
Johannes masih berdiam diri dan memerintahkan semua bawahannya untuk kembali ke dalam klub dan urusannya masing-masing.
Sebatang rokok ia sulut dan hisap dalam kesunyian jalan pada pukul 3 pagi. Membuatnya membayangkan tentang bagaimana nasib masa depannya sendiri.
Memisahkan diri dari keluarga bukanlah hal yang paling mudah bagi Johannes meskipun ia adalah anak pertama dari keluarga Lindberg Gates.
Ia tahu bahwa meskipun ia jauh dari keluarga tidak akan membuatnya kehilangan kekuasaan karena dirinya adalah seorang kepala keluarga dari mereka yang melarikan diri dari rumah.
Dua batang emas yang masing-masing beratnya 1 kilogram dicuri dari rumah selagi ia kabur dan ia jadikan modal untuk mendirikan gengnya sendiri tanpa adanya campur tangan dari keluarga.
Bahkan sang Ayah sendiri tidak mengetahui bahwa asosiasi yang dijalaninya bersama Noparents dipimpin oleh anaknya. Lorenzo Alfredo telah menjadi perwakilan atas koneksi keduanya.
Sang Gubernur menginginkan mata-mata di jalanan dan membutuhkan anak-anak muda untuk berkuasa di dunia gelap kota Bandung.
Johannes memang memiliki hubungan yang sangat buruk dengan ayahnya hingga ia kabur dari rumah. Ayahnya bahkan tak mencarinya dan jauh lebih mementingkan kekuasaan.
Lorenzo tak pernah tahu, bahwa Johannes sebenarnya tidak peduli jika Fadhilah adalah anak dari Yohan Arunaldi. Hubungan buruk Lindberg Gates dengan Yohan Arunaldi bukanlah sesuatu yang menjadi urusannya.
"Masuklah sayang." ucap Johannes.
Kedua pasangan itu tiba di kediaman apartemen milik Noparents, mereka berencana untuk tidur bersama.
Tapi gadis itu sama sekali bahwa ia akan tidur seranjang dengan Johannes. Instingnya kemudian meragukan apa yang dibayangkannya.
"Kenapa kamar ini banyak alat penyiksaan?"
Johannes menyukai hal yang sadis dan menggairahkan, itu adalah sisi gelap yang tak pernah diketahui oleh banyak orang.
"Kyaaaaaaa!!!!" terdengar Fadhilah berteriak karena Johannes mulai meliar.
Lorenzo yang kebetulan ada di apartemen yang sama langsung pergi ke tempat dimana sumber teriakan itu berada.
Sejak malam tadi, Lorenzo terus mengawasi mereka berdua untuk mencegah kemungkinan buruk terjadi.
Sebenarnya bukan hal aneh jika ada laki-laki dan perempuan tidur satu kamar dalam apartemen ini.
"Tidak-tidak......" Fadhilah menjulurkan tangannya, ia tersudut ditembok.
Lorenzo mendekatkan telingannya didepan pintu kamar Johannes.
"Kenapa kamu melawan? Bukannya kamu yang pengen terpuaskan di satu kamar?"
Fadhilah kemudian langsung panik dan melemparkan botol kaca ke arah Johannes. Kaca itu pun pecah didepannya dan membuat Johannes sedikit tergores.
Lorenzo dengan sigap langsung menendang pintu itu hingga hancur dan menarik Fadhilah untuk melarikan diri dari sana.
"TANGKAP!!!! TANGKAP MEREKA!!!" ucap Johannes. Ia mulai tak bisa mengendalikan dirinya karena pengaruh botol yang berisikan bubuk ganja.
Tanpa segan-segan, seluruh anggota Noparents yang berada di apartemen itu langsung mengejar mereka berdua.
"Bodoh, seandainya kau lari dari mobil itu...."
Lorenzo memiliki hutang budi yang sangat besar pada Johannes, karena telah menerimanya didalam Noparents setelah kabur dari rumah.
Dan kini apa yang Lorenzo panggil keluarga sekarang berbalik menjadi musuhnya.
Mereka berdua kini dikejar oleh sebagian banyak anggota Noparents yang masih bangun pada jam itu.
Tanpa ragu-ragu, Lorenzo membiarkan Fadhilah lari duluan sedangkan ia berbalik arah dan menghajar kroco-kroconya yang berusaha untuk menangkapnya.
Si Pedansa itu menari dengan tenaga besar di ayunan kakinya. Ia lambungkan tubuh musuhnya dengan momentum tekanan yang tercipta dari kecepatan dan tenaga kakinya.
Anak-anak buahnya memiliki keraguan yang kuat untuk melawan Wakil Presidennya sendiri, itu karena ia adalah Wakil Presiden yang memperlakukan bawahannya dengan baik.
Saat ini anggotanya sendiri sedang bergemam kebingungan atas perintah mutlak Johannes dan juga kebaikan yang dilakukan oleh Wakil Presiden, Noparents.
"Wakil Presiden, kenapa Anda melakukan ini?! Kenapa Anda melawan Presiden?!"
"Karena aku harus melakukannya, apa bawahan brengsek seperti kalian pantas untuk mengetahuinya?"
Merasa terprovokasi, alasan para bawahan untuk menangkap Wakil Presiden jauh lebih kuat.
__ADS_1
Inilah yang diharapkan oleh Lorenzo, Ia menyelamatkan Noparents dengan tindakan pengkhianatannya sehingga Noparents dan Yohan tidak dirugikan.
Salah satu Eksekutif dari 9 Eksekutif muncul sambil memasang knuckle di kedua tangannya. Honduras Freedas, Eksekutif Manajemen SDM.
"Hanya aku eksekutif yang terbangun dan bisa menangani ini. Disaat yang lain terlalu malas untuk bangun, akulah yang akan menghukummu."
"Aku juga bangun, jangan lupakan aku Honduras!" ucap Bansuke Akasha, mantan Yakuza.
Lorenzo dikelilingi oleh anak-anak buah yang kini berada dibawah kendali Honduras.
"Kalian semua memakai senjata?" Lorenzo tersenyum. "Pengecut, aku ini hanya seorang saja, hahahaha!!" jari tengahnya diacungkan.
...----------------...
25-03-2014 / 04:00
"Hous.....Hous..." Urfana kelelahan berjalan dari daerah tengah kota Bandung menuju ke Kiaracondong.
Sudah 11 hari semenjak Rahmania Urfana kabur dari rumahnya dan menjadi buronan pihak berwajib.
Anak itu menahan lapar, mencuri untuk bertahan hidup, dan bahkan harus mengamen untuk meminta tempat perlindungan agar tidak dapat ditangkap oleh pihak berwajib.
"Urfan?! Kamu gapapa?!" ucap salah satu sahabat jalanannya yang ia baru kenal 1 minggu, Oktavial.
Sama seperti Urfana, ia kabur dari rumah. Ia seumuran dengan Urfana dan menjadi partner dalam mencari setoran.
Oktavial mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan menjadi anak broken-home karena orang tuanya yang terus menerus bertengkar.
Berbeda dengan Urfana, orang tua Oktavial adalah orang kaya raya. Kedua anak itu mengamen bersama dan berbagi hasil bersama.
"Okta, hari ini ada yang ngasih aku uang 1 juta. Kita bisa simpen ini ditempat kotak tabungan yang kita sembunyiin dari Bos Ugal!" ucap Urfana sambil menunjukkan uang yang ia dapatkan dari Johannes.
"Keren banget, yuk ke persembunyian biasa."
Persahabatan mereka bagaikan semut yang saling melengkapi kebutuhan, mereka berbagi makanan, berbagi uang, dan saling membantu ketika ada masalah.
Persembunyian mereka terletak didekat stasiun, tepatnya di bawah gerbong yang sudah mereka tandai dengan pilox.
"Tidak bisa dipercaya....."
Seseorang telah menggali tempat kotak yang mereka sembunyikan ditanah. Uang yang baru terkumpul sebesar 600ribu didalam kotak yang disembunyikan di tanah bawah gerbong.
"Siapa yang udah ngambil?..... Padahal kita udah kerja keras banget...." Urfana benar-benar panik melihat uangnya hilang.
Urfana kemudian menghitung kembali uang yang diberikan Johannes.
"Sial, tidak ada receh!! Kalo gini kita bisa dicurigai. Gimana kalo Ugal yang ngambil?!"
"Kita..... Kita tukar dlu...." Urfana berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Oktavial memegang pundak Urfana, ia tak dapat mengendalikan diri.
"Jangan!! Kita akan ditipu lagi!!!" Oktavial menangis, "Aku tak bisa percaya siapapun lagi Urfana!"
Urfana kemudian membanting ukulelenya yang sudah terlanjur dirusak. Kini ia tak merasa ingin mengamen lagi.
"Kalo gitu kita harus kabur, tapi kita tetap harus cari tukeran uang, kita gabisa naik angkot kalo uangnya gede."
Urfana membujuk Oktavial untuk ikut mencari tukaran uang, Urfana berencana untuk menukar uang supaya jauh lebih mudah digunakan.
Oktavial kehilangan semangatnya, ia hanya ingin duduk disana untuk menghilangkan penatnya.
Rasa benci dan ketidakmampuan menelanjangi hati yang menahan diri untuk kabur. Keinginannya semakin kuat untuk pergi dari Ugal. Selama satu minggu berada dibawah Ugal, Urfana sama sekali tidak merasa nyaman.
Ia berencana untuk kabur bersama Oktavial setelah menukarkan uang yang dimilikinya.
Hal yang satu-satunya bisa Urfana lakukan saat ini adalah mematangkan hati dan menguatkan niat untuk melarikan diri.
Saat perjalanannya mencari tukeran di warung terdekat, terlihat polisi sedang berpatroli sambil bertanya mengenai orang yang mereka cari didalam poster yang dipegang.
Sejujurnya Urfana ingin melaporkan Ugal, tapi ia tak punya cukup keberanian untuk melakukannya karena ia melihat sebagian preman sedang berjaga pasar dan parkiran.
__ADS_1
Beberapa menit setelah menukar uang besar, Urfana kembali ke tempat dimana mereka menyimpan rahasia.
Oktavial sudah tidak ada disana. Ia dibawa oleh tiga orang preman suruhan Ugal Siandoro.
Urfana dengan segera langsung pergi ke tempat penampungan yang dimana biasanya para preman dan anak anak pengamen mengumpul.
Ia melihat Oktavial terkapar dengan kepala berdarah ditempat anak-anak.
"Oktavial!!" teriak Urfana, ia berlari mengkhawatirkan Oktavial.
Oktavial memegang lengan Urfana, betapa eratnya ia memegang seolah-olah ia akan terjatuh ke jurang.
"Lari.... Urfana, lari....." Oktavial sudah tak kuat menahan sakit di kepalanya, dan ia benar-benar lemas karena belum beristirahat semenjak uang didalam kotak tersebut ada yang mengambil.
Urfana benar benar sedih melihat kondisi Oktavial saat ini. Ia benar-benar marah atas apa yang orang-orang itu lakukan pada Ugal.
"Oktavial, kita harus pergi barengan. Ayo pergi!" Urfana tak tahan menahan air mata yang akan keluar.
Mereka berdua menangisi nasib mereka masing-masing. Jalanan adalah tempat yang sangat kejam bagi anak-anak sekalipun.
Para manusia dewasa yang mengaku diri mereka sebagai preman memperlakukan anak-anak bagaikan monyet yang dilatih secara paksa untuk atraksi.
"Lho.... Urfana baru pulang??"
Ugal berjalan mendekati Urfana dan Oktavial. Melihat wajahnya saja membuat Urfana muak, dan Ugal hanya tersenyum saja melihat hal menyedihkan yang ada didepannya.
"Maneh udah berani menyembunyikan uang dari uang, maraneh cuma babu buat kita. Urfana sekarang yang harus digampar sampai mampus!" Ugal mengayunkan tangannya.
Urfana kemudian menahan tangan milik Ugal dan melepaskannya kembali.
Secara tak sadar, Oktavial tak ingin melihat sahabatnya disakiti seperti dirinya. Dengan sigap ia langsung mengambil batu dan berlari menghantam kepala Ugal dari belakang.
Oktavial tahu, bahwa melawan majikan bisa mati. Namun ia jauh lebih memilih untuk mati dibandingkan mesti menderita lagi. Karena sudah tidak mendapatkan kasih sayang orang tua dan depresi.
Tak ada jalan lain baginya, yang sudah terluka parah dan tak mungkin mendapatkan perawatan medis karena kondisi finansial dan kecakapannya yang kurang.
"Pergii!!! Biarkan aku yang nahan Ugal!! Gaboleh kita berdua yang mati!!!!" teriak Oktavial, memerintahkan Urfana untuk pergi.
"Bangsat!!!!" teriak Ugal Siandoro, menendang Oktavial dan menginjak-injak tubuhnya.
Urfana benar-benar merasa berat untuk membantu Oktavial karena ia tak bisa melawan Ugal yang sangat kuat.
Tapi sesuatu mendorong niatnya untuk melawan dan memberinya kekuatan.
...Kegelapan...
Ketika hatinya gelap, Urfana takkan ragu-ragu untuk melakukan apapun. Dengan cepat, Urfana langsung mengambil gunting yang ada di meja lalu menusuk Ugal dari belakang.
Ujung gunting yang tidak setajam pisau itu entah bagaimana bisa menusuk kedalam tubuh Ugal yang dilapisi kaos dan rompi yang tebal.
Semua anak yang ada disana terkejut melihat hal itu.
"Kau......kau....!!!" Ugal marah dan berjalan mendekati Urfana.
Anak buah Ugal berdatangan setelah mendengar ada masalah, Urfana yang sadar akan hal itu langsung pergi dan lari dari lokasi.
Penglihatan Oktavial mulai buram, ia mulai tak bisa mendengar apa-apa. Apa yang hanya ia bisa lakukan adalah berkata didalam hati sebelum maut menjemputnya.
Urfana, ternyata cuma aku sendiri yang tak bisa pergi. Dengan kematianku, kamu akan selamat dan akan hidup bahagia. Aku ingat dimana kita berbagi soal impian dan cita-cita.
Kamu bilang bahwa kamu ingin menjadi sosok pahlawan bagi seluruh anak-anak dan tidak akan membiarkan mereka menderita. Saat aku mendengarnya, aku begitu bahagia. Jika itu kamu, aku yakin kamu bisa membuat impian itu menjadi nyata.
Teman-teman disini hanya melihatku tanpa ekspresi, ini mirip seperti eksekusi secara langsung. Sebenarnya aku tak ingin mati, tapi kelihatannya hanya ini satu-satunya jalan untukku mengakhiri penderitaan ini.
Orang tuaku takkan mencariku, tapi itu lebih baik.
Aku mengutuk kedua orang tuaku, dan Ugal Siandoro. Namun aku berdo'a untuk keselamatanmu dan keberhasilanmu Rahmania Urfana. Maafkan aku, tapi hanya sampai disinilah perjuanganku. Temukan kebahagiaanmu dan selamat tinggal.
-Oktavial Ragania
.......Bersambung.......
__ADS_1