
"Suaranya keras sekali! Fightor, Fightor!!" teriak Galang.
Fightor terluka, ia belum terbunuh oleh monster itu. Daya tahan tubuhnya berada di puncak manusia, meski begitu ia tetap membutuhkan pertolongan.
"Dari informasi yang kudapat, orang yang dapat menaiki lift ini hanya tiga orang, Johannes sedang sibuk, Girana sedang bersenang-senang, instingku mengatakan bahwa yang sedang menggunakan lift ini adalah Galang Derrick." ucap orang misterius itu, yang tak lain adalah tubuh asli dari Enzo, Tetua ke-14 Dominator
Fightor perlahan-lahan berdiri, "Kau.....takkan bisa memasuki lift itu, aku tak akan membiarkanmu menghalangi mereka."
Enzo menoleh kebelakang, ia tak menyangka ada manusia biasa yang bisa menahan serangannya. Manusia biasa pasti sudah langsung mati.
"Wah, kau masih hidup setelah serangan tadi? Bukankah itu hal yang luar biasa? Dengar, aku hanya akan mengatakan ini sekali saja, jadi dengarkan baik-baik."
Situasi ini semakin berat dengan adanya monster lain ditempat, bagi Fightor situasi mencekam ini adalah hal yang menggairahkan adrenalinnya.
Fightor tidak suka kabur, ia adalah orang yang setia kawan sekaligus tipe orang yang akan melakukan apapun demi menjadi lebih kuat.
Tubuhnya mulai bereaksi dengan serius, jantungnya memompa dengan cepat dan suhu tubuhnya meningkat.
Enzo dapat merasakannya, bahwa orang ini sedang bersemangat untuk membunuhnya. Tanpa basa-basi Enzo langsung menendang Fightor hingga terpental.
Fightor kemudian lari mendekati Enzo dan melayangkan pukulan penghancur batu miliknya.
Namun Enzo menghindarinya dengan mata tertutup, "Wah, pasti sakit kalau kena bukan?"
Fightor terus menerus berusaha untuk memukul Enzo hingga kena, namun terus menerus pukulan itu dihindari Enzo dengan mudah.
Enzo hanya tersenyum, ini kelihatan bodoh sekali untuknya.
Dia yang merupakan manusia modifikasi sudah jelas lebih superior dibandingkan manusia, meskipun orang itu adalah puncak. 500 manusia saja tidak akan dapat memberikan kesulitan baginya.
"Sial, kau hanya membuang waktuku...." Enzo menyerang balik, ia mengeluarkan pukulan beruntun pada Fightor dan menumbangkannya.
Fightor terkapar dengan fisiknya yang menyisakan bekas pukulan yang merusak permukaan luar badannya.
"Dia kuat juga, aku memang sudah mengatur kekuatanku ke level terendah untuk mengujinya. Jika ada orang lain yang mampu mengalahkannya berarti ia memiliki potensi yang kuat untuk menjadi monster, itu akan menjadikannya sebagai raja dan ia akan berjalan diatas semuanya." Enzo meninggalkan Fightor dan berjalan menuju lift.
Enzo terhenti, perasaannya tak enak.
Seketika ia menoleh kebelakang, untuk mengecek apakah ia bangkit kembali.
Enzo kemudian terkejut, ia melihat sosok menakutkan. Ia memakai pakaian Tuxedo, rambutnya hitam, tubuhnya tinggi dan matanya berwarna merah.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu menyusul anak-anak itu? Tentu aku takkan diam, apalagi berhadapan dengan Dominator."
Seseorang tahu tentang kehadiran Dominator, itu artinya ia benar-benar harus dibunuh, secara absolut, dan dengan kekuatan penuh.
Enzo bergerak dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan maksimal seekor Cheetah. Ia menusuk sosok menakutkan itu.
"Kau tak bisa melakukannya, aku tak bisa disentuh." sosok menakutkan itu adalah Corcus.
__ADS_1
Corcus mengeluarkan aura kegelapan yang sangat kuat, sebuah aura yang bahkan manusia modifikasi akan ketakutan jika merasakannya.
Enzo kemudian mundur, mengikuti nalurinya.
Galang dan teman-temannya telah sampai ke Laboratorium, itu membuat Corcus tenang. Seharusnya dengan begini ia telah membantu Urfana dengan efektif.
"Kau tidak perlu khawatir, bertarunglah dengan serius. Urfana." ucapnya sambil menoleh keatas.
Enzo kemudian menerima perintah dari atasannya.
"Mundur, dan jangan lakukan hal yang agresif. Kita harus melepaskan Johannes Gates."
"Ada apa?" Enzo tidak melawan perintah itu, meskipun ia sedang kesal.
"Mereka, datang."
"Baik..."
Kenapa aku ketakutan??
Sosok yang menakutkan itu menghilang, Enzo merasa kebingungan tentang sosok tadi. Siapa dia? Tetua ke-14 Dominator itu dibingungkan dengan pertanyaan yang ia tak bisa temukan jawabannya.
Disisi lain, Galang, Valin, Melviana dan Hartono tengah berjalan menuju laboratorium.
Mereka tidak membawa senjata sama sekali, meski begitu mereka tetap memberanikan diri untuk tetap maju.
"Hartono, apa kau jago dalam bertarung. Apa kau sanggup membunuh orang?" tanya Valin kepada Hartono.
"Aku akan melakukan apapun demi nona Melviana. Meskipun membunuh." balas Hartono dengan keyakinan kuat.
"Namun aneh, disini sangat sunyi? Kemana semua orang pergi?" Galang memimpin jalan, ia kebingungan karena tak melihat satupun penjaga.
Terasa getaran hebat yang terjadi diatas laboratorium, sepertinya tak lama lagi Grand Angkasawira akan hancur dan permukaan mulai tidak stabil.
Mungkin semua yang dari luar pasti mengira bahwa amukan monster dan pihak militer itu yang melakukannya. Namun getaran itu disebabkan oleh pertarungan Urfana dan Johannes.
Mereka mulai melompat kebawah dan berkelahi bagaikan orang-orang dalam film superhero dan anime.
Johannes membuat kloningan atas dirinya dan menghampiri Urfana bersama dengan kloningannya.
Urfana kemudian mengabaikan kloningannya tersebut dan langsung memukul tubuh aslinya.
"Sial, bagaimana bisa kau?!" Johannes tidak menyangka, Urfana bisa menebak tubuh aslinya.
"Sejujurnya, sejak beberapa bulan berlalu aku tak percaya bahwa sihir itu ada. Tetapi, kelihatannya ada banyak sekali hal yang tidak kuketahui ya." balas Urfana.
Mata merah itu bersinar, menunjukkan kebisaannya dalam mengimbangi perbedaan kekuatan yang tidak adil.
Johannes sedikit tertekan, kemudian ia merasakan sesuatu yang berbeda dari bawah Grand Angkasawira.
__ADS_1
Ia dapat merasakan bahwa teman-teman Urfana telah tiba dibawah laboratorium.
Urfana dapat membaca maksud itu, namun tetap saja mengagetkan. Apa yang mereka lakukan disana?
"Aku telah memerintahkan seluruh orang dibawah sana untuk pergi. Karena pukul 10 malam, laboratorium itu akan meledak. Ada beberapa pihak yang ingin membongkar tempat ini sejak kejadian dimana Girana mengacaukannya."
Johannes menghela nafas.
"Brengsek, kukira ini akan hanya menjadi pertarungan antar geng dan tujuannya hanya Fadhilah saja. Tapi lihat ini, pihak militer datang dan semua berakhir saling membunuh satu sama lain? Jika aku mati hari ini, aku hanya perlu menunggu 9 bulan untuk kebangkitanku kembali."
Corcus datang menghampiri Urfana, ia memberi tahu kondisi teman-temannya dan apa yang ada didalam Grand Angkasawira.
"Johannes....sebenarnya apa maumu?" tanya Urfana.
"Hmm???" Johannes menunjukkan muka konyolnya dihadapan Urfana.
"Jangan tunjukkan wajah itu brengs*k, aku tidak sedang bercanda!!"
Galang, Valin, Melviana, dan Hartono berdiri terkejut. laboratorium sepi, tak ada siapapun. Hanya ada satu tubuh lelaki dan tubuh perempuan di dalam aquarium berbeda.
Seperti sedang tertidur, dan tak mampu untuk bangun karena tidak ada tanda kehidupan.
Namun.... Kedua tubuh itu bukanlah tubuh yang asing, mereka mengenalnya....
...Ranti dan Lorenzo...
"Urfana, semua temanmu bercerita kan? Bahwa aku menghancurkan hidup mereka?"
Ya, benar. Aku menghancurkan hidup mereka...... Sebenarnya aku tak tahu apa-apa karena ketika ayah dari tubuhku belum mewariskan ingatan dan kekuatannya pada DNA ku, aku hanyalah anak yang nakal. Kenyataan bahwa Lindberg Gates bukan ayahku juga baru kuketahui ketika aku mewarisi ingatan baru.
Tapi ini lucu sekali, apakah sebuah kebetulan bahwa pada ujungnya dua tragedi yang berbeda kini menyatu menjadi satu cerita untuk menentukan endingnya? Dan fakta bahwa kini aku memberi pilihan kepada satu cerita itu?
Ia mengatakannya dalam hati, pria yang terdesak oleh kehadiran anak SMA didepannya ini menghalangi jalannya untuk balas dendam kepada World-Council.
Dia juga sangat yakin bahwa dalam beberapa waktu kurang dari satu hari, seluruh dunia akan datang untuk memburu keturunan terakhir dari Emmerson Dielbert, untuk menghilangkan gelap dari dunia ini.
"Nah, Urfana. Ada yang ingin kutanyakan..."
Urfana dan Corcus berdiri sebelahan, Johannes dapat melihatnya, tapi itu bukan hal penting.
"Menurutmu, jika Valin bertarung melawan Galang hingga mati. Siapa yang akan menang?"
Johannes tertawa, sedangkan Urfana dan Corcus tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan Johannes disituasi yang sama sama memicu adrenalinnya untuk bertarung.
Hati Urfana gundah, Apa yang terjadi?!
.......Bersambung.......
...----------------...
__ADS_1