
Urfana lekas pergi menuju tempat yang diberitahu oleh Girana. Ia telah cukup memasang bug di kantor karyawan dan kini ia mesti berkeliling sambil menelusuri jalan dalam hotel.
Kamera yang terdapat pada kancing tidak cukup fleksibel karena tak dapat mengikuti pergerakan mata. Alasan mengapa dipasang di kancing karena Urfana tidak menggunakan kacamata sehingga Ranggi tidak memasangkan di kacamata.
Sambil mengawasi Urfana berjalan, Ranggi kemudian menelpon Keisal. Para gadis yang ada di kamar Keisal kemudian kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Bersenang-senang dan mengabaikan tugas, bos? Apa kau senang sekarang??" ucap Ranggi dengan nada yang terdengar cukup kesal.
Keisal terkejut mendengar Ranggi seserius itu, "Hei hei, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Dengar, aku mendapatkan informasi dari para gadis itu."
Ranggi menyiapkan buku catatan.
"Kalau begitu katakan."
Keisal mendapatkan informasi mengenai pemilik perusahaan dan nama nama penanggung jawabnya. Salah satu gadis yang bermain dengan Keisal memiliki pengetahuan soal struktur jabatan di Grand Angkasawira.
Disisi lain, ia melaporkan mengenai aktivitas keseharian umum yang sering terjadi di ruangan terbuka dan melaporkannya pada Ranggi.
Dan Keisal telah bertemu dengan Direktur Charles James saat ia makan bersama para gadis tersebut. Menyampaikan bahwa ia adalah tamu penting di acara penting milik Johannes.
Kartu akses lift khusus yang tadinya ia ingin curi malah diberikan kepadanya secara langsung. Ranggi merasa bahwa semua terasa berjalan begitu lancar dengan Keisal yang bermain-main dan blunder, namun mengapa Urfana yang susah payah dan serius malah terasa begitu sulit?
"Bisakah kau pergi ke ruangan ini?" Ranggi mengirim gambar ke ponsel Keisal.
Keisal menerima gambar yang bertulisan alamat kamar hotel.
"Aku tak yakin bahwa aku bisa cari kamar ini di hotel...."
Ranggi menggeplak kepalanya dengan pelan.
"Cukup cari saja di lantai yang tercantum, aku akan menghubungimu lagi." Ranggi menutup panggilan teleponnya.
Setelah menghubungi Keisal, ia langsung mencari suatu konten atau sosial media Girana Ayusinta di platform manapun.
"!!!!" Ranggi terkejut.
Ia melihat bahwa gadis itu adalah jagoan MMA, dan terdapat postingan ia sedang berlatih tembak. Bahkan ada foto ia yang sedang dirumah sakit menjalani tugas magangnya.
Yang paling mengejutkan adalah foto Girana sedang bersama Johannes.
Ranggi langsung melakukan panggilan telepon pada Urfana. Berdering saku tersebut di celananya.
"Ranggi.... Kau cukup lama—"
Tiga orang anak buah Girana yang dari Noparents langsung menangkap Urfana dan membawanya masuk ke ruangan dimana Girana memerintahkannya.
"Tinggalkan kami berdua." perintahnya.
"Baik nona." ia mendorong Urfana dengan kencang.
__ADS_1
Mereka meninggalkan Urfana di ruangan itu, dan Girana menguncinya menggunakan fingerprint. Setelah itu, Girana kemudian terlihat benar-benar sangat serius. Ia menatap Urfana seolah-olah ia adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
"Kau kemari karena mencari Fadhilah bukan? Kenapa kau selalu mencarinya mati-matian?" tanya ia dengan tegas.
Urfana masih tidak bisa berkata apa-apa, ia dikerumuni rasa bingung dan resah. Girana yang baik hati itu kini terlihat sangat marah.
Raut wajahnya terlihat sama seperti orang-orang yang berkeinginan besar untuk membunuhnya. Urfana tahu wajah itu, ia mengenalinya, namun tidak disangka wajah itu akan muncul kembali dihadapannya dalam selimut hangat yang ia panggil kakak.
"Apa ini....? Apa maksudnya ini kakak....?" mata Urfana berkaca-kaca.
"Biar kuberitahu padamu brengsek."
Girana menendang wajah Urfana dengan sangat kencang hingga ia terpojok ke sisi dinding dan terjatuh tak berdaya.
Girana kemudian menodongkan pistol ke arah kepala Urfana dari jarak 2 meter.
"Apa yang kau coba lakukan? Apa kau sebegitu besarnya keinginanmu untuk mati? Jangan macam-macam dengan kami."
"Kak Girana, apa ini benar-benar kakak?! Kenapa kakak melakukan ini?! Apa kakak yang menculik Fadhilah!!?" Urfana berteriak, air matanya pecah karena tak menyangka bahwa Girana adalah dalang dibelakang ini.
"Benar~❤️ ini adalah perintah dari seseorang yang akan menguasai perekonomian dunia dalam 5 tahun kedepan dan akan meruntuhkan Yohan Arunaldi."
Corcus berjalan memasuki ruangan itu, ia menembus tembok dan kemudian menghalangi Girana yang berkeinginan untuk menembak Urfana.
"Urfana, pelurunya benar-benar terisi." kata Corcus.
Girana menceritakan cerita komedi yang menghibur Urfana ketika ia merasa sedih dan stress karena dirumah sakit.
Senyuman terhangat yang tidak ia sering lihat ada pada wajah cantik dan manis Girana yang selalu ramah kepada para pasien.
"Aku selalu memikirkan bahwa suatu hari aku bisa membalas kebaikan yang telah kakak berikan padaku, tapi kenapa ini semua bisa terjadi?.... Kenapa... Kenapa kak..." Urfana tidak bisa menahan kesedihannya.
Ia sangat menyayangi Girana dan tidak tega untuk melawan balik.
Girana tertawa kegirangan mendengar ketidaksanggupan Urfana, ia benar-benar terlihat menyedihkan di matanya.
"Kau tahu? Semua kebaikan yang kutunjukkan hanyalah acting semata. Aku memang magang ditempat tersebut karena aku harus mengawasi Fadhilah yang punya isu kesehatan tertentu, setiap 1 minggu ia berobat ke rumah sakit dan diperiksa. Sudah jadi jadwal rutinan baginya untuk terus pergi kesana."
"Maksud kakak, kakak adalah bagian dari Noparents?"
"Aku adalah No. 3 disini, di Noparents. Meskipun baru hanya 2 tahun, bersamaan dengan bocah baru yang sekarang jadi No. 2 di Noparents."
Girana melepaskan kunci keamanan yang ada di pistol itu.
"Kau tahu kenapa kami memerlukan Fadhilah? Itu karena Johannes memerlukan darah seorang gadis perawan spesial yang merupakan keturunan dari seorang lelaki pasukan spesial."
"Apa maksudnya?...."
Corcus menoleh ke Girana.
__ADS_1
"Kami memerlukan Raja baru yang akan memimpin dunia ini, dengan kata lain Johannes akan bereinkarnasi pada keturunan barunya."
Urfana benar-benar pusing, mual. Ia tidak benar-benar paham apa yang diucapkan oleh Girana.
Kuatkan hatimu ini..... Dan biarkan aku melihat semuanya
Sesuatu membisik dalam isi kepala Urfana, ia mendengarnya dengan jelas. Mata kanan itu, ia ingin melihat lebih jelas untuk menilai kebenarannya.
Urfana kemudian melepaskan lensa mata kanannya, terlihatlah mata dengan pupil berwarna merah yang bersinar dan menciptakan motif berwarna putih dan berbentuk bintang.
"Mata itu....? Ternyata memang ada sesuatu di dalamnya." Girana menatap langsung mata tersebut.
Tangannya gemetar ketika memegang pistol.
"Jangan katakan bahwa Johannes akan menanam benihnya dalam diri Fadhilah." Urfana dipenuhi oleh kekuatan tekad dalam dirinya.
Girana kemudian memanggil pasukannya untuk pergi ke ruangannya.
"Tidak, tenanglah. Kau tidak akan dibunuhnya Urfana. Serahkan dirimu baik-baik pada Girana, kau harus mencari Fadhilah dan Johannes. Serahkan semuanya pada Keisal, aku akan mencari cara untuk berkomunikasi dengannya."
Corcus kemudian berjalan keluar dan berniat untuk merasuki salah satu orang supaya ia bisa bicara dengan Keisal.
DOR!!
Untuk suatu alasan, Corcus melepaskan Girana begitu saja seolah-olah ia yakin bahwa Urfana tidak akan dibunuhnya.
Keisal yang hampir menemukan ruangan itu cukup kaget bahwa tiba-tiba ada orang yang berlarian di lantai tersebut dan pergi kesana sambil membawa sebuah peti.
"Keisal, aku mendengar tembakan. Urfana ditembak olehnya." ucap Ranggi dengan panik.
Keisal melepaskan pukulan yang sangat keras ke tembok hingga ada sisa retakan dan bekas pukulan yang cukup dalam.
"Sial... Sial sial!..... Kenapa aku telat menemukannya!!" ucap Keisal dengan penuh amarah.
Corcus yang ada disana masih merasa cukup syok dengan tindakan Girana yang tidak bisa ditebak.
"Aku tahu Johannes menunggumu, ia selalu bercerita bahwa ia menunggu serigalanya tumbuh besar dan percaya bahwa suatu hari ia akan menjadi kesatria terkuat Rajanya, tapi kupikir itu omong kosong."
Urfana..... Dibunuh oleh Girana, ia ditembak pada bagian kepala. Darah dari kepala itu mengalir keluar melalui lubang yang dibuat oleh peluru.
"Lebih baik dibunuh kan? Daripada jadi ancaman kedepannya." kata Girana.
Bagi Urfana, ini adalah situasi tersulit yang ia pernah hadapi. Ia tak pernah menyangka bahwa orang yang disayanginya ternyata adalah iblis dalam kawanan manusia.
Dan bagi Girana, ini hanyalah hari Minggu.
.......Bersambung........
...----------------...
__ADS_1