
11-08-2016 / 17:01
Pemandangan senja yang indah dengan angin sepoy-sepoy dengan lembutnya. Keisal berdiri di tepi bukit belakang rumah Urfana, ia merasa sangat tenang dengan pemandangan yang ia lihat.
"Memang pemandangan yang indah bukan? Killing-Maniac dibuat tak berkutik oleh keindahan pemandangan ini." ucap seseorang dengan nada bicara yang lembut.
Keisal menoleh kebelakang tanpa berbicara apapun dan menatap orang itu dengan dikit.
"Kukira hanya aku satu-satunya tamu disini. Tapi ada tamu lain, dan bahkan tuan rumahnya belum pulang." Valin menyapa dengan ramah kepada Keisal.
"Enyalah, ini hanya urusanku dengan Urfana. Sebelum kau kuhabisi disini." ancam si Killing-Maniac dengan nada suara yang terdengar tenang.
Terdengar suara mobil milik Hartono terparkir didepan halaman rumah Urfana.
Urfana dan Hartono kemudian turun.
"Rumah yang sangat strategis, tempat yang sangat indah." puji Hartono.
Urfana melihat ada sepeda milik Valin didepan garasi. Dengan sigap ia langsung berjalan cepat ke belakang halaman.
"Aku sudah menunggumu.... Untuk menghabisimu disini...." ucap Keisal.
Valin menoleh ke belakang, "Tadinya aku ingin mengajakmu piknik di halaman rumahmu ini, tapi ini sepertinya akan menjadi tempat bertarung bukan?"
Urfana memasukkan kedua tangannya ke saku.
"Setidaknya biarkan aku mandi terlebih dahulu, aku sudah letih." ucap Urfana.
"Sebaiknya komandan tidak usah mandi." balas Valin yang tiba-tiba teringat lawakan si sosial media.
Keisal yang masih mengenakan pakaian rumah sakit itu benar-benar tidak mempedulikan sekitarnya.
Mereka berdua memasang kuda-kuda. Keisal kemudian menyerang duluan.
Hartono berjalan kebelakang rumah Urfana karena mendengar adanya percakapan disana.
"Aku tahu, aku tahu kau yang mengalahkan Fatherknight!!" Keisal mulai memanas setelah beberapa adu pukulan melawan Urfana.
Si rambut merah itu masih belum pulih dari pertarungan terakhirnya dan memaksakan diri keluar dari rumah sakit.
"Seharusnya kau tidak kabur dari rumah sakit." balas Urfana terhadap serangan yang dilayangkan Keisal.
Hartono kemudian berdiri disebelah Valin dan menawarinya permen mint. Valin mengambil satu dan berterimakasih kepadanya.
Sang pengawal yang selalu berada di Melviana itu kini sedang melihat pertarungan dua orang kompeten berbicara dengan tinjunya.
Dengan mudahnya ia mengirimkan pesan pada majikannya, ia menulis....
...Saya sedang bersenang-senang, dan akan kembali nanti malam....
"Hrrraaahh!" Keisal menggunakan beladiri Karatenya dan menyerang Urfana dengan kepalan tangan sekeras batu.
Mata kanan Urfana tiba-tiba aktif secara agresif. Dengan cepatnya Urfana langsung melancarkan kombo tinju!
Lagi-lagi dilayangkanlah tinju dengan kecepatan yang sama dengan milik Reggie Jackson.
"Itu!!" Valin terkejut melihat kombo milik Reggie yang diperformakan oleh Urfana. Gerakan koreografi sempurna yang ia tiru dari ingatan orang lain.
Keisal langsung tertunduk setelah terkena serangan itu.
"Kau masih belum pulih."
__ADS_1
"Berisik...." Keisal berusaha bangun.
"Aku sudah mendengar dari Melviana. Tentang pertemanan kalian."
"Mulut kotormu itu tak berhak berkata tentang Melviana!!" Keisal menginjak tanah dengan keras saking tak terima kalah lagi.
"Kaulah yang kotor, Keisal. Melviana selalu ingin kau kembali padanya, tapi kau terjerat dengan jaringan organisasi gelap dan juga narkoba." Urfana menceramahi Keisal dengan kata-katanya.
Valin dan Hartono berinisiatif untuk menengahi dengan menyudahi pertarungan dan berjalan ke tengah mereka berdua.
"Aku kemari karena ingin memastikan bahwa kalian tidak saling melukai, Melviana tidak menginginkan ini." kata Hartono.
"Dan aku datang kemari untuk mendiskusikan tentang Noparents, aku kemari untuk percakapan dengan secangkir teh hangat dan roti selai yang kubeli." kata Valin.
Urfana dan Keisal kemudian setuju untuk menghentikan pertarungan ini. Jika ini terkait Noparents, yang lain harus di kesampingkan.
"Masuklah, kita bicarakan ini di dalam."
Mereka berempat kemudian masuk ke rumah Urfana dan duduk di sofa ruang tamu.
Perseteruan yang tadinya akan terjadi kembali kini berakhir dengan empat cangkir teh dengan roti selai.
Semua orang yang berkumpul dirumahnya saat ini memiliki tujuan yang relatif sama, tertuju pada suatu geng yang ada di benak ketiga orang itu, meskipun satu orang disini hanya hadir sebagai orang yang ingin majikannya senang.
Hartono yang ingin melihat Melviana bahagia, Valin yang ingin kakaknya kembali, Keisal yang sudah berjanji pada Ranti dan Tristan untuk membalas dendam pada Johannes, lalu Urfana yang hanya ingin Fadhilah kembali.
"Aku sudah mendengar cerita dari Melviana. Katanya kau selama ini membangun Troy-Skusher untuk menaklukan Noparents dan membunuh Johannes."
"Ya, dan aku harus meminta pertanggung jawaban Galang atas semua ini." ucap Keisal dengan serius.
"Tapi kau salah paham, Galang bukan orang yang melakukan tindakan asusila itu Keisal."
"Kau hanya orang sampingan yang tak terlibat, kau tidak mungkin lebih tahu dari aku." balas Keisal.
Dengan sopannya Keisal meminta kertas itu untuk membacanya dengan mata dan kepala sendiri.
Mereka bertiga diam dan menunggu Keisal selesai membaca pesan cerita yang tersurat pada kertas itu.
"Kuharap aku sama pintarnya seperti Ranggi untuk menyadari kejanggalan ini kala itu." begitulah komentar Keisal.
"Bukannya kau murid berprestasi? Kau seharusnya ada di level yang sama dengannya." tanya Hartono.
"Meskipun begitu, Ranggi dan Galang adalah sosok kecerdasan superior. Jika mereka tekun bersekolah, mereka pasti sudah ikut Olimpiade Sains."
Sebuah pertanyaan terbenak dalam kepala Urfana.
"Keisal, kau dan Hasan adalah sahabat dengan Melviana bukan?"
"Iya, lalu apa yang spesial dari itu?"
"Mengapa Hasan tidak ada di cerita ini?"
"Itu karena Aku, Melviana, dan Hasan ada di cerita berbeda. Hasan bukan anggota kelompok tujuh orang ini."
Mereka melanjutkan diskusi itu dengan percakapan santai seolah-olah mereka berempat sedang berada di tongkrongan.
Menit demi menit, empat orang yang tidak saling berpihak telah berubah dari hubungan netral menjadi teman.
Tak terasa waktu kini sudah pukul 7, Hartono kemudian bangkit dari duduknya.
"Aku harus pulang, Melviana pasti menungguku." ucap ia sambil membuka pintu keluar.
__ADS_1
"Berhati-hatilah." Valin melambaikan tangan.
Ketiganya masih duduk disana dan masih berdiskusi, Keisal yang dikenal sebagai orang brutal dan anti sosial kini duduk bersama kedua musuh tanpa adanya kesiagaan.
Corcus yang melihat hal itu merasa bangga bahwa sepertinya orang yang menganggap Urfana musuh kini adalah temannya.
"Urfana, ada satu hal yang ingin kuucapkan. Dan sejujurnya kedatanganku kemari bukan soal balas dendam." ucap Keisal, ia kemudian berdiri.
"Eh, ada apa ini tiba-tiba." Valin tertegun.
Keisal membungkukan kepala di depan Urfana.
"Terima kasih." ucap ia dengan singkat.
Terima kasih, kalimat singkat yang menyimpan banyak makna. Pria berambut merah itu berterima kasih karena ia telah terbebas dari ketergantungan terhadap Fatherknight dan narkoba.
Pria itu berjanji pada dirinya sendiri dan Melviana bahwa ia akan menjalani kehidupan yang lebih baik, dan langkah pertama yang akan dia lakukan adalah menolong Urfana.
"Baiklah, jika kau adalah eksekutif dari Painraiders dan Painraiders itu sendiri adalah salah satu kerajaan dari Undervalue, lalu siapa yang berdiri di paling atas?" tanya Valin.
"Emperor."
"Emperor? Maksudmu seorang kaisar?" Urfana bertanya kembali.
"Dia memimpin banyak kerajaan, terlebih lagi ia memiliki kekuatan militer sendiri yang bahkan negeri ini tidak tahu. Private Military Company, ia bahkan menyewakan pasukan yang ia latih untuk berperang di Timur tengah sana ataupun negara lain seperti Afrika."
Emperor, sejak pertama kali Keisal ikut ke pertemuan pribadi ditemani oleh Fatherknight, ia merasa tak tenang.
Topeng tengkorak dan suara beratnya yang menakutkan, tidak ada satupun dari sekian raja dan pengawalnya yang pernah melihat wajah aslinya.
Hanya dengan menatapnya saja, Keisal bisa melihat neraka pada kedua mata yang bersinar ketika gelap. Bahwa dalam mata yang ia lihat itu ada orang yang sudah merasakan penderitaan jauh dari siapapun yang dapat dibandingkan di dunia ini.
Orang yang mengendalikan dunia kegelapan di Nusantara, atau bahkan orang yang mengendalikan Nusantara. Rasa gemetar yang tak ada duanya seolah-olah bertemu dengan monster.
"Urfana, aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan. Tapi sepertinya kau ingin masuk ke neraka yang lebih dalam lagi. Apa mata yang sedang kau tunjukkan pada kami adalah mata dari seorang Iblis? Atau justru itu adalah mata dari utusan Tuhan yang diturunkan untuk menyelamatkan dunia?"
Keisal beradu kontak mata dengan Urfana, ia sedang mencoba melawan intimidasi kekuatan mata itu dengan tekad dalam dirinya.
Sedangkan Valin yang baru menyadari hal tersebut tak percaya bahwa ia merasa tiba tiba gemetar saat melihat mata itu, seolah-olah ia terancam.
"Jika kau dalam ketenangan tanpa adanya keberanian dan kekuatan tekad, kau takkan bisa berhadapan dengan orang yang memilikinya." ucap Keisal.
Corcus kemudian ikut duduk di sofa bekas Hartono duduk, "Urfana, Keisal sepertinya sudah menang melawan monster yang ada dalam dirinya sendiri. Lihatlah, dia kuat tanpa adanya indikasi tingkah aku buruk."
Pada saat itu, Valin bertanya pada dirinya sendiri. Reggie Jackson yang ia kagumi karena kuat, kaya raya, karismatik, dan hebat itu dapat dibandingkan dengan Rahmania Urfana yang saat ini ada didekatnya?
Bagi Valin, Reggie mungkin terlihat seperti seorang lelaki miliarder yang kaya raya dan sudah dijamin masa depannya. Dia adalah orang yang peduli pada orang yang ia anggap sahabat seperti Farel dan Valin, namun Reggie bukanlah orang baik yang akan bersedekah dan peduli pada bawahannya.
Urfana, adalah orang yang peduli terhadap sesama tanpa memandang statusnya.
Apa yang Valin lihat pada Urfana sekarang adalah sosok seorang pahlawan yang nantinya akan merubah kehidupan dan nasib semua orang.
Alasan mengapa Valin bergabung dengan Reggie adalah karena ia ingin menjadi lebih berkuasa dan memiliki uang, dan kini ia juga ingin mengikuti kemana Rahmania Urfana berjalan.
"Urfana, Keisal, apapun yang terjadi kalian adalah sahabatku, dan aku akan membantu kalian. Tetaplah transparan sebagai musuh, karena aku tak ingin Reggie tahu soal hal ini." Valin beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu." Urfana mengambil minuman bersoda dari kulkasnya dan menuangkannya ke 3 gelas.
"Kita berjanji untuk menyatukan kekuatan kita demi meraih apa yang ingin kita dapatkan, dan mulai saat ini kita adalah teman. Mari bersulang atas gelas minuman bersoda ini dan jatuhkan Noparents bersama."
Kring!
__ADS_1
Mereka bertiga bersulang. Kisah tentang mereka bertiga dimulai!
..........Bersambung..........