Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Black Day (4)


__ADS_3

05-08-2016 / 19:00


"Jadi, bagaimana dengan keadaan Fadhilah


mas? Aku benar-benar ngerasa salah sama Fadhilah karena banyak nuntut Fadhilah!! Terutama buat terus menerus buat belajar dan lain-lain." tangisan Ibunda Fadhilah pecah sangat keras saat itu.


"Jangan khawatir sayang, mas pasti bakal selesain urusan ini dengan baik. Ririn gausah khawatir. Mas besok mau pergi bantu nyari Fadhilah bareng polisi, jangan khawatir ya." Yohan mematikan teleponnya.


Yohan bersandar sejenak dipohon, sambil membuka perangkat pelacaknya.


"Yohan, kau baik-baik saja? Sepertinya aku tak perlu bicara formal karena ini bukan urusan kantor." tanya Irandi lewat komunikasi radio.


"Ya, aku baik-baik saja. Ririn masih saja menangis di jam 10 malam, ia benar-benar mencintai Fadhilah meskipun Fadhilah sendiri selalu mengeluh tentang ibunya." Yohan mengeluarkan Vape dari kantung celananya.


"Kau nge-VAPE saat hujan??!" Irandi terkejut melihat atasannya malah bersantai ketika di misi penting.


"Aku keliatan?" Yohan melihat langit yang tertutupi oleh rambut-rambut pohon.


Irandi menepuk kepalanya, jelas ia dapat melihatnya dengan sensor pendeteksi hawa panas.


"Ough, fock." Irandi menghela nafas karena stress


"Kau bilang apa?" tanya Yohan dengan serius.


"Tidak Tuan!" Irandi panik lupa mematikan microphonenya.


"Yah, bagaimanapun juga kita sudah mendapatkan informasi bahwa orang yang menculik Fadhilah Asmira Putri berada disini. Tak kusangka ada Intel yang menawari kita bantuan, sepertinya ia tertarik pada Fadhilah?" Yohan mengantongi kembali Vape tersebut.


Ia membuka peta melalui teknologi Augmented-Reality yang membuka peta dengan menunjukkan hologram.


Fatherknight telah menghubungi Yohan Arunaldi 1 hari sebelum event Battle-Royale milik Troy-Skusher dilaksanakan, ia meminta menemuinya di tempat yang berbeda, tempat yang cukup sepi namun jauh lebih dekat ke perkotaan dibandingkan markasnya yang didaerah Subang.


Yohan kemudian kembali bergerak menuju pos nomor 13 yang terletak di barat dari arah kota Subang.


Painraiders memiliki 14 pos pengawas yang di setiap posnya berisikan 15 orang bersenjata api. 450 orang sedang dikirim untuk mengklaim Skusher-Arena dari tangan Keisal dan kini hanya terdapat 300 orang anggota Painraiders yang berkeliaran di lapisan dalam dekat markas pusat.


Yohan Arunaldi memasang topengnya dan mulai mengubah fisiknya menjadi transparan. Ia memutar-mutar karambit di kedua tangannya sambil berlari.


Larinya sangat cepat bagaikan seorang ninja, langkah kakinya memiliki kilas listrik yang bereaksi dari teknologi kakinya. Ia melompat-lompat dari pohon ke pohon lain.


Disisi lain ia meninggalkan jarum di setiap pohon yang ia lompati, untuk menandai rute perjalanannya agar Irandi dapat melacak keberadaan musuh di setiap titik yang ditandai Yohan.


Pos 13 hanya berjarak 200 meter dari Yohan Arunaldi. Ia meluncurkan diri dengan melompat dari pohon tersebut dengan kecepatan peluru.


Dalam kecepatan 500 milidetik, Yohan telah berada di dalam barikade dan langsung mendatangi orang satu persatu dan membuat mereka pingsan.


Setelah memastikan semuanya pingsan, Yohan mengambil tali dan mengikat mereka semua.


"Irandi." Yohan menyalakan komunikasinya.


"Tuan?"


"Apa yang Intel itu katakan benar, Painraiders memang pelakunya. Namun mereka bukan Mafia, Triad, Yakuza, Gangster maupun kartel." Yohan mengidentifikasi masing-masing personil pos 13.


"Maksud Anda, Anda ingin mengatakan bahwa itu seperti Private Military Company?"


"Ya.... Tapi aneh, aktivitas organisasi yang dikirimkan Intel itu berkata bahwa mereka menerima jasa untuk perampokan, penculikan, pembunuhan, distribusi narkoba. Apa itu sampingannya saja?"


Senjata yang dimiliki oleh para personil pos semuanya menggunakan AK-47 yang punya seri nomor pribadi, yang tidak ada datanya.

__ADS_1


Painraiders mendapatkan pasokan dari Undervalue, dimana Undervalue memiliki kemampuan untuk melakukan distribusi pasar gelap tanpa ada pengaruh Bea Cukai.


"Aku ternyata berurusan dengan organisasi paling berbahaya di Nusantara, namun bukannya ini terlalu mudah? Painraiders mungkin hanya ekor dari seluruh badan."


Yohan kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Pos 5, yang tepat sejalur dengan destinasinya, hanya perlu melewati Pos 5 dan Pos 2.


"Intel yang dapat mengirim informasi setelah kehilangan tuan putri dalam 1 hari, polisi saja tidak mampu melakukannya, siapa orang ini?" tanya Yohan Arunaldi.


Meskipun Yohan adalah bagian dalam salah satu organisasi paling berbahaya di dunia, ia saja tak mampu menemui keberadaan Fadhilah dalam hari dimana ia beranjak pergi sebagai The Ghost.


"Ia mengungkapkan diri bahwa ia adalah Phaseon. Namun aku tidak menemukan data kewarganegaraan miliknya, aku berasumsi bahwa ia akan datang ke tempat tujuanmu Yohan. Aku akan mencoba melacak daerah ini dalam skala yang lebih luas." Irandi masih mencari informasi tentang Phaseon melalui situs paling dalam.


"Aku memutuskan untuk menetralkan semua pos disini. Akan kubuat ia supaya lebih mudah menerobos pos ini." Yohan beranjak dari Pos 13 dan memutuskan untuk menetralkan semua pos.


...----------------...


"Urfan, kamu kenapa ngelamun terus?" Fadhilah memegang sumpit yang sudah digulungi oleh mie, "Buka mulutnyaa~"


Urfana membuka mulutnya, dan mengunyah mie tersebut. Nusanmie rasa rendang, kesukaan Urfana sejak kecil.


Tersetel musik dengan ayunan lambat berinstrumen piano, dan penyanyi laki-laki barat.


"Urfan, ga kerasa kita berdua udah lulus kuliah. Kamu skripsi cepet banget, tungguin aku ya." Fadhilah mengelap mulut Urfana dengan tisu.


Urfana tersenyum, ia tak berkata apa-apa dan terus memandang Fadhilah yang tersenyum padanya.


"Setelah semua urusan kuliah selesai, kita harus menikah. Kita akan menjadi keluarga terbaik di dunia ini, dimana keluarga ini akan saling menyayangi dan mendukung satu sama lain. Dan anak-anak akan bebas untuk memilih jalan yang mereka mau." Fadhilah kemudian mendekat dan memeluk Urfana dengan erat.


"U untuk Unity." ucap Urfana.


"F untuk Freedom!" balas Fadhilah.


Di tengah malam pada pukul 21:30 mereka pergi menuju koordinat dimana markas Painraiders berada.


Lampu didalam mobil Van dimatikan agar Urfana bisa fokus beristirahat, Phaseon dan asisten laki-lakinya sedang fokus berkendara sambil mengoprasikan perangkat-perangkat, sedangkan satu gadis menjaga Urfana di belakang.


Ia tidur dengan mata kanan terbuka, kulit disekitar wajah bagian kanannya menjadi pucat dan rambutnya sebagian kecil berubah menjadi warna abu-abu.


"Phaseon, kenapa kita harus menghubungi Yohan Arunaldi dan memberikan koordinat padanya?" tanya Locky, salah satu asisten Phaseon berumur 20 tahun, ia memegang kendali setir di mobil Van besar milik Phaseon.


"Karena dia ayahnya? Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Lagipula kita adalah tim rahasia kepolisian, aku hanya berharap bahwa ia dapat membantu kita mencari Fadhilah, lagipula dia Entrepreneur nomor 1 di negeri ini, tidak lama lagi ia akan berkontribusi untuk kepentingan dunia."


Kobayashi Rion (Phaseon a.k.a Shadow Snake) adalah seorang agen polisi rahasia yang diutus oleh Kepala Kepolisian Negara langsung, ia juga adalah tangan kanan Raja No.1 Undervalue, Kobayashi Murajishi (Yakuza) yang tidak lain adalah ayahnya.


Phaseon bertugas untuk mengendalikan keseimbangan komunitas masyarakat dari tindak kejahatan, meski statusnya sebagai tangan kanan seorang kriminal terbesar di negeri ini.


Ia memiliki tim yang bernama Scouting Owl, terlepas dari status kepolisian dan kriminalnya.


Kobayashi Rion sebagai Leader, Locky Lois sebagai Vice Leader, Erika Sasmira sebagai Logistik dan Bendahara, Ziando Ramadhan sebagai Intel lapangan, Clarissa Olivia sebagai Hacker.


Ziando pergi untuk membawa motor Urfana ke rumahnya, sedangkan Clarissa menjaga kediaman mereka di perumahan daerah Antapani.


"Lalu anak itu siapa? Apa kita akan merekrut dia jadi anggota?" tanya Locky terhadap Rahmania Urfana.


Phaseon melihat kebelakang, "Dia hanya......seorang teman."


Pada pukul 22:10, mereka melewati pos 11, bagian pos luar yang berada di selatan markas Painraiders.


Mereka memarkirkan mobil Van didalam pos 11 dan mengecek tempat tersebut.

__ADS_1


"Terlihat seperti markas kecil, tapi hanya pos. Dan orang-orangnya saja pada tidak ada." ucap Locky Lois sambil memegang Glock miliknya.


Phaseon dan Erika mengambil persediaan yang ada di pos tersebut dan membawanya ke mobil mereka.


"Becek sekali, kenapa harus hujan juga disini?" Erika mengeluh karena harus mengotori sepatunya.


"Bagaimanapun kita harus masuk ke markas Painraiders, mereka bersenjata dan jelas sangat berbahaya. 450 dari mereka sudah dikirim untuk mengklaim Skusher-Arena, entah ada berapa lagi di markasnya."


Phaseon memutuskan untuk memarkirkan mobil mereka disini dan beranjak menuju ke markas Painraiders dengan jalan kaki.


"Kita akan beristirahat disini. Lanjutkan misi pada pukul 2 pagi." Perintah Phaseon kepada seluruh anak buahnya.


Mereka semua masuk kedalam bangunan rumah kecil di pos dan membakar beberapa kayu bakar. Phaseon dan Erika memasak bahan-bahan makanan untuk menghangatkan tubuh di suasana dingin.


Locky masih berjalan-jalan untuk memeriksa pos ini, tak lama setelah berjalan-jalan, ia terkejut.


Didalam gudang terdapat personil-personil pos dalam keadaan terikat, mulut dan mata tertutup oleh lakban hitam.


Locky berkeringat setelah melihat para personil tersebut. Ia kemudian menutup gudang kembali dan memblokir pintunya menggunakan sapu kayu.


Urfana masih tidur didalam mobil dalam keadaan gelap, ia tak bisa bangun karena terlalu lelah dan sakit untuk bergerak.


"Hei, makanlah. Aku dan Erika sudah membuat sup sayur." Phaseon mengambil mangkok dan menuangkan supnya.


"Para personil pos dikurung di gudang dalam keadaan terikat, mulut dan mata tertutup lakban hitam. Mereka tidak tidur, tapi aku sudah menyegel pintunya dengan sapu." Locky menggantungkan jas hujannya di gantungan yang tertancap di pintu.


Corcus datang ke pos 11, ia memasuki mobil dan mengecek kondisi Urfana.


"Hanya butuh beberapa jam, ia sudah hampir kembali ke kondisi prima." Corcus mencoba untuk masuk ke dalam mimpi Urfana dengan sihir miliknya.


Mata kanan yang sedang terbuka itu menolak keberadaan Corcus dan tidak mengizinkannya masuk.


Corcus mencoba kembali lebih keras dan lebih kuat, mata itu menolak dengan lebih kencang hingga sekilas terjadi getaran sebesar 2 magnitude.


Getaran itu menghasilkan gempa bumi yang membuat longsor beberapa bukit, terlebih lagi hujan deras membuat tanah menjadi sangat subur namun lebih rentan longsor.


Warga sekitar panik karena terjadi longsor tengah malam, ada yang rumahnya tergusur karena longsor, jembatan kayu hancur karena tanah yang berjatuhan dari langit.


Phaseon berlari ke mobil untuk menyelamatkan Urfana.


"Urfan!!" Phaseon membuka pintu mobil dan masuk.


Di kegelapan itu, mata merahnya bersinar dan pola mata didalam pupilnya berputar-putar.


Phaseon sama sekali tidak berkutik melihat mata itu, ia merasa takut, gemetar oleh intimidasi mata tersebut.


Urfana sedang mengalami mimpi buruk, ia melihat teman-temannya mati, negerinya dijajah, rumahnya direnggut dan dirinya bunuh.


Terbangunlah Urfana dengan sigap, badannya sudah pulih kembali dari luka sebelumnya dan kini ia siap untuk bergerak kembali.


Pada saat itu, Phaseon yang padakalanya tidak pernah mempercayai sihir kini jadi mempercayainya. Melihat bagaimana Urfana pulih dengan cepat dan gempa yang terjadi karena mata itu membuatnya berpikir.....


Bahwa Rahmania Urfana sejak awal pertemuannya adalah orang yang spesial.


"Phaseon, hujan telah berhenti." ucap Urfana.


"Ayo turun, aku telah membuat makanan. Beristirahatlah, kita akan lanjut kesana jam 12 malam."


Mereka berdua masuk kedalam rumah, dan beristirahat untuk persiapan esok. Sedangkan Yohan Arunaldi sedang bersiap untuk menyerang markas utama Painraiders.

__ADS_1


__ADS_2