Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Black Day (7)


__ADS_3

Angin malam menyelimuti kulit bagaikan salju yang turun di musim dingin, namun pohon dan tumbuhan berguguran bagaikan musim gugur.


Panah berwujud cair menusuk semua orang dari atas dan memberikan sensasi dingin dan membasahi busana dan suasana hati.


Dan didalam mansion megah dan besar, berdirilah kedua orang pria yang saling berhadapan dengan saling menatap satu sama lain.


"Jadi kau datang kemari untuk gadis itu juga?"


Fatherknight tertawa dengan nada yang terdengar sangat jahat.


"Jadi Keisal kalah ya?! Sudah kuduga hal itu terjadi! Karena satu orang yang ia hadapi adalah kau!!"


Fatherknight melempar Phaseon cukup jauh dan tergeletak 8 meter dari posisinya


Entah kenapa di situasi dimana ia berhadapan dengan monster yang sesungguhnya, Urfana sama sekali tak merasa takut, ia tak bergemetaran dan ia masih berani bertatapan dengan Fatherknight lebih dari 8 detik.


Fatherknight sendiri kalah bertatap-tapan dengan Urfana, itu membuat insting miliknya cukup tumpul. Ia sendiri heran, mengapa saat ia melihat mata merah itu ia terasa seperti ada distraksi dari saraf.


Tak ingin gentar oleh tatapan itu, Fatherknight memutuskan untuk menyulut api dan merokok dihadapan Urfana.


"Aku Fatherknight, Raja No. 4 dari Undervalue. Akulah penguasa disini, dan akulah yang paling kuat. Jika kau memohon ampun disini, aku akan menjadikanmu anak buahku. Ada kursi kosong yang bisa kau isi sebagai eksekutif!"


"Aku disini bukan untuk bersantai-santai. Katakan dimana Fadhilah." ancam Urfana sambil mengepakkan aura dari mata itu.


Fatherknight kemudian memukul ke atas bahu Urfana, ingin melihat apakah ia bereaksi terhadap pukulannya atau tidak.


Urfana sama sekali tak menghindar dan tidak bereaksi terhadap pukulan yang sengaja Fatherknight hindarkan.


"Urfana!!" teriak Fadhilah.


Urfana tersenyum melihat Fadhilah baik-baik saja.


"Jangan khawatir, serahkan semuanya padaku~" ucap Urfana dengan nada yang tenang.


Urfana kemudian memukul Fatherknight di bagian perut, dada, ulu hati dalam 3 kali pukulan.


Fatherknight hanya diam saja tak merespon rasa sakit atau apapun pada serangan Urfana.


"Pukulan Keisal jauh lebih sakit. Baiklah, 20 pukulan pertama adalah milikmu." Fatherknight masih bersantai terhadap Urfana.


Urfana langsung melancarkan serangan yang ia pelajari dari Keisal, Reggie, Valin, dan Phaseon.


Serangan demi serangan ia lancarkan untuk menumbangkan Fatherknight.


...Sial, mengapa aku tak bisa menumbangkannya?...


"Kau pasti bertanya-tanya, kenapa kau tidak bisa menumbangkanku? Lagipula apa ini? Cuma pakai tangan kosong?"


Fatherknight mencekik Urfana lalu mengangkatnya lebih atas dengan 1 tangannya.


Sarung tangan besi itu membuat cengkeramannya lebih kuat dibandingkan tanpa sarung.


Fatherknight menarik nafas yang dalam, ia menerima semua tendangan Urfana tanpa bertahan.


"BEBAN KITA BERBEDA BOCAH!!!"


Urfana dilempar keatas oleh Fatherknight, dan si Raja no. 4 itu langsung memukul wajah Urfana hingga menabrak lantai. Satu mansion langsung bergetar oleh pukulan tersebut.


Lantainya hancur, Phaseon yang melihat Urfana kalah melawan Fatherknight cukup shock ketika mereka berdua dikalahkan dengan mudahnya.


"Kau sudah menang melawan Keisal yang sangat kuat, dan menarik Phaseon yang jauh lebih kuat dan berpengaruh dari Keisal menjadi sekutumu. Tapi apa boleh buat."


Fatherknight lanjut merokok, ia sama sekali tak merasa tertarik pada Urfana yang lemah.


"JNC akan menjadi milikku, gadis itu akan kujual ke pelelangan dengan harga mahal dan akan diperlakukan seperti budak. Kupikir aku akan membunuhmu disini, namun sebelum itu ...."


Fatherknight memerintahkan semua anak buahnya keluar dari aula ini, dan memblokade semua rute dengan kursi dan bangku.


Sakit sekali, telingaku tidak bisa mendengar apa-apa .... Kedua mata ini buram, tubuhku mati rasa, sesak...


Corcus berdiri disebelah Urfana, melihat Fatherknight melangkah mendekati Fadhilah.

__ADS_1


"Jika kau menyerah disini, Fadhilah akan kehilangan kesuciannya, ia akan dijual ke pelelangan dan hidup sebagai budak. Masa depan akan berakhir jika kau mati disini."


Urfana merangkak ke arah Fatherknight berada, meskipun kesadarannya sedikit demi sedikit menghilang.


Phaseon berlari ke arah Fadhilah, ia melindunginya dari Fatherknight.


"Apa aku harus menyingkirkan Shadow-Snake? Raja No. 1 akan berperang dengan Painraiders jika kau mengorbankan dirimu, kau mau mati?"


"Ri.... Rion?" Fadhilah.


Phaseon menghela-hela nafas, ia mencoba untuk tetap tegap.


Sebenarnya Phaseon mampu bertarung melawan Fatherknight dengan imbang, namun apa boleh buat karena ia lengah dalam serangan pertama yang fatal.


Tiba-tiba suatu benda menghantam kepala Fatherknight dengan cukup keras.


"Sepatu?" ucap Fatherknight.


Urfana melompat setinggi bahu Fatherknight dan mencakar tengkuknya dengan 3 kuku tangan kirinya.


Fatherknight secara agresif langsung merespon Urfana dengan menendang ke perutnya.


Urfana memuntahkan darah, seolah-olah lambungnya meledak karena tekanan.


"..." Corcus berjalan mendekati Urfana yang terkapar.


"Sepertinya kau benar-benar mau mati ya?" Fatherknight mengangkat kakinya keatas, "Ada kata-kata terakhir?"


"Kau sudah berjuang dengan baik, selanjutnya biar aku yang ambil kendali." ucap Corcus.


Mata itu bersinar dengan terang, dari yang asalnya sudah berwarna pucat kini warna merah dari pupil itu kembali matang dan bersinar.


Corcus masuk kedalam tubuh Urfana, ia mendapatkan akses tubuh Urfana sepenuhnya, ia bisa merasakan rasa sakit yang dimiliki Urfana dan menguasai kekuatan mata kanannya.


Corcus dengan cepat langsung mengunci kaki milik Fatherknight dan menjatuhkannya ke tanah. Corcus langsung menarik Phaseon dan Fadhilah darisana.


"Urfan? Kamu?"


Fatherknight, Phaseon dan Fadhilah dibuat bingung oleh perkataan Corcus yang mengambil alih tubuh Urfana.


"Ya, dia adalah orang yang akan menjadi penguasa dunia." ucap Corcus, sambil menyuntikkan cairan adrenalin yang dikirim orang misterius.


"Bicara apa kau!!" Fatherknight maju mendekati Corcus.


Corcus melompat dan berputar-putar di udara, memanfaatkan momentum untuk menciptakan tekanan yang lebih besar pada serangan.


Corcus menggampar wajah Fatherknight menggunakan tumit kanan Urfana yang tidak menggunakan sepatu.


Fatherknight terpukul mundur oleh serangan tersebut dan Corcus datang kembali melancarkan Tinjunya ke arah dada Fatherknight.


"Guahg?!" Fatherknight memuntahkan darah oleh serangan milik Corcus.


"Sangat menarik bukan? Dan ini hanyalah pemanasan." ucap Corcus, kesatria kerajaan Athnia.


"Huhuhu..... Hehehehehahahaha!!!!" Fatherknight memukul lantai dengan tangan kirinya.


Corcus dan Fatherknight memasang kuda bertarung mereka masing-masing.


"Aku tak pernah mendengar namamu, tapi itu tidak penting sekarang bukan? Bocah" Fatherknight tersenyum, sudah lama ia tak merasa tubuhnya tertekan seperti itu.


"Kita akan berbicara melalui pertarungan ini, dan yang menang akan menjadi sejarah!"


Melihat keduanya memutuskan untuk bertarung kembali, Phaseon dengan sigap membawa Fadhilah pergi ke arah pintu menuju bawah tanah.


Phaseon memegang tangan Fadhilah dan mengajaknya pergi.


"Tunggu, Rion?! Kita gabisa ninggalin Urfana!" Fadhilah menepak lengan Phaseon.


"Fadhilah, inilah yang Urfana inginkan. Kita pergi sekarang!"


Fatherknight mengabaikan Corcus dan mengejar Phaseon, dengan cepat Corcus langsung mencegah Fatherknight dan membuatnya mundur 5 langkah.

__ADS_1


"Ini hanya antara kita, Fatherknight. Kau harus melangkahi mayatku terlebih dahulu sebelum mengejar mereka."


Semua anak buah Fatherknight langsung mengejar Phaseon dan Fadhilah yang lari.


Fatherknight merobek kaosnya dan mulai menanggapi Corcus sebagai ancaman.


"Baiklah....kau yang meminta."


Pertarungan keduanya benar-benar sangat sengit, hingga tidak ada yang benar-benar mampu berkutik melihat keduanya bertarung.


Phaseon dan Fadhilah berusaha berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat ini. Tanpa ragu-ragu, Phaseon berhenti di tempat untuk mengulur waktu buat Fadhilah pergi keluar.


"Pergilah duluan! Aku akan menyusul!"


"Kemana!!? Aku gatau jalann!!!"


"Sial..."


Tidak jadi berusaha mengulur waktu, keduanya kembali berlari bersama mencari jalan keluar.


Phaseon sendiri sedikit panik, ia lupa jalan keluar karena lorong bawah tanah ini cukup berliku-liku. Kepalanya juga sudah cukup pusing setelah menerima serangan yang sebegitu banyak diarahkan pada tubuhnya.


Di lantai atas Corcus masih bertarung dengan sengit melawan Fatherknight. Corcus cukup kesulitan melawan Fatherknight karena ia sudah lama tidak bertarung, bahkan dengan tangan kosong.


Corcus mencoba gestur sihir untuk mengeluarkan kekuatannya, namun tubuh Urfana sama sekali tak bisa bereaksi apapun untuk sihir yang ingin ia coba.


"Jangan alihkan pandangan dan lakukan hal yang aneh!!"


Corcus menahan serangan tinju Fatherknight yang berat dengan kedua tangan Urfana yang belum mencapai kecakapan yang baik.


Alhasil Fatherknight berhasil memotong pertahanan Corcus dan membuatnya terhempas ke tanah.


"Aku harus akui, bahwa kau jauh lebih kuat dari Keisal. Dititik ini, aku merasa bahwa tidak ada anak seumuranmu yang sama kuatnya denganmu." puji Fatherknight terhadap Corcus yang bersemayam dalam tubuh Urfana.


Fatherknight memerintahkan anak buahnya untuk membawakannya suatu barang.


"Dan pada hari ini, sudah dapat dipastikan bahwa aku akan mati. Entah oleh Yohan Arunaldi, oleh sang Emperor, atau olehmu."


"Emperor?" ucap Corcus dengan nada yang bingung.


Fatherknight berjalan-jalan di sekitar aula sambil menyulut rokoknya. Sedangkan Corcus duduk dan fokus memulihkan kondisi tubuh Urfana.


"Dia adalah yang paling berkuasa di Asia Tenggara ini, baik dari segi dunia kriminal maupun bukan."


Anak buah Fatherknight membawa dua minuman energi dan kembali ke posisinya.


Fatherknight mendekat pada Corcus dan melempar minumannya dengan pelan, bermaksud untuk membuat tubuh Urfana bisa bangkit kembali setelah kehabisan tenaga.


Corcus menangkapnya dan langsung meminumnya, bersamaan dengan Fatherknight yang juga ikut minum.


Para anak buah benar-benar bingung dengan tingkah laku ketua mereka, yang seharusnya jika bermusuhan haruslah saling membantai dengan kebencian.


Kedua orang yang sedang saling berhadapan ini memiliki pemikiran yang sama tentang musuh, yaitu teman dengan perbedaan ideologi.


"Aku mungkin sudah kalah, tapi setidaknya aku ingin sebelum kematianku, aku ingin pertarungan yang paling menegangkan. Berikan namamu, prajurit, kita akan bertarung bukan sebagai musuh. Tapi bertarung sebagai teman yang akan bertukar cawan minuman di kehidupan selanjutnya!"


Fatherknight melepas sepatu dan sarung tangan besinya.


Corcus kemudian bangkit dari posisi duduk dan kembali berdiri untuk ronde kedua.


"Aku sudah mati, tapi aku sama sekali tak bisa pergi ke akhirat......" ucap Corcus.


Fatherknight dan Corcus memasang kembali kuda-kuda mereka.


Corcus kembali mengingat cara bertarungnya ketika ia masih hidup, dan kini ia akan menerapkannya kembali pada musuh paling terkuat yang dihadapinya dalam kondisi tubuh terlemah.


"Namaku Corcus Arstarilea, Kesatria kerajaan Athnia yang hilang!"


Mereka berdua berlari, dan tangan kanannya saling beradu pukulan.


..........Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2