Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Aku juga tidak kalah dengan gadis kesukaanmu


__ADS_3

Kota Bandung akhir-akhir ini menjadi tempat yang kurang nyaman bagi penikmat malam. Khususnya bagi mereka yang tinggal didaerah terpencil yang cukup sepi karena bukan jalan utama.


Tawuran antar sekolah, perkelahian orang mabuk, begal, penculikan, dan pengedaran narkotika sering terjadi.


Ada banyak geng yang berkeliaran di kota Bandung meskipun namanya tidak sebesar 4 geng yang saat ini mendominasi wilayah kota Bandung.


Troy-Skusher yang memiliki daerah Utara.


Clubboys yang memiliki daerah Selatan.


Taring-Harimau yang memiliki daerah Timur.


Noparents yang memiliki daerah Tengah.


Empat geng itu memang geng yang paling mendominasi kota Bandung di dunia bawah.


11-08-2016 / 14:43


"Ngomong-ngomong, kenapa daerah barat kosong kak?" tanya seorang anggota pemula di Bengkel Otomotif Sepeda Motor.


Danawi kemudian berhenti sebentar saat sedang membenarkan rantai motor milik customer sekolah.


"Itu karena barat sedang ada konflik Internal. Terutama geng milik sang Black Bear dan juga Honey Badger sedang saling merebut wilayah satu sama lain." jawab Danawi.


"Konfliknya sampai sekarang masih ada, mereka sudah ribut sejak 3 tahun kemarin. Kalau tidak salah sang Black Bear dan Honey Badger berumur 21 tahun sekarang." tambahi Junadi yang saat ini sedang mengurus data administrasi Bengkel.


Terdengar suara motor yang memiliki suara berat mendekati bengkel Otomotif. Suara motor seperti ini adalah favorit bagi semua senior bengkel yang ada dalam eskul Otomotif Sepeda Motor.


"Aku tak tahan." ucap Junadi yang langsung meninggalkan kerjaannya dan keluar untuk menyambut Customer.


"Aku kemari untuk rekonstruksi motor Customku, dan aku ingin bertemu dengan Keisal."


Dia adalah Rahmania Urfana, orang yang tadinya paling dibenci dan diremehkan oleh Troy-Skusher karena telah merugikan banyak.


Saat ini Hasan adalah ketua Troy-Skusher sementara, dan Ranggi menjadi wakilnya.


"Masuklah, Urfana." ucap senior Junadi.


Tidak ada rasa benci lagi diantara mereka terhadap Urfana, sejak awal ini adalah kesalahan mereka karena berurusan dengan orang yang tidak diketahui asal-usulnya dan berani menyentuh orang berharganya.


Dengan Keisal Saniswara yang saat ini masih dirawat di rumah sakit kekuatan geng ini sangat berkurang drastis, begitu juga dengan pemasukannya karena kalah taruhan dengan Urfana.


"Wah, tempat ini bagus juga." ucap Urfana, "Tapi aku nyium bau orang utan."


Ia melambungkan sarkas pada seseorang yang memiliki mulut paling berisik dan pembuat onar.


Ya, orang itu sedang duduk di dingklik. Ia tak bersuara dan hanya terdiam ketika mendengar sebutan yang sudah jelas dilayangkan padanya.


"Motormu sangat keren, Urfana. Ini mirip Zephyr 350." Junadi sangat senang bisa melihat motor langka yang ia idamkan selama ini.


Tidak disangka bahwa motor tersebut kini ada di dalam bengkelnya. Motor itu adalah peninggalan milik Wei Shung, ia membelinya untuk Urfana agar bisa terlihat gagah.


"Motor ini sangat berharga bagiku, dan aku datang ke bengkel ini untuk melihat apakah kalian kompeten untuk membuatnya lebih gagah dan indah. Aku ingin membuatnya terlihat seperti baru, dan soal biaya itu akan kita bicarakan setelah kalian memeriksa apa saja yg dibutuhkan."


Urfana kemudian memberikan kunci motornya kepada Junadi dan membiarkannya untuk mengotak-atik motor sesukanya.


"Akan kurawat dia baik-baik, tapi ngomong-ngomong. Apa kau kemari karena ingin mencari Keisal juga?"


"Sejujurnya aku ingin menemui Keisal dan Ranggi. Aku tahu bahwa saat ini Keisal sedang tidak bisa memegang geng dan Ranggi sudah turun menjadi Wakil, tapi ada urusan pribadi yang ingin kubicarakan dengannya."


"Dia mungkin akan membalas dendam padamu. Kau akan dibunuh oleh Keisal." ucap Junadi.


Urfana tersenyum mendengar perkataan Junadi.


"Aku sudah pernah mati, kenapa aku harus takut?"

__ADS_1


Urfana kemudian memberikan modal untuk perawatan motor dan bonus untuk Junadi. Tidak lain dan bukan mereka saling bertukar hal yang diinginkan dan hubungan Urfana dan Junadi kini jauh lebih baik dibandingkan pertemuan pertama mereka.


Urfana berjalan menuju gerbang sekolah selepas urusannya dengan bengkel selesai. Terlihat seorang gadis kriterianya sedang menunggu didepan sekolah bersama satu pengawal yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.


"Sekarang kamu ga boleh kabur kemana-mana dulu. Aku culik kamu." Melviana menghalangi Urfana yang mau pulang.


"Haah, baiklahh." Urfana menghela nafas dan menggaruk rambutnya.


Hartono kemudian berjalan ke parkiran mobil yang ada di sekolah. Urfana benar benar terkejut melihat mobil yang sangat elegan itu.


"Kenapa gitu banget ekspresinya? Mobilnya biasa aja menurutku." ucap Melviana.


"Gloredes-Benz, S-Class W223....."


"Kamu tahu mobil ini?"


"Itu ada tulisannya."


Mobil berharga 2 milliar rupiah terparkir di sekolah. Mereka memasuki mobil itu dan pergi sambil diliati oleh banyak siswa yang merasa iri dengan mereka.


Melviana adalah puncak dunia remaja, gadis seperti dia seharusnya berada di sekolah mahal yang berisikan orang-orang yang setara dengannya.


Gadis yang memiliki pengembangan diri yang sempurna, tidak hanya cantik namun cerdas bagaikan lulusan Sarjana diumurnya.


"Sekarang kita akan ke rumahku." kata Melviana.


"Huah kamu megang tanganku?!" Urfana merasa gugup ketika ada seorang gadis idamannya bertingkah aneh.


"Kenapa? Ga nyaman? Mau aku tendang dari mobil?" ia terlihat sedikit cemberut.


Ga-gadis ini berbahaya


Urfana tidak protes, ia diam. Perasaan aneh yang ia alami ini sudah lama tak terjadi semenjak menonton film dengan Fadhilah.


"Ngomong-ngomong kamu tinggal dimana Urfan?"


"Ah.... Rumahku didaerah bukit Cimenyan. Aku tinggal sendirian."


"Sendiri? Orang tua kamu kemana?"


"Aku anak broken-home, rumah itu adalah pemberian dari orang yang sangat baik hati. Aku tinggal jauh dari orang tuaku dan hidup bahagia disana."


Melviana mencium bau uang dari saku kanan celana milik Urfana. Ini bau yang sama seperti anggota keluarga konglomerat yang ia temui ketika acara pesta.


Gadis itu langsung dapat menilai bahwa orang yang duduk disebelahnya ini bukan hanya tindakannya yang mengagumkan, tetapi caranya untuk bersemayam di lingkungan masyarakat menengah kebawah sangat membuatnya terpukau.


Urfana tidak sombong, tidak gengsi, tidak berpakaian mahal, hidupnya sangat sederhana meskipun ia difasilitasi secara sempurna.


Dia tidak hidup dalam kekurangan, meskipun diberi kelebihan ia hidup dalam kesederhanaan.


"Urfan.. Apa kamu punya pacar?"


Ia terkejut dengan pertanyaan gadis itu. Namun ia hanya diam tidak menunjukkan reaksi. Kenapa tiba-tiba gadis itu menanyakan pertanyaan seperti itu? Tentu saja karena ia tertarik padanya.


"Tidak punya kok."


"Aku bisa liat kalau orang bohong. Mungkin bukan pacar, tapi gebetan. Kamu sahabatan kan sama dia?" tanya lagi Melviana yang masih belum puas.


"Baiklah, aku... Aku mencintainya." jawab Urfana yang takut ditampar oleh Melviana.


"Hee..... Siapa kira-kira cewe beruntung ini?" Melviana benar-benar berkeinginan kuat untuk menyingkirkan kompetitornya dalam hati Urfana.


Urfana tidak merasa enak membahas ini. Itu karena gadis kesayangannya saat ini sedang terkena musibah. Namun disaat gadis itu menginginkan pertolongannya, gadis yang lain malah merayunya.


"Fadhilah Asmira Putri. Kami adalah sahabat yang menyimpan janji untuk tetap bersama hingga akan datang waktu dimana kami boleh saling mencintai."

__ADS_1


Melviana tidak menyangka, sangat tidak menyangka. Fadhilah yang merupakan anak dari CEO JNC Group yang terkenal itu adalah orang yang saat ini paling terdekat dengan Urfana.


Ia memang keluarga konglomerat yang memiliki kekayaan yang tak kalah dari keluarga Yohan Arunaldi, namun pengaruhnya tidak sebaik mereka di masyarakat.


Melviana kemudian tersenyum, ia merasa tertantang oleh Fadhilah yang memiliki seluruh hati Urfana.


"Kenapa kamu ga jadi pacarku saja? Banyak lho yang mau sama aku." Melviana kembali merayu Urfana, kini ia jauh lebih frontal dengan Urfana.


"Melviana, kamu memang cantik dan kamu memang kriteria idamanku. Kuberitahu kenapa Fadhilah tak bisa tergantikan dalam hatiku." Urfana merubah kondisi hatinya dan mulai serius menjawab pertanyaan Melviana.


"Nona, kita sudah sampai." Hartono memarkirkan mobil itu di garasi cafe.


Mobil itu sudah terparkir di garasi, namun Melviana dan Urfana masih didalam mobil. Gadis itu memberikan semua perhatiannya untuk menunggu jawaban Urfana. Kini bukan ia yang mengendalikan Urfana dan memperlakukannya sebagai budak cinta, tapi Urfana lah yang mengenggam tali kekangnya.


"Dia adalah cahaya yang menyelimutiku dari kegelapan. Karena itu ia tidak tergantikan." Urfana membuka pintu mobil sebelah kiri.


Melviana ikut keluar dari pintu yang dibukakan Urfana.


Melviana berjalan didepan Urfana memasuki Cafe yang ia sebut sebagai rumah.


Gadis itu tinggal sendirian di lantai 3 dari Cafe ini. Setiap hari ia membuat sarapan sendiri di dapur Cafe meskipun diatas terdapat kompor untuk memasak.


"Bagus banget." puji Urfana.


"Haha, makasihh." Melviana senang melihat Urfana memujinya.


Gadis itu terlihat seperti kucing manja ketika dipuji dan senang. Namun menjadi galak dan sangar ketika keinginannya tidak dikabuli.


Secara insting, Urfana sudah bisa menilai sifat milik Melviana dengan baik. Bahwa gadis ini sangatlah sensitif, namun bukan berarti itu hal yang buruk juga.


Gadis itu tumbuh terlalu cepat untuk seusianya, terlalu cerdas untuk selevel anak SMA untuk bersaing di bidang pelajaran dan keaktifannya dalam sosial.


"Wah lihat, lelaki itu beruntung sekali bisa berjalan di belakang madam." bisik seorang anak kuliahan yang sedang nongkrong sore hari di cafe milik Melviana.


Urfana bisa mendengar ucapan itu, dan ia merasa terpuji oleh orang yang mengatakannya.


Melviana kemudian memegang tangan Urfana dengan sengaja, agar penilaian orang tentangnya menjadi jauh lebih liar.


"Pa... Pacarnya!!" ucap seseorang yang berada didekat pintu keluar Cafe.


"Oi pelan-pelan! Kau ini kenapa, nanti kedengeran."


Sebagian orang yang datang kemari bukan hanya untuk menikmati menu makanan minuman yang enak, tapi ingin melihat selebriti lewat.


"Kita naik ke atas Urfana. Mulai sekarang hanya boleh kita berdua didalam ruangan, Hartono takkan kubiarkan masuk." ucap Melviana, yang memiliki motif tersembunyi terhadap Urfana.


Melviana pergi duluan ke atas. Sedangkan Hartono menahan Urfana.


"Ingat, kau mungkin tamunya nona Melviana. Tapi jangan berani macam-macam." tatap Hartono dengan tajam.


Urfana tersenyum, dan ia pergi ke atas tanpa bertukar kata-kata dengan Hartono.


Hartono membiarkan keduanya naik ke lantai tiga. Dan ia kemudian berjaga dengan duduk di tangga, untuk memastikan tak ada siapapun yang diatas.


"Cih, beruntung banget dia. Mereka kesana berdua...." ucap salah satu penggemar Melviana yang iri melihat Urfana.


Melviana kemudian membiarkan Urfana masuk duluan, lalu mengunci pintu tersebut.


"Kamu adalah satu-satunya cowo yang berhasil masuk ke kamarku hingga titik ini...." Pipi Melviana memerah.


"Eh?! Ada apa dengan tiba-tiba?!"


Ia merencakan sesuatu yang berbahaya!!


..........Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2