
Daun-daun berterbangan dari rambut pohon pada sore hari, senja terlukis pada langit dengan indahnya oleh sang mentari.
"Tak pernah kupikirkan aku akan duduk tenang sendirian di taman saat jam pulang, enak juga bisa sambil liat orang main futsal." ucap Urfana.
Kehidupan bersekolah seperti ini adalah hal yang paling didambakan oleh Urfana, karena ketika ia SMP, ia hanya terus didatangi dan membuat masalah dengan anak nakal.
Urfana adalah korban bullying kala itu, teman-teman di sekolah menindasnya hingga mencuri beberapa benda dari tasnya termasuk ponsel.
Mereka membajak ponselnya dan mengirim pesan yang tidak-tidak pada semua kontak yang ada dalam ponselnya, termasuk orang tua Urfana sendiri.
Tak ada satupun yang memahami apa yang Urfana rasakan, ia padahal baru saja menjalani tahun ke-1 dari SMP.
Teman-teman menjauhinya, sang Ayah dan Ibu memarahi dan menggamparnya duluan tanpa adanya keinginan untuk mendengarkan penjelasannya duluan.
Urfana menangis, ia takut, sedih, hingga sakit selama 1 minggu. Bullying membuatnya tak ingin bersekolah lagi, bahkan ponselnya masih ditangan orang itu.
Hari demi hari, hatinya semakin gelap karena tak tahan dengan apa yang terjadi pada hidupnya.
Sang Ayah adalah penjudi sabung ayam, tukang hutang dan pengangguran. Sang Ibu adalah sosok religius yang galak, selalu menuntut anaknya untuk belajar tanpa adanya kasih sayang dan selalu membandingkannya dengan anak tetangga.
Mereka ramah diluar, namun keji didalam, Urfana sendiri menjadi korban kekerasan tidak hanya sejak SMP, namun sejak ia kecil.
Rumah bukan menjadi tempat baginya berlindung lagi, hatinya semakin gelap hingga tidak ada satupun yang tahu mana yang lebih jahat, Urfana atau Iblis?
Urfana datang kembali ke sekolah pada saat bel istirahat berbunyi. Ketika sang guru pelajaran keluar dari kelasnya, Urfana masuk dan menghantam salah satu kepala temannya yang paling bertanggung jawab dalam menindas dirinya.
Tidak ada satupun yang menghentikannya karena mereka ketakutan, bahkan kedua teman lainnya yang menindasnya ia buat babak belur karena berusaha membela temannya.
Hari itu adalah 13 Maret 2014, dan bahkan hingga saat ini Urfana tak pernah melupakan percikan darah yang menempel pada wajahnya.
......Darah balas dendam......
Kejadian itu mengakibatkan dua korban mengalami luka ringan akibat lontaran tinju yang dilayangkan pada wajah mereka, sedangkan yang satu mengalami lumpuh otak dan harus duduk di kursi roda selamanya.
Bahkan fitnah mengenai pencurian ponsel, sepeda dan lain-lain diarahkan padanya. Anak itu kabur dan menjadi buronan pihak berwajib.
"Huf... Mengapa aku mengingat lagi masa-masa itu?" Urfana tersenyum mengingat bahwa dirinya mesti menjadi penjahat untuk melindungi haknya sendiri.
Selama Urfana pergi dari rumah, kedua orang tua yang mengutuk anaknya bertengkar.
Sang Ayah pergi meninggalkan rumah dan selingkuh dengan yang lain, sedangkan sang Ibu meninggal karena depresi atas tekanan yang diberikan oleh gosip mengenai sang Ayah dan fitnah mengenai sang Anak.
__ADS_1
Urfana tidak mengetahui kondisi kedua orang tuanya hingga saat ini, ia tak peduli lagi dan tak ingin tahu soal itu.
"Fatlan. Kau dibelakangku kan? Kau mendengarkan aku ngomong sendiri ya?"
Urfana mampu merasakan keberadaan Fatlan dibelakangnya. Indranya semakin menajam setelah kejadian Troy-Skusher dan Painraiders.
"Kupikir kau gila karena ngomong sendirian." Fatlan kemudian duduk disebelah Urfana sambil menonton futsal bersama.
"Fatlan, kalau aku balas dendam terhadap orang yang merundungku. Apakah hal itu wajar? Apakah itu baik? Pantaskah."
Fatlan memikirkan pertanyaan itu selama 10 detik sebelum menjawabnya, ia sangat mengerti jika pertanyaan itu adalah pertanyaan yang serius meskipun situasinya santai.
"Balas dendam bukanlah hal yang baik, namun membiarkan diri sendiri terluka karena tak melawan jauh lebih buruk." balas Fatlan pada pertanyaan itu.
Ketika tak ada satupun yang membantu ketika dirundung atau ditindas, tentunya harus bangun sendiri.
Urfana memikirkan hal jawaban Fatlan, dan ia setuju dengannya. Balas dendam bukanlah hal yang baik, namun membiarkan diri sendiri terluka karena tak melawan jauh lebih buruk.
Bukan satu atau dua hal di dunia ini dimana korban Bullying bunuh diri karena depresi, bahkan sang Penguasa dunia Ouvel Euronova sendiri mengalaminya.
Ouvel Euronova menyimpan janji untuk menghilangkan bullying dari ranah pendidikan maupun lingkungan.
Urfana dan Ouvel menyimpan janji yang sama, bullying adalah fase yang tidak bisa diabaikan karena dapat merusak masa depan.
"Hm?"
Shuuu, Goalll hahahaha.
Salah satu tim mencetak goal di gawang lawan. Rasa kemenangan adalah rasa yang sangat memuaskan keadaan hati, namun jika rasa kemenangan itu bergejolak dengan kebencian maka kemenangan tak ada artinya.
Kehampaan, itulah yang Urfana rasakan saat batu bata dihantam kepada kepala temannya.
"Terkadang aku berpikir, apakah Liran selama ini mengalaminya atau tidak." Urfana melihat telapak kanannya yang memiliki tato simbol yang berlambang mirip dengan sayap.
"Mengalami apa?" tanya Fatlan.
"Bullying. Apa yang kulihat pada hari dimana aku menyelamatkan Liran dari anak buah Keisal, ia terlihat sangat traumatik pada wajahnya seolah ini bukan pertama kalinya."
"Begitu ya...."
"Kadang aku bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Liran selama 5 hari tak ada kabar. Apakah ia sedang sangat tertekan atas apa yang terjadi? Aku yakin sesuatu telah terjadi...... Tapi aku tak tahu apa....."
__ADS_1
Fatlan tahu apa yang terjadi pada Liran, namun ia tak bisa mengatakan apa yang terjadi pada Urfana.
Yang jelas, Troy-Skusher tak terlibat dengan hal ini. Liran sedang berubah, Liran sedang tersiksa, Liran sedang menangis.
Sama seperti Urfana, tak ada satupun yang bisa menolongnya. Ia menjauhi semua orang dan kini mulai diselimuti kegelapan.
"Jika Liran mengalami bullying dan tekanan, aku ingin melihat Liran melawan dan menang." Urfana tersenyum, "Aku yakin Liran pasti bisa kok!"
Kedua orang tua Liran dibawa oleh kelompok misterius atas perintah orang berpengaruh, menghilang bagaikan debu yang tersapu oleh kemoceng.
Tekanan ada dimana saja, remaja berumur 15 tahun itu kini sedang melarikan diri dari musuh yang jauh lebih besar dari Urfana.
...Pejabat...
"Urfan, ada sesuatu yang harus kukatakan.... Tapi berjanjilah kau tidak ikut campur karena ini adalah permintaan Liran sendiri." Fatlan menundukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa?" Urfana menoleh ke Fatlan dan menatapnya dengan serius.
"Liran sedang diburu, ini adalah efek jera dari perbuatan kakaknya, Natalia Unkulla setelah membunuh pejabat yang dikenal sangat baik oleh masyarakat." Fatlan mengeluarkan air mata, ia tak bisa membayangkan penderitaan yang Liran sedang hadapi.
Urfana tentunya tak menyangka bahwa ia mendengar adanya gejolak luar biasa yang sedang terjadi pada negeri ini.
Liran hidup dalam keluarga yang sangat dermawan dan disiplin. Berbeda dengan Urfana, Liran hidup dengan baik dalam keluarga dan lingkungannya.
Urfana mungkin sudah terjauhkan dari masa lalu yang sangat gelap dan mulai bisa bersekolah dengan baik, namun Liran berbeda.
Pada hari disaat kakaknya dijerat hukuman mati dan kedua orang tua diambil darinya, ia berjanji bahwa ia akan membalas dendam pada keluarga pejabat dan semua musuh yang berurusan dengannya di masa lalu.
Kebencian menyelimuti dirinya, rasa sayang dan kenangan dari keluarga menguatkan hatinya untuk tetap berdiri.
Urfana balas dendam untuk dirinya sendiri, sedangkan Liran balas dendam untuk keluarganya.
Liran jauh lebih menderita dari Urfana, dan ia sudah memiliki tekanan dan kebencian yang sangat kuat. Kebencian yang bahkan bisa membumihanguskan Nusantara.
"Ia bilang bahwa aku adalah pahlawannya.... Itu artinya aku harus menyelamatkannya bukan?!" Urfana berbicara tegas dalam urusan teman dekatnya.
Pertama Fadhilah, kedua Liran. Satu persatu orang tersayang Urfana direnggut oleh kebiadaban dunia.
"Tolong kibarkan bendera kebebasannya pahlawan. Kau tahu harus berbuat apa." tepuk Fatlan pada Urfana.
Urfana dan Fatlan setuju untuk mengingkari permintaan Liran, mereka ingin menolongnya.
__ADS_1
Ia meninggalkan Urfana sendiri dan pulang lebih duluan. Fatlan menutupi kepalanya dengan tudung jaket untuk menutupi wajahnya yang baru saja menangis.
.......Bersambung.......