
Pada tanggal 12 Agustus 2016. Keisal Saniswara yang merupakan ketua dari geng Troy-Skusher telah resmi menyerahkan posisi ketua kepada Hasan Al-Fatih untuk merekonstruksi kembali sistem organisasi mereka.
Hasan Al-Fatih telah merubah sisi bisnis gelap milik geng Troy-Skusher dan melakukan pencucian uang ke bisnis bengkel dan jual beli motor.
Skusher-Arena telah diubah menjadi lapang tanding basket yang dibuka secara umum dan diperkenalkan kepada komunitas basket DKI Bandung sebagai satu dari sekian lapangan basket bersertifikat resmi dan dapat boleh digunakan untuk pertandingan tingkat kota.
Troy-Skusher sudah memutus hubungan dengan Painraiders dan kini mulai menjalin hubungan sosial antara komunitas motor custom, basket, dan juga menjadi sebuah icon baru bagi para remaja SMA-SMK.
Kini, Troy-Skusher berselimut dalam nama baru yang bernama Companion. Dengan usulan nama yang diberikan oleh Danawi yang punya ide paling menjalar dari semua eksekutif Troy-Skusher.
Companion hadir dalam aktivitas yang legal dan umum diketahui orang-orang, sedangkan Troy-Skusher masih tetap hadir untuk menangani bisnis gelap berupa jasa sumber daya manusia yang disewakan untuk melakukan tugas yang berkenaan dengan fisik.
Ranggi yang kini menjadi Wakil Ketua akan fokus merawat Troy-Skusher dan bisnis gelapnya. Sedangkan Hasan sebagai ketua Troy-Skusher harus menjadi icon sebagai Companion yang mengurus bisnis cahaya.
Urfana menjadi VVIP Companion, yang berhak mendapatkan keuntungan 10% dari bisnis legal. Ia telah mendanai Companion dengan jumlah uang yang tidak sedikit.
Dan orang yang memiliki Saham terbesar dari Troy-Skusher dan Companion adalah Keisal Saniswara.
12-08-2016 / 19:06
"Tak kusangka sekarang aku beneran pergi ke rumah sakit. Mungkin seharusnya aku tidak menghajarnya terlalu keras." ucap Urfana sambil membawa kresek yang berisikan Apel merah dan jajanan asin.
Malam hari ini adalah hari yang sangat indah, seluruh kota Bandung merayakan festival makanan setiap tanggal 12 Agustus pada setiap tahunnya, di malam hari.
Urfana yang baru menjalin pertemanan dengan Keisal ingin menunjukkan bahwa meskipun ia adalah musuh di kemarin hari, Urfana akan peduli pada temannya.
"Aku masuk." Urfana masuk ke ruangan Keisal."
Urfana menaruh apel dan jajanan asin diatas piring.
"Ugh..Mungkin kau tidak perlu sebegitu seriusnya menghajarku." Keisal kesulitan menggerakkan tangan kanannya.
"Aku tidak akan memulai kalau bukan kau yang duluan. Terimalah permintaan maafku dengan makanan yang kubawa ini, makanan di rumah sakit pasti kurang enak."
Mereka yang saling berniat membunuh satu sama lain menjadi teman, dan sulit diungkapkan oleh kata-kata jika hanya butuh waktu kurang dari satu bulan, orang yang saling membenci bisa menjadi teman.
Urfana memahami kondisi Keisal yang pasrah ingin membalas dendam dan menjual jiwanya ke Fatherknight hingga ia rusak, maka dari itu ia ingin menuntunnya kembali agar Keisal bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Keisal sendiri sebenarnya masih tidak terima bahwa ia bisa berteman dengan Urfana, namun baginya tidak ada yang lebih mulia dibandingkan seseorang yang membawanya kembali pada harapan dan mendekatkannya kembali dengan Melviana.
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan, Urfana."
"Tanyakan saja."
"Rambutmu semakin memutih, dan entah kenapa setiap aku melihat mata merahmu itu membuatku takut dan tunduk. Sebenarnya apa kau ini makhluk fantasi yang memiliki kekuatan?" Keisal mencoba menatap kembali mata kanan milik Urfana.
Kali ini, Keisal benar benar lebih tenang menghadapi mata kanan milik Urfana. Mata kanan tersebut juga tidak melihat Keisal sebagai ancaman lagi dan sudah menerimanya.
"Karena kita sudah pernah saling bertarung dan kini kita berteman, ada sesuatu yang ingin kukatakan hanya kepadamu saja, Urfana."
Keisal bangkit dari kasurnya dan berjalan mendekati jendela untuk melihat seisi kota yang sibuk bersenang-senang sambil menikmati kuliner enak di jalanan.
__ADS_1
Ia mengingat kembali kenangan bersama sahabat-sahabatnya di masa lalu ketika mereka jajan bersama di festival kuliner di tahun-tahun lampau.
Tak terbayangkan betapa jauhnya ia meratapi jalan yang gelap dan penuh kesesatan. Keisal Saniswara, menangis dengan jujur untuk pertama kalinya sejak penderitaan yang ia alami.
"Aku memiliki sahabat perempuan yang bernama Adelia Ranti. Ia adalah gadis baik hati yang selalu menjadi penghangat dalam persahabatan kami. Aku sangat menyayanginya karena ia adalah orang yang sangat tulus dan rendah hati."
Urfana kemudian berjalan mendekati Keisal dan berdiri disebelahnya.
"Lalu, suatu hari ia menjadi korban kasus pemerkosaan berkelompok. Kudengar salah satu sahabatku juga yang melakukannya, namanya adalah Galang Firmansyah. Aku memulai perjalanan balas dendam ini dan berjanji akan membuatnya tanggung jawab."
"...." Urfana mencoba membandingkan cerita versi Keisal dan versi Melviana.
"Dan dalam perjalanan balas dendam itu, aku telah membunuh sembilan orang dimana delapan dari mereka tidak bersalah. Mereka tak ada kaitannya dengan kami dan aku membunuhnya dibawah pengaruh narkoba dan kegilaanku."
"Apa?! Kau serius?!...." tentu saja Urfana terkejut, Urfana tidak tahu bahwa Keisal adalah pembunuh berantai juga.
"Aku sudah tidak layak untuk hidup normal dan bahagia bukan? Orang tuaku bahkan terkena deportasi, Ibu dan Ayahku terpaksa dipulangkan ke Amerika karena kami semua berasal dari sana."
Ibu Keisal adalah orang kaukasia yang lahir di New York, sedangkan Ayah Keisal adalah orang arab kelahiran Istanbul yang tinggal di Amerika.
"Lalu apa alasanmu tinggal di Nusantara dengan keluarga?"
"Karena ayahku sedang bertugas, kami tinggal disini sejak 10 tahun lalu dan orang tuaku pergi 2 tahun lalu. Aku mendengar bahwa Ayah tinggal di kota Bandung karena bertugas untuk mengawasi keluarga Gates. Salah satunya adalah Wakil Walikota yang bernama Lindberg Gates."
Keisal mengelap air matanya dengan tisu.
Setelah itu, Urfana menyambung perkataan Keisal, "Dan, anaknya yang bernama Johannes Gates memiliki nama yang sama dengan ketua Noparents saat ini, yang dimana Galang Firmansyah adalah eksekutif geng tersebut...."
Keisal kemudian menghirup udara malam tersebut dengan sangat mendalam. Ia sedang menerapkan latihan pernapasan yang ia pelajari untuk menenangkan pikiran.
Keisal menutup jendela itu dan kembali ke kasurnya.
"Kita harus memastikan kembali bukan? Mengenai kebenarannya?" kata Keisal.
Urfana mengangguk.
"Perkiraan mengenai Fadhilah yang diculik oleh Noparents sejujurnya hanya sekedar dugaanku saja. Tapi aku bisa merasakan, bahwa aku berada di alur yang benar."
Mata kanan itu kemudian mengeluarkan kilauan cahaya merah.
"Itulah yang mataku lihat. Aku bisa merasakannya, benar benar merasakannya."
...----------------...
12-08-2016 / 20:06
Angin yang bertiup di malam hari ini beralunan tenang menyejukkan rohani.
Jiwa yang penuh keresahan dalam hatinya dihipnotis oleh lagu yang bernama kesunyian
Betapa tenangnya ia, duduk di puncak gedung rumah sakit sambil bernyanyi sendiri, mengobati luka didalam hati yang kosong.
__ADS_1
"Takkan mungkinn! Bedebah seperti dirinyaa mencintaimu, takkan mungki—"
"Berhentilah menyanyi, kau terlihat seperti orang gila." potong Corcus, merusak lirik yang sedang Urfana nyanyikan.
"Memang, memang gila~" balas Urfana.
Urfana mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya dengan bernyanyi, lalu kemudian ia melihat kembali foto Fadhilah yang sedang memegang kue ulang tahun di sosial media Denstagram.
"....."
Urfana menatap foto itu dengan lama dan kembali teringat, bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Fadhilah.
"Ada apa? Kau terlihat tidak begitu baik...."
"Seharusnya, saat ini kami berada di suatu tempat. Merayakan ulang tahunnya dan bermain sepuasnya."
Corcus kemudian duduk disebelah Urfana dan ikut bersandar pada tembok. Urfana kemudian melepas gelang yang ia pakai dan meratapi kenangan yang ada pada gelang itu.
Dengan DNA Fadhilah yang ada di gelang itu, Urfana bisa melihat ingatan yang ada pada dirinya mengenai Fadhilah.
Kekuatan mata kanannya itu membuat Urfana bisa melihat kembali masa lalu dengan lebih jelas dibandingkan sekedar ingatan.
Urfana merasa tak enak hati, ia lagi-lagi harus merasakan rasa sakit yang amat dahsyat demi menyelamatkan orang yang dicintai.
Perlahan demi perlahan, ia ditarik pada kehidupan yang terasa tidak lagi normal. Mungkin bahkan impiannya sebagai seorang pengusaha sukses tidak lagi relevan dengan dirinya yang saat ini.
"Corcus, kau pasti pusing kan karena aku selalu memikirkan tentang Fadhilah dibandingkan kewajibanku untuk menyelamatkan dunia." Urfana menggosok-gosok rambutnya.
"Tidak, ini adalah kewajibanku. Aku harus membantumu apapun yang terjadi."
Urfana dan Corcus kemudian berdiri dan berjalan ke tepi bangunan, sambil melihat indahnya pemandangan festival yang digelar dekat sini.
"Fadhilah, apapun yang terjadi aku akan menyelamatkanmu. Aku sangat mencintaimu, meskipun kadang mencintai tak diharuskan untuk memiliki. Tapi aku sangat yakin, meskipun akan ada banyak orang yang merebutmu dengan berbagai usaha......."
Urfana mengangkat tangan kanannya sambil mengepalkan tangannya, lalu ia menurunkannya dan meletakkan kepalan tersebut di dadanya.
"Pada akhirnya, Akulah yang akan menang."
Corcus tersenyum. Urfana benar-benar terlihat mirip dengan Ourandle.
"Saat itu, kamu membeli seekor burung yang sangat indah dan mahal, hanya untuk membebaskannya ke alam sana. Sepertinya aku memahami apa yang dirimu lakukan saat itu. Kamu mengerti betapa tidak enaknya dikurung, karena itu kamu membebaskannya."
Tiba-tiba ada ingatan yang menyetrum pikiran Rahmania Urfana.
Sebuah ingatan, yang disembunyikan oleh seluruh alam semesta dan seisinya. Sesuatu yang bahkan teknologi jutaan dan miliaran tahun kedepan takkan bisa lakukan.
Ingatan, yang hanya ada pada garis waktu pertama. Dimana pada kala itu, Ouvel Euronova pada tanggal 12 Agustus 2016, membuat janji yang sama.
Untuk menyelamatkan gadis yang ia cintai, lalu hidup bahagia berdua selama-lamanya.
"Aku, pasti akan berhasil."
__ADS_1
.......Bersambung.......
...----------------...