Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Mereka datang lagi


__ADS_3

Malam ini Clarisa sendirian di rumah, ketiga penghuni rumah yang selalu mengganggunya belum pulang.


Seperti biasa setiap malam, dia selalu menulis semua kejadian satu hari ini yang dia alami.


Dia teringat dengan ajakan Ardan, "apa benar Ardan mau ngajak aku nikah ?"


Clarisa terbayang kembali kala Ardan menarik tangannya, yang membuat dia jatuh di pangkuan laki-laki itu.


Tanpa sadar dia senyum-senyum sendiri.


"Ya Tuhan ! melihat Ardan dari dekat tadi pesonanya benar-benar menembus hati dan pikiranku hahahah !"


Clarisa menertawakan dirinya sendiri.


Tiba-tiba dia teringat, 3 orang yang selalu ribut di rumahnya.


"Kok mereka belum pulang ya ? apa kabar mereka ?" tanya Clarisa.


Di tempat lain, seorang laki-laki sedang memerintah anak buahnya.


"Tangkap anak itu, hidup atau mati ! Jangan sampai dia selamat lagi seperti kemaren."


"Baik bos !"


"Minggu depan putraku akan datang, dia ingin bersekolah lagi disini. Jadi, pastikan kasus ini sudah ditutup, karena saksi kunci pembunuh itu sudah kita singkirkan."


"Siap bos !"


"Apa kau sudah tau dimana anak itu tinggal ? Kau sudah cari tau tentang dia ?"


"Sudah bos ! malam ini saya dan anak buah saya akan bergerak menyingkirkan dia."


"Bagus ! cepat bergerak ! hahahahaha ."


Laki-laki itu bernama Hermawan, sudah lama dia mengincar Clarisa. Sebab, gadis itulah yang sudah menyaksikan bagaimana putranya telah menghabisi nyawa teman sekelasnya.


Akan tetapi, setelah di tetapkan sebagai saksi kunci kasus putranya, Clarisa mendapatkan perlindungan dari kepolisian. Sehingga membuat dia sulit untuk menyingkirkan Clarisa.


Malam ini anak buah Hermawan akan menyingkirkan Clarisa.


Yudi dan beberapa anak buahnya, sudah berada di depan rumah target mereka.


"Kok sepi ya bos?" tanya salah satu anak buahnya.


"Kita periksa saja ke dalam !"


Yudi dan beberapa anak buahnya masuk ke dalam.


Clarisa masih menyelesaikan tulisannya. Dia hendak merapatkan horden jendela kamarnya, tiba-tiba nampak olehnya dari jendela kamarnya ada beberapa orang yang berdiri di depan rumahnya.


Dia mengenal salah satu diantaranya, tiba-tiba terlintas bayangan kejadian saat dia diculik pulang dari latihan nyanyi.


Clarisa segera berlari ke pintu kamarnya dan menguncinya. Dia mengambil HP nya dan segera menghubungi Ardan.


Clarisa mulai gelisah ketika telfonnya tidak diangkat. Dia segera mengirim pesan, 'Ardan, ada penculik itu lagi datang ke rumahku. Aku takut !'


Tiba-tiba gagang pintu kamarnya bergerak seperti ada yang ingin membukanya.


Clarisa mematung di sudut kamarnya, dia segera masuk ke dalam sebuah lemari buku dan bersembunyi di sana.

__ADS_1


Untung saja badan dia sudah tidak sebesar kemaren, sehingga badannya bisa msuk ke dalam lemari itu.


BRAAKK !!!


Pintu Clarisa terbuka paksa.


"Tidak ada orang bos !"


"Kalian cari di ruangan lain, aku mau periksa kamar ini dulu." perintah Yudi pada anak buahnya.


Yudi berjalan masuk ke dalam kamar Clarisa. Jantung Clarisa berdetak sangat kuat. Keringat dingin membasahi tubuhnya, dia gemetar bersembunyi di balik lemari baju.


Dia terlihat sangat cemas, kalau-kalau penculik itu membuka lemari baju dan mendapatkan dia.


Yudi berjalan pelan-pelan sambil mengamati barang-barang yang ada di dalam kamar Clarisa.


Di meja belajar, dia melihat sebuah bingkai foto. Dia mengambilnya dan tersenyum miring melihat sepasang kekasih yang ada di dalam foto itu.


"Ardan...Ardan..jadi kau bukan hanya sekedar polisi penjaganya, tapi juga kekasihnya ? Dasar selera rendah, cewe kayak balon begini dipacari hahahahah!"


Mendengar dirinya di bilang balon, hati Clarisa panas. Ingin sekali dia masukkan sepatu ke dalam mulut Yudi yang sedang tertawa lebar itu.


Mata yudi menyapu seluruh kamar Clarisa, dia melihat lemari baju yang tidak tertutup rapat.


Dia berjalan berlahan, seperti menaruh curiga dengan sesuatu di dalam lemari itu.


Jantung Clarisa kembali berdegub kencang, ketika melihat Yudi berjalan ke arah tempat persembunyiannya.


Saat Yudi hendak membuka lemari itu, dia dikagetkan dengan suara anak buahnya.


"Bos ! sepertinya memang tidak ada orang di rumah ini !"


Clarisa menarik nafas lega, ketika dia mendengar Yudi dan anak buahnya sudah pergi.


Sementara pak Adam bersama istri dan anaknya berjalan kembali ke tempat mereka memarkir mobil. Setelah beberapa jam yang lalu, mereka melakukan pencarian kunci mobil yang hilang.


"Untung aja kuncinya ketemu, papi siih sembrono !"


"Iya mi maaf !"


Nadia berjalan sambil memepet ke maminya.


"Iihh Nad, jangan mepet kayak gini, mami susah jalannya."


"Nadia takut mi, ini sudah malam. Hawanya lain bikin merinding."


"Gak usah mikir macam-macam ! ayo jalan !"


Nadia merasa lehernya merinding, dia memberanikan diri menoleh ke belakang.


Nampak sesosok wanita memakai baju putih panjang berambut panjang, dan mata merah sedang menatap tajam ke arahnya.


Muka Nadia pucat, genggaman tangannya semakin kuat, dia menangis tertahan. Bi Herni merasakan sakit ketika Nadia menggenggam tanganya erat.


"Adduuhh Naad, lepasin tangan mami, sakit tau !"


Bi Herni heran melihat wajah anaknya pucat, "kamu kenapa sih ?"


"Kun..kun...!" ucap Nadia tertahan sambil telunjuknya menunjuk ke belakang.

__ADS_1


Bi Herni gemetar, ketika dia mengerti apa yang di katakan Nadia. Dengan perlahan-lahan dia menoleh ke belakang.


Tubuhnya seketika kaku saat sepasang mata merah melihat tajam ke arahnya.


Dia dan Nadia mematung dengan tubuh gemetar terasa berat untuk berjalan.


Pak Adam berbalik dan melihat ke dua wanitanya hanya berdiri di tempat.


"Kalian berdua itu kenapa ? ayo cepat ! "


Bi Herni dan Nadia menangis tertahan, wajah ke duanya pucat, mulut mereka kelu. Namun, bi Herni berusaha kuat untuk mengangkat telunjuknya memberi tanda ke suaminya untuk melihat ke belakang mereka.


Pak Adam mengikuti arah telunjuk istrinya, matanya terbelalak ketika melihat sesosok makhluk di depannya, gemetar seluruh badannya, tanpa terasa diapun kencing di celana.


"Hiiiihihihihihihihiihi !!"


Seketika mereka bertiga spontan berlari kocar kacir menerobos jalan setapak.


Ardan masih duduk di samping tempat tidur Vanya, sedari jam 7 usai mengantar Clarisa pulang. Dia menjaga Vanya di rumah sakit.


"Ardan, aku senang kau datang untuk menjagaku."


Ardan hanya tersenyum, "Kata dokter besok kau sudah boleh pulang. Jadi beristirahatlah !"


"Besok kau jemput aku ya !"


"Aku gak janji soalnya besok, ada beberapa hal yang harus ku urus."


"Ya sudah gak apa-apa. Tapi, setelah urusanmu selesai, kau ke rumahku ya !"


"Iya!"


Vanya memegang tangan Ardan, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajah Ardan, ingin menciumnya. Namun, seketika Ardan berdiri menghindar.


Terlihat wajah kecewa dari Vanya.


"Istirahatlah Vanya, aku pulang dulu, sebentar lagi ayahmu datang."


Tidak berapa lama pak Damar pun masuk.


"Ardan, makasih ya sudah mau menjenguk Vanya."


"Iya pak ! karena Bapak sudah datang. Aku pamit pulang dulu."


"Oh iya!"


Ardanpun keluar dari kamar rawat itu.


Saat di dalam mobil, dia melihat ada 3 panggilan tidak terjawab dari Clarisa.


"Ya ampun ! aku lupa kalau hpku tadi tertinggal di mobil. Clarisa kenapa nelfon ya ?"


Ardan mencoba menghubungi Clarisa kembali. Namun bukannya di angkat, malah di reject oleh Clarisa.


Ardan melihat ada pesan masuk di Whatshapnya.


'Ardan, ada penculik itu lagi datang ke rumahku. Aku takut !'


Seketika Ardan menginjak gas bergegas ke rumah Clarisa.

__ADS_1


__ADS_2