
05-08-2016
Dalam mimpinya, Urfana secara terus menerus melatih tinjunya ke tingkat yang lebih baik. Ia dapat merasakan bahwa tubuhnya sedang terbakar karena ia berlatih dekat gunung berapi.
Saat itu, pada mimpinya waktu berjalan 2x lebih lambat dibandingkan waktu dunia nyata.
"Apakah segini sudah cukup untuk mengalahkan Keisal?"
Urfana mempraktekan kombonya untuk melawan Keisal.
..."Tidak ada persiapan yang berlebihan untuk musuh yang sangat harus kau kalahkan."...
Urfana mendengar suara aneh yang ia dengar bukan dari telinganya. Jelas tak ada siapapun didalam mimpi tersebut.
"Mengapa berlatih secukupnya? Bukankah mereka menginginkanmu mati?"
"Si.... Siapa kau? Tunjukkan dirimu."
Urfana tiba-tiba siuman dari mimpinya. Tak lama kemudian terdengarlah suara pintu rumahnya sedang diketuk.
Saat ini masih pukul 7 pagi, tidak ada kegiatan apa-apa sama sekali dan bahkan ia meliburkan diri atas permintaan Ranggi.
Tubuhnya tidak cape, malah dalam kondisi prima meskipun ia berlatih begitu keras didalam mimpinya.
Mata kanan itu adalah anugrah, seolah-olah memberinya dunia sendiri untuk melakukan apa saja yang ia buat.
Namun Urfana sama sekali tidak tahu bahwa mata itu sebenarnya adalah kutukan baginya.
Jika mata itu hadir dalam tubuhnya, itu artinya ia takkan bisa hidup sebagai orang normal lagi, dan ia akan menanggung setiap konsekuensi dari apa yang dilakukan mata itu.
Semua ada bayarannya.
"Aku harus menutupnya." Urfana mengambil penutup mata miliknya.
Urfana berjalan kearah pintu dan membuka pintunya.
"Bro, sudah lama ga ketemu." seorang pria berkulit hitam berdiri didepan pintu rumahnya, badannya besar dan kekar.
"Jason?!"
"Well, sudah lama kita ga bertemu, kita sering bertukar kabar saat SMP melalui sosial media, sampai suatu hari kamu menghilang. Dan kamu muncul kembali, apakah sesuatu terjadi?" tanya Jason.
"Bukan hal yang penting, masuklah dulu." Urfana mempersilahkan Jason untuk masuk.
Jason Terry, teman SD Urfana. Salah satu atlit Baseball dari tim Nasional.
Permainan Baseball adalah permainan paling populer di dunia setelah Sepak Bola. Pada dimensi waktu yang baru bahkan masyarakat Nusantara memiliki minat tinggi terhadap permainan ini.
Nusantara memiliki tim atlet Nasional yang disingkat PBN (Persatuan Baseball Nasional)
"Jadi kamu datang ke Bandung karena ada pertandingan besok di Gelora Lautan Merah. Ternyata orang ini sudah menjadi atlit dalam olahraga yang diimpikannya." Urfana tentunya ikut bangga terhadap prestasi yang dicetak oleh teman dekat SDnya ini.
"Kuanggap itu pujian, ngomong-ngomong kamu sekolah dimana sekarang?"
Urfana menyeduh susu hangat dari susu kental manis, "SMK 2 Ciwalung." ia menyuguhkan kedua gelas untuk mereka berdua.
Smartphone Urfana berdering, Fatlan menelpon Urfana karena ia tak melihatnya disana.
"Urfan? Ga sekolah? Kenapa?" tanya Fatlan yang sedang menunggu kehadiran Urfana didepan pintu kelasnya.
"Aku ada kesibukan, acara keluarga." balas Urfana.
"Ada seorang gadis yang berjalan kemari bersama dengan Liran, yang jelas bukan Sarah atau Riko. Dia cantik banget dan dia bilang dia ingin ketemu denganmu Urfan." Fatlan memandang gadis itu yang sedang berdiri melihat ke arah gerbang.
"Apa Liran mengatakan sesuatu padamu?" Urfana sudah membuat janji dengan Liran.
"Mengatakan apa?"
Bahwa hari ini ia akan menepati janji bertarung dengan Keisal di Skusher-Arena. Tidak ada jalan mundur lagi dan mesti dihadapi sebagai sesama pria.
Urfana melakukan ini semua demi Liran dan anak-anak yang ia tindas karena keberadaannya.
Liran sendiri juga sudah berkeinginan untuk pergi ke tempat tersebut dan meminta tolong pada Hasan. Semua eksekutif saja hari ini tidak ada yang sekolah kecuali Hasan.
"Lupakan, Farlan. Aku harus pamit dulu." Urfana menutup teleponnya.
Remaja lelaki itu hanya berdiam diri setelah menutup teleponnya.
Urfana sama sekali tidak mengetahui bahwa urusannya dengan Keisal bukan sebatas janji, namun orang yang paling bertanggung jawab atas hilangnya Fadhilah adalah dia.
__ADS_1
"Ada yang salah? Kalau kamu butuh bantuan katakan saja, aku bebas hari ini." ucap Jason yang merasakan bahwa Urfana sedang memiliki masalah.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa gugup dengan apa yang kuhadapi."
"Memangnya siapa yang akan kamu hadapi?" tanya Jason.
"Seseorang yang dipanggil Killing-Maniac, Keisal Saniswara ketua geng motor Troy-Skusher." Urfana merasakan adanya aura yang kuat terhadap orang tersebut.
Jason sendiri pernah mendengar nama tersebut, meskipun ia sering berada di luar kota.
"Orang sepertimu kenapa harus takut?" Jason menghabiskan susu hangatnya dan kemudian berdiri.
Ia melepas jerseynya dan menunjukkan badannya bak tentara lehernya yang tebal dan tangannya yang bisa membengkokan beton.
"Kau sendiri tahu kan bahwa aku tak pernah dikalahkan? Kecuali oleh satu orang?" Jason kemudian melepaskan kaos hitamnya dan menunjukkan otot-ototnya.
"Aku tahu." balas Urfana dengan singkat.
"Ya, dan kuharap aku bisa bertemu orang itu lagi" Jason tersenyum dengan mimik wajah yang ramah, meskipun kulitnya gelap ia adalah cahaya.
Berteman dengan Jason Terry adalah sebuah anugrah, ketika seseorang mengalami hari yang buruk, Jason pasti menolong orang tersebut dan membuatnya merasa lebih baik.
Jika istilah teman sejati diciptakan dalam sosok manusia, Jason Terry adalah orangnya.
Ketika SD, ia adalah seorang jagoan. Yang bahkan kakak kelas berumur 3 tahun lebih tua saja tidak berani padanya. Jason si tukang tindas dan pemalak.
Setelah 1 jam berlatih, Jason kemudian pamit dan pergi jogging kembali ke daerah atas.
Urfana kemudian istirahat sejenak setelah latihan tersebut, ia masih memiliki banyak waktu luang hari ini.
"Kukira dia takkan mencariku." Urfana tersenyum.
...----------------...
Pada tanggal 3 kemarin, Urfana mulai merasa bahwa kehidupannya sangat berubah saat itu juga.
Dulu ia pernah dibenci oleh satu sekolah ketika SMP, dan kini ia dikagumi dan bahkan menjadi bahan gosip para gadis di sekolahannya.
Hari pertama setelah mengalahkan Christian Galeo membuat orang-orang mengagumi dirinya, meskipun kagum namun beberapa orang mulai menaruh rasa takut terhadap Urfana.
Suasana sekolah kini lebih tenang seketika kejadian soal pertarungan Urfana melawan Christian. Perundungan tidak terjadi tanpa adanya perlawanan, orang yang biasanya di-bully saja kini malah melawan seperti Urfana.
Sepulang sekolah, Urfana mengunjungi kelas Perhotelan untuk menemui Liran.
Urfana mencari Liran dan menemukan bahwa ia duduk disebelah gadis yang sangat cantik. Gadis tersebut kemudian menoleh, melihat ke arah dimana Urfana bersembunyi.
...Ca.... Cantik banget! Dia sepertinya lebih dari Fadhilah?!!...
Urfana melihat tipe gadis yang sangat ia idamkan, mungkin gadis tersebut adalah gadis yang hanya ada di film dan anime.
"Hei, kau gausah sembunyi kaya gitu Urfan." sapa Liran yang keluar dari pintunya.
"Gadis yang di sebelahmu tadi siapa? Kenapa ia seolah-olah ingin menusukku dari belakang???" tanya Urfana yang mulai bertingkah aneh.
"Melviana Aulia ya, ciee suka yaa. Bilangin ah." Liran melangkah kembali ke kelasnya.
"Jangan brengsek!" Urfana menarik kembali Liran.
Urfana memang bertujuan untuk membahas sesuatu dengan Liran, tapi tidak menyangka bahwa ia bertemu dengan gadis yang auranya lebih kuat dibandingkan Fadhilah.
Sekilas ia lupa bahwa ia mencintai Fadhilah, gadis itu hanya tersenyum dari tempat duduknya sambil membereskan barang-barangnya.
"Dasar bodoh." Melviana tersenyum melihat tingkah laku Urfana dan Liran yang bisa ia lihat dari jendela
Urfana kemudian mulai membahas soal kejadian kemarin padanya.
"Jangan-jangan kau ingin mengajakku ke tempat Keisal, kau serius mau bertarung dengannya? Gamau ah takut" wajah Liran mulai memucat setelah ia bercanda dengan Urfana.
Urfana memegang kedua bahu Liran.
"Tapi aku butuh saksi, kau dibully oleh anak-anak Keisal bukan? Kamu harus menyaksikan kalau aku akan menang."
"Kasih aku waktu pahlawan, aku.... Aku tidak mau ditendang Keisal lagi." Liran mempertanyakan janji dirinya sendiri, ia pernah bersaksi bahwa dirinya akan tetap mengikuti Urfana kemanapun ia pergi.
Urfana tidak bisa memaksa Liran, lagipula sejujurnya ia juga mengkhawatirkan keselamatannya. Terlebih lagi Keisal takkan ragu membunuh orang.
Yah, tentunya fakta bahwa setiap orang memiliki trauma masing-masing terhadap apa yang membuat mereka terluka.
Membatasi dirinya seolah-olah terkurung dalam nasib dan hanya bisa melindungi dirinya.
__ADS_1
Tapi rasa takut tersebut haruslah dihadapi. Tidak peduli seberapa kuat orang yang sedang menginjak dirinya.
Karena jika tidak ada yang menolong, hanya dirinya yang bisa menolong.
......Ketika tidak ada orang yang bisa menolongmu dalam situasi dimana kau akan dimangsa oleh predator, kaulah yang harus melawannya sendirian.......
Sebuah kata-kata mutiara yang terus membenak dalam diri Urfana. Ia terus mengingat hal itu hingga saat ini.
Remaja berumur 15 tahun itu mengendarai motornya dengan ganas, menaklukan jalanan seketika kendaraan yang lain hanyalah budak dari aturan.
Ia takkan kalah, dan hari ini ia akan membuktikan pada semuanya kalau dia adalah yang terbaik dari semuanya.
...----------------...
Urfana telah tiba didepan bar Fire Rainbow. Ini adalah pertama kalinya Urfana mendatangi bar, tentu saja karena hanya orang dewasa dan anak-anak nakal yang pergi kemari.
Lokasinya jauh dari jalanan dan perumahan, jalanannya sepi namun memiliki parkiran yang luas, dapat menyimpan 25 mobil dan 200 motor.
"Tempat ini, besar sekali!" Urfana terkejut melihat ada bar besar, bahkan selain bar ada distro baju dan bengkel motor.
"Urfan?" ucap Liran.
"Sepertinya kau disini juga." sapa Hasan melambaikan tangan, ia berjalan kemari bersama Liran.
"Aku ada urusan dengan Ranggi, ia mengundangku untuk bicara." Urfana menatap Hasan dengan tatapan serius.
Hasan kemudian menatap balik Urfana untuk menilai dirinya dengan yang waktu ia temui di ECB. Urfana sangatlah berubah.
"Aku akan ke Arena duluan." Liran memberikan sesuatu pada Urfana.
Kartu nama milik Melviana Aulia. Gadis itu tak bisa menjangkau Urfana karena Keisal. Ia ingin lekas bertemu dengan Urfana karena ada urusan penting.
Mereka bertiga berjalan barengan dan Urfana pergi ke ruangan VIP yang kedap suara dan tidak ada CCTV. Ranggi sudah menyambut Urfana sendirian, tanpa adanya anak buah yang mengelilinginya.
Keisal sendiri dan para eksekutif bahkan tidak kelihatan sama sekali.
Ranggi sudah menyiapkan jus lemon untuk disuguhi kepada Urfan.
"Sepertinya personil sudah ada disini. Apakah kita mulai saja?"
Ranggi kemudian memberikan kacamata AR kepada Urfana.
"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Hari ini akan ada perang yang cukup besar, terlebih lagi pertarungan Keisal dan Urfana akan memancing perhatian kedua ketua geng besar yang akan hadir."
Ranggi memperlihatkan logo-logo ketiga geng besar yang hadir dalam Skusher-Arena kali ini. Ia memperlihatkan juga nama-nama eksekutif dan ketuanya, dilanjuti dengan wilayah kekuasaan dan kekuatannya.
Keisal Saniswara (Killing-Maniac), ketua geng Troy-Skusher. Membawahi 300 orang anggota, 6 orang eksekutif. Kemampuan bertarungnya adalah beladiri Aikido.
Reggie Jackson (Fastest-Punch), ketua geng Clubboys. Membawahi 900 orang anggota, 2 eksekutif. Organisasi yang memiliki pembagian Rank mulai dari Bronze hingga Platinum, sedangkan ia sendiri adalah Diamond. Kemampuan bertarungnya adalah Southpaw-Boxer, tinjunya sangat cepat dan hanya petarung sejati yang dapat melihatnya.
Toriko Yudhiono (Wild-Beast), ketua Taring-Harimau. Membawahi 50 orang anggota, 5 eksekutif. Jumlah anggota terbatas yang memfokuskan diri pada kualitas bertarung dibandingkan jumlah. Kemampuan bertarungnya adalah Judo dan Tarung-Drajat.
"Apa tujuanmu memberitahuku soal ini?" Urfana bertanya pada Ranggi.
"Aku ingin kau mengalahkan Keisal, dengan begitu ia bisa memutuskan untuk menghentikan seluruh penindasan dan bisnis kami disekolahan akan berjalan lebih bersih."
"Tapi, kalau Keisal kalah melawanku. Ia bisa saja dibunuh oleh ketua geng lain dan akan terjadi perang besar disini. Mengapa kau ingin aku mengalahkannya? Kau temannya bukan."
"Dua eksekutif Painraiders ada disini, Urfana...."
Ranggi menundukkan kepala dihadapannya.
"Keisal harus sadar, bahwa organisasi yang kita jalani sudah menjauhi dari jalan dan tujuan yang seharusnya. Kita seharusnya naik keatas bersama-sama, bukan menjadi budak Painraiders, Urfan...."
Urfana membuka ponselnya, terlihat ada cukup banyak teman yang menanyakan kehadirannya saat sekolah.
"Apa menurutmu Keisal akan membunuhku?" tanya Urfana.
"Iya, bualan mengenai dirimu bergabung hanyalah permohonanku supaya Keisal mau mengampunimu."
"Ranggi, kau teman yang baik." Urfana salah menilai Ranggi. Nampaknya Ketua kedua dari Troy-Skusher tidaklah seperti yang Urfana pikirkan.
"Lalu 2 hari kemarin, kami menculik seorang gadis dari SMA Harapan Bandung." Ranggi menyiapkan file yang akan ia tunjukkan kehadapan Urfana melalui kacamata ARnya.
"Kau......jangan bilang....." Urfana menggenggam tangannya.
"Aku melakukannya karena Keisal, nama gadis itu adalah Fadhilah Asmira Putri."
Ranggi tidak merasa tenang dengan hal itu, ia mengkhawatirkan konsekuensi yang akan didapat setelah berani menculik anak Yohan Arunaldi.
__ADS_1
Urfana marah, dan sama seperti Keisal. Urfana berjanji jika ia menang, ia akan membunuh Keisal disana juga.
.......Bersambung.......