Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Monster dalam dirinya


__ADS_3

Melviana membuka sweater dan seragamnya, kini ia hanya berpakaian kaos oblong berwarna putih.


"Jangan keliatan senang, aku ga bakal ngajak yang aneh-aneh." ucap Melviana.


Urfana menghela nafas, "Haah, iya deh." Urfana merebahkan dirinya di lantai.


Kamar milik Melviana memiliki desain yang sangat modern dan canggih. Benar-benar jauh berbeda dengan milik Urfana yang sangat sederhana layaknya kamar rumahan biasa.


"Kita belum sempat ngobrol soal Keisal lagi. Bu Winda menarik kamu tepat disaat sedang asik-asiknya."


"Sepertinya Keisal sangat penting buat kamu. Orang itu sudah jelas jahat bukan? Ia sudah membunuh banyak orang dan ia juga menculik Fadhilah." ucap Urfana dengan rasa penuh keyakinan atas dosa milik Keisal.


Melviana menyiapkan snack dan air minum untuk disajikan pada tamu spesialnya. Melviana duduk disamping Urfana yang sedang merebahkan tubuhnya ke lantai.


"Keisal adalah sahabatku, dan akan kuanggap sahabat selalu. Tapi kebiasaan mengkonsumsi narkotika dan bermain wanita adalah sesuatu yang tak bisa kumaafkan."


Urfana balik ke posisi duduk dan mulai serius mendengarkan.


Gadis itu mengelus-elus tangannya yang merasa gemetar, "Meski begitu, aku ingin menolongnya untuk berubah dan kembali. Karena pada saat itu, semua baik-baik saja hingga datang seseorang yang menghancurkan segalanya."


"Menghancurkan segalanya? Apa yang siapa yang kamu maksud?"


"Orang yang bernama Johannes Gates. Ia mengambil semua momen bahagia kami, dan menjadikan akhir cerita kami dengan ending yang buruk."


Circle pertemanan yang Melviana miliki ketika di masa SMP adalah momen yang paling terindah bagi dirinya. Momen dimana semuanya adalah murni pertemanan tanpa memandang perbedaan.


Tidak peduli warna kulit, kasta, gaya hidup, kepribadian. Hanya tawa dan ceria yang ada.


"Wirandi, Tristan, Ranti, Riana, Galang, Keisal dan Aku. Pertemanan kami dirusaknya."


"Bagaimana ia merusaknya?" tanya Urfana.


"Akan terlalu panjang jika kuceritakan. Namun yang pasti alasan Keisal berusaha sekuat tenaga dan berlatih hingga memiliki badan seperti itu adalah karena ia ingin membalas dendam."


Melviana mengeluarkan foto kenang-kenangannya dari album.


"Balas dendam?" Urfana melihat foto mereka bertujuh.


Terlihat ada Keisal yang paling tinggi diantara mereka. Ia terlihat menggunakan kacamata dan rompi seperti orang cerdas.


Urfana agak kaget melihat bahwa Keisal yang dulu sangat jauh berbeda.


"Johannes..... Brengsek...." Melviana geram setiap kali ia menyebut namanya.


Orang yang sangat dikenal sebagai iblis dari dunia para remaja kala itu benar-benar bagaikan iblis.


Johannes ingin mengambil Galang yang memiliki kemampuan dalam bernegosiasi dan pintar dalam hukum demi kebutuhan geng miliknya.


Ia memanipulasi Tristan dengan mengirimkan gadis cantik agar sedikit demi sedikit terayu oleh perempuan yang telah ditanami tugas dan perintah. Ia membuat Tristan jadi orang yang jauh lebih kasar dan sensitif hingga membuat pertemanan diantaranya jadi terkucili.


Ranti, gadis dengan kemampuan ekonomi seadanya dijerat oleh kelakuan asusila yang dilakukan oleh kelompok geng jalanan ketika berjalan sendirian tengah malam begitu mendengar telepon palsu dengan suara mirip seperti suara Riana.


Galang, laki laki yang paling dekat dengan Ranti langsung pergi menemui Riana dan menamparnya karena telah menipu Ranti dengan telepon palsu itu.


Riana menangis menahan sakit dan terus membela diri karena tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Sebulan setelah kejanggalan itu terjadi, Tristan menjual rumah orang tuanya sendiri setelah menggadaikan sertifikat kepemilikan rumah hanya demi cewe yang menggoda." Melviana terlihat sedih seiring berjalannya cerita yang ia sedang katakan.


"Aku tidak paham. Benar-benar tidak paham."


Riana yang selalu berbicara tinggi dan sombong itu kemudian melaporkan Galang atas penuduhan palsu dan menjadikannya pelaku utama sebagai tersangka pelaku asusila terhadap Ranti.


Tristan yang menyesal karena telah dikuasai oleh hawa nafsunya terhadap wanita langsung menjadi gila dan memusuhi Galang setelah mendengar pengakuan palsu dari gadis yang ia kencani bahwa selama ini gadis itu adalah pacar Galang.


Galang yang tidak tahu apa-apa harus kehilangan salah satu jarinya karena terpotong oleh pisau saat Tristan ingin menusuk Galang karena pengakuan gadis itu.


Tristan telah menjadi sangat lemah mental dan agresif. Galang yang tidak melakukan apa-apa malah ikut jadi korban.


Riana memviralkan kasus yang terjadi pada Ranti dan langsung menuduhkan semuanya pada Galang karena ia tak menyukainya.


Johannes kemudian mendatangi Galang setelah ia tertekan atas cacian maki yang datang padanya. Ia menguatkan Galang yang sedang rapuhnya dan membuatnya menjadi sekutunya.


"Lalu, apa yang terjadi pada Keisal dan dirimu? Kenapa kalian berdua sama sekali tidak disentuh?"


"Keisal.... Keisal memang tidak dirugikan secara langsung. Itu karena ia memang dilepas oleh Johannes. Namun hal yang paling merubahnya adalah ketika ia datang untuk membuntuti Galang ketika tuduhan palsu yang dilayangkan Riana viral."


Pada hari itu, Ranti meninggal karena depresi, Tristan masuk penjara, Wirandi pindah sekolah, Galang bergabung dengan Noparents.


Keisal yang mengetahui hal itu langsung memfokuskan diri untuk mencari Galang karena ia merasa bahwa ini adalah tanggung jawabnya.


Keisal sangat membenci Galang, karena mendengar secara langsung dari Riana, Tristan, dan Wirandi, yang murni dibayar oleh uang banyak untuk berbohong pada Keisal.


Rumor yang dibuat oleh mereka adalah, Galang memperkosa Ranti dan melukainya


"Ranti tidak macam-macam karena rumornya telah disebar oleh Riana. Tapi aku tidak pernah tahu apakah Riana murni bersekongkol dengan Johannes dalam uang yang banyak atau tidak, namun jelas bahwa Wirandi menerima uang yang banyak untuk berbohong pada Keisal."


"Itu karena Keisal menjauh, aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada dirinya. Sebenarnya apa motivasi terbesar Keisal sampai bertindak sejauh ini?...... Ia tidak dirugikan, ia tidak dimanipulasi oleh pengaruh Johannes."


Urfana berkeringat mendengar cerita yang ia tidak bisa pahami karena penuh pernyataan membingungkan.


"Melviana, kamu menulis semua cerita ini. Tapi kamu tidak terkena dampak seperti mereka dan kamu tidak menjadi monster seperti Keisal yang dulunya cuma anak yang tahu belajar."


"Itu karena Johannes tahu siapa aku, ia tak berani mengambil resiko yang melibatkan diriku. Seandainya aku tahu lebih cepat bahwa ini adalah cerita yang sebenarnya, mungkin aku sudah bertindak."


Melviana memegang foto bersama miliknya.


Urfana memegang bahu Melviana dan mendekat padanya.


Remaja lelaki itu kemudian memeluknya dari sisi dan mengatakan pada gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Semuanya akan baik-baik aja."


Melviana bersandar pada Urfana.


"Makasih, Urfana."


"Meski begitu, ada hal yang tidak aku mengerti. Keisal terlihat sangat sensitif ketika itu sudah menyangkut dirimu namun tidak terdengar kepeduliannya dalam cerita ini. Ngomong-ngomong, kamu dapat informasi ini dari mana?"


"Entahlah, tiba-tiba surat datang ke kamarku melalui Hartono."


Tiba-tiba Hartono kemudian mengetuk pintu, "Nona, ada surat untuk Anda."

__ADS_1


"Lagi??" Melviana lekas berdiri dan mengambil surat yang ditujukan padanya.


Tidak lama-lama ia langsung membuka surat itu.


..."Petunjuk akan datang pada mereka yang mencari kebenaran."...


"Tulisan ini...." Urfana melihat pesan didalam surat Melviana.


Melviana mengangguk, "Surat seperti inilah yang datang padaku. Tapi siapa yang mengirimnya?"


Tak basa-basi. Urfana langsung berdiri dan berkemas. Ia harus pergi kembali ke rumah untuk petunjuk selanjutnya.


Mata kanan itu sudah berbicara dan mulai memanipulasi pikirannya untuk bertindak sesuai informasi dan asumsi dari yang diliatnya.


Urfana berjalan duluan ke garasi tanpa mendengarkan Melviana.


"Hartono. Tolong antar Urfana kembali."


"Nona?" bodyguard itu menunjukkan keraguan untuk pertama kalinya.


"Ini perintah." Melviana berbicara serius.


Tanpa basa-basi Hartono langsung berjalan ke garasi dan pergi mengantar Urfana ke rumahnya.


Kedua pria itu lekas berangkat tanpa basa-basi dan bertukar kata-kata.


"Dimana?" tanya Hartono mengenai destinasi Urfana.


"Sebuah bukit daerah Cimenyan."


Hartono memang mengetahui dimana Urfana tinggal setelah mendengar dari cerita Melviana. Namun entah mengapa ia merasakan bahwa Urfana bukan terlihat seperti orang yang ingin pulang.


"Kukira kau akan memintaku untuk mengantarmu ke rumah sakit Keisal berada, aku tahu lokasinya. Katakan saja jika mau kesana." Hartono melihat spion dalam, ia berusaha untuk melihat mata Urfana sekali lagi.


Urfana menyeringai, Hartono fokus menyetir sambil menunggu jawaban Urfana.


"Keisal tidak ada dirumah sakit, ia kabur." tanggap Urfana dengan santai.


"??!!" Hartono cukup terkejut mendengar pernyataan Urfana yang dikatakannya dengan penuh percaya diri.


Pria itu ingin bertanya lagi, ia yang tak banyak tanya kini dibuat penasaran oleh orang yang membuat heboh satu sekolah.


"Wah, senjanya berwarna oranye kemerahan." Urfana kagum melihat langit sore hari ini


"Biar kutebak, kita memang akan bertemu dengan Keisal. Dan dia menunggu didepan rumahmu bukan?" tanya Hartono.


"Pengawal Melviana sangatlah subjektif, Keisal punya monster dalam dirinya, dan monster itu tetap bangun meskipun tubuhnya sakit. Monster memang selalu akan memakan mangsa yang diinginkannya bukan?"


Benar saja, Keisal sedang berdiri didepan rumah Urfana. Sedang menunggu kedatangannya yang sedang pulang.


Meskipun lengannya masih belum pulih total, orang itu terlihat sangat percaya diri. Ia bukan datang sebagai Keisal si Killing-Maniac yang dikenal brutal dan psikopat.


Orang itu terlihat sangat tenang sekali dan tidak ada emosi, meski begitu ia sangat serius.


Sebenarnya apa yang sedang Keisal rencanakan?

__ADS_1


.......Bersambung.......


__ADS_2