Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Kumpulan para semut


__ADS_3

Dikeramaian yang dipenuhi oleh preman bertato, masyarakat, peserta, dan anak-anak sekolahan. Sang Raja yang mengendalikan permainan ini untuk pertama kalinya berdiri secara sigap.


Ia yang menguasai seluruh preman di kota Cimahi, berdiri seolah-olah ada setruman pada jantungnya yang tiba tiba dengang.


Satu orang dengan jaket hoodie yang kupluknya menutupi kepalanya berjalan menujunya. Orang yang sudah sering bertarung pasti bisa merasakan kehadiran orang yang kuat disekitarnya, dan mata Joon saat ini terpandang pada Brother Farel yang sedang berjalan mendekatinya.


Namun, bukan Farel yang membuat Joon merasa tegang, melainkan anak berusia 15 tahun bertubuh kecil yang memandangnya dari kejauhan 160 meter itu.


Farel memang terlihat memiliki fisik gagah bagaikan tentara medan perang, sedangkan Liran yang fisiknya seperti pecundang sekolahan itu ditatapnya bagaikan malaikat bersayap hitam yang datang mencabut nyawanya.


"Siapa itu? Beraninya dia masuk ke kandang singa?!!" tanya salah satu dari kumpulan orang yang menonton pertandingan.


Kedua orang dewasa yang tadinya sedang bertarung kini berhenti dan melihat orang itu mendekatinya.


"Brengsek, orang lagi nyelesain masalah mau dipisahin?!! Bocah mudaa!!!" ucap Preman yang sedang bertarung itu melancarkan pukulannya.


Farel tak mengeluarkan tangan dari sakunya dan menerima pukulan itu di dahinya yang keras bagaikan baja.


Si preman itu kemudian kesakitan setelah memukul dengan seluruh tenaga pada dahi pemuda yang sama sekali tidak berkutik.


"Uaghhhh, tangankuuu!!!"


"Tangkap dia." ucap Joon.


"Kami akan hentikan orang yang membuat ricuh itu kak!"


"Bukan yang di lapang, tapi yang disana!!!" mata Joon menoleh ke arah Liran, "D... Dia?....." Joon makin dibuat tidak tenang.


Liran menghilang didalam kerumunan, tidak ditemukan dan tidak bisa dideteksi sebagai ancaman oleh anak buah-buahnya karena terlihat seperti orang biasa tak berbahaya.


"Baiklah bocah, jika kau ingin bermain lekas jadikan aku pemainnya! Aku Joon si Raja Anjing akan turun ke lapang!!"


Farel kemudian mengamuk dengan seluruh tenaga, kekacauan terjadi dilapang dan dijadikan tontonan kembali bagi para penonton dan pemasang taruhan.


Orang-orang yang mendukung Brother ikut turun ke lapang dan membantu Farel menghajar musuhnya.


"Brother.... Jadi kaulah Brother yang mereka katakan...." Joon merobek kaosnya dan menunjukkan otot-otot dan tatonya yang menyeramkan.


Farel dan Joon saling beradu pukulan dan tendangan, orang-orang yang bertarung di sekitar mereka menjauh secara reflek untuk memberikan ruang bagi dua manusia buas yang menggila.


Suasana disana sudah seperti didalam hutan berisikan kawanan hewan buas yang saling merebut wilayah, mereka dilihat oleh hewan hewan pengecut yang mengelilingi mereka semua.

__ADS_1


Namun, diatas mereka semua ada satu orang yang menonton pemandangan tersebut bagaikan pertunjukkan. Ia yang melihat mereka bagaikan kumpulan semut dan mampu mengubah kumpulan tersebut menjadi kacau berlarian sana kemari.


Monster : Malaikat bersayap hitam yang bersemayam dalam tubuh manusia. Liran Al-Qaesim.


Orang yang pernah memimpin geng besar di Bangkok, dibuat tidak tenang oleh anak berusia 15 tahun.


"Hrrraaahh!!!"


Buag!! Sebuah pukulan mengenai dada tengah Joon.


"Ini semua adalah perbuatan kau, Aku bisa melihat sendiri bahwa kaulah yang melakukannya. Dimana Sandra sekarang!!"


Seorang pemuda berusia sama seperti Farel berlari dan berteriak sambil mendekatinya.


"Brother! Kendalikan emosimu!! Dengarkan aku!!" ucap seorang teman yang mengenal Farel


Farel kemudian ditendang balik oleh Joon yang semakin muak dengan keterpurukannya.


"Sialann!! Jangan berani sentuh aku dengan tangan kotormu itu!!" Joon memerintahkan anjing-anjing pemburunya untuk menyerang Farel.


Farel yang masih berdarah panas itu tak segan-segan untuk melukai para anjing itu dengan menendang mereka dibagian kepala dengan kencang.


Pemuda yang merupakan rekannya itu mendorong Farel dan menggantikannya terkena tusukan pisau. Ulu hatinya ditusuk oleh pisau karatan yang masih memiliki ujung yang tajam.


Farel kemudian menjadi lebih tenang setelah terjatuh ke tanah karena terdorong olehnya. Reska, sahabat baik sejak kecil telah menggantikannya tertusuk.


Apa yang ada dipikiran Farel saat itu? Ia sedang memikirkan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Re.... Reska?......"


"Muhuhahahahahaha!! Aku tahu siapa kau!! Ternyata kau si ketua kubu Elang. Brother, Farel!! Bos sangat menantikan kembalinya dirimu lho!!" dan Joon menertawakan Farel yang terlihat tertekan melihat temannya mati.


Tidak..... Tidak lagi..... Tidak bisa begini.... Jangan... Jangan lagi....


Farel menangis dan berusaha untuk menutup luka serius yang ada di perutnya.


"Reska bertahanlah!!!"


Farel mulai gelisah karena pendarahan yang tak bisa ia hentikan pada tubuh Reska.


Pihak kepolisian kemudian datang ke lokasi untuk membubarkan pertarungan, mereka telah mempersiapkan diri dengan alat gempur dan perisai.

__ADS_1


Liran yang mulai tidak tertarik dengan situasi ini kemudian berjalan meninggalkan lokasi bersama mereka yang berlarian takut ditangkap polisi.


Dan seluruh anak buah geng dari Anjing-Liar yang tersebar diseluruh kota kini datang ke lokasi untuk mengepung Farel dan teman-temannya.


Mata-mata Clubboys yang dikirim untuk mengawasi Farel kemudian menghubungi Reggie secara langsung.


"Bos Reggie. Situasi tidak aman."


"Lapor kepadaku, katakan dalam singkat dan jelas." terdengar suara Reggie dari ponsel milik mata-mata.


"Brother.... Brother akan mengamuk. Sepertinya teman atau sahabatnya terkena tusukan. Polisi dan geng Anjing-Liar mulai berkumpulan."


"Lari." jawab Reggie dengan singkat.


"Tapi, bos? Kenapa saya harus lari?" tanya balik.


"CEPATLAH, INI PERINTAH DARIKU." teriak Reggie yang kemudian menutup teleponnya dan menggambil nafas sejenak.


Ia sedang berkencan dengan kekasihnya, ditemani dengan Valin yang membawa teman dekat perempuannya.


"Kak, kenapa berteriak?" tanya kekasihnya.


Valin dapat memahami ekspresi itu, tidak lain dan bukan adalah wajah yang sangat pucat.


Reggie dengan segera langsung berdiri, terpikirkan olehnya untuk pergi ke lokasi dan menghentikan Farel.


"Sepertinya monster dalam dirinya telah bangun kembali. Bukankah begitu? Kak Reggie?" Valin memotong kecil daging iga sapi itu dan menyuapi temannya.


Reggie kemudian duduk kembali.


"Mari kita ngobrol lagi soal kurikulum pelajaran SMA kalian. Kalian disini meminta bantuanku untuk menyelesaikan PR bukan?" Reggie memaksakan diri untuk tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.


"Kak..."


Farel, aku sudah berjanji untuk tidak ikut campur tentang urusan ini. Namun tolong kembalilah dengan selamat, karena kau adalah sahabat sejatiku.


Ungkap hati bos dari Clubboys, yang rumornya hanya mempedulikan uang dan kekuasaan.


.......Bersambung.......


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2