Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
After Black Day


__ADS_3

Sepuluh menit sebelum Urfana bangun, suasana masih memanas dengan Yohan Arunaldi yang masih berperang melawan Painraiders dan juga Corcus yang masih bertarung melawan Fatherknight.


Phaseon dan Fadhilah berhasil keluar dari pintu rahasia dan memblokir jalan tersebut menggunakan batu yang amat berat.


Hujan yang tadinya deras kini sudah ringan menjadi gerimis, lalu tiga mobil van polisi militer telah hadir di tempat. Dengan sigap, Phaseon langsung berlari mendekati pimpinan operasi dan meminta Erika untuk menjaga desa.


...Kenapa Polisi Militer yang dikirim kemari ?...


"Clarissa? Apa kamu sedang online? Kamu belum tidur kan?" ucap Phaseon, melalui alat komunikasinya.


"Belum, ada apa?"


"Hubungkan aku dengan Yohan Arunaldi, kau tahu gelombang frekuensinya dan biarkan aku memasukinya."


Clarissa mengangguk, ia langsung meretas kode keamanan dari komunikasi Irandi dan Yohan untuk menghentikannya.


"Yohan! Kita diretas!" ucap Irandi.


"Tunggu! Ini dengan pihak kepolisian! Kita harus berbicara." teriak Phaseon.


Yohan dengan sigap langsung menghentikan serangan dan mundur, para pasukan Painraiders sudah tidak memiliki semangat dan moral bertarung, mereka lari dan memilih untuk ikut mundur dari monster itu.


"Saya sudah menyelamatkan Fadhilah, kita harus bicara dua mata. Tolong tunggu dilokasi karena polisi militer ada disini!" Phaseon berusaha untuk bernegosiasi dengan pihak JNC.


"Apa Anda yang memberikan kami koordinat dan informasi tentang Painraiders?" Yohan menyimpan kembali persenjataannya.


"Ya, itu saya. Tolong jangan melarikan diri, Kepala Kepolisian Negara ingin berbicara dengan Anda. Jika Anda menghindar, ini akan sangat fatal. Saya tidak menyandera Fadhilah, saya justru memohon kepada Anda."


Yohan kemudian memutuskan untuk memberhentikan penyerangannya, ia bersyukur mengetahui Fadhilah selamat dari penyanderaan, namun Yohan sendiri berpikir bahwa ia tak bisa menemui Fadhilah dalam keadaan sekarang.


Phaseon kemudian pergi ke desa dimana pihak kepolisian sedang mengecek kondisi warga dan menanyakan situasinya.


Ia mendatangi perwira Letnan Satu yang bertanggung jawab dalam operasi penyelidikan itu, namun Phaseon sama sekali tak bisa mengatakan apapun tentang identitas dirinya, oleh karena itu ia akan menghadirinya sebagai warga sipil.


Locky dan Erika memutuskan untuk pindah lokasi demi menghindari kecurigaan, namun Fadhilah ikut keluar bersama Phaseon karena masih khawatir dengan Urfana.


"Anu pa, saya tinggal disini. Tadi ada suara tembak-tembakan!" Phaseon mencoba berakting panik seolah-olah ia benar-benar ada disana sebagai warga.


"Hahaha, bocah. Kamu pikir aku siapa?" Letnan Satu itu melepaskan masker dan helmnya.


"Bang Suganda?!!" ucap Phaseon.


"Yo. Rion, sudah lama ga ketemu ya" sapa sang Letnan Suganda yang sangat santai dan enak selalu diajak bicara. Ia memenuhi panggilan dari Kepala Kepolisian Nusantara untuk membantu Phaseon menangani situasi darurat di Muarasari.


Polisi Militer memang berada dibawah naungan Tentara Negeri Nusantara, tetapi ia memiliki relasi yang baik dengan Phaseon dan Kepala Kepolisian Negara


Alasan kenapa Phaseon harus berhati-hati adalah karena tidak semua orang tahu bahwa ia adalah polisi, terutama sebagai agen rahasia dan mata milik Kepala Kepolisian Negara, Jendral Lirano Sujagawiranu.

__ADS_1


"Kami akan menahan seluruh kelompok kriminal bersejata dan menyita asetnya. Jika ada yang bisa kami bantu katakan saja Rion." tepuk Suganda pada pundak Rion.


Fadhilah kemudian mendekati Phaseon dan mengajaknya ke desa. Mereka berdua berbicara tentang kehidupan sekolah mereka dan tentang kedepannya.


Mereka mulai menjadi lebih dekat setelah melarikan diri bersama tadi, lagi-lagi karena Urfana mereka resmi menjadi teman.


Yohan mendengar pembicaraan Phaseon dan Fadhilah melalui Nanomachine sambil melihat mereka dari kejauhan.


Dengan sengaja Phaseon memperbesar skala microphonenya agar sang Ayah bisa mendengarnya.


Ia tidak menyangka bahwa orang yang memberinya koordinat ternyata masih anak-anak dan bisa berbicara akrab dengan Fadhilah.


Yohan mematikan microphonenya, "Siapapun kamu, kamu berhak mendapatkan ucapan terima kasihku. Anak muda."


Phaseon kemudian berlari ke lokasi dimana Yohan memberitahunya, untuk berunding mengenai langkah berikutnya yang direncanakan oleh Jendral Lirano.


Dunia sedang dalam keadaan panas dimana seluruh dunia sangat bergantung pada hasil kerja sama Alliance Security dengan Yohan Arunaldi.


Jika seandainya Yohan menjadi perhatian seluruh dunia maka ia akan dijadikan banyak target oleh musuh-musuhnya. Terlebih lagi statusnya sebagai salah satu anggota B.L.E.S.S, yang dimana mereka sudah musnah dalam ratusan tahun lamanya dan tak boleh dibiarkan lahir kembali di dunia.


Itu adalah rahasia yang harus Yohan jaga, ia harus menjadi lebih fleksibel dalam bergerak dan menjadikan Irandi sebagai boneka yang memimpin JNC Group.


Yohan adalah salah satu yang bertahan dari proyek B.L.E.S.S, dan ia berhasil bertahan hidup dengan metode rahasia miliknya.


"Anda tuan Yohan Arunaldi?"


Orang yang mengirim koordinat pada Yohan Arunaldi adalah Phaseon, namun yang mengirimi Rahmania Urfana sebuah kertas, koordinat dan suntikan bukanlah Phaseon.


Ia sudah ikut dalam kehidupan Urfana sejak pertama ia pingsan di jalan, orang yang menyelamatkan Urfana ketika ia pingsan di kala hujan panah air.


"Saya akan langsung ke poinnya tuan, saya mohon kerja samanya."


"Apa yang ingin Anda coba sampaikan? Anak muda."


"Ada banyak pihak yang mencoba mengawasi Anda, Kepala Kepolisian mengkhawatirkan Anda, dan kini karena Anda telah menyebabkan pembunuhan masal disini, kami harus menutupi kejadian ini dan mengharuskan Anda untuk ikut dalam rundingan bersama Jendral Lirano."


Yohan membuka masker dan tudungnya.


"Saya bersedia."


"Tuan?!!!" ucap Irandi yang terkejut oleh keputusan yang Yohan buat.


Phaseon berbalik diri dan mengambil langkah agak jauh. Tanpa basa-basi, Yohan memutuskan komunikasinya dengan Irandi dan memutuskan ingin menyerahkan diri.


"Kami tak bisa membiarkan dunia mengetahui kejahatan yang Anda lakukan hari ini, meskipun itu demi menyelamatkan putri Anda. Kami minta tolong untuk ikut bekerja sama dengan kami dalam hal ini, Anda tak bisa menolak karena Anda juga harus membayar apa yang sudah dilakukan."


"Saya akan menyerahkan diri, tapi untuk satu syarat."

__ADS_1


Phaseon dan Yohan kembali saling berhadapan satu sama lain.


"Bisakah Anda jagakan Fadhilah untuk saya? Karena sepertinya saya sudah tidak bisa pulang oleh keadaan seperti ini bukan?"


Phaseon mengangguk.


"Saya akan hubungi Letnan." Phaseon mengirimi sang Letnan pesan dan langsung pergi segera menuju ke tempat Corcus dan Urfana berada.


"Tunggu anak muda."


Phaseon berhenti sejenak dan menoleh ke arah The Ghost.


"Kenapa Anda berlari ke arah sana? Sendirian? Mereka bersenjata." tanya Yohan Arunaldi, mengkhawatirkan Phaseon.


Phaseon membalasnya dengan senyuman, dan ia berkata "Karena saya harus menyelamatkan teman saya yang sedang berjuang. Sejujurnya ia jauh lebih layak menerima ucapan terima kasih Anda, tuan Yohan Arunaldi."


Phaseon berlari dengan cepat, ia khawatir dengan keadaan Urfana yang sedang bertarung melawan Fatherknight.


Baginya tak mungkin orang yang baru saja terluka parah setelah bertarung bisa pulih secepat itu, apalagi sekarang bocah itu sedang terluka dan kini bertarung melawan Raja No. 4 dari Undervalue.


Polisi Militer juga mulai bergerak di belakang Phaseon, mereka membantunya untuk bisa masuk kedalam dan memiliki tugas untuk menyelamatkan sisa sandera.


Corcus bertarung bagaikan kesatria kegelapan. Ia selalu bertarung dalam keadaan sekarat seperti kondisi Urfana saat ini dan berakhir keluar sebagai pemenang.


Sebagian dari Painraiders kabur melalui hutan untuk keluar dari organisasi tersebut dan ada sedikit yang kembali ke markas.


Setelah beberapa menit berlari, Phaseon tiba ditempat. Ia menemukan Fatherknight tergeletak duluan sedangkan Corcus yang berada dalam tubuh Urfana berlutut, ia merasakan lelah dalam tubuh itu.


Tanpa basa-basi, ia langsung mengangkat Urfana yang pingsan dan pergi dari sana. Ia diamankan oleh Polisi Militer.


Apa yang terpikirkan dalam benak Phaseon adalah bagaimana bisa seorang remaja berumur 15 tahun mampu bertarung melawan orang yang teknik beladirinya sudah di level profesional sekelas tentara.


Phaseon tak ingin menanyakan hal itu karena ia sudah tahu jawabannya. Mata berpupil merah itu pasti menjadi alasan mengapa Urfana mampu melakukannya.


Phaseon sangat yakin, bahwa Urfana adalah seseorang yang diutus untuk membawa perdamaian dan persatuan dunia.


Jika bukan karena keajaiban itu, lalu apa lagi? Tidak dapat dipungkiri, baginya bahwa Urfana akan menjadi sesuatu yang jauh lebih besar baginya.


Seorang anak berumur 16 tahun yang sudah menjadi Agen Rahasia Kepolisian dan tangan kanan dari Raja No. 1 tidak ada bandingannya dengan seseorang yang akan menjadi penguasa dunia.


"Uhh....."


"Tidak usah paksakan dirimu Urfana, kau sudah menang. Biarkan aku menggendongmu ke rumah sakit."


Phaseon sudah membuat keputusan, bahwa mulai saat ini ia akan menjadi orang yang jauh lebih sosial seperti Urfana. Ia ingin hidup dalam masyarakat dan lingkungan sekolah sebagai orang yang aktif.


...Apanya Alliance Security dan World Council. Rahmania Urfana adalah pahlawan yang sebenarnya....

__ADS_1


..........Bersambung..........


__ADS_2