Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Fadhilah dan Keisal


__ADS_3

16-08-2016 / 20:15


"Kejar!!! Kejar mereka!!" salah satu ketua tim memimpin pengejaran terhadap Fadhilah dan Keisal.


Keisal dan Fadhilah berlari berdampingan dari para petugas utusan Noparents yang mengejarnya.


Meskipun di suasana mencekam dimana terdapat monster dan getaran dalam gedung. Keisal masih tenang menghadapi situasi yang membahayakan ini.


Sambil menjaga Fadhilah yang ada disisinya saat ini. Keisal sedikit mengkhawatirkan Urfana tetapi ia yakin jika Urfana dapat melaluinya, meskipun ia melihat dengan mata dan kepala sebagai saksi atas kuatnya Johannes.


Sepertinya hanya kau yang dapat melakukannya.


Banyak meja dan perabotan hotel yang rusak akibat getaran itu, beberapa lantai pun rusak dan bahkan ada yang runtuh. Hiasan gantung dan lampu pecah, air pada sistem kebakaran menyala, dan suara kencang alarm yang mengiang-ngiang dalam gendang telinga.


Mereka tiba di lobi yang luas pada lantai 5.


Eksekutif No. 5, Nanda Reki membawa pasukan dan mengepung Keisal. Beberapa pasukannya membawa senjata tajam dan ada yang bertangan kosong.


"Kau tahu? Kau mungkin masih 17 tahun tapi aku tak segan membunuhmu. Jika kau serahkan Fadhilah, perintahku mungkin akan berubah yaitu menangkapmu. Setidaknya kau takkan mati Keisal Saniswara." Nanda menunjukkan dirinya, ia berjalan mendekati Keisal disaat pasukannya yang lain menghalangi jalan keluar.


"Sepertinya kau terobsesi denganku, kau selalu memperhatikanku." Keisal menatap Nanda dengan serius.


Nanda tertawa, "Tentu saja, kau adalah Killing-Maniac, kau jauh lebih populer dariku. Aku iri karena bocah yang lebih lemah dariku harus lebih bersinar, aku mendengar prestasimu di dunia bawah. Kau bekerja sama dengan Painraiders, bisnis perdagangan manusia dan narkotikanya yang besar itu menguasai hampir seluruh Jawa Barat."


"Keisal, ia adalah eksekutif utama. Dia memimpin 6 hingga eksekutif ke 9 dari Noparents. Kekuatan mereka tidak bisa diremehkan." ucap Ranggi melalui earphone Keisal.


Keisal menyiapkan dirinya, "Ini cukup sulit, karena aku harus melindungi j*lang ini juga."


"Beraninya kau menyebutku j*lang?!" ucap Fadhilah.


"Lalu dengan sebutan apa aku harus menyebutmu? Kau menjual dirimu pada Johannes bukan?! Disamping Urfana bertarung mati-matian menyelamatkanmu!?"


"Apa?! Seenaknya aja kau pembunuh!"


Fadhilah menampar Keisal dengan kencang, Keisal membalasnya dengan pukulan juga ke wajah Fadhilah.


"Dengar, aku mungkin pembunuh dan penculik. Aku memang tak bisa dimaafkan dan aku harus menebus dosaku. Tapi kau berbeda FADHILAH!! KAU ADALAH CAHAYA URFANA!!"


Keisal sangat marah pada Fadhilah, bukan karena tamparan itu. Tapi karena Keisal sangat peduli pada Urfana. Melihat Urfana berjuang untuk menyelamatkan Liran dari Bullyan dan Fadhilah dari penculikan membuatnya sadar bahwa jalan yang ia ambil adalah jalan yang salah.


Keisal sudah berjanji setelah piknik di rumah Urfana, bahwa ia akan memperbaiki apa yang salah dan melindungi hal berharga bagi Urfana karena Urfana akan melakukan yang sama.

__ADS_1


Ia tahu, bahwa setelah Urfana dirawat setelah kejadian Painraiders, Fadhilah menyerahkan dirinya kedalam mobil yang dikendarai Johannes lalu pergi menghapus jejaknya. Keisal sudah mengutus salah satu orang untuk mengawasi Fadhilah maupun Urfana pada hari itu tanpa sepengetahuan teman-teman Keisal yang lainnya.


"Perwakilanku pada hari itu, melihat semuanya. Wendi yang memiliki koneksi dengan Johannes memberitahu keberadaannya karena Johannes pernah bercerita pada Wendi saat melakukan bisnis mengenai Fadhilah. Aku tahu karena aku adalah Eksekutif dari Painraiders."


Beberapa orang maju menerjang Keisal.


"Kau telat..."


Seseorang melindungi Keisal dan Fadhilah. Ia adalah sang Brother! No. 2 dari Clubboys! Farel Indriya!


"Keisal, sesuai kesepakatan atas keinginan masing-masing. Kau harus mengatakan lebih banyak mengenai Toni Nurjaman."


"Tentu saja. Lagian Valin disini juga, alasanmu untuk bertarung jadi lebih niat bukan?!" Keisal tersenyum.


"Jadi dia disini... Pantas saja tak bisa dihubungi. Pergilah, kau tahu kan siapa aku? Kau pasti kenal akan seberapa kuatnya aku?" Farel menunjukkan jempolnya pada diri sendiri dengan penuh rasa percaya.


"Semoga reputasinya memang sama kuatnya dengan apa yang disini. Si Tinju Cepat ga dikasih tau kan soal ini?!" Keisal memegang lengan Fadhilah.


"Engga, dia gaboleh tau. Aku akan membuka jalan, lihatlah!" Farel memimpin didepan, dan berlari mendekati Nanda.


"Dia kuat, kau tak bisa melawannya dengan sembarang." Keisal memperingati Farel.


Farel kemudian memukul Nanda dengan keras. Nanda menahan serangan tersebut dengan mudah. Keisal kemudian melewati Nanda bersama dengan Fadhilah sambil menghajar anak buah yang menghalangi.


Farel terlihat lebih siap, ia telah mengenakan pakaian bertarung yang elastis dan dapat melindungi area vitalnya.


"Siapa kau?" Tanya Nanda pada Farel.


"Aku? Sang Elang! Dari Cimahi!"


"Serang!!" Nanda memperintahkan pasukannya untuk mengeroyok Farel.


Farel kemudian memecahkan beberapa bom asap buatannya untuk melumpuhkan anak buah Nanda. Mustahil melawan pengguna pisau dalam jumlah banyak tanpa melumpuhkan mereka.


Asap itu membuat mata pasukan Nanda tak bisa membuka matanya karena pedih, sedangkan Farel sudah terbiasa. Ia pun membantai apa yang ada dalam jangkauannya hingga menyisakan Nanda untuk mengetes kemampuannya.


...----------------...


16-08-2016 / 20:20


Keisal dan Fadhilah sudah berlari cukup jauh. Fadhilah kemudian memaksa Keisal untuk melepaskan genggamannya. Keisal kemudian melepaskannya.

__ADS_1


"Baiklah, aku melepaskanmu. Oke? Apa kau puas, lihat kekacauan apa yang telah terjadi hanya karena Urfana ingin menyelamatkanmu!" Keisal masih tak puas dengan reaksi Fadhilah yang tidak terlihat bersalah.


"Aku... Aku tidak tahu lagi... Kau juga jahat, kenapa kau bertindak seolah-olah kau lebih baik dariku. Bukannya kau juga telah mengkhianati banyak orang dan merenggut banyak orang dari keluarganya?! Aku hanya memberikan diriku pada Johannes oke?!"


Keisal memukul tembok hingga temboknya retak. Ia lagi-lagi emosi, kepribadiannya yang gila hampir muncul karena Fadhilah.


Ranggi menenangkannya, ia mengucapkan beberapa patah kalimat untuk menurunkan tensinya. Kesabaran yang sudah setipis tisu itu harus dilapisi lagi oleh banyak lapisan.


"Kau mengkhianati Urfana, brengsek. Jangan harap kau dapat memanfaatkannya lagi untuk menyelamatkanmu. Putri Negeri Nusantara...."


Keisal menyebut julukan Fadhilah dengan julukan yang disebutkan banyak orang setelah puisinya untuk negeri ini pada 7 April 2016 kala itu. Gadis yang mendapat banyak pujian dan harapan dari banyak orang, tidak lagi ada.


Fadhilah mulai menangis.


"Urfana memiliki hati yang halus, tapi aku tidak! Aku tidak akan membiarkanmu melukai sahabatku lagi!!" Keisal berteriak didepan Fadhilah.


Ranggi mendengar itu, jujur ia sangat tidak memprediksi hal itu. Keisal yang biasanya selalu halus dan tertarik pada wanita kini melihatnya sebagai sampah tak berguna.


Apalagi Urfana yang tadinya adalah musuh yang sangat ia benci, kini sudah dianggap sahabat.


"Aku...aku tak pantas untuk hidup, aku akan membunuh diriku supaya tidak ada lagi yang harus mati karenaku." Fadhilah tidak bergerak ketika Keisal menariknya kembali untuk melarikan diri.


"Bunuh dirilah setelah kau minta maaf pada Urfana, setelah itu kau bisa membawa rasa malumu dengan tanggung jawab dan mati."


Keisal kemudian berhasil meyakinkan Fadhilah dan kembali berjalan mencari jalan keluar dari gedung ini. Disamping lain, masih banyak orang yang mengantri keluar untuk melarikan diri.


Beberapa eksekutif juga terlihat sedang membantu para pengunjung dan tamu untuk melarikan diri, para tentara juga terlihat membantu evakuasi.


Situasi kini jauh lebih berbahaya, Girana mengamuk dan berhasil membunuh puluhan tentara yang menembakinya dalam amukannya. Johannes dan Urfana masih saling beradu pukulan satu sama lain.


Valin, Hartono, dan Melviana masih berusaha untuk melarikan diri dari kejaran Noparents.


William Gashington dan para petinggi militer lokal masih sibuk untuk menangani amukan Girana yang berubah menjadi monster seperti Gurita yang memiliki banyak tentakel itu.


Bandung tengah, kini menjadi zona merah dan bala bantuan militer masih berdatangan ke tempat dimana Girana berada.


Girana sedang berada di bawah alam sadar dimana virus mengendalikan tubuhnya. Ia bermimpi di musim salju yang tebal dan membantai para veteran perang yang terlihat ketakutan dalam selimut teror.


"Perang, belum berakhir.." ucap Monster itu dalam suara yang menyeramkan.


.......Bersambung.......

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2