Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Tugas Untuk Nadia


__ADS_3

"Pak ! Bu ! kenalkan ini rekan saya yang akan membantu ibu mendonorkan darah. Namanya pak Risik." ucap dokter tampan itu memperkenalkan.


Clarisa dan Ardan tersenyum pada bapak di depan mereka.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya." pamit dokter yang wajahnya sebening kristal itu, kemudian berlalu.


"Siapa yang mau mendonor ? " tanya pak Risik.


"Ini istriku pak !"


"Silahkan bu naik ke tempat tidur." ucap pak Risik mempersilahkan Clarisa untuk berbaring di tempat tidur.


Ardan berdiri di samping Clarisa, memegang tangan Clar yang sudah keringat dingin.


Pak Risik mulai melakukan penindakan pada Clarisa.


"Pak kalau boleh tahu nama panjangnya bapak siapa ?" tanya Clarisa tiba-tiba.


Pak Risik hanya melihat sekilas pada Clarisa, dan tetap diam tanpa ekspresi.


"Mmm, kalau aku boleh tebak pasti nama panjangnya bapak BERISIK hahaha." Ledek Clarisa kemudian tertawa.


Ardan melihat lelucon Clarisa merasa khawatir, kalau-kalau pak Risik tersinggung dan bertindak kasar pada istrinya.


Pak Risik kemudian memasukkan jarum ke tangan Clarisa dengan kasar.


"Aaawww...aduh pak sakiiit. Pelan-pelan saja kenapa sih ?"


Tuh kan ! yang Ardan khawatirkan benar.


"Biar kamu berhenti tertawa. Kalau lagi mendonorkan darah itu, jangan suka tertawa terbahak-bahak, biar darah kamu gak beku. Kalau sampe darah kamu beku, kamu bisa mati dalam keadaan mulut terbuka karena tertawa. Paham ?"


"Iihh emang ada kayak begitu ?" balas Clarisa dengan bibir manyun.


Ardan mengulum bibirnya menahan senyum, melihat tingkah Clar dan pak Risik.


Setelah selesai memasang alat untuk mengambil darah ditangan Clarisa, pak Risik berdiri dan hendak keluar ruangan.


Sebelum keluar pak Risik berbalik, "oh iya, nama panjang saya BRYAN RISIK ADAM, permisi !"


Laki-laki dengan gaya rambut klimis itupun segera keluar ruangan.


Clarisa dan Ardan saling pandang, setelah Pak Risik tak nampak di mata mereka. Sepasang suami istri itu tertawa.


"Aku gak nyangka, namanya sebagus itu. Kenapa gak dipanggil Bryan aja ya ?"tanya Ardan, dengan sisa-sisa tawanya.


"Merasa gak cocok dengan wajah kali mas hahaha."


"Huussh kamu gak boleh ngomong kayak gitu."ujar Ardan sambil menutup mulut Clarisa dengan telunjuknya.


"Iya mas Maaf !"


...***...


Selesai mendonorkan darah, Clarisa dan Ardan kembali menemui pak Damar.


"Clarisa terimakasih ya nak, kamu sudah mau menolong anak saya."


"Iya pak sama-sama !" Balas Clarisa sambil tersenyum.


"Oh iya pak, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Clarisa dengan hati-hati pada pak Damar.


"Iya boleh. kamu mau tanya apa?"


" Apa penjahat yang tertangkap di rumahku kemaren, sudah ditemukan pak?

__ADS_1


"Oh maksud kamu Yudi dan anak buahnya ?"


Clarisa mengangguk.


" Belum tertangkap, tapi segera akan kami cari mereka."


"Oh begitu ya pak ?" Clarisa tersenyum namun berpancarkan kecemasan.


Tidak berapa lama Ardan mengajak Clarisa pulang.


"Pak Damar aku pulang dulu ya. Clarisa butuh istirahat." pamit Ardan.


"Oh iya silahkan, sekali lagi terima kasih ya nak Clarisa." ucap pak Damar pada Clarisa.


Bu Rani menghampiri pak Damar, "Pak Damar saya juga permisi dulu. Nanti kalau ada waktu besok saya datang jenguk lagi."


Pak Damar tersenyum mendengar ucapan bu Rani. "Iya bu makasih !"


Mereka bertigapun berjalan pulang.


"Gimana Clar sakit gak ?"


" Nggak ma, biasa saja hehe."


" Oh syukurlah !"


...***...


Sampai di rumah Clarisa kemudian beristirahat. Sedang Ardan kembali ke kantornya.


Clarisa sangat lelah sekali, sampe-sampe tidurnya tembus malam.


"Assalamualaikum !" ucap Ardan ketika masuk ke dalam rumah. Dia langsung duduk diatas sofa dengan kepala bersandar di kepala sofa.


"Walaikumsalam ! Eh anak mama sudah pulang." Jawab bu Rani yang muncul dari arah dapur. Mertua Clarisa sedang menyiapkan makan malam.


"Belum bangun kayaknya. soalnya masih belum keluar-keluar dari kamar."


"Sudah malam begini ? Ardan ke kamar dulu ma."


Ardan membuka pintu kamar, dia mendapati istrinya yang masih tertidur.


"Ckckckck" Ardan hanya bisa geleng-geleng kepala.


...***...


Pak Adam beserta anak dan istrinya, sedang makan malam di rumah mereka. Mereka kembali pulang setelah gagal menunggu Clarisa yang tak kunjung pulang-pulang.


"Clarisa itu kemana ya pi , mi ? sehari semalam kita menunggu dia. Tapi dia tidak pulang-pulang."


"Iya mami juga heran."


"Papi rasa dia sengaja gak pulang. Kayaknya dia tahu kalau kita menunggu dia di dalam."


"Darimana dia tau pi ? " tanya Nadia.


"Dari cctv mungkin ?" jawab pak Adam dengan mulut penuh makanan.


"Yaa Ampuuun !" pekik Nadia sambil memegang kepalanya dengan ke dua tangannya.


Kedua orangtuanya di buat kaget. Sampai-sampai sendok yang harusnya masuk ke mulut malah mendarat ke mata.


"Ihhh apaan sih ? bikin kaget orang tua saja !" bentak bu Herni sambil menyapu-nyapu matanya, membersihkan nasi yang mendarat cantik di sana.


"Nadia lupa miii ! Hiks....hiks..." ucap Nadia sambil menangis seperti anak kecil minta jajan.

__ADS_1


"Lupa apa ?" tanya maminya.


Nadia tidak menjawab. Dia hanya menangis.


"Apa yang kau lupa Nadia ?" tanya pak Adam dengan suara lembut.


"Aku lupa uang enam ribuku ketinggalan di rumah Clarisa pi." jawab Nadia di sisa-sisa tangisnya.


Mendengar itu, pak Adam langsung mengambil dompetnya, dan mengekuarkan uang sepuluh ribu.


"Niihh ! papi ganti uangmu enam ribu itu." ucap pak Adam geram dan menyodorkan uang sepuluh ribu pada putrinya.


Nadia mengambilnya dan menerawang, "iih kok cuma sepuluh ribu sih pi ?" tanya Nadia dengan muka cemberut.


"Tapi itu masih lebih banyak dari punyamu yang cuma enam ribu." Jawab pak Adam.


" Heran papi, menabung 2 tahun dapatnya enam ribu, sudah gitu celengan besar pula." Gerutu pak Adam, sambil melanjutkan makannya kembali.


Tok..tok...tok..


Mereka saling panndang, kemudian bu Herni berdiri membukakan pintu.


Papi dan anak itu pun juga berdiri mengekor di belakang bu Herni.


"Pak Hermawan ?!" seru papi, mami dan anak itu bersamaan.


"Kalian bertiga kenapa kaget begitu melihat saya ? Memangnya saya setan?" ucap pak Hermawan, kemudian langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


Ketiga orang itu pun juga ikut duduk di sofa panjang.


"Bagaimana kalian nyaman disini ? " tanya pak Hermawan.


"Iya pak kami nyaman tinggal di sini." jawab pak Adam sambil cengar cengir.


"Nadia !" panggil pak Hermawan.


"Ee..i..iya om." jawab Nadia gugup.


"Saya dengar kau besok akan masuk ke karantina School Idol, betul ?"


"Iya om."


"Saya punya tugas untukmu !"


"Tugas apa om ?"


" Ini !" pak Hermawan menyodorkan sebuah kertas yang dilipat kecil.


Nadia menerimanya dan hendak membuka lipatannya.


"Jangan di buka !"


Mendengar larangan pak Hermawan, Nadia seketika gugup.


"Memangnya ini apa om ?"


" Serbuk itu kau taruh di dalam minuman Clarisa. Jqngan sampai ada yang tahu kalau kau yang memasukkannya. Kau harus putar otakmu, agar kau bisa mencampur serbuk itu dengan air minum Clarisa. Kalau kau tidak berhati-hati. Kau bisa di penjara."


"Penjara ?" Seru Nadia dan orang tuanya bersamaan.


"Iya, makanya saya katakan jangan sampai ada yang tahu, atau melihat kau yang memasukkannya."


"Memangnya ini serbuk apa om ?" tanya Nadia hati-hati.


"Itu racun !"

__ADS_1


"Raacuun !!" Ucap Nadia dan orang tuanya kaget.


__ADS_2