Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Pesan hati untuk membuka lembaran baru


__ADS_3

08-08-2016 / 22:00


Hujan menangisi kota Bandung dengan air mata langit yang amat deras dan tak ada hentinya sejak 2 jam berlalu.


Urfana dan Corcus duduk bersebrangan di antara meja sambil menikmati teh hangat mereka. Tak satupun dari mereka telah membuka obrolan selama 2 jam setelah mereka memutuskan untuk duduk dan meminum teh.


"Keadaan masih belum cukup baik Urfana. Fadhilah masih tidak ada kabar dan masih tak pulang. Maaf karena baru menemuimu sekarang setelah dirumah sakit."


Urfana mengangguk.


"Tak apa, lagipula aku tak pernah meminta tolong dan tak ingin merepotkanmu...."


Urfana dan Corcus bersulang untuk teh hangat di hujan deras.


"Corcus..... Momen disaat aku mengunjungi Athnia.... Kupikir aku mengerti kenapa kau datang padaku. Itu bukan soal aku yang ditakdirkan sebagai penyelamat dunia, melainkan karena aku adalah temanmu bukan?"


Corcus senang mendengar Urfana memahaminya, "Ya, aku adalah temanmu. Sejujurnya mengenai kau yang terpilih untuk menyelamatkan dunia hanyalah bualan, aku hanya tak ingin diabaikan dan dijauhi."


"Tapi, pada akhirnya itu bukan bualan." Urfana menyentuh kelopak mata kanannya, "Karena aku memiliki mata ini, itu artinya aku memang yang terpilih."


"Eye of Creator." ucap Corcus.


"Huh apa?"


Corcus mengangguk, "Ya, itu adalah nama mata itu."


Sebagai seorang pribadi yang dianugrahi mata spesial, lelaki itu mampu menjadikan dirinya sebagai tatanan puncak di segala aspek.


Eye of Creator, memberikan penggunanya aksesibilitas lebih terhadap ruang otak dan meningkatkan performa pemikirannya untuk mencapai kecerdasan yang melebihi akal manusia.


Sebuah mahakarya yang tak diketahui pencipta dan pelopornya, motif berbunga-bunga yang ada pada mata itu sangatlah indah meskipun cukup menegangkan saraf ketika dilihat secara langsung.


"Sebaiknya engkau tidur, mulai esok kau harus menempuh jalan pendidikan lagi." Corcus menutup gorden jendela lalu merebahkan dirinya di sofa.


"Entahlah, aku kadang berpikir bahwa sekolah tak begitu penting lagi bagiku." Urfana menghela nafas.


Urfana mengamati mata kanannya yang mulai membentuk sebuah simbol aneh yang dinilainya sangat keren dari segi bentuk, bagaikan tato.


......Apa tato ini menyimpan kekuatan lain selain mata kananku ini?......


"Kau bercerita padaku bahwa kau pernah menjadi gelandangan. Kau mengemis, mencuri, hingga pada akhirnya seseorang memberimu rumah, dan kemarin-kemarin kartu kredit super premium untuk mendanai kebutuhanmu. Perlahan, jalan jauh semakin sulit, menyelamatkan dunia bukan hanya sekedar menghajar orang jahat."

__ADS_1


Urfana "Lalu apa Corcus?"


"Tapi mempertahankan keseimbangan dunia dan mencegah manusia berbuat yang ceroboh, Rahmania Urfana."


Lingkup ruangan rumah dan sekitarnya berubah menjadi perbukitan kosong tanpa adanya perumahan didaerah sekitar, Corcus menghipnotis Urfana dan memberikan visual mengenai kondisi kota Bandung pada masa depan di malam hari itu.


"Indah sekali......" terkagum remaja itu melihat kota kelahirannya menjadi begitu indah dan canggihnya.


"Ini adalah masa depan yang kau harus lindungi, dan pada masa depan ini tidak ada anak yang mati kelaparan dan bisa meraih mimpi mereka!"


Corcus dan Urfana berdiri sebelahan dan saling memegang bahu.


Perjalanan masih begitu panjang. Kedua pria itu saling merangkul dan kini jauh lebih bersemangat lagi dalam melakukan tugasnya atas nama masa depan dunia.


Hidup begitu terangkai oleh hal rumit yang berada diluar nalar manusia, yang bahkan satu keputusan atau tindakan mampu mengubah alur cerita secara drastis di masa depan.


Pada dasarnya, hidup setiap satu nyawa adalah ketergantungan setiap pribadi terhadap yang lain. Manusia harus saling merangkul dan bersatu jika masa depan ingin terselamatkan.


Namun disisi lain, ada juga mereka yang memiliki tujuan berbeda seperti menghancurkan dunia dan menguasai dunia.


"Perjalanan kita sudah dimulai" ucap Corcus.


...----------------...


Rahmania Urfana


Pagi sudah tiba, hari kembali menyambut dengan indahnya langit dan sejuknya udara.


Aktivitas hari ini aku buka dengan penuh rasa semangat dan harapan yang baik, seperti yang dilakukan oleh mereka para motivator sukses.


Ini adalah pertama kalinya aku menjadi narator dalam kisah hidupku sendiri, berbicara seolah setiap kata yang keluar dari pikiranku tercatat dalam bentuk tulisan.


Terkadang aku berpikir, apakah kisahku sedang dituliskan oleh orang lain dalam dunia fiksi yang tak nyata? Bagaikan seorang Author yang menuliskan novel? Itu akan menjadi kisah yang sangat menarik meskipun kupikir tidak ada dunia lain selain dunia yang sedang kujalani.


Kemarin aku baru pulang dari rumah sakit, kondisiku sudah memulih dan aku sudah menjalani sekolah seperti biasa.


Tadinya aku berpikir bahwa sekolah tidak begitu penting lagi bagiku, sejak apa yang terjadi pada pekan akhir kemarin. Aku mengalami luka yang cukup dalam di lubuk hatiku.


Aku menang melawan Keisal Saniswara, aku menang melawan Fatherknight, tapi aku dapat hadiah apa? Apa yang bisa diraih? Fadhilah malah hilang lagi.


Aku kembali bersekolah, bertemu dengan teman-temanku dan belajar. Aku tak boleh membuang waktu dan harus melaksanakan kewajibanku sebagai pemuda yang bakti membangun masa depan.

__ADS_1


Bagaimana jika hidup terus memaksamu untuk berjuang tanpa kenal lelah? Apakah kamu akan terus hidup seperti itu? Apakah kamu yakin suatu hari kamu akan sukses?


Mungkin kamu akan sukses, meskipun kamu mengorbankan waktu yang seharusnya dinikmati dan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang masih muda.


Waktu bersama teman-teman, bersandar pada nikmatnya secangkir kopi yang menjadi saksi jutaan hal, yang nantinya akan menjadi kenangan yang dirindukan.


Hidup bukan tentang perjuangan saja, tetapi bagaimana kita mempelajari dan menikmati setiap waktu yang takkan pernah bisa kita kembalikan lagi.


Aku tahu satu orang yang selalu bekerja mencari uang, aku tahu satu orang yang berkuliah untuk membangun kerajaan cita-citanya, aku tahu orang yang berjuang keras untuk mendapatkan buah cinta dari sang jodoh.


Sejak dulu kala, kebiasaan orang tidaklah berubah. Kita hidup dalam lingkaran, yang dimana orang akan terus bertanya.....


"Apakah kamu sudah bekerja? Bagaimana dengan kuliah? Apakah kamu sudah punya jodoh? Kapan menikah?"


Bagiku, orang-orang memandang kehidupan bagaikan sebuah daftar yang harus dipenuhi. Tapi siapa yang peduli jika setiap orang mengalami penderitaan dalam hidupnya? Siapa yang tetap tinggal menemaninya?


Huft, pembicaraan yang cukup berat.


....


Aku tinggal dalam rumah ini sendirian, rumah ini adalah pemberian seseorang. Aku hidup sangat sederhana dan membiayai sekolah sendirian sebagai freelance gaming dalam game MMORPG.


Untuk kebutuhanku sehari-hari, aku dikirimi uang melalui kantor pos dalam nominal 500 ribu perbulan yang mesti kuatur secara bijaksana. Orang yang memberinya adalah orang yang memberiku rumah, Kakek Wei Shung.


Aku mulai mengenal Cinema, Game, Travelling berkat Fadhilah. Fadhilah adalah salah satu orang yang menarikku keluar dari kegelapan hidup selain kakek Wei Shung.


Fadhilah, Kakek, dimana kalian berada?


Aku mulai bersekolah dan ingin belajar agar aku bisa menggapai impianku, aku ingin membalas kebaikan mereka berdua, oleh karena itu aku harus bisa melompat lebih tinggi dari mereka.


Setiap kali mereka memanggil namaku, aku bahagia, aku merasa nyaman. Aku merasa dibutuhkan.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kuharap semua akan berjalan seperti yang kuinginkan.


Apapun yang terjadi, aku harus bersiap demi kemungkinan terburuk yang akan datang.


Jika diriku terjatuh lagi, kuharap aku ingat dengan isi hatiku dan bangkit kembali.


Jika diriku pergi terlalu cepat, setidaknya izinkan aku untuk menikmati momen-momen berharga dengan orang yang kusayangi.


Aku akan berjuang untuk masa depan yang cerah bagi diriku dan semua orang, lalu aku akan pergi dengan senyuman yang melelehkan hati orang-orang.

__ADS_1


........Bersambung........


__ADS_2