Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Kau tidaklah sendirian


__ADS_3

Dingin sekali, aku rasa aku mulai tidak bisa merasakan kakiku. Sudah berapa lama aku berjalan untuk melarikan diri? Aku rasa uang yang kumiliki untuk makan sudah mau habis.


Tapi aku tidak bisa mengemis, aku tidak ingin hidup dengan meminta-minta. Bagaimanapun aku harus bertahan.


Lapar-lapar sekali, rasanya aku akan mati.


BRUG.........


...----------------...


19-08-2016 / 05:32


Seorang remaja lelaki itu terbangun di sebuah kamar dalam rumah panggung. Selimut yang menyelimutinya dengan hangat mengingatkan padanya bahwa sebelumnya ia merasa kedinginan.


"Nak, kamu sudah bangun. Bapak tadi nemuin kamu pingsan di jalan dan kamu pucat sekali. Berhubung kamu sudah bangun, makanlah dulu." pria tua itu tersenyum dihadapannya.


Ia telah menyelamatkan remaja lelaki itu, dibalik kegelapan yang remaja itu alami setidaknya ada sedikit harapan dan cahaya yang menyinarinya.


Tanpa basa-basi remaja lelaki itu pun lekas bangun dan duduk di ruang makan bersama pasangan suami istri. Remaja lelaki itu menoleh kiri kanan kebingungan.


"Ini di makan dulu sayur supnya." ucap seorang ibu-ibu memberikan makanan yang hangat beserta air teh tawar untuk memulihkan keadaannya.


"Terima kasih.... Terima kasih..." remaja lelaki itu menangis, di ambang kepasrahan dan di jalan buntu yang mengarah ke jurang.


Mereka bertiga kemudian makan bersama di satu meja, dengan tenangnya suasana itu membuat remaja pria itu merasa merindukan rumah dan ketenangan yang harmonis.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu jalan ditengah malam? Kamu bisa aja dibegal, dirampas." tanya sang bapak pemilik rumah


Ia tidak menjawab pertanyaan tersebut, remaja lelaki itu masih syok atas apa yang terjadi.


Dalam beberapa saat lalu ia dikejar oleh preman lolos dan pingsan ketika sudah lepas dari kejaran.


"Kamu pasti ketakutan, tak apa sayang tidak perlu menjawab hal itu." balas reaksi Ibu itu melihat remaja lelaki yang sedang melamun sambil menundukkan kepala.


"Sebaiknya habiskan dulu makanannya, setelah makan tetap beristirahatlah di rumah kami. Bapak akan membantumu sementara waktu." ucap pria yang menolongnya di tengah malam.


"Jika tidak keberatan, bolehkah Ibu bertanya siapa namamu?"


Nama. Apakah hal itu penting? Setelah apa yang terjadi belakangan ini. Pada hari dimana musibah menimpa dirinya hingga ia dikejar mati-matian oleh orang yang ingin membunuhnya.


Tidak ada satupun orang yang memanggil namanya, tidak ada satupun orang yang dapat menolongnya hingga saat ini.


Remaja lelaki itu kemudian memutuskan untuk memberikan namanya kepada dua orang pasangan suami-istri yang menyelamatkannya.


"Uhm, sebaiknya kami dulu yang mengenalkan diri. Nama bapak adalah Kusuma, dan ini istri bapak, Rahmawati."


"Nama saya, Liran Al-Qaesim...."


Kedua pasangan itu tersenyum melihat Liran.


"Liran, nama yang bagus. Dan dia terlihat manis untuk anak seumuran 15 tahun." kata bu Rahmawati itu.


"Uhm, iya." ekspresi pak Kusuma itu berubah.


Kedua pasangan itu sedang memikirkan anaknya yang telah tiada. Tanpa panjang pikir pria tersebut mulai menyiapkan alat-alat untuk bertani di sawah miliknya.


"Sayang, aku ke sawah duluan."


"Berhati-hatilah."


Pria itu keluar dari rumah dan mulai menjalani aktivitas sehari-harinya sebagai petani. Ia terlihat cukup tertekan, ada yang mengganjal hatinya ketika ia melihat Liran.


Pada malam dimana ia menemukan Liran, pria itu mengingat masa lalu dimana ia menemukan putrinya yang menjadi santapan tiga ekor anjing liar milik sekelompok orang yang tak dikenal.


Melihatnya dengan mata dan kepala sendiri membuatnya merasa tertekan hingga ia selalu tak bisa tidur pada malam hari. Tiap malam ia berkeliling menggunakan motornya untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi kisah yang sama terjadi pada anak orang lain.

__ADS_1


"Dulu kami punya anak, seorang perempuan. Umurnya 13 tahun dan ia baru saja masuk SMP. Suatu hari ia pulang cukup malam karena tidak ada transportasi kota yang melewat ke kota. Dan bapak saat itu masih belum memiliki motor, ia jalan kaki ke kota untuk pergi ke sekolahnya."


Liran mendengarkan ceritanya.


"Guru disana tak ada yang tahu apapun, pada dasarnya anak sekolahan pulang pada sore hari. Namun entah mengapa ketika saat itu, putri kami belum pulang. Ketika bapak pulang menuju rumah, pada pukul 8 malam ia melihat putri kami......" wanita itu mengeluarkan air mata, menahan pedihnya ingatan yang terlintas.


"Anu, ibu tidak perlu melanjutkannya jika mau. Tidak apa, saya tidak keberatan." Liran berusaha menenangkan suasana.


"Putri kami.... Ditemukan terbunuh dan sedang dimakan oleh tiga ekor anjing liar oleh kelompok preman liar."


Liran terkejut, kemarin ia juga dikejar oleh kelompok preman yang membawa anjing liar.


Tidak menjadi sebuah kebetulan bahwa hal yang sama akan terjadi pada Liran juga seandainya ia gagal melarikan diri.


Saat ini, ia berada di sebuah desa bagian barat Cimahi yang bernama desa Rancahanyar. Akses kota menuju desa ini terbilang cukup jauh karena desa ini adalah daerah yang cukup terpencil.


"Saya turut prihatin bu." ucap Liran berbela sungkawa.


"Itu baru saja terjadi beberapa minggu lalu. Dan kami masih bersedih atas kejadian lalu. Tapi kami ikhlas jika Tuhan memutuskan untuk mengambil putri kami."


Tekanan batin yang Liran lihat pada Ibu Rahmawati dapat ia rasakan pada dirinya.


Tekanan batin yang sama dengan sang kakak tiri yang disayang, Natalia Unkulla. Tertekan, dan terus menerus menangis.


Pada hari sebelum Urfana bertarung melawan Keisal. Natalia Unkulla dijemput oleh pihak kepolisian dan dibawa ke kantor untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Namun ketika itu dengan sejumlah uang yang cukup banyak keluarga pejabat Tsajaka itu mampu menguasai seluruh kepolisian dan mengaturnya lewat orang atas.


Natalia Unkulla telah mati, dan keluarganya telah direnggut. Apa yang Liran miliki saat ini hanyalah nafas dan keinginan untuk membalas dendam, begitupun dengan apa yang Liran lihat pada sosok bu Rahmawati.


Liran kemudian berpikir seperti Urfana, ia tahu bahwa seseorang harus membayar perbuatan ini, dan Liran ingin menolong sepasang keluarga ini dengan menghabisi para preman yang membawa anjing liar untuk memangsa anak kecil.


Kepolisian daerah terlalu sibuk mengurus organisasi geng yang sedang konflik didaerah Bandung Barat dan Cimahi, bahkan kasus ini tidak viral di TV ataupun sosial media mengingat seberapa terpencilnya desa ini.


Aku sudah melihat mereka bertarung, aku berada di Skusher-Arena, dan aku sudah mengamati bagaimana caranya bertarung. Aku harus melawan balik ketidakadilan ini.


"Anu, bu Wati. Apa boleh untuk sementara saya tinggal disini terlebih dahulu? Saya ingin membantu pekerjaan Pa Kusuma dan Bu Wati."


"Uhm, sebaiknya kamu pulang ke rumah Liran. Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa disini? Tinggal dimana kamu sebenarnya nak?"


"Bandung, Saya tidak bisa pulang karena saya melarikan diri dan Saya—"


Bug bug bug bug bug!!


Dikedorlah pintu rumah dengan sangat keras hingga Liran tak bisa menyelesaikan apa yang ingin dikatakan.


"Buka!! Cepat buka!!" terdengar suara pria berteriak.


Bu Rahmawati bergegas berlari ke pintu dan membuka. Kemudian terlihat tiga orang bapak-bapak datang untuk menagih hutang.


"Dimana si brengsek Kusuma itu?! Sudah waktunya untuk membayar hutang yang nunggak 3 bulan." ucap seseorang dengan logat sumatra, datang menagih hutang ke sepasang suami-istri yang miskin.


"Pak Simaganjar, saya janji suami saya akan membayar hutang bulan ini!"


"Cih, kamu ini sama seperti suami kamu. Janjinya bulan ini, dan janjinya bulan ini. Sudah dari bulan kemarin kamu bilang begitu." ucap Simaganjar.


"Kalau tidak bisa bayar, tanah ini akan kami sita hingga Ibu dapat membayarnya. Dimana suami Ibu?" tanya seorang asisten Simaganjar.


"Suamiku, sedang bertani...."


"Kamu pikir karena anakmu dimakan anjing kami akan bertoleransi atas kejadian itu?! Dasar pela—"


Buaaggg!! Sebuah pukulan terlayang pada wajah Simaganjar.


"Pak?!!" salah satu anak buah terkejut dan menahan Simaganjar yang hampir jatuh.


"Keterlaluan, apa maksudnya ini?!!"

__ADS_1


"Berhentilah basa-basi. Aku tahu bahwa kalian lah yang menyewa kelompok preman dan memburu dengan anjing liar." tatap Liran dengan tajam.


"Keuh, banyak basa-basi. Kau akan kutuntut karena menuduh yang tidak-tidak. Lupakan soal hutang, aku memang akan mengambil sawah dan rumah ini." balas Simaganjar.


"Pak, saya mohon jangan lakukan itu!"


"Bagaimana tidak, anak ini yang keterlaluan karena menghajarku. Dia membuatku tidak sabar dan marah."


Rahmawati kemudian menatap Liran dengan marah.


"Cepat, minta maaf Liran! Ibu tak ingin hal itu terjadi."


"Sebaiknya minta maaf sambil menjilat sepatuku, baru akan kupertimbangkan kembali soal penyitaan aset rumah dan sawahmu."


Tanpa pikir panjang-panjang, Liran yang merasa bersalah kemudian bersujud dan menjilat sepatu milik Simaganjar. Kemudian Simaganjar menginjak kepala Liran dengan keras.


"Mampus, sekarang ini imbang!" ucap Simaganjar yang kaki kanannya sedang menginjak kepala Liran.


"Kami akan datang lagi, pastikan uangnya ada." sang asisten mengingatkan kembali kepada ibu Rahmawati.


Setelah itu, mereka bertiga pergi meninggalkan rumah itu. Liran tidak berhenti menatap mereka meskipun mereka sudah berjalan jauh.


"Siapa itu? Kurang ajar sekali." ucap Simaganjar.


"Sepertinya keponakan atau saudara dari anak perempuannya."


"Apa tidak cukup anak perempuannya yang dimakan anjing? Mungkin jika ia tak membayar lagi kita akan menyita rumah itu dan menahan mereka berdua. Lalu kita akan membawa anak itu dan menjadikannya pakan untuk anjing liar." Simaganjar melihat kebelakang dan menatap Liran dengan sinis.


Liran sangat tahu, bahwa Simaganjar adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian putri dari Pak Kusuma dan Ibu Rahmawati.


"Bu Rahmawati, maafkan saya. Gara-gara saya Ibu dan Pak Kusuma jadi nerima akibat yang buruk."


Bu Rahmawati hanya terdiam dan menangis. Melihat sesuatu yang janggal terjadi, Pak Kusuma langsung berlari kembali ke rumahnya.


"Pak Simaganjar kesini lagi?"


"Iya, dan dia bilang dia mau sita rumah dan sawah kita. Liran memukul Pak Simaganjar dan membuatnya marah."


Pak Kusuma kemudian memegang bahu Liran.


"Liran, kenapa kamu memukul Pak Simaganjar? Ini salah kami karena tak bisa membayar hutang selama 3 bulan. Citra kami akan terlihat buruk di matanya."


Liran kemudian memegang lengan Pak Kusuma.


"Pak, saya melakukannya karena Pak Simaganjar menyebut istri bapak pelacur dan kemudian menghina putri bapak yang dimakan anjing. Saya tidak tahan lagi mendengarnya. Saya minta maaf Pak Kusuma" balas Liran menjawab kegelisahan Pak Kusuma.


Pak Kusuma kemudian terdiam sejenak sambil menutup mata.


"Liran, jika memang menurutmu itu adalah hal yang benar tidak perlu merasa bersalah, bapak paham. Terima kasih karena membela kami." ucap Pak Kusuma.


Pak Kusuma tidak menyalahkan Liran, sudah wajar jika Pak Simaganjar akan menyita tanah, rumah, dan sawah miliknya karena tak membayar dalam 3 bulan berturut-turut.


"Sepertinya saya harus pergi lagi, ada yang harus dilakukan saat ini."


"Liran, apa kamu mau pulang?"


Liran menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan menyakitkan. Dan baginya ini adalah awal yang baik untuk melawan balik ketidakadilan.


"Saya tidak memiliki rumah untuk pulang. Terima kasih atas semuanya pak, bu. Saya pamit dulu." Liran merasa bahwa ia sebaiknya tetap berjalan.


Liran memberi salam lalu pergi. Kisah dari seorang malaikat bersayap hitam dimulai dari sekarang.


.


.......Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2