
Ardan berlari ke arah kerumunan.
"Permisi, pak !" Ucap Ardan sambil menerobos kerumunan di depannya.
Ardan bernafas lega, ketika korban di depannya bukanlah Vanya.
Ardan kemudian segera menghubungi teamnya untuk segera datang ke TKP.
Ardan sibuk mencari Vanya. "Semoga Vanya tak melakukan hal yang nekat."
5 menit kemudian polisi dan mobil ambulance datang bersamaan. Korban bunuh diri itu segera di bawa ke rumah sakit.
Ardan kemudian kembali ke kantornya.
***
"Pi gimana ? Sudah dapat ide untuk membawa Clarisa ?" Tanya istri pak Adam.
"Belum, papi masih mikir nih."
"Bagaimana kalau kita sewa preman aja ?jadi Kitakan aman, Pi, mi ?"
"Oh iya boleh juga apa yang dibilang Nadia Pi !"
"Trus siapa yang bayar ? Uang dari mana kita ?"
"Usaha papi itu jual aja deh, biar kita dapet duit. Nadia juga mau belanja nih pi ! Sudah mau masuk karantina, Nadia belum punya baju bagus."
"Iya kasian Nadia Pi. Kita jual aja yah !"
"Jual sama siapa ?"
"Yah sama teman-teman papi."
"Duuuhh, itu nanti saja ! Yang kita pikirkan sekarang itu bagaimana penuhi janji kita ke pak Hermawan untuk membawa Clarisa dihadapannya. Kalian bantu mikir dong, papi pusing nih!"
"Mami aja, Nadia mau sekolah. Lagian ide Nadia itu cuma mami pura-pura sakit."
"Ih pokoknya mami gak setuju !"
"Kalo gak setuju yah, mami bantuin mikir dong. Nadia mau ke sekolah dulu."
Nadia segera beranjak dari meja makan dan bergegas ke sekolah.
"Eh Pi, mami ada ide ! Gimana kalau kita masuk ke rumah Clarisa diam-diam. Kita tunggu dia pulang, trus begitu dia buka pintu, haaapp !!! kita tangkap dia masukkan dalam karung. Trus kita kasih deh ke pak Hermawan."
"Mmm...boleh juga mi. Kalau begitu sebentar kita coba. Gak usah tunggu Nadia, supaya kita lebih dulu sampai di rumahnya."
"Oke Pi !"
***
Selesai ujian, Clarisa bergegas ke kantin.
"Haii Clar ! Sekarang kamu nampak beda ya ?"
Puji Riki teman sekelas Clarisa, yang sekarang jalan mensejajari Clar.
"Beda gimana ?"
"Sudah tidak segendut dulu, aku yakin nih di school idol nanti kamu pasti juaranya."
"Terimakasih !" Ucap Clarisa kemudian segera berlalu dari hadapan si playboy Riki. Clarisa mempercepat langkahnya.
"Eh Clar tunggu ! " Teriak Riki yang berusaha mengejar Clarisa.
"Clar !" Riki memegang tangan Clarisa. Namun segera di tepisnya.
"Ada apa lagi sih ?"
"Jangan galak-galak dong Clar !"
__ADS_1
" Ya sudah sekarang kamu mau apa ?"
"Aku sudah lama tidak melihat Ardan. Kemana dia ? Apa sudah pindah sekolah ?"
Seketika, Clarisa baru sadar kalau sebenarnya Ardan bukan anak sekolah. Tapi dia seorang polisi yang lagi nyamar.
"Aku tidak tau dimana dia. Lagipula itu bukan urusanku."
"Tapi kalian kan sudah sangat dekat..Dimana ada Clar disitu ada Ardan. Sebaliknya dimana ada Ardan disitu ada Clarisa. betul kan ?"
Clarisa berjalan meninggalkan Riki, dia selalu menjaga rahasia Ardan, jangan sampai dia keceplosan.
Riki masih tetap mengejar Clarisa. Laki-laki itu masih penasaran.
Dia ikut duduk di depan Clarisa saat di kantin.
"Kau ini ? Kenapa masih mengikutiku ?"
"Kenapa ? Gak ada yang marah kan ? Lagian Ardan juga sekarang sudah tidak ada."
"Kau bisa diam tidak ?"
"Clar selama inikan Ardan selalu yang melindungi mu. Sekarang dia tidak ada, Aku bersedia untuk menggantikan posisi Ardan."
"Kau bersedia karena aku sudah tidak segendut dulu. Kau ingat ? Kau dan Nadia yang selalu membully ku. Lagipula aku tidak butuh, teman, sahabat atau apalah sepertimu."
Clar segera berdiri dan meninggalkan Riki sendirian.
Kali ini Riki tidak mengejarnya.
"Tunggu saja Clarisa, pada akhirnya kau akan sama dengan cewe-cewe yang sudah kupacari. Kau akan bertekuk lutut menyembah cintaku hehehe." Ucap Riki angkuh.
***
Ardan melihat jam tangannya, "sudah waktunya istriku pulang heheh." Ardan tersenyum bahagia.
Dia segera bergegas menuju sekolah istrinya.
Dia menunggu tidak jauh dari gerbang sekolah.
"Tidak usah, terimakasih. Aku dijemput."
"Sekali ini saja !" Riki menarik paksa tangan Clarisa.
"Iihhh apaan sih Rik ? Lepasin tanganku sakiit !"
Ardan melihat kejadian itu, "Riki ? Ngapain dia tarik-tarik tangan Clarisa ?"
Ardan melihat, Clar di paksa naik ke motor. Tapi Clar memberontak.
Ingin sekali Ardan turun tapi, dia tidak mungkin turun orang-orang akan mengenalnya. Terlebih lagi dia dengan pakaian polisinya.
Dia segera menelfon pihak sekolah, mengabarkan kalau diparkiran sedang ada pemaksaan terhadap perempuan di depan.
Tidak lama 2 orang guru datang menghampiri Clarisa dan Riki. Ardan bernafas lega ketika, Riki sudah pulang tanpa membawa Clarisa.
Clarisa kemudian berjalan pulang. Ardan mengekornya dari belakang dengan mobil. Saat dia sudah jauh dari kawasan sekolah. Ardan membunyikan klakson mobil.
Clarisa mengingat kejadian tadi pagi, dimana Vanya menelepon Ardan. Sehingga dia mengacuhkan klakson mobil.
Ardan keluar dari mobil dan menghampiri Clarisa.
"Aku mau pulang !"
"Pulang kerumahmu ? Disana itu gak ada siapa-siapa."
"Biar saja, aku gak takut !"
"Kau tahu kalau rumahmu itu sedang diincar oleh penjahat-pejahat ? Mungkin saja saat ini mereka menunggumu, melihatmu dari jauh, ketika mereka lihat kau sendiri. Mereka akan mencelakaimu."
Clarisa berhenti, berbalik kemudian berjalan menuju mobil.
__ADS_1
"Ayo cepat pulang!" Ajak Clarisa.
"Ardan tersenyum, kemudian bergegas ke mobil."
Didalam mobil Clarisa hanya diam, Ardan tidak langaung membawa Clarisa pulang.
Dia membawa Clarisa duduk ditaman bukit indah.
"Clar, aku akan jelaskan semuanya !"
Ardanpun menceritakan bagaimana dia yang harus terpaksa, mengatakan akan menikahi Vanya sampai pertemuannya tadi pagi dengan Vanya.
"Sekarang kau percayakan Clar. Ada mama saksinya, karena waktu itu mama ikut aku ke rumah sakit."
"Ardan, apa kau menikahiku hanya karna sebuah tugas ?"
Ardan tersenyum mendengar pertanyaan istrinya.
"Kau mau tau kenapa ? itu Karena aku ingin menjagamu seumur hidupku. Tidak berhenti hanya sampai tugas ini selesai. Tapi seumur hidupku Clar."
"Sekarang kita damai ya, gak boleh marah -marah lagi. Janji ?" Ucap Ardan sambil mengangkat jari kelingkingnya ke wajah Clarisa. Istri yang baru semalam dia nikahi itu tersenyum, kemudian mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking Ardan.
Ardan senang melihat Clarisa sudah memaafkan. Inilah yang membuat Ardan semakin mencintai Clarisa, karena Clarisa bukanlah tipe cewek yang suka ngambek lama-lama.
Ardan kemudian mencium kening istrinya, dan memeluknya.
***
Pak Adam dan istrinya sudah berada didepan rumah Clarisa.
"Kita lewat pintu mana ?" Tanya istri pak Adam.
"Lho bukannya kamu punya kunci serepnya ?"
"Kunci serepnya di tas Nadia pi. Mami lupa ambil."
"Aduuhh mami gimana sih ? Ya sudah kita coba lewat samping aja, biar papi coba buka pake obeng. Kalau di pintu samping gak ada yang lihat."
Suami istri itupun bergegas ke pintu samping.
Pak Adam terlihat mencungkil pintunya dengan obeng.
Cekleķkk !
"Terbuka mi !" Suami istri itu terlihat senang. Kemudian mereka masuk ke dalam.
"Harusnya Clar itu sudah pulang sih pi !"
"Kita tunggu saja."
Tidak berapa lama, terdengar suara pintu pagar terbuka.
"Ahh, itu pasti dia ! ayo mi siap-siap !"
Pak Adam dan Istrinya berjalan ke ruang tamu, dan bersembunyi di belakang pintu. Siap dengan karung yang akan digunakan menangkap keponakan mereka.
Terlihat gagang pintu seperti sedang dibuka.
Tiba-tiba, krreeett !! pintu terbuka dan Haappp!
Pak Adam menutup kepala dan sebagian badan seseorang di balik pintu itu dengan karung.
"Cepat mi talinya ! ikat mi !" perintah pak Adam pada istrinya.
Bu Herni bersiap untuk mengikat tali, tapi dia seperti mengenal tas yang dikenakan oleh seseorang dibalik karung itu.
"Sebentar pi ! sepertinya ini bukan Clarisa."
"Teus siapa ?"
"Buka karungnya pi !"
__ADS_1
Pak Adam membuka karungnya dan kaget melihat perempuan dibalik karung itu.
"NADIAAA !!!!" Seru pak Adam dan istrinya.