Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Kau terlihat berbeda


__ADS_3

07-08-2016 / 10:05


"Hei bangun, jangan tidur terus. Udah hampir dua hari kamu ga siuman." terdengar suara perempuan yang samar-samar.


Urfana membuka matanya secara perlahan, Girana membawakannya sup hangat untuk dimakan.


"Kak Girana....Kupikir kakak sudah beres magang."


"Kakak suka main kesini, syukurlah kamu kemari lagi." Girana menyeringai, ia tersenyum jahat.


"Yaampun, jangan gitu dong kak. Kan jadi serem keliatannya, kakak kaya doain aku aja buat ke rumah sakit." Urfana mencari-cari Excalibur, dompet miliknya.


Urfana beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kaca untuk melihat penampilannya. Sebagian kecil rambutnya berubah menjadi warna putih, lalu mata merah itu menciptakan perubahan pigmen disekitar area mata kanannya dengan lebih luas.


"Aku.... Aku terlihat seperti orang tua dari barat. Kak Girana? Apa dokter mengatakan sesuatu tentang kondisi tubuhku?"


"Kau terkena penyakit yang tidak dikenali, yang menyebabkan sebagian rambutmu berwarna putih, dan matamu merah." Girana menuntun Urfana kembali ke kasurnya.


"Jangan pegang-pegang kak, nanti nular."


"Kata siapa."


Urfana mengambil sendok dan mangkuk berisikan sup krim.


"Kak, aku ingin tahu apa Fadhilah kemarin kemari?" tanya Urfana sambil memakan sup.


Girana mengecek handphone dan membuka Socialtext, "Fadhilah kemarin kesini, tapi cuma waktu kamu dilarikan ke kamar ini. Harusnya hari ini dia kemari juga buat jenguk kamu."


Urfana melihat Fadhilah datang dari pintu, lalu ia memanggil namanya dan melambaikan tangan. Girana menoleh ke arah pintu, namun ia sama sekali tak melihat siapa-siapa.


"Urfan? Gaada siapa-siapa yang masuk."


Girana beranggapan kalo Urfana mendapati halusinasi, dokter yang memeriksa Urfana mengetahui bahwa ada cairan serupa narkotika yang masuk melalui pembuluh darahnya.


Efek suntikan yang Corcus lakukan terhadap tubuh Urfana memacu adrenalin yang tinggi, halusinasi, dan detak jantung jauh lebih kuat, membuat seluruh sel darah terpompa ke hampir semua bagian tubuh dengan baik.


Urfana memegang kepalanya yang agak pusing karena efek samping. Suntikan tersebut adalah Combat Drug, pria bertudung itu mengiriminya suntikan tersebut supaya dapat digunakan ketika dalam keadaan sekarat.


Ia mencuci mukanya di wastafel sambil berkumur-kumur menggunakan cairan pembersih mulut untuk menghilangkan kuman di dalam mulutnya.


Seseorang menyentuh pinggang bagian kiri kanan Urfana menggunakan kedua jarinya.


"Hiik!!" Urfana terkejut karena ia memiliki titik sensitif dibagian pinggang.


"Hahaha, maaf ngagetin." Fatlan menjahili Urfana.


Fatlan datang bersama dengan Sarah, Riko, Anila.


"Urfan, rambut dan mata kamu??" ucap Sarah.


...Yaampun, si Fatlan sekarang datangnya sama para cewe....


Mereka semua saling sapa-menyapa dan menanyakan kabar, Urfana mendapati buah-buahan yang bisa ia konsumsi di rumah sakit. Pihak rumah sakit tak mengizinkan makanan dari luar selain buah-buah.


Urfana menoleh kesana-kemari, ia takut bahwa Liran sebenarnya ada. Halusinasi telah mengganggu pikirannya tadi.

__ADS_1


"Dimana Liran?" tanya Urfana.


Fatlan agak gugup untuk menjawab, "Anu—"


Sarah menggoder Fatlan dengan pelan, untuk saat ini Urfana tidak boleh tahu apa-apa tentang masalah yang terjadi.


Ia baru saja menghadapi masalah besar yang dimana nyawa menjadi taruhannya. Mereka semua sepakat untuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada Urfana.


"Liran pergi ke Sumatra, ada acara keluarga. Katanya bagi warisan." ucap Riko.


"Oalah, enak banget anak itu bisa jajan banyak."


Urfana percaya pada kebohongan itu. Girana kemudian pamit meninggalkan ruangan pada teman-teman Urfana, ada urusan yang harus ia lakukan.


Melviana hanya duduk diluar ruangan Urfana, mendengarkan sebagian kenalan sekolahnya berbincang bersama, ia menutupi rambutnya dengan tudung jaket dan menunggu mereka semua pergi.


Gadis itu sangat ingin bertemu dengan Urfana, ketertarikannya terhadap Urfana benar-benar membuatnya bertaruh dengan nominal yang sangat besar ketika event eskul Tinju dan juga Skusher-Arena.


Ranggi memiliki pengaruh didalam Painraiders sebagai calon eksekutif, ia mengetahui apa yang terjadi disana melalui salah satu pesuruhnya dan membagikannya kepada teman-teman Urfana.


"Apa yang kamu lakukan diluar sini Melviana?"


Melviana menoleh ke laki-laki yang sedang berjalan mendekat dari arah kanan.


Tidak lain laki-laki itu adalah Hasan, ia ingin menjenguk Urfana juga bersama dengan pacarnya yang berbeda sekolah.


Melviana membuka tudungnya pelan-pelan, jelas Hasan melihat bahwa mimik wajah gadis itu terlihat mengerut karena mengkhawatirkan Urfana, padahal ia sama sekali belum pernah berinteraksi dengan Urfana.


"Jadi kau menyukai Urfana ya...."


"Melviana!"


Gadis itu mengacuhkan Hasan, padahal ia juga ingin memberitahu soal Keisal.


Hasan berjalan perlahan ke arah Melviana pergi, "Ada apa dengan cewe itu?"


Pacarnya menghentikannya, "Cewe emang gitu sayang, itu artinya ia memang suka. Tapi ia pengen privasi dengan si cowo."


"Ya ampun."


Hasan dan pacarnya menunggu giliran mereka untuk masuk selagi Fatlan dan yang lain asik mengobrol disana. Jam besuk tentunya cukup terbatas, sang pasien masih harus menjalani istirahat lebih untuk pemulihan.


Setelah 1 jam berlalu, semua tamu yang membesuk Urfana telah pergi meninggalkan rumah sakit dan mulai sibuk dunia mereka masing-masing.


Tidak lama setelah itu, anak itu mendapatkan tamu yang sangat ia tak duga.


"Apakah Anda datang kemari untuk mencaci maki saya lagi? Yang saya lakukan hanyalah menyelamatkannya ketika seluruh keluarga hanya sibuk pada bisnis, bisnis dan bisnis...."


Urfana mengejek Rina, ia sangat tak menyukai Ibunda Fadhilah tepat pada hari dimana ia dimarahi olehnya ketika ia membesuk Fadhilah dirumah sakit.


"Saya pikir dengan menjadi jelek dan miskin masih jauh lebih baik daripada cantik dan kaya, Anda tahu dimana perbedaanya? Itu adalah dimana sampah jauh lebih mementingkan harga diri dan uang dibandingkan teman dan keluarganya sendiri, saya tahu saya berbicara dengan siapa, namun setelah kejadian kemarin...... Saya jadi lebih berani." Urfana menyeringai didepan Rina.


Rina sendiri yang terkenal galak dan arogan untuk bawahannya kini terdiam oleh ejekan Urfana, karena kini baginya anak itu terlihat jauh berbeda dari terakhir mereka bertemu.


Ia baru pulang kemarin dari luar kota karena mendengar Fadhilah dalam bahaya, meskipun sebagai Direktur Operasi ia sedang memiliki tugas yang sangat penting.

__ADS_1


"Ibu..... Ibu kemari karena mendengar bahwa kamu telah menyelamatkan anak Ibu. Meskipun suami Ibu sedang di penjara karena kejadian tersebut, Ibu tak tahu alasannya kenapa. Namun Ibu ingin mengucapkan terima kasih atas tindakan kamu yang gercap."


Rina menundukkan kepala dihadapan Urfana untuk menunjukkan rasa bersalah dan merasa gagal jadi seorang ibu.


Urfana berjalan ke arah jendela dan ia membukanya.


"Fadhilah masih belum pulang bukan?" ucap Urfana.


"Iya..."


Urfana menggigit mulutnya dan merasa sangat marah.


"Saya.....saya memang membawa kesialan baginya....."


Urfana mengingat kembali teriakan Fadhilah saat meminta tolong, suara tembakan dan teriakan orang-orang yang gila, dan rasa sakit yang Fatherknight berikan hingga hampir membunuhnya.


Urfana kesal karena ternyata ia kalah, kalah dalam tujuan. Meskipun Urfan berhasil mengalahkan Fatherknight karena dikendalikan Corcus, tetap saja ia gagal karena Fadhilah menghilang kembali.


Wendi, salah satu eksekutif dari Fatherknight telah menyiapkan rencana lain sementara yang lain sibuk dengan urusan masing-masing. Fadhilah dibawa pergi kembali kemarin hari.


"Ini terlalu rumit." Urfana tersenyum, ia stress.


"Ibu pergi dulu, kamu boleh lanjut istirahat Urfana. Dan tolong maafkan ibu untuk yang waktu itu....."


Rina pergi dari ruangan itu. Urfana merasa ada yang tidak beres dari tingkah laku Fatlan dan Rina. Hanya dengan melihatnya ia bisa tahu bahwa Fatlan dan Rina menyembunyikan sesuatu.


Kini mata kanan tersebut jauh lebih mudah dikendalikan, ia takkan mengintimidasi orang tanpa perintah langsung dari reaksi Urfana.


Jika mata itu dikedipkan atau ditutup, kekuatannya takkan berfungsi secara sempurna, melainkan mata itu akan meminjam informasi dari mata sebelah dan memprosesnya sendiri kedalam pikiran, tidak selancar melihatnya sendiri.


Mata kanan itu bagaikan manusia, jika melihat dengan mata kanannya sendiri maka ia berfungsi seolah-olah ia memang melihatnya, jika ia tak melihat, maka ia akan bertanya pada mata sebelah bagaikan manusia yang bertanya pada selainnya.


"Corcus.... Kau diluar kan?....."


Corcus bersandar di dekat pintu masuk ruangan. Ia mendengar semua percakapan yang diarahkan Fatlan hingga ke Rina.


"Aku..... Aku sudah tak kuat......" Urfana menangis, menahan rasa ketidakberdayaan pada apa yang terjadi.


Corcus hanya terdiam, ia tak bisa menjawab apapun atas ungkapan hati Urfana saat ini.


"Urfana, menangislah sepuasmu. Namun bangkitlah kembali ketika kau sudah lelah menangis."


Ia pergi dari tempat Urfana. Sebagai teman, Corcus merasa bersalah karena sudah membawa semuanya ke pundak Urfana.


"Ourandle.... Kau bilang kau ingin membuat dunia jauh lebih baik kan....." Corcus berjalan sambil menundukkan kepalanya, merenung atas apa yang menimpa Urfana.


"Gadis yang bernama Fadhilah itu benar-benar memiliki kesamaan wajah dan fisik dengan Unalynn. Meskipun aku gagal menyelamatkan Unalynn dan dirimu, setidaknya aku masih bisa membantu Urfana agar tidak tertimpa musibah yang sama."


Hari ini adalah hari minggu. Di luar rumah sakit ada banyak bazaar makanan dan jajanan lainnya. Event Car-Free-Day selalu diadakan hingga pukul 11 siang.


Urfana melihat dari jendela betapa bebasnya dan bahagianya orang-orang saat itu. Ia merasa cemburu pada apa yang mereka miliki dan hidup lebih tentram.


Pemuda itu mengepal tangannya dan menguatkan tekadnya lagi.


"Aku akan menyelamatkanmu lagi, Fadhilah. Dan kita akan berjalan bersama di jalan itu pada minggu hari nanti. Kali ini aku takkan gagal!"

__ADS_1


..........Bersambung..........


__ADS_2