
Airin mencari sebuah nama kontak di hpnya.
"Kenapa tidak ada ? Semua nama di kontak ini, kenapa tidak aku kenal ?"
Airin baru tersadar, kalau selama ini hp yang di pegangnya tidak menyimpan kontak teman-temannya. Dia lupa kalau itu adalah hp Clarisa.
"Mama ! kontak mamapun tak ada."
Tiba-tiba Airin menangis, mengingat wanita yang sudah melahirkannya.
Hadir dalam bayang ingatan Airin, jam segini dia selalu rebutan remote tv.
Airin ingin nonton upin dan ipin, sedang mamanya ingin nonton sinetron kumenangis.
"Mama pasti lagi bahagia-bahagianya nih, gak ada yang ganggu nonton sinetron kumenangis...hiks..hiks.."
"Apa kabar dengan Bella ? anak itu selalu membuat hari-hariku kacau. Bahkan yang aku jalani sekarang ini semua ulah dia...hiks..hiks."
Airin terus menangis frustasi. Dia bingung harus memulai cerita ini dari mana ?
Dia mengambil hp dan mencoba menghapus cerita yang dibuat oleh Bella. Mungkin saja kalau dia menghapusnya, dia bisa kembali ke dunia Airin.
"Kenapa gak bisa dihapus ?" Airin terus mencoba namun gagal terus.
"Apa itu artinya, mau tidak mau aku harus meneruskan cerita ini sampai tamat."
Airin kemudian menghapus air matanya. Menangis pun percuma, dia gak akan kembali ke dunia Airin. Dia sudah bertekad akan meneruskan cerita ini sampai happy ending.
Dia membaca kembali garis besar dari cerita yang ditulis oleh Bella.
"Berarti aku ini anak orang kaya ? Oke ! berarti yang pertama harus aku bereskan adalah di rumah ini. Paman Adam, bibi Herni dan Nadia."
Airin ingat dulu teman sekolahnya pernah cerita, tentang obat atau jamu yang bisa menurunkan berat badan dalam waktu 14 hari.
Airin mencoba search di google. Diapun mendapatkan obat pelangsing yang dia butuhkan. kemudian Airin memesannya.
"Aku harus kurus dulu, biar tau rasa paman dan bibi," ucap Airin sambil tertawa kecil.
"Pelaku pembunuh itu tau, kalau saksi kuncinya berbadan gendut. Dengan berbadan kurus aku akan merubah penampilanku."
" Langkah selanjutnya, aku harus bisa memenangkan lomba school idol. Mumpung masih jadi Clarisa dinikmati aja punya suara bagus. Kalau balik ke dunia Airin, suaraku seperti suara nyamuk yang tidak nyaman, mengganggu kuping."
"Ardan ! si polisi itu tidak boleh aku temui. Di cerita ini dia hanya memanfaatkanku. Jadi, Clarisa harus berhenti berharap !"
"Aku harus bisa melindungi diriku sendiri, tanpa bantuan Ardan. Dengan begitu, dia tidak perlu lagi memanfaatkanku dengan berpura-pura menjadi pacarku."
Drrrrtt..
Drrrttt..
Drrrrtt..
Airin melihat nama yang memanggilnya.
"Baru aja dipikirkan, udah nelfon. Sebaiknya gak usah kuangkat." Ucap Airin kemudian menonaktifkan hpnya, dan memilih tidur.
Sementara di sebuah kamar Ardan mencoba menghubungi Clarisa kembali.
"Akh udah di nonaktifkan !" Ardan melempar hpnya frustasi.
"Claaar, maafkan aku."
Tok..
Tok..
Tok..
"Masuk !" teriak Ardan mempersilahkan seseorang di balik pintu kamarnya untuk masuk.
Nampak seorang wanita paruh baya berparas ayu, masuk ke dalam kamar Ardan.
"Ardan, tadi Vanya kemari nyariin kamu. Terus dia nungguin kamu lama banget."
__ADS_1
"Ma, aku kan sudah bilang, aku sudah gak mau lagi sama dia. Lagian om Damar sendiri setuju kalau aku sudah membatalkan perjodohan ini."
"Iya mama tahu, mama kan cuma bilang, heheheh." Ucap bu Rani mama Ardan.
"Tapi Ardan, mama ingin kamu secepatnya bertemu jodohmu, biar kamu bisa nikah. Umur kamu itu sebentar lagi kepala 3 Ardan ."
"Meski umur hampir kepala 3 tapikan aku nyamar jadi anak SMA, masih cocok ma !"
"Iih kamu ini selalu saja ngebantah."
Bu Rani kesel dengan putranya, akhirnya dia memilih keluar.
Ardan membanting tubuhnya di atas tempat tidur, dengan pikiran menerawang memikirkan sigadis gendutnya.
"Apa Clarisa akan percaya ? Kalau aku benar-benar tulus mencintainya ?"
Hari ini Clarisa, memilih untuk di rumah saja. Dia tidak ingin kemana-mana.
Penculikan kemaren membuat dia trauma. Dia akan latihan nyanyi di rumah saja.
Clarisa keluar kamar, untuk mengambil minum. Di dapur dia bertemu dengan bi Herni.
"Clar ! Kau baik -baik saja kan ?"
Clarisa tiba-tiba teringat sesuatu tentang bi Herni, yang ternyata memang bukan orang baik. Dia bertekad untuk tidak boleh lemah lagi.
" Bi, kupaskan aku apel-apel ini !" Clarisa memberikan 2 buah apel yang baru dia ambil di dalam kulkas.
"Kaukan bisa mengupasnya sendiri Clar !"
"Jangan membantah bi, ini rumah aku ! bibi hanya numpang di sini. Sekalian dengan rebuskan sy telur 3 butir. Kalau sudah antar ke kamarku !" perintah Clarisa, kemudian dia kembali ke kamarnya.
Bi Herni agak terkejut dengan perubahan sikap ponakannya.
"Jangan-jangan nenek-nenek yang masuk dalam tubuhnya lalu belum keluar ? Hiiii...!!" Bi Herni bergidik ngeri, kemudian melakukan perintah Clarisa.
Clarisa membuka hpnya, dia ingin menelfon seseorang. Tapi dia lupa, dia harus menghindar dari pria itu.
Dia menulis semua kejadian yang dia alami, Namun saat dia mau melanjutkan cerita setelah dia di culik. Entah mengapa tulisan di hpnya hilang.
"Berarti hanya kejadian yang sudah terjadi, yang bisa ku tulis. Itu artinya, cerita ke depannya masih misteri ?"
Clarisa memandang ke luar jendela, dia menarik nafas mencoba mengatur degup jantungnya.
"Ada kejadian apa di cerita selanjutnya?"
Tok..!
Tok..!
Tok..!
Clarisa berjalan membuka pintu kamarnya, dia melihat bibi Herni membawa pesanannya tadi.
"Ini sarapanmu !" kata bibi Herni sambil memberikan sepiring sarapan pada Clarisa.
"Makasih bi !" jawab Clarisa, kemudian mengambil makanan dari tangan bi Herni.
Clarisa melihat sebuah map yang dijepit bibi Clarisa di ketiaknya.
"Itu apa bi ?"
"Oh iya ini, bibi mau minta tanda tangan kamu !" kata bi Herni kemudian menyerahkan map tersebut kepada Clarisa.
Clarisa mengambilnya dan membaca isi mapnya.
"Biaya pengobatan klinik kecantikan ?"
"Iya Clar, wajah bibi mau bibi obatin di klinik kecantikan. Wajah bibi beginikan gara-gara kamu."
"Kok gara-gara aku ? Kan aku sudah bilang aku gak punya kuku, lihat !" Clarisa memperlihatkan kukunya.
"Tapi Clar bibi minta kamu bayarin ya? Soalnya wajah bibi gak bisa di obatin selain di klinik kecantikan."
__ADS_1
"Siapa bilang gak bisa ? Bisa kok !"
"Gimana caranya ? Kamu lihat nih wajah bibi, kerusakannya parah."
"Bawa ke bengkel ketok magic !" ucap Clarisa kemudian menutup pintu kamarnya.
"Uuuuuhhh ! Itu anak benar-benar menyebalkan !" gerutu bibi Herni.
Clarisa memakan sarapannya, dengan lahap. Tak berapa lama ponselnya berdering. Dia melihat sekilas, nama dilayar yang memanggilnya, Ardan !
Clarisa mengabaikannya, dia terus menyantap sarapannya.
"Apa yang harus aku lakukan bila bertemu Ardan ?"
Ponsel Clarisa berdering lagi, Ardan masih terus memanggilnya lewat panggilan telfon.
Clarisa menimbang-nimbang , mengangkat atau mengabaikannya.
"Hallo !" Sapa Clarisa yang akhirnya mengangkatnya.
"Clar, hari ini kau tidak ke sekolah ?"
"Bukannya sekolah akan libur seminggu ?"
"Oh iya aku lupa."
"Ya jelaslah kau lupa, kau kan bukan seorang siswa, tapi polisi !"
"Mmmmm...Clar kita jalan yuk ! Sepertinya kita harus bicara."
"Maaf Ardan ! Seminggu ini aku ingin di rumah saja, aku masih trauma dengan penculikan kemaren."
"Ada aku ! akukan bertugas untuk menjagamu, jadi kau tenang saja."
"Iya makasih, tapi seminggu ini aku hanya ingin di rumah, maaf ya Ardan !"
"Ya sudah gak apa-apa, aku gak memaksa. Clar kalau kau butuh sesuatu, atau paman dan bibimu menyakitimu, kau bilang aku ya !"
"Siap 85 Pak ! hehehe", ucap Clarisa kemudian mengakhiri obrolan mereka.
Ardan tersenyum bahagia mendengar tawa Clarisa, dia berharap tawa itu pertanda kalau gadis besarnya sudah memaafkannya.
Clarisa turun membawa piring sarapannya yang sudah kosong.
Terdengar suara ketukan, dia hendak membukakan pintu. Tapi, ternyata sudah keduluan bi Herni.
Clarisa melihat bi Herni memasukkan seorang tamu wanita.
"Akhirnya asisten rumah tangga nya sudah datang." sorak Nadia yang tiba-tiba keluar dari kamar.
'Asisten rumah tangga ?' Bathin Clarisa.
"Ini siapa bi ?"
"Ini asisten rumah tangga yang akan bersih-bersih di rumah sini." jawab bi Herni.
Clarisa mendekati wanita itu dan duduk di sebelahnya.
"Maaf ya mba, sepertinya bibi aku salah. Rumah ini sudah ada pembantunya, jadi mohon maaf sebaiknya mba pulang." tolak Clarisa sopan.
Wanita muda itupun mengangguk dan mengerti.
"Baiklah, tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi," pamitnya.
Clarisa mengantar wanita muda itu ke pintu.
" Clar kenapa disuruh pulang ? Lagipula di rumah ini gak ada pembantu !" protes paman Adam.
"Siapa bilang paman ? di rumah ini memang sudah ada pembantu kok ."
"Siapa ?" Tanya Paman Adam, bibi Herni dan Nadia kompak.
"Yah kalianlah ! siapa lagi ?" Jawab Clarisa santai, kemudian kembali ke kamarnya.
__ADS_1