Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Aku Sudah Mencintainya


__ADS_3

Pagi ini Clarisa masih berada di balik selimut.


Aktingnya semalam benar-benar menguras tenaganya.


Drrrrt...


Drrrt...


Drrrtt...


Clarisa meraba-raba hp di nakas samping tempat tidurnya. Dia meraih hp dan mengangkat tanpa melihat siapa yang menelfon.


"Mmm...hallo !" sapa Clarisa dengan malas.


"Claaar ! kau belum bangun ? Ya ampuun ! Lihat jam berapa sekarang ?" Ucap Ardan di seberang telfon.


Clarisa melihat jam di dinding kamarnya.


"Masih jam 7. Lagian inikan hari minggu !"


"Apa kau lupa Clar ? pagi ini kita sudah janji berolahraga. setelah itu kau latihan nyanyi."


"Ok baiklah ! Aku siap-siap dulu."


Sambungan telfon pun terputus. Clarisa bangkit dari tempat tidurnya dengan rasa malas.


"Ya ampun ! Badanku sakit semua. Pura-pura kesurupan aja capeknya bukan main. Gimana yang kesurupan beneran ?" Clarisa tertawa sendiri sembari mengingat aksi dia melawan paman, bibi dan sepupunya.


Setengah jam kemudian, Clarisa sudah siap untuk pergi berolahraga dengan Ardan di taman kota.


Clarisa turun dari kamarnya. Dia melihat tidak ada anggota keluarga yang selalu ramai di pagi hari.


"Kemana mereka ? apa masih tidur ?"


Clarisa menepuk jidatnya sendiri.


"Ya ampun ! Aku lupa, mereka kan di gudang."


Clarisa segera melangkah ke arah gudang. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, mengingat sesuatu yang harus dia lakukan, sebelum bertemu dengan mereka bertiga.


Di dalam gudang, paman Adam, bibi Herni dan Nadia nampak tidak karu-karuan.


"Iihhh mi, Clarisa kemana sih ? kita kapan keluar dari sini ? Nadia udah gerah nih ! Belum lagi badan Nadia sakit semua, akibat dipukul pakai sapu."


Bibi Herni dan paman Adam hanya diam, tidak menggubris."


"Huuuaahiks..hiks..hiks.. wajahkuuu periihh !! hiks..hiks.." Bibi Herni menangis sambil meraba-raba wajahnya.


"Sudah jangan nangis ! setelah kelaur dari sini, kita ke dokter !" Bujuk suami bi Herni.


Nadia yang bersandar dikursi tiba-tiba kaget ketika mendengar suara dari belakangnya.


Ciitcitcit,,,cciitcciit !


Nadia merasakan ada sesuatu uang berjalan dari belakangnya, yang kemudian sesuatu itu dia rasakan sudah berada di kepalanya.


Nadia memanggil ke dua orang tuanya pelan dan ketakutan. Dia mencoba diam, agar sesuatu yang berjalan itu tidak bergerak berpindah turun ke wajahnya.


"Miii !!! Piii !!!"

__ADS_1


Kedua orang tuanya menoleh dan terkejut melihat seekor tikus berada di kepala Nadia.


"Ti..ti..tikuuuusss!!!" Teriak ke dua orang tuanya bersamaan.


Seketika itu Nadia teriak dan langsung berdiri melompat. Tikus itu meloncat berpindah ke arah bi Herni.


Bi Herni dan pak Adam melompat-lompat menghindari tikus itu. Mereka mengusir tikus itu dengan melemparkan apa saja yang ada di dekat mereka.


Tikus itu semakin mendekat ke arah mereka.


Tanpa sadar Bi Herni dan Pak Adam naik ke atas kursi.


Melihat tikus bergerak ke arahnya, Nadia pun spontan melompat naik ke atas kursi bersama ke dua orang tuanya.


Mereka bertiga saling berpeluk di atas satu kursi.


Seketika itu juga, Clarisa membuka pintu gudang. Dia kaget melihat satu keluarga itu berdiri ketakutan, di atas kursi sambil berpelukkan.


Suasana hening, mereka semua saling pandang dan..


Bruuukkk!!!


Satu kaki kursi patah. Ketiga orang yang berada diatasnyapun jatuh.


" Aaakkhhhh!!" teriak mereka bersamaan dan posisi mereka saling tindih.


Clarisa ingin tertawa lebar melihat pemandangan di depannya. Tapi segera dia menahannya.


Paman Adam, Bibi Herni dan Nadia kemudian bangun dari jatuhnya. Mereka meringis kesakitan.


"Claaar !! Kenapa kau lama sekali membuka pintu gudang ini? Hah ? Kau.." Marah bi Herni yang kemudian tangannya ditahan oleh suaminya.


Bi Herni seketika sadar, dan kemudian melembutkan suaranya.


"Claar, apa kau sudah sadar ? Kau sudah ingat siapa kamikan ?" tanya bi Herni dengan suara lembut.


"Kalian paman dan bibiku !" jawab Clarisa tersenyum manis.


"Emangnya ada apa bi ? Terus kalian kenapa bisa terkunci di gudang ini ?" tanya Clarisa yang berpura-pura tidak mengetahui kejadian semalam.


"Ya Ampuun bii !! wa..wajahmu kenapa bisa begitu ?"


"Kau lupa Clar ? Kau yang sudah mencakar mami secara brutal !" terang Nadia


"Aku ? mana mungkin ? aku saja gak punya kuku. " Ucap Clarisa sambil menunjukkan kuku-kukunya yang pendek.


'Untung saja sebelum membuka pintu gudang ini, kuku-kuku ku sudah ku potong' ucap Clarisa dalam hati.


Ketiga orang itu melihat kuku Clarisa yang pendek. Kemudian mereka bertiga saling pandang.


"Berarti yang mencakar muka mami jangan-jangan kuku setan yang masuk ke dalam tubuh Clar !" terka Nadia. Membuat Bi Herni merinding ketakutan.


"Memangnya ada apa sih ?"


"Ah gak kenapa-napa Clar. Oh iya kau mau kemana pagi-pagi begini sudah rapi ? Inikan hari minggu ?" Tanya paman Adam.


"Aku mau berolahraga, trus latihan nyanyi. Yah sudah kalau begitu, aku pergi dulu."


Usai pamit Clarisapun berlalu, dia berlari cepat menuju taman kota.

__ADS_1


"Mamiii!! Clar benar-benar sudah mempersiapkan dirinya. Nadia gak mau kalah !" Gerutu Nadia.


"Yah sudah kalau begitu, kau cepat bersiap trus berolahraga, habis itu pergi latihan nyanyi !" Ucap bi Herni.


"Tapii, badan Nadia sakit semua mi, habis digebukin Clarisa pake sapu." ujar Nadia manyun.


"Kalau begitu, kamu di rumah saja istirahat. Papi mau ke rumah sakit dengan mamimu. Papi mau periksa tangan papi, sakit sekali di gigit Clarisa."


"Iya pi, wajah mami perih !"


Mereka bertigapun keluar dari gudang dengan keadaan yang kacau balau.


Di taman kota, Ardan duduk sambil melihat jam tangannya.


"Duuh tuh anak udah hampir jam 8 belum muncul-muncul juga !"


Tiba-tiba, mata Ardan ditutup dari belakang oleh sepasang tangan.


Ardan meraba telapak tangan yang menutup matanya. Tangan itu seperti berbeda dari terkaan Ardan.


"Ini siapa ?"


"Coba terka ! Aku siapa ?"


Ardan seperti mengenal suara itu, tapi dia tidak yakin dia orangnya.


Lama Ardan diam membuat pemilik tangan yang menutupi mata Ardan kesal.


"Ardan ! kamu lupa sama aku ?" Tanya gadis itu yang sekarang sudah berdiri di depannya.


"Vanya ? Ka..kau kapan datang ?"


" Semalam, tadi pagi aku ke rumahmu. kata mamamu kau di sini. Jadi ya aku kemari ! heheh"


Ardan tertawa ringan, sedang gadis di depannya langaung menggandeng tangannya.


"Ardan ? bagaimana dengan Clarisa ? apa kau masih menjalankan rencanmu ?"


"Entahlah !!!"


"Jangan katakan, kalau kau sudah jatuh cinta dengan gadis gemuk itu hahahah !!"


Entah kenapa, Ardan merasa jengkel mendengar tawa Vanya.


Dia merasa tidak suka Clarisa di katakan gemuk.


"Sebaiknya kau pulang ! Aku tidak ingin Clarisa melihatmu ."


"Jadi ? kau janjian dengan wanita gemuk itu di sini ?"


"Dia punya nama Vanya !"


"Wwaaahh kau sepertinya sudah benar-benar mencintainya, hahahah !"


Ardan terdiam, dia tidak menanggapi kata-kata Vanya.


"Oke ! Aku akan pergi. Tapi ingat Ardan, kau jangan sampe jatuh cinta kepada Clarisa."


Ucap Vanya dengan menatap tajam ke arah Ardan.

__ADS_1


'Tapi aku sudah mencintainya !' ucap Ardan dalam hati.


__ADS_2