Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Selesaikan ceritamu Airin !


__ADS_3

Sudah setengah jam Clarisa tidak sadarkan diri, Ardan dan bu Rani sangat panik dan cemas.


Tidak lama kemudian dokter datang, dia mulai memeriksa Clarisa.


Selesai memeriksa, dokter itu menghampiri Ardan dan bu Rani.


"Bu sebaiknya Clarisa jangan diperlihatkan sesuatu yang akan membuat ingatannya kembali. Biarkan ingatan itu datang secara alami tanpa harus di tunjukkan.


"Jadi saya harus gimana dok ?"


"Sebaiknya ganti suasana, rumah atau kamar. Seperti yang saya katakan kemarin, ini tidak akan selamanya, yang penting sabar dan pelan-pelan ingatan Clarisa akan kembali seutuhnya."


"Baik dok terimakasih, akan kami lakukan."


Hari berganti hari, sudah hampir 3 bulan lamanya Clarisa masih belum bisa mengingat semuanya. Terlebih lagi hubungannya dengan Ardan.


Setiap harinya Ardan hanya bisa melihat dia dari jauh. Sebab setiap kali Clarisa melihat Ardan, dia akan mengalami sakit kepala yang hebat.


Ardan terpaksa tidur di kamar tamu, setiap harinya dia pulang selalu lewat pintu samping, agar tidak bertemu Clarisa yang lagi asyik nonton di ruang tengah.


Ardan hanya bisa memandang Clarisa dari jauh, saat dia lagi tertawa menonton film kartun kesukaannya larva dan upin ipin.


Pagi itu Clarisa merasa bosan, dia ingin kembali ke sekolah mengejar pelajaran yang sudah banyak tertinggal.


Bu Rani terpaksa mengizinkan, karena tidak tega melihat Clarisa yang terus memohon.


Clarisa sudah siap dengan seragamnya, bu Rani memutuskan untuk mengantarnya.


"Aku kan bisa naik angkot ma, seperti biasanya "ucap Clarisa sambil mengunyah makanan.


"Nggak sayang, harus mama yang antar dan nanti mama yang jemput."


Selesai sarapan, Clarisa dan bu Rani berangkat ke sekolah.


"Makasih ya ma sudah nganterin aku. Aku masuk dulu !"


"Eh Clar tunggu ! nanti kalau kepala kamu pusing atau gak enak badan kamu pulang ya. Telfon mama, nanti mama cepat datang."


"Siap ma " ucap Clar kemudian mencium punggung tangan bu Rani.


Clar masuk ke dalam sekolah, dia berjalan dikoridor sekolah dengan bingung.


"Kelasku dimana ya ? kenapa aku lupa ?"


Tiba-tiba dari arah belakang, muncul Andri teman sekelas Clar yang jahil.


"Hei Clar !" sapanya pada Clarisa.


"Haii ! kamu kenal aku ?"


Andri mengernyitkan keningnya. Dia kemudian ingat kabar beberapa minggu lalu tentang Clarisa yang diculik dan sekarang hilang ingatan.


Andri tersenyum penuh arti, dia mempunyai niat jahat pada Clarisa.


"Ya iyalah kenal, kitakan satu kelas."


"Oh iya ? Syukurlah, kalau begitu kau bisa tunjukkan di mana kelas kita ?"

__ADS_1


"Bisa ! ayo ikut aku, sebentar lagikan kita akan masuk " ajak Andri kemudian memegang tangan Clarisa dan menariknya.


Clarisa menurut saja kemana langkah kaki Andri membawanya.


Sampai di belakang gedung sekolah, Clarisa nampak bingung.


"Lhoo kita mau kemana ? bukannya ini sudah di belakang sekolah ?"


"Sudah ikut saja !" Andri semakin erat mencengkram tangan Clarisa.


"Gak mau ! aku mau kembali ke kelas. Lepasiin !!" Clarisa berontak. Andri langsung mengangkat tubuh Clarisa seperti karung beras, dia membawa masuk ke dalam gudang belakang sekolah.


Andri mengunci pintu gudang dan menurunkan Clarisa. Clarisa mundur, kemudian berlari ke arah jendela, berusaha untuk membuka jendela namun tidak bisa.


"Kamu mau apa ?" tanya Clarisa dengan air mata yang terus jatuh. Clarisa ketakutan dia hanya bisa menangis.


"Kita bersenang-senang dulu sebelum masuk kelas. Gimana ?"


"Aku gak mau ! Aku mau masuk kelas."


Andri kemudian menarik tubuh Clarisa dan menguncinya di tembok. Dia mencium paksa Clarisa, sementara Clarisa terus berontak.


"Lepaaasss ! to..loongg !"


BRRUUUKKK !!!


Pintu gudang terbuka paksa, muncul Ardan dan beberapa guru masuk ke dalam gudang.


Andri terkejut sedang Clarisa jatuh pingsan.


Tidak lama, tiga teman Ardan dari anggota kepolisian datang, mereka membawa Andri. Pihak sekolah tidak bisa berbuat apa-apa, mereka menyerahkan semua urusan pada pihak berwajib.


Ardan segera mengangkat tubuh Clar, dia menggendongnya dan membawa masuk ke dalam mobilnya.


Ardan sangat panik melihat wajah Clar yang pucat seperti mayat.


"Bertahan sayang, kita kerumah sakit."


Ardan menancap gas, membawa Clarisa ke rumah sakit.


Bu Rani terus menangis di samping ranjang Clarisa, dia membelai lembut wajah Clar.


"Harusnya mama gak izinin kamu sekolah tadi. Mama salah, hiks..hiks..!"


"Sudah ma ! ini bukan salah mama. Laki-laki itu aku pastikan akan masuk penjara."


"Kenapa banyak sekali yang jahatin Clar ? padahal dia anak baik." Ucap bu Rani dengan air mata yang terus jatuh melihat nasib menantu tersayangnya.


Sudah 1 jam Clarisa belum juga sadarkan diri. Bu Rani dan Ardan semakin cemas.


Clarisa yang terlihat sedang tidur, ternyata sedang memasuki sebuah dunia dimensi. Dia terus berjalan mengikuti sebuah cahaya. Cahaya itu berhenti di satu cermin. Cermin yang pertama kali membawa dia ke dunia Clarisa.


"Aiiriin ! " panggil seseorang.


Airin berbalik dia melihat seorang gadis seumurannya, dia Clarisa.


"Kau mau kemana Airin? cerita kita belum selesai. Kau harus tamatkan dulu."

__ADS_1


"Aku ?"


"Iya kau ! kan kau yang tulis cerita kita !"


"Bu..bukan, bukan aku. Itu Bella yang nulis ceritanya."


"Ya sudah kalau begitu kau kembali jadi aku, kita selesaikan cerita yang sudah ditulis Bella."


"Bukannya sudah selesai ? Clarisa meninggal !"


"Enak saja kau ! masih belum selesai. Clarisa belum bersaksi di kasus pembunuhan itu. Pemenang school idol pun belum di tau."


"Jadi aku kembali lagi ? tapi aku tidak tau bagaimana buat cerita ini tamat."


"Kita ikuti saja jalan cerita yang sudah di tulis oleh Bella sahabatmu ."


"Itu ide yang buruk ! bagaimana kalau dijalan cerita itu, Bella membuat Clarisa jatuh cinta dengan mas Sudikah ?"


" Oh Tuhaaan ! seketika itu juga aku akan menabrakkan diri, dan membuat tokoh utama gila. Kau buat akhir cerita versimu saja Airin " usul Clarisa.


"Tapi bagaimana ? "


"Pembaca akan senang jika novelmu berakhir dengan happy ending."


"Memangnya kenapa kalau berakhir sad ending ? Yang pentingkan cerita kita selesai."


"Kau yakin Airin ? ceritamu ini akan berakhir dengan sad ending ?"


Airin diam, dia nampak berpikir sejenak.


"Baiklah mari kita selesaikan cerita ini dengan happy ending! lagipula selama menjadi istri Ardan aku belum merasakan malam pertama dengannya " ucap Airin dengan mengibaskan rambut panjangnya.


"Are you sure mau malam pertama dengan Ardan ? dasar mesum !"


"Hahahahaha, selama dengan pasangan halal it's oke. Ardan i'm coming !"


"Benar - benar parah Airin hahaha" ucap Clarisa.


Seketika tubuh mereka di tarik oleh cahaya.


Dokter datang memeriksa Clarisa kembali.


"Dokter ini gimana istri ku kenapa belum sadar-sadar hampir 2 jam lamanya " tanya Ardan cemas.


"Kita tunggu 15 menit lagi. Semoga dalam waktu 15 menit nonna Clarisa sadar. Tapi jika dalam 15 menit dia belum sadar. Kita akan masukkan kembali ke ruang ICU, untuk mendapatkan perawatan yang lebih intens lagi " terang dokter.


"Ya Allah Clarisa sadar nak ! maafin mama, harusnya kamu gak mama izinin masuk sekolah."


"Sebaiknya kita berdoa, semoga 15 menit nanti Clarisa bisa sadar " ucap dokter pada Ardan dan bu Rani.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya " pamit dokter.


Sepeninggalnya dokter, Clarisa membuka matanya perlahan -lahan. Nampak pandangan di depannya terlihat samar. Namun semakin lama semakin jelas.


Clarisa tersenyum ketika wajah yang pertama kali di lihatnya adalah wajah tampan seorang Ardan.


"Mas Ardan !"ucapnya lirih namun membuat mata Ardan berbinar-binar.

__ADS_1


__ADS_2