
"Ugh....tubuhku!" Urfana tak bisa bangun dengan baik, ia terlalu banyak menggunakan kekuatan matanya.
Suasana Skusher-Arena sangatlah kacau, Painraiders memiliki anggota yang cukup sulit ditangani karena sebagiannya adalah orang-orang dewasa.
Sebagian eksekutif dari geng Clubboys pergi mencari menuju pintu ruang rawat dimana teman-teman yang terhabisi saat Arena.
"Rion." ucap Urfana.
"Ada apa?" tanya Rion.
"Aku membawa kartu untuk keluar melalui ruangan VIP dan Smartphoneku tidak disita." Urfana memberikan Smartphonenya pada Rion.
Smartphone milik Urfana retak, namun masih bisa menyala. Dengan sigap Rion menelpon bantuan yang akan datang dari luar, setelah itu ia berjalan bersama Urfan menuju ke atas tempat penonton.
"Kak, tolong jangan pergi!" Danawi berlutut didepan Rion.
Rion menendang perut Danawi tanpa segan-segan.
"Jangan halangi aku, aku kemari bukan untuk Keisal. Aku kemari karena Urfana, aku sudah mendengar banyak tentangmu Danawi." Rion melangkah melewati Danawi bersama dengan Urfana.
"Kerja bagus, dari dulu aku emang ingin melakukannya." Urfana senang dengan apa yang Rion lakukan pada Danawi.
Hasan dengan sigapnya langsung menerobos area yang dikuasai oleh Painraiders dan menghajar mereka semua.
Secara kekuatan, Hasan adalah eksekutif terkuat dan punya kemampuan bertarung yang selevel dengan Christian Galeo.
"Liran!!" teriak Hasan mencari keberadaan Liran.
Ia berlari, dan mencari Liran ditengah kerumunan yang kacau. Mau tak mau ia juga harus sambil menyelamatkan penonton yang tidak ada kaitannya dengan pertarungan geng.
Penonton perempuan juga cukup banyak karena terbiasa pergi dengan teman laki-laki mereka.
"Oi, kau!" seseorang menepuk bahu Hasan.
Hasan menoleh dengan sigap.
"Kita harus melindungi penonton." ucap Valin, si No. 3 dari Clubboys yang punya pemikiran sama dengan Hasan.
Valin langsung pergi menghajar beberapa anggota Painraiders dengan kemampuan Taekwondonya.
Ia adalah juara 1 Taekwondo tingkat Nasional.
Mereka berdua melakukan Team-Tag dengan kombinasi yang sangat baik, secara tidak langsung mereka dapat jauh lebih akrab dalam situasi kacau dan kini lebih tenang.
"Bagaimana dengan Reggie? Apa yang dia lakukan?" tanya Hasan pada Valin.
Valin melakukan Dwichagi, "Jangan khawatir, Reggie sedang bersenang-senang." balas Valin.
Hasan menoleh ke sebrang area penonton dan melihat Reggie sedang mengamuk dengan kemampuan tinjunya. Dan tidak jauh dari tempatnya terlihat Toriko dan para eksekutifnya sedang melempar-lempar Painraiders.
"Tch." Hasan merasa khawatir jika Painraiders berhasil dikalahkan maka Troy-Skusher yang akan dihabisi. Namun ia juga tak bisa membiarkan para penonton diculik Painraiders dan melakukan yang tidak-tidak.
"Aku pernah balapan sepeda bersama Urfana pada hari yang belum lama ini. Sejujurnya aku ingin menyapanya, tapi sayang ini bukanlah momen yang tepat." ucap Valin sambil membawa para penonton berkumpul di zona selamat yang mereka berdua tentukan.
"Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Hasan.
"Ya, dia benar-benar orang yang menarik. Kau satu sekolah dengannya bukan? Kalau begitu jagalah dia. Sejujurnya aku tak bisa mendekatinya karena ketua gengku bermaksud untuk menghabisinya suatu hari nanti." Valin duduk sejenak untuk mengistirahatkan kakinya.
"Kak Hasan!" Liran berlari mendekati Hasan, syukurnya ia hanya mendapati luka lebam.
"Aku harus kembali membantu ketua gengku, suruh anak buahmu kemari dan lindungi mereka. Jangan khawatir, kali ini kita anggap gencatan senjata. Clubboys akan pergi setelah Painraiders di eliminasi."
Valin berdiri kembali dan langsung pergi menuju tempat dimana Reggie dan Farel (No. 2) berada.
Valin berlari dengan cepat, ia melompat tinggi dan berlari diatas kepala orang-orang tanpa terpleset sama sekali.
__ADS_1
Reggie menghajar 10 orang dengan kemampuan Tinju tak terlihatnya. Ia menargetkan para anggota Painraiders dan bermaksud untuk memusnahkan Troy-Skusher disini sekarang juga.
"Orraaa!!!" Toriko melempar salah satu badan ke arah Reggie.
Reggie dengan sigap langsung menghindari lemparan tersebut dan menatap Toriko dengan sangar.
"Brengsek!! Beraninya ganggu??" Reggie mulai murka oleh keberadaan Taring-Harimau yang mulai meliar.
"Bahahaha, aku kemari untuk bersenang-senang. Saatnya bagiku untuk mengetes seberapa kuatnya kau." Toriko mulai menggila
Valin kemudian melompat dan menendang Toriko dengan kencang hingga ia terpental 2 meter.
Sebelum Toriko terjatuh, Wakil ketua Taring-Harimau menahan tubuh Toriko dari belakang. Farid sang Macan.
"Tendangan yang bagus." puji Farid terhadap Valin yang mengenakan jaket klub berlogo platinum dengan outfit Taekwondonya.
"Kudengar kalian memiliki Dojo sendiri, sepertinya aku ingin datang kesana untuk ikut berlatih." Valin tersenyum karena ia dipuji oleh orang yang terlihat kuat.
Farel melihat, Fernando dan Vicky mencoba untuk pergi ke koridor menuju ruangan Keisal yang dijaga oleh Painraiders.
"Reggie, aku akan berusaha mencari jalan keluar. Aku memiliki firasat buruk."
Reggie menoleh ke arah pandangan Farel tertuju, "Lakukan tugasmu." balas ia yang memahami maksud Farel.
"Tapi, apa disini kita kekurangan kekuatan?" tanya Farel, masih merasa tak enak hati meninggalkan Reggie.
"Lakukanlah, kita harus segera melakukan apapun dengan cepat."
Farel mengangguk dan pergi membantu Fernando dan Vicky menerobos barisan.
Hasan dan Liran diam ditempat zona aman bersama para penonton netral. Valin dan Reggie melawan Toriko dan Farid. Fernando, Vicky, dan Farel melawan 10 penjaga pintu.
Danawi, Wargiant dan Junadi menjaga Keisal. Melviana dan pengawalnya bergabung dengan Hasan. Sedangkan Urfana dan Rion berjalan menuju anak tangga yang ada di arena untuk pergi ke tempat bangku penonton.
"Kita tidak ada campur urusan dengan mereka kan? Rion." tanya Urfana.
"Siapa yang kau panggil dalam telepon tadi?" tanya Urfana.
"Cuma teman, sama seperti mereka, aku juga memiliki anggotaku."
Phaseon membantu Urfana menaiki tangga dan pergi ke koridor dimana Fire Rainbow berada.
Phaseon melindungi Urfana sambil bertarung melawan anggota Painraiders.
Painraiders tidak ada yang membawa senjata tajam dalam tempat ini, karena perintah Fatherknight. Fatherknight ingin tempat ini bersih tanpa korban kematian.
"Shadow Snake, kami sudah menunggumu di koridor ini." Jennifer dan Obani menghalang pintu keluar mereka berdua.
"Cukup lucu sekali jika Jennifer si Blossom-Aconitum mampu menghentikanku." Phaseon menyiapkan kuda-kuda Systema.
"Aku diperkenankan menggunakan senjata tajam lho. Kau tahu julukanku adalah nama bunga beracun, cantik namun membunuhmu dalam perlahan." Jennifer memasang cakarnya di tangan kanan yang sudah diracuni olehnya.
Obani menyiapkan palu besar miliknya yang gagangnya bisa melengkung.
Urfana memasang kuda-kuda Tinjunya untuk menghadapi mereka berdua bersama Phaseon.
"Tidak." Phaseon menghalangi Urfana.
Urfana terkejut karena ia dihentikan oleh Phaseon.
"Dia boleh pergi. Rahmania Urfana sudah menjadi pengecualian bagi kami." ucap Jennifer.
"Aku tidak percaya orang jahat." balas Urfana terhadap tipuan Jennifer dan Obani.
Mereka berdua menertawai Urfana karena hal itu terdengar sangat lucu di mata mereka berdua.
__ADS_1
"Hei, yang disebelahmu juga orang jahat. Kau pikir dia siapa?" Jennifer merasa sangat yakin dengan kemampuannya untuk membunuh Phaseon. Ia menyiapkan kuda-kudanya.
Urfana ingin menggunakan kekuatan matanya untuk melewati mereka berdua, namun ia terlalu lemah untuk hal tersebut. Fire Rainbow sudah dikepung oleh sisa anak buah Troy-Skusher yang dikendalikan Ranggi
Ia tetap berjalan menghiraukan Phaseon.
"Jennifer, jika kau melukainya. Aku akan langsung membunuhmu." Phaseon mengancamnya, ia melototi Jennifer dan Obani yang sudah dalam kuda-kuda.
Corcus berjalan mendekati Urfana, ketika Jennifer bermaksud untuk membunuhnya. Corcus langsung menahan cakar itu dengan tangannya.
"Kau selalu saja ceroboh. Urfana."
"Hei." Urfana tersenyum.
Jennifer mencoba menggerakkan cakarnya untuk menyayat Urfana. Namun Corcus menahannya dengan sangat kuat sehingga ia dapat meloloskan diri.
Obani hanya terdiam karena menuruti perintah Jennifer.
"Obani!" teriak Jennifer.
Obani kemudian berusaha untuk mengodam Urfana menggunakan palunya, dengan sirgap Corcus mengelak palu tersebut dan mengenai area ******** Obani.
"Uaghh...." Obani langsung tertunduk dan kalah karena rasa sakit dan linu yang ia rasakan.
Phaseon kemudian berlari mendekati Jennifer dan langsung mematahkan tangan kanannya dengan teknik Systemanya.
Urfana membuka pintu tersebut menggunakan kartu VIP miliknya. Terlihatlah Ranggi yang baru saja mau masuk karena ingin memastikan situasi lapangan secara langsung.
"Kerja bagus Urfana..." ucap Ranggi ia terlihat pucat.
"Kau ingin membunuhku kan?" Urfana memegang kerah baju Ranggi.
"Tunggu... Ini bukan seperti yang kau pikirkan!" Ranggi panik dan takut terhadap Urfana.
Phaseon langsung menyita kartu owner milik Ranggi dan mendorongnya ke bawah tangga koridor.
Phaseon dan Urfana kemudian mengunci pintu tersebut sehingga mereka bertiga harus keluar melalui koridor lain.
Anggota Troy-Skusher hanya berdiam melihat mereka berdua jalan saking takutnya. Mereka menonton pertandingan melalui layar lebar di bar dan memutuskan untuk tutup mulut setelah kedua monster itu berjalan ke kandangnya.
Mereka seolah-olah seperti melihat hantu, dan berharap lekas pergi menjauh.
"Apa lenganmu sudah baikan?" tanya Phaseon.
"Tidak perlu khawatir...." Urfana aku mulai membaik.
"Kau membawa kendaraan?"
"Ya.... Terparkir disana."
"Ada barang yang hilang?"
"Tidak, semuanya lengkap."
Tersentaklah Urfana, ia sudah tak kuat berjalan setelah apa yang ia alami setelah melawan Keisal.
Phaseon membantu Urfana berdiri, ia menggendongnya.
"Hei, apa menurutmu kita bisa istirahat?" tanya Urfana.
"Kau bisa istirahat di Van milikku. Sejak awal aku masuk tanpa ponsel dan tanpa tiket, dua orang temanku menunggu tidak jauh darisini, kita akan pergi ke lokasi tersebut."
Phaseon menatap langit yang tertutupi oleh awan hitam yang tebal, yang tak lama lagi akan menurunkan air hujan yang cukup untuk menghujani satu malam.
...Kita harus tetap maju, karena gadis itu sedang menunggu kita....
__ADS_1
"Mari kita tunjukkan pada mereka, bahwa tak ada satupun yang bisa menghentikan kita, Urfana!" Phaseon menunjukkan senyuman gairah, ia tak sabar untuk pertarungan selanjutnya.
.......Bersambung.......