Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Sekelompok orang gila


__ADS_3

Keduanya saling bertatapan, tiada kedip diantara kedua bola mata dan terlihat sangat serius sekali.


Tujuan aliansi Urfana kali ini adalah untuk mengorek celah yang dapat digunakan sebagai kesempatan untuk melakukan penyerangan.


Diantara orang-orang di ruangan itu, hanya ada satu orang yang mengetahui bahwa apa yang dihadapinya bukanlah manusia biasa, melainkan iblis.


Bagaimana tidak? Tentunya yang diketahui oleh mereka hanyalah Johannes sang ketua Noparents, ia manusia, dan ia masih memakan makanan yang sama.


Tapi tidak ada yang tahu jika ada monster didalam manusia itu.


Dan kini, obrolan saja terhambat karena dua orang yang tak bisa berada dalam satu kapal.


"Orang ini.....jadi dia yang dapat melihat semut bergerak dalam ruang raksasa." Ranggi tidak menyangka, bahwa orang itu cukup terlihat atletis dibandingkan lugu.


Galang telah berubah sepenuhnya. Tidak salah lagi bahwa penderitaan telah menyiksanya menjadi manusia yang berbeda.


Disaat melihat Galang begitu berubahnya, Melviana sedang bertanya pada dirinya sendiri.


Apakah aku dapat meluruskan hal ini.


Valin terlihat agak emosi, ini bukan terlihat seperti dirinya. Ia sangat ingin mengintrogasi si jenius yang ada didepannya.


Hartono berniat hati untuk melakukan inisiasi, ia merasa harus menengahi, "Semuanya tenanglah, kita disini untuk berdiskusi santai dan ditemani oleh hidangan. Bukankah seharusnya kita mencari jalan keluar?"


Karena sudah berada di ruangan dan meja yang sama, ini adalah kesempatan terbaik untuk saling mempercayai.


Kelebihan dari mereka disini punya tujuan yang sama, bahkan loyalitas Wakil Presiden dan No. 4 saja tidak begitu tinggi pada Presiden mereka.


Mereka berdua bergabung ketika geng Noparents berubah menjadi sebuah sindikat bisnis, mereka direkrut karena kemampuan mereka.


Bicara soal loyalitas? Itu hanya omong kosong, mereka tidak mendedikasikan hidup mereka. Melainkan hanya dalam satu kapal demi keuntungan.


Tapi mereka melihat kapal yang lebih kecil, namun menjanjikan hal yang lebih besar dibandingkan kapal yang saat ini mereka naiki.


Mereka menginginkan aset Noparents untuk menjadi milik mereka, sedangkan orang-orang yang ada di kapal kecil itu hanya menginginkan hal kecil disamping nyawa yang jadi taruhan.


"Baiklah." Keisal mendinginkan emosi yang hampir tak bisa ia kendalikan, sambil perlahan melembutkan kepalan tangannya.


Ranggi bersyukur melihat bagaimana Hartono dapat menyejukkan suasana ini. Dengan begitu semua yang ada didalam ruangan ini bisa saling bertukar alasan tanpa bertukar darah.


Tidak diragukan bahwa eksekutif dari Noparents memiliki level bertarung yang sama dengan ketua geng. Johannes sendiri yang melakukan tes.


"Jadi, jika kita disini hadir untuk bekerja sama. Siapa yang akan menjadi ketua? Sepertinya tidak ada satupun dari kalian yang benar-benar cocok untuk memimpin kerja sama ini." ucap Galang yang dengan sombongnya memperkenalkan diri.


Ranggi yang mendengar itu merasa tertantang dan langsung menelpon Keisal, membuat ponselnya berdering dan mengajak Galang untuk beradu kecerdasan.


"Kami semua, di pimpin oleh orang yang sedang menghubungi ponsel ini." Keisal mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan nama kontak Ranggi.


Tertulis, Dia yang selalu punya jalan keluar.


"Dia hanya pernah kalah sekali, sedangkan kau dua kali. Pertama ketika mencari jalan keluar dalam permasalahan dalam persahabatan kita, dan yang kedua adalah lari bersama bajingan yang bernama Johannes dan menjilatnya sampai jadi Wakil Presiden."


Marah, itulah yang dirasakan oleh Galang. Tidak seperti julukannya yang disebut dia yang berpikir sebelum bicara.

__ADS_1


Keisal mengangkat panggilan tersebut dan menekan fitur loudspeaker. Ponsel itu ia letakkan di tengah meja.


"Kau tahu sendiri betapa kesalnya aku mendengar sombongnya kau yang mengaku paling cerdas, tapi kalau soal menghina, Keisal adalah juaranya, dan aku punya kesabaran yang lebih baik darimu."


Semuanya terdiam, sampai Ranggi membuka kembali pembicaraan.


Mereka mulai mendiskusikan permasalahan yang dialaminya kemarin hari sambil menjelaskan detail apapun yang ada didalam catatan Urfana dan Keisal.


Taring monster yang ditunjukkan oleh Girana merupakan plot terbesar yang tidak pernah diduga akan menjadi sebuah penghalang tujuan besar karena kehadirannya tidak dikenal dengan baik.


"Status kami dengan kalian adalah netral, kami tak bisa mementingkan kepentingan kalian. Tapi jika kalian disini bermaksud untuk menjatuhkan Johannes, maka kami akan membantu. Dengan syarat, semua aset yang dimiliki Johannes akan dilimpahkan ke kami." ucap Galang.


"Tidak, itu terlalu menguntungkan untuk kalian. Bagaimana jika kami memperoleh 10% kekayaan? Kami hanya butuh hal itu dalam bentuk uang, kalian bisa miliki hal lain dalam bentuk kepemilikan." tawar Ranggi agar tidak terjadi kerugian besar dalam pihaknya.


Galang menoleh kepada Charles James, "Ada keberatan? Kau bahkan tidak berkata apa-apa Charles. Seperti bukan dirimu saja."


"Uhm, saya...."


"Katakan saja." ujar Wakil Presiden.


"Kartu Platinum-Gold yang bernama Yohan Arunaldi itu.... Mengapa bisa di tangan Anda?"


"Hah?" Keisal tidak mengerti maksud dari Charles James.


Keisal sudah sering menatapi kartu yang berkilau dan terlihat sangat mahal itu, tapi berapa kali pun dilihat tulisannya jelas jelas tertulis nama Ouvel Euronova.


Dengan singkatnya Keisal memberikan penjelasan bahwa itu bukan milik Yohan Arunaldi, melainkan milik Urfana.


Bukan hanya karena ia memiliki kartu Platinum-Gold itu, sejak awal namanya yang memiliki julukan Jaeger berbuah begitu harum hingga namanya terdengar menarik di ingatan Galang.


Skusher-Arena, pertarungan melawan Fatherknight. Galang mendapatkan informasi tersebut dengan harga yang cukup mahal.


"Baiklah, kalau begitu kita sudahi dulu pertemuan kali ini. Nikmatilah Grand Angkasawira sebelum kita bertemu lagi, aku akan mengatakan bahwa kalian adalah tamu spesial, semua disini gratis." Galang tersenyum tulus.


Semua orang terdiam dan heran melihat ia tersenyum seperti itu.


"Lalu bagaimana dengan kakakku?"


Valin menatap Galang dengan serius.


"Lorenzo ya.... Ia sudah mati." jawab Galang dengan santai.


Valin mendobrak meja makan hingga terbelah dua. Keisal kemudian menahan Valin yang terlihat ingin langsung menerjang.


Keisal mengerti kenapa Valin sangat marah, itu mengingatkannya pada ambisi untuk membalas dendam kepada Urfana.


"Idol, Valin. Tak kusangka penampilan yang seperti boyband itu memiliki kekuatan kaki yang dahsyat. Sama seperti kakaknya."


Galang kemudian memberikan potret terakhir kakaknya, 2 hari sebelum kematiannya.


Rambutnya panjang, berwarna putih, keriput. Akibat eksperimen dan penelitian manusia untuk menciptakan manusia kloning serupa dengan kakaknya.


Valin bahkan tak bisa mengenali jika itu kakaknya, ia sama sekali tak percaya.

__ADS_1


"Tidak, aku sama sekali tak percaya...." Valin sangat marah, ia semakin tak bisa dikendalikan.


Hartono kemudian berdiri dan menggetuk pundak Valin dengan cukup keras dalam satu cobaan, Valin pingsan seketika itu dan tergeletak tak berdaya.


"Aku minta maaf, akan kuganti kerugian buat meja ini." Keisal menundukkan kepalanya dihadapan Charles dan Galang.


"Tidak usah, nikmati saja kunjungannya disini, Keisal." balas Galang yang mengiklaskan kerugian yang tidak ada nilai baginya.


Melviana kemudian mendekatkan Keisal dan Galang dan menarik tangan mereka untuk bersalaman


Keisal dan Galang merasakan perasaan yang aneh ketika mereka bersalaman, seolah-olah apa yang dihadapi pada masa sekarang sama seperti masa lalu.


"Aku yakin, ini yang diinginkan oleh Ranti, Tristan."


Keisal, Galang, dan Melviana ingin mengobrol lebih lanjut soal hal ini. Mereka bertiga meminta orang lain selain mereka bertiga untuk memberikan privasi.


"Bagaimana jika kita pergi ke atas? Ada pemandangan yang sangat bagus diatas sana." Galang menawarkan Keisal dan Melviana.


Mereka berdua mengangguk dan pergi keatas. Kini, tidak ada lagi rasa pecah dalam hati. Obat hati yang bernama persahabatan itu mulai menghilangkan rasa sakit yang selama ini dipendam.


Meski begitu luka tetaplah luka, ia akan berbekas walau sembuh.


Mereka berjalan berdampingan, seperti waktu masa-masa SMP. Rasanya nyaman, nostalgic, namun tidak begitu sama dengan dulu kala.


Mereka tiba di salah satu rooftop yang memiliki kolam renang dan bar diatasnya. Ada banyak orang seusia anak SMA hingga dewasa diatas sana sedang menikmati waktu bersama teman-teman.


Galang kemudian pergi ke ujung, ia ingin melihat pemandangan indah Bandung di malam hari.


"Tristan berusaha untuk membunuhku, dan aku kehilangan satu jariku demi melindungi nyawa." Galang menunjukkannya pada Keisal dan Melviana.


"Lalu aku mendengar dari Tristan, Wirandi, dan Riana bahwa kau menghamili Ranti. Kudengar mereka dibayar untuk membohongiku, maafkan aku karena telah membencimu." ucap Keisal dengan penuh penyesalan.


Galang terkejut mendengar kebenarannya, ia yang bahkan dekat dengan Johannes saja tidak tahu soal ini. Meskipun ia berusaha untuk mencari lebih dalam tentang itu.


"Bodoh, jangan terkejut. Sejak awal ini semua adalah tanggung jawab Johannes. Aku selalu ingin bertemu denganmu, dan si bedebah ini malah jadi ketua geng lalu menjadi sindikat kriminal yang bahaya di kota Bandung." Melviana menendang lutut Galang dan Keisal.


Galang tertunduk karena tendangannya sakit, dan Keisal kaget sambil tertawa melihat Melviana agak emosi.


"Hei hei! Itu sakit sayang." kata si rambut merah.


"Masa bodoh, kau pantas mendapatkannya orang jahat." gadis itu menendang Keisal sekali lagi karena gemas.


"Yah, meski begitu aku pun dapat teman-teman baru yang bisa kupercaya. Dan aku sekarang adalah pemilik bisnis juga." Keisal mengacungkan jempol pada Melviana.


Galang tersenyum, sangat tulus. Ia merasa seperti merasa di suasana yang ia rindukan sejak lama.


Melihat Keisal dan Melviana bercanda gurau itu, pria yang selalu dingin dihadapan para anak buahnya kini merasakan kehangatan kembali.


Sepertinya, aku ingin segera pulang ke rumah dan sekolah lagi....


.......Bersambung.......


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2