antar ke ruangan donor darah." Ajak Ardan.
Clarisa mengikuti Ardan dari belakang. Dia antara kasian dan takut. Kasihan lihat kondisi Vanya dan pak Damar, tapi sangat takut dengan jarum suntik.
Sampai di depan ruangan, Clarisa menarik tangan Ardan.
"Aku takut mas !" ucap Clarisa dengan wajah takutnya.
"Gak apa-apa, hanya sakit sebentar habis itu sudah gak. Oke ?"
Ardan meyakinkan Clarisa, dia memegang tangan istrinya yang dingin.
Clarisa menarik nafas dalam, mencoba mengusir ketakutannya.
Mereka berdua masuk ke dalam menemui dokter yang akan memeriksa dan mengambil darah Clarisa.
"Permisi dok ! " sapa Ardan.
Dokter itu berbalik, seketika mata Clarisa berbinar melihat dokter yang begitu tampan di depannya.
Dokter itu tersenyum, "siapa yang mau diambil darahnya?"
"Aku dok !" jawab Clarisa cepat, lebih cepat dari Ardan yang baru mau membuka mulutnya.
Ardan kaget melihat tingkah Clarisa, yang sepertinya sudah terhipnotis dengan ketampanan dokter di depannya.
Ardan merasakan cemburu luar biasa, dia langsung memegang tangan Clarisa.
"Iya dok ini istri aku, mau mendonorkan darahnya untuk pasien atas nama Vanya." ucap Ardan yang sengaja menyebut kata istriku, agar Clarisa gak kecentilan di depan dokter itu.
Clarisa tersenyum, dia tau Ardan cemburu.
"Oke sebentar ya, saya ambil alatnya dulu. Silahkan duduk dulu pak, bu !"
Ardan kemudian berbisik, " Gak usah kecentilan sama dokter, ingat kamu itu sudah bersuami."
" Yaelah mas, hal yang wajar kali. Ini mata kalau liat yang bening-bening pasti berbinar. Kalau liat yang sepet baru dia merem, hehehe." Clarisa semakin menggoda Ardan.
Ardan baru mau membalasnya, dokter itu sudah datang.
"Oh iya bu nanti yang ambil darahnya, teman saya ya. Soalnya saya ada urusan sebentar. Nah itu dia teman saya sudah datang."
Clarisa dan Ardan berbalik, nampak seorang laki-laki berwajah bemo memakai kacamata dan kemeja kotak-kotak, tidak lupa sisiran rambut klimis belah samping masuk ke ruangan.
"Pait..pait..pait." Ucap Clarisa sambil merem.
__ADS_1
Ardan tersenyum penuh kemenangan.