Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Double Serpent


__ADS_3

Setiap orang, baik atau buruk pasti memiliki orang yang disayangi dan juga ingin dilindungi. Bagi mereka yang terikat satu sama lain pastinya akan melakukan apapun untuk yang paling ia sayangi.


Tidak ada kata selain cinta yang dapat membuat setiap individu menjadi kuat. Cinta muncul ketika kita memikirkan seseorang yang kita sayang, namun kebencian juga muncul ketika kita memikirkan seseorang yang menghalangi kita.


"......" Galang terkejut, ia tidak pernah melihat Ranti sebelumnya di laboratorium ini.


Sejak kapan Johannes menyiapkan semua ini?


"Tu...Tunggu, kenapa kakak ada di aquarium? Apa maksudnya ini Galang? Apa itu artinya kakakku masih hidup?" Valin merasakan rasa ketidakyakinan yang besar.


Galang tak bisa menjawab pertanyaan itu, ia terfokus pada Ranti yang tertidur pada aquarium itu. Ia ingin menghidupkannya.


Mereka tidak hidup, mereka telah mati. Mereka berdua hanyalah wadah yang tercipta dari ribuan tubuh yang digabungkan untuk menciptakan tubuh baru yang lebih sempurna.


Jika Galang berlari menuju komputer operasi untuk menghidupkan kembali Ranti, bagaimana reaksi Valin? Yang tentunya akan meminta Galang untuk menghidupkan Valin.


"Ranti....." Melviana tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Apakah ini jebakan? Apakah ini hadiah? Kenapa harus ada dua orang di dalam chamber aquarium?


Menilai dari situasinya, orang yang paling cerdas dalam tempat ini sudah tahu. Ini adalah pertaruhan.


"Johannes.....Jadi kau ingin aku bertarung dengan monster ini...." Galang berbisik pelan.


Galang dapat membaca maksud Johannes, ini adalah ucapan selamat tinggal darinya. Johannes memberikan apa yang Galang inginkan, namun dengan persyaratan ia harus mencegah Valin menghidupkan kakaknya.


Begitupun juga Valin, Johannes memberinya nyawa Lorenzo karena melihat bahwa adiknya adalah seorang pekerja keras yang menyayangi keluarganya. Ia ingin memperbaiki hubungan antara kakaknya dengan orang tuanya.


Valin adalah orang yang menjadi pilar keluarga, dan Galang adalah orang yang peduli teman dan memberi mereka kasih sayang dalam diam.


"Galang, apa berarti kakakku emang masih hidup? Kenapa kau tidak menjawabnya."


Galang menggigit mulutnya, ia benar-benar tidak suka dengan jalan ini. Tapi ia tidak punya banyak pilihan, menghidupkan Ranti jauh lebih penting daripada segalanya.


Lorenzo memang orang yang berharga juga buat Galang, namun Melviana juga pasti menginginkan Ranti hidup.


"Mereka berdua telah mati, namun Johannes memberi kita hadiah untuk menghidupkannya." Galang menjawabnya dengan perasaan berat.


"Kalo begitu ayo kita hidupkan keduanya!" ucap Melviana.


Hartono melihat kejanggalan pada wajah Galang, sepertinya ada sesuatu yang sangat berat untuk dikatakan. Hartono dapat merasakan kegelisahan itu.


"Aku....aku akan menggunakannya untuk menghidupkan gadis itu, maaf tapi hanya satu yang bisa hidup."


Valin terkejut mengenal fakta tersebut. Ia kehilangan kewarasannya, kakaknya tentu saja sangat penting.


Seorang adik yang menyayangi kakaknya lebih dari apapun pasti tak akan melewatkan kesempatan ini.


Valin menyadari ada tombol untuk menghidupkan salah satu dari mereka, ia langsung berlari dan berusaha untuk menghidupkan kakaknya.


Galang langsung bergerak mencegah Valin. Ia menendangnya dengan sangat keras hingga Valin tersungkur.


"Sial, takkan kubiarkan kau menghancurkan segala yang telah kuperjuangkan hingga titik ini!!!" Galang menekan tombol untuk memberikan perintah kepada chamber aquarium.


Valin kemudian mencegah hal itu terjadi dengan melemparkan sepatunya ke wajah Galang, setelah terkena. Ia langsung mendorong Galang lebih jauh dari sistem operasi tersebut.


"Valin, aku tidak ingin berakhir seperti ini...."

__ADS_1


"Kau tidak memberiku pilihan, Lorenzo jauh lebih penting karena ia dibutuhkan sekarang ini."


Galang berhadapan dengan Valin, mereka berdua saling bertatap satu sama lain.


Kedua orang itu penting, dengan menghidupkan salah satunya tentu saja akan mengubah takdir dunia yang telah di tentukan.


Ada banyak sekali kemungkinan, ribuan, jutaan, miliaran, bahkan hingga tak terhingga. Tapi, apakah kemungkinan yang akan terjadi adalah kemungkinan yang baik atau buruk? Apapun itu, yang menjadi kenyataan hanyalah satu kemungkinan.


Di dalam garis waktu ini, hanya ada satu takdir yang harus ditentukan. Dan takdir itu tidak hanya dipegang oleh mereka berdua yang sedang bertarung, tetapi orang-orang diseluruh dunia yang sedang memperjuangkan hidupnya.


Mereka berdua kemudian memasang kuda-kuda. Valin dengan taekwondonya dan juga Galang dengan Capoieranya.


Galang adalah eksekutif terlemah diantara semuanya, meski begitu ia menutupi kelemahannya tersebut dengan kecerdasan yang dimilikinya. Itu membuatnya mampu bersaing dengan semuanya.


Suara palu godam terdengar sangat keras, begitupun suara angin yang disobek oleh pedang. Benar-benar suara yang mencekam.


Beban apa yang dipikul oleh setiap pukulan dan tendangan yang ditukar? Ada apa didalam hati kedua kesatria tersebut yang membuat mereka berusaha untuk membunuh satu sama lain.


"Hartono! Pisahkan mereka!" Melviana memaksa Hartono bergerak, ia menggoyangkan kerah bajunya.


Hartono dengan berat hati tidak bergerak sama sekali, ia tidak ingin mengganggu keduanya. Ketika bertarung untuk orang yang dicintai, tidak ada bagi keduanya jalan untuk mundur.


Melviana menangis, meminta keduanya untuk berhenti.


Namun mereka sama sekali tidak berhenti.


Teknik demi teknik, tendangan demi tendangan, hingga tinju demi tinju.


Ini tak pantas disebut perkelahian, keduanya tak lagi menggunakan bela diri untuk bertarung. Mereka hanya menggunakan kedua tubuhnya untuk menyerang seadanya.


Tubuh Galang panas, ia saling bertukar tatapan kebencian dengan Valin.


Mereka berdua menjaga jarak. Hati mereka tergerak untuk berhenti sejenak.


"Galang, aku akan mengampunimu. Jika kau memilih untuk menghidupkan kakakku." ucap Valin.


"Sialan! Aku bergabung dengan Johannes demi menghidupkan orang yang kusayangi lebih dari apapun!!! Dia.....Dia adalah kekasihku!"


"Bukankah membawanya hidup kembali hanya membuatnya menderita kembali?" Valin memanasi situasi sambil tersenyum.


Di situasi ini, Valin terlihat seperti orang yang jauh lebih jahat dibandingkan Galang. Ia benar-benar dikuasai oleh kegelapan dalam hatinya.


Kemudian, terdengar suara langkah dari kejauhan. Farel dan Keisal datang.


"Apa yang.... Mereka lakukan?" ucap Farel.


Keisal berjalan dengan santainya menghampiri mereka sebagai penengah, sedangkan Farel berdiri dibelakang Valin.


"Aku mengerti, kedua tubuh itu. Dan darah yang tertukar dari kalian."


Galang masih tak puas, ia kemudian melemparkan jaketnya untuk menghalangi pandangan Valin lalu berusaha untuk menjatuhkannya dalam satu kali tendangan keras ke arah jantung.


Farel kemudian membelokkan tendangan tersebut.


Keisal berdiri di depan sistem operasi.


Valin dan Galang terpancing pada Keisal. Keisal menghiraukan pandangan mereka, ia terus menatap pada kedua tubuh yang terpampang didepannya. Seperti tertidur nyenyak.

__ADS_1


"Apa membawa kembali orang yang kita sayangi ke dalam kehidupan ini adalah hadiah terbaik bagi mereka yang telah beristirahat untuk selamanya?" ujar si Killing-Maniac.


Semuanya kemudian terdiam.


"Kenapa mengorbankan nyawa satu sama lain untuk menghidupkan salah satunya? Kalian memiliki keluarga yang menunggu kalian di rumah. Kenapa kalian tidak pulang saja dan sayangi yang masih ada?"


Tidak ada satu pun yang membalas perkataan Keisal, Valin dan Galang saling menyesali perbuatannya tadi.


"Jika memiliki kesempatan untuk melakukannya pada orang yang kusayang, kurasa aku takkan melakukannya.


Corcus kemudian muncul bersama jiwa Lorenzo dan Ranti. Dengan sihirnya, Corcus menghipnotis Valin dan Galang yang hatinya sedang lemah.


Lorenzo dan Ranti mendekati orang yang mereka sayang satu sama lain. Membuat Valin dan Galang menangis saling memeluk satu sama lain dengan orang yang mereka sayang.


Keisal, Farel, Melviana dan Hartono tampak kaget, mereka tak melihat apapun. Tetapi mereka paham, kalau keduanya sedang dihampiri oleh arwah kedua tubuh itu.


"Aku menyayangimu." terdengarlah kata-kata itu, yang membuat Valin dan Galang merasa tenang.


Di dalam kecemasan yang dikiranya akan merusak pertemanan, kini mereka berdua berbaikan satu sama lain.


Jika permasalahan disini selesai, selanjutnya keputusan apa yang akan dilakukan Keisal? Bagaimana ia mengambil keputusan yang berat ini? Tentu saja, ia mengambil pipa dan langsung menghancurkan sistem operasi itu.


Lagipula, seseorang yang telah mati tidak akan pernah sama kembali ketika dihidupkan. Mungkin kloningan itu mewarisi ingatan dan fisik yang sama, namun mereka bukanlah orang yang sama.


Mereka kemudian berjalan menuju pintu darurat untuk keluar dari tempat ini. Galang sudah tahu bahwa tempat ini akan dihancurkan oleh Johannes, kini impiannya untuk membalas dendam kepada World-Council tertitip pada satu nyawa yang ditampung oleh Fadhilah. Tidak ada lagi pasukan kloning yang ia buat untuk menyeludupi semua organisasi vital dunia.


Galang dan Melviana berjalan bersebelahan, Keisal kemudian mendekati mereka yang sedang bersedih.


"Melviana, Galang. Aku minta maaf, aku minta maaf karena tak bisa menyelesaikan masalah ini lebih awal." mata pria itu mulai berkaca-kaca.


Keisal kemudian menangis, "Jika saja....jika saja aku yang dulu sekuat sekarang... Ini semua takkan terjadi!!"


Galang kemudian tersenyum, "Apa-apaan bajingan ini, sudahlah. Berkatmu kini aku bisa lepas dari takdir yang membuatku jadi orang jahat, mungkin kali ini aku akan mulai bersekolah lagi."


Melviana mendekati Keisal, ia ingin dipeluk dan dirangkul olehnya.


Valin melihat hubungan mereka dari belakang, ia benar-benar merasa bersalah dengan perlakuan egoisnya yang berlebihan.


"Kau terlihat begitu sedih, ini tidak seperti No. 3 kita yang biasanya." Farel menepuk pundak Valin.


"Kakakku.....apa kakakku benar-benar akan senang jika aku memutuskan untuk tidak menghidupkannya kembali?"


"Lalu siapa orang yang tadi kau peluk? Aku tak lihat siapa-siapa, bukankah kau yang juga mendengar sesuatu tersebut?"


Farel memberinya permen jahe, permen itu selalu jadi permen favorit untuk Valin.


Meski Lorenzo tidak ada, Farel adalah sosok kakak bagi Valin tersendiri.


"Valin, kita mungkin tidak sedarah. Tapi kita bersaudara. Jangan lupakan apapun tentang hari ini."


"Sepertinya Keisal dan Farel harus jadi tangan kanan Urfana." Corcus tersenyum melihat Keisal mewakili keinginan Urfana di bawah sini.


"Tapi, Dimana Fadhilah? Ia tadi bersama Keisal?"


..........Bersambung..........


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2