Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Ternyata pingsan


__ADS_3

"Clarr bangun ! kau tidak ke sekolah ?"


Ardan mengguncang-guncang tubuh Clar, yang masih asyik tertidur.


Clar membuka matanya perlahan, dia mengamati sekeliling kamarnya.


Dia kemudian teringat kejadian semalam. Dia melihat pakaiannya, "masih utuh."


Kemudian dia memegang daerah sensitifnya, "gak sakit !"


Dia mengingat-ngingat kejadian semalam, "gak mungkin, aku masih utuh. Tapi kalau Ardan sudah meminta haknya, pasti ada rasa sakitnya. Tapi ini kok gak sakit ya ? Apa Ardan melakukannya dengan pelan-pelan ?"


Berbagai macam pertanyaan hinggap di benak Clarisa.


"Ardan ! kau dimana ?" Clar turun dari tempat tidurnya.


Dia mendengar suara air dari dalam kamar mandi. "Sepertinya Ardan mandi."


krreeett..


Tidak berapa lama pintu kamar mandi terbuka. Sosok ganteng yang selalu buat Clarisa terpesona itu keluar dengan rambut yang habis di keramas.


Clarisa kaget melihat Ardan habis keramas.


"Ardan apa semalam kita sudah..mmm...emm.." tanya Clarisa sambil menunduk dan *******-***** tangannya.


" Em..em apa ?"


" Iihh Ardan itu, semalam kau menciumku setelah itu aku gak ingat apa-apa. Trus apa kau sudah melakukannya ?"


"Bagaimana aku melanjutkannya, baru juga ku cium kau sudah pingsan." Jelas Ardan sambil mengenakan baju kepolisiannya.


"Haaah pingsan ?"


"Iya ! baru juga ku cium kau sudah pingsan. Bagaimana kalau aku sudah melakukannya, kau bisa kejang-kejang mungkin." Terang Ardan, terlihat wajahnya sangat kesal.


Clarisa tersenyum dan menarik nafas lega.


"Hehehe, maaf ya ! soalnya aku belum siap. lagipula semalam kau tidak memberiku kesempataan untuk bernafas, saat menciumku heheheh."


"Oh ya ? Kalau begitu, kita coba sekarang aja." Usul Ardan sambil mengedipkan matanya.


Clarisa menggeleng cepat dan segera berlari ke kamar mandi. Ardan tertawa melihat wajah Clar yang ketakutan dan kocar kacir lari ke kamar mandi.


"Hahahah...Clar...Clar.."


Ardan menyisir rambutnya, kemudian keluar untuk sarapan.


Mamanya tersenyum melihat putranya keluar dengan rambut yang basah.


"Ehhemmm...habis belah duren nih?"


"Iiihh apaan sih ma ?"


"Clarisa mana ?"


"Masih mandi !"


"Eh Ardan, mama perhatikan Clar itu nggak cocok jadi istri kamu. Dia itu cocoknya jadi adik kamu."


"Iya sama kayak mama dan papa dulu." Ucap Ardan sambil memakan roti yang sudah di sediakan mamanya


"Memangnya mama dan papa kenapa ?"


"Mama gak cocok jadi istri papa, cocoknya jadi neneknya papa."


"Ardaaannn!!! Rasakan ini!" Bu Rani menjewer telinga putranya.


"Aduuhh maa ! ampuun, iyaa..iya maaf deh Ardan salah. udah lepasin ma. Malu nanti kalau Clar liat!"

__ADS_1


Bu Rani melepaskan jewerannya dikuping putra semata wayangnya.


Ardan mengelus-elus telinganya, yang habis mendapat cap merah dari mamanya.


Tiba-tiba Clarisa datang siap dengan seragam sekolahnya. Dia terlihat bingung dengan dua orang di depannya.


"Hai sayang ! gimana semalam, tidurnya nyenyak ?" tanya bu Rani.


Clarisa mengangguk, "Iya ma !"


Dia kemudian melihat ke samping ke arah suaminya. "Kamu kenapa Ardan pegang-pegang telinga begitu ?"


"Oh ini gak kenapa-kenapa, habis kena sarapan dari tangannya nyonya meneer."


Jawab Ardan sambil melirik mamanya.


"Oh iya Clar, Ardan cerita kalau kamu ikut school idol ya ?" tanya bu Rani.


"Iya ma, 4 hari lagi Clar masuk karantina. Doakan Clar ya ma supaya bisa menang."


"Oh pasti sayang, nanti mama ajarin kamu nyanyi. Begini-begini mama pernah juara 1 lomba nyanyi waktu 17 Agustus."


"Iya juara 1 dari 2 peserta hahahah." Ledek Ardan.


"Ardan tadi bilang apa nak ?" tanya bu Rani sambil mengelus-elus sandal berhaknya.


Seketika tawa Ardan berhenti, "Mmmm...Ardan bilang mama cantik hehehe. Pakai dong sandalnya ma."


Clarisa hanya bisa menahan tawa nya melihat tingkah mama dan anak di depannya.


"Ya udah ayo berangkat Clar !" Ajak Ardan.


"Mama, Clar berangkat dulu ya."Pamit Clar sambil mencium punggung tangan mertuanya.


"Hati-hati ya sayang." Bu Rani tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya.


"Siapa yang nelfon ? kok gak diangkat ?" Tanya Clarisa.


"Nanti aja !"


Clarisa merampas paksa hp Ardan, karena dia penasaran.


"Vanya ?" Clarisa melirik Ardan. Kemudian dia menekan tombol hijau dan loudspeaker.


"Hai sayang ! sebentar jadikan ketemuan? sekalian kita bahas rencana pernikahan kita yah. Aku udah pilih-pilih undangan yang mana bagus. Nanti sebentar kamu pilih juga. Oke ? Ardan ? Kamu kok gak ngomong ?"


Clarisa memberikan hp Ardan kembali, kemudian dia memalingkan wajahnya ke jendela mobil.


"Mmmm iya Vanya, udah dulu ya ! soalnya aku lagi nyetir!" Ardan langsung mematikan telfonnya.


"Claar aku bisa jelasin. Liat sini dong Clar !"


Clar tetap menghadap ke jendela. Dia malas mendengar penjelasan Ardan.


Ketika sampai di halaman sekolah, Clar hendak keluar tanpa berbasa basi mencium tangan Ardan.


Seketika Ardan menekan tombol, agar pintu mobil Clarisa terkunci.


"Ardan buka pintunya !" ujar Clarisa sambil menggedor-gedor pintu mobilnya.


"Nggak ! Sebelum kamu dengar penjelasan aku dulu."


"Aku sudah mau terlambat, sudah jam 7." Ucap Clarisa sambil memperlihatkan jam ditangannya.


"Kau tau pak Bimokan ? terlambat 5 menit aku gak bisa ikut ujian!"


Ardan menarik nafas kasar, "Hufft !! oke, sebentar aku jemput !" Ardan lekas mencium kening istrinya.


"I love u Clar." Ucapnya tersenyum.

__ADS_1


"Mmmm..." jawab Clar.


Pintu mobil masih belum terbuka, "Ardan ! ayo buka !"


"Nggak sebelum kau membalas ucapanku tadi."


Clarisa menarik nafas "I love i too!"


Ardan tersenyum, dan kemudian menekan tombol agar pintu mobilnya terbuka.


Clarisa segera turun dan berlari masuk ke dalam sekolah.


Ardan menelfon Vanya kembali.


"Hallo Vanya !"


"Hallo sayang !"


" Kita bisa ketemu sekarang ?"


"Sekarang ? Tapi ini masih pagi, aku belum ke salon heheh."


"Aku tunggu di taman Dahlia, sekarang ya !"


"Mm...oke sayang !"


Ardan sudah sampe terlebih dahulu, cukup lama dia menunggu, 15 menit Vanya belum juga datang.


Tidak berapa lama Vanya datang dengan kecantikan yang luar biasa. Namun bagi Ardan itu biasa saja.


"Sayang." Sapa Vanya dan hendak ingin mencium pipi Ardan tapi Ardan segera menjauh.


"Jangan terlalu berlebihan Vanya ."


"Mmm..oke maaf. Kau mau bicara apa ?"


"Vanya sebelumnya aku minta maaf, aku tau aku salah karena sudah memberi harapan padamu untuk menikahimu. Aku melakukan itu, karena aku tidak ingin pak Damar ayahmu kehilangan satu-satunya orang yang saat ini dia punya. Aku melakukan itu karena, hanya itu yang bisa membujukmu agar kau tidak bertindak bodoh."


Vanya masih diam mencoba mencerna perkataan Ardan.


"Vanya, aku..aku minta maaf. Maaf !"


"Maaf untuk apa ? Apa kau tidak bisa menikahiku ? Maaf karena yang kau katakan waktu itu hanya untuk membujukku ?" Tanya Vanya dengan mata berkaca-kaca.


"Vanya, aku yakin suatu hari nanti akan ada yang mencintaimu dengan tulus. Aku yakin itu. Kau gadis yang baik."


Vanya hanya menangis tak bisa berkata lagi. Ardan merasa iba melihatnya. Namun mau bagaimana lagi ? Dia tidak ingin bersandiwara terlalu jauh dengan Vanya.


"Oke Ardan Aku mengerti." Vanya mencoba untuk tersenyum.


"Tidak apa-apa, yang kau katakan itu benar. Mungkin saat ini aku hanya butuh waktu. Maafkan aku Ardan."


Ardan tersenyum lega mendengar ucapan Vanya.


"Ayo kau kuantar pulang !"


"Tidak usah Ardan, aku ingin sendiri. Kalau kau mau pergi silahkan !"


"Baiklah aku mau kekantor. Kau segera pulang ya. Vanya makasih atas pengertianmu." Ucap Ardan tersenyum kemudian berlalu.


Saat Ardan hendak membuka pintu mobilnya, terdengar suara decitan rem mobil.


Orang-orang berkerumun melihat korban yang tertabrak.


"Mba ini kayaknya mau bunuh diri soalnya dia lari dari arah sana, trus berhenti di tengah jalan." ucap salah seorang yang lewat yang terdengar oleh Ardan.


Ardan berbalik bergegas ke arah tempat duduk Clarisa, tetapi tidak ada.


"Jangan-jangan mba bunuh diri yang dimaksud orang itu ?" ucap Ardan kemudian bergegas ke kerumunan kecelakaan.

__ADS_1


__ADS_2