
Jurnal Ouvel Euronova #1
19-10-2057
Namaku adalah Ouvel Euronova, seorang pemimpin dari organisasi Ende Leiden yang memimpin seluruh pergerakan revolusi di 9 titik dunia yang saling berperang memecahkan bumi menjadi kepingan.
Dunia telah menjadi tempat dimana para iblis bersemayam dalam tubuh manusia dan menghancurkan segalanya, memusnahkan harapan, kenangan, dan kebahagiaan
Pernahkah kau berpikir? Bahwa suatu waktu mereka memaksamu untuk hadir sebagai pemimpin upacara dalam hari senin lalu jika kau menolaknya kau tidak akan lulus sekolah?
Aku mengalaminya, dan pada saat itu rasanya kepalaku seperti ditodong oleh pistol yang akan membuatku gugur dan mengakhiri hidupku disana, tetapi ini jauh lebih buruk karena hidup tak berakhir disana.
Ketika bersekolah aku hanyalah anak tanpa tujuan, tidak memiliki jiwa nasionalis, tidak berprestasi, punya teman sedikit, jelek, bodoh, dan payah dalam bersaing.
Mau tak mau, aku mengorbankan seluruh rasa takutku untuk keberanian yang menentukan masa depan pada satu hari, dimana seluruh orang menyaksikannya didepanmu, termasuk tentara yang menjadi pembina upacara dan gebetan yang aku sukai dalam diam.
Tapi kenapa aku khawatir? Aku sudah melakukannya dengan baik, Guru PpKN ku juga sudah memujiku. Aku selamat, dan kuyakin masa depanku baik-baik saja.
Aku salah, masa depanku tidak baik-baik saja. Ketika berumur 20 tahun, aku melihat teman-temanku banyak yang sudah menikah, banyak yang sudah lulus kuliah, banyak yang mendapatkan pengangguran.
Aku hanya bekerja sebagai Crew dalam suatu gerai minuman, yang gajinya standar untukku karena aku adalah masyarakat kelas bawah.
Tapi kini, aku berdiri sebagai pemimpin pusat dari Revolusi dunia! Aku yang tidak berprestasi, payah, terhina! Berdiri sebagai sosok perjuangan dimana seluruh dunia berteriak namaku!
Akan kuselamatkan dunia ini! Dan akan kubuat dunia menjadi tempat lebih baik!
...---------------...
Urfana mendengar suara yang asing, berbicara sendiri di dalam laut
Apa itu tadi? Terdengar seolah-olah ada suara yang menggema didalam lautan ini
Remaja itu tenggelam didalam lautan gelap tanpa ada sama sekali makhluk hidup didalamnya dan hanya cahaya permukaan yang ia lihat.
Mata kanan itu menghipnotis Rahmania Urfana, lautan yang gelap berubah menjadi seperti layar lebar, menampilkan kepingan kepingan bagian memori dari orang yang tak ia kenal.
Apa ini? Lagi-lagi mimpi aneh yang tak kumengerti, dan diriku merasa kedinginan dan basah, apa aku sudah mati? Jadi ini adalah akhirnya ya........
Ia melihat telapak tangan kanannya, tiba-tiba terdapat sebuah mark symbol yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Ini terlalu nyata, seingatku aku masih berhadapan dengan Fatherknight....
Tanpa Urfana sadari, ia sudah berada di permukaan air laut, ia terdampar di sebuah pantai yang dimana dekat dengan perkotaan kuno, kota yang sangat indah bernuansa romawi, udaranya segar, langitnya indah.
Apakah ini Isekai? Tidak mungkin.
Anak remaja itu berjalan entah kemana sambil melihat sekelilingnya, ia agak resah karena merasa sangat asing dengan suasana ini.
Jujur saja, kota ini jauh lebih indah dibandingkan kebanyakan kota modern dengan lalu lintas yang sibuk, Urfana mengakuinya dari lubuk hati terdalam.
Mereka semua berbicara bahasa yang berbeda, namun Urfana dapat memahami bahasa tersebut. Ini bukan Nusantara, melainkan Athnia.
"Dhilah?" Urfana berpapasan dengan gadis yang terlihat seperti Fadhilah, ia berbalik dan mengikuti kemana ia pergi.
Menyusufi jembatan besar yang melewati sungai, padang hijau dengan landscape yang memanjakan tubuh mereka berdua lewati.
__ADS_1
Gadis itu tahu bahwa Urfana mengikutinya dari belakang, namun ia tetap bersikap seolah Urfana tidak mengetahuinya.
Simbol ditangannya bersinar-sinar berwarna merah saat mengikuti gadis itu, seolah-olah ia sudah berada dijalan yang benar.
Urfana dengan cepat menyadari, bahwa keberadaannya di dunia ini hanyalah untuk suatu tujuan, ia harus mengikutinya dan menyelesaikannya.
Tidak lama mereka tiba di suatu bukit yang berada di ujung pulau tersebut, mereka berjalan di jembatan dipinggir tebing yang dibawahnya terdapat lautan.
Tidak lama setelah itu, mereka menaiki tangga dan tibalah di atas bukit.
TAK!!! TRAKKK!!!
Dua pemuda berlatih adu pedang disana, gadis itu adalah teman mereka, ia duduk di atas batu besar dan melihat mereka berdua berlatih.
"Gurrraahhh!!" teriak Ourandle, pemuda berambut coklat gondrong, warna matanya biru, ia adalah sosok yang penuh semangat dan berapi-api.
"...." pria berambut hitam panjang itu hanya mengelak dan menepis serangan pedang dari Ourandle, identik dengan ketenangan dan sifat yang dingin.
Pemuda berambut hitam itu, entah mengapa aku merasa sangat familiar dengannya.
Ourandle Havensword, pria yang memiliki sifat ramah dan penuh semangat, ia tak sebegitu terkenal, ia sangat payah dalam segala hal, namun paling tekun dalam menjalani apa yang ia lakukan dan pantang menyerah.
Ourandle saat ini masih berumur 16 tahun, dia adalah prajurit kadet dari kerajaan Athnia, hal yang membuatnya tertarik adalah para gadis.
Pria berambut hitam dan terlihat tenang dan mahal senyum itu adalah Corcus Arstarilea, sifatnya dingin dan elegan, ia sangat populer dikalangan para gadis oleh ketampanannya.
Corcus Arstarilea adalah orang yang sangat berbakat, diumurnya yang sekarang 16 tahun ia sudah memperoleh gelar kapten dan memimpin orang-orang dewasa di setiap misinya, ia sangat populer di kerajaannya dan juga memiliki reputasi di kerajaan musuhnya.
Ourandle melihat gadis tersenyum padanya.
"Argh" teriak Ourandle.
"99 banding 0. Kau sama sekali tidak pernah mengalahkanku." kata Corcus.
"Sial, kenapa sulit buat mengalahkanmu sih? Padahal aku sudah berlatih lebih keras dan kuyakin aku lebih kuat darimu." Ourandle mengelus rambutnya yang berantakan.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh Ourandle, kalau sedang bertarung fokuskan dirimu dengan mencari kelemahan musuh dan atur nafasmu, jangan bawa perasaan untu—"
"Heii, Unalynn!" teriak Ourandle, omongan Corcus terpotong.
Corcus menghela nafas, "Dasar bodoh."
Gadis itu tersenyum sambil melambai dari atas batu besar itu. Urfana hanya melamun, ia menatap Unalynn dari sisi kanan bawahnya, ia terus menerus melihatnya seolah-olah ia masih tidak percaya.
...Mengapa ia mirip sekali dengan Fadhilah?...
Ia bagaikan sinar rembulan di malam hari, yang membuat siapapun mabuk dan tenggalam dalam asmara fantasi.
Ourandle bertingkah aneh ketika melihat gadis cantik, "Agh, dia melihatkuh, uah. Aku tidak bisa menahan tatapan tersebut, serangan hati! Unamlin-kuhu" Ourandle histeris pelan.
Corcus mulai mendekati Urfana, tatapannya sangat serius.
Ia berlari dan menodongkan pedang aslinya ke arah leher Urfana.
"Siapa kau?! Berasal dari mana kau?! Katakan atau akan kubawa kau ke kerajaan atas nama Kapten Corcus Arstarilea!!" tanya Corcus dengan tegas.
__ADS_1
Ia menyadari bahwa Urfana bukan berasal dari Athnia, dikarenakan perbedaan ras dan pakaian dapat dijadikan perbedaan yang tidak perlu dijelaskan.
"Corcus, kesatria sejati dari kerajaan Athnia."
Urfana menatap balik Corcus dengan serius, mata kanan itu kedap-kedip secara perlahan.
"Kau tahu mengenalku" Corcus menatapnya dengan sinis, ia tak mengenal Urfana.
"Corcus, tidak. Kalau dia berniat buruk, harusnya sudah lakukan hal yang tidak dari tadi." Unalynn turun dari atas dan menengahi mereka berdua.
Ourandle memegang lengan Corcus, "Sudahlah, kau ini kan populer. Namamu tersebar luas hampir ke seluruh kerajaan dan negeri. Lepaskanlah kawan, kita bisa bicara baik-baik bukan."
Ourandle menurunkan lengan kanan Corcus secara perlahan.
Corcus sendiri kebingungan, ia tahu jika ia banyak dikenal orang. Tapi ia selalu mengenakan helm ketika berperang sehingga tak mungkin ada musuh atau orang luar yang dapat mengenalnya hanya dengan sekali tatap.
Lagipula berapa kali Corcus menilaipun, Urfana terlihat seperti anak-anak biasa tak bersenjata.
Ia memutuskan untuk menyarungi kembali pedang miliknya.
"Kita punya banyak waktu, jadi ceritakanlah."
Ourandle dan Unalynn saling duduk bersebelahan, mereka mendengarkan Urfana dan Corcus berbicara berdua.
Tatapan Unalynn fokus terhadap Urfana dan Corcus, sedangkan Ourandle terfokus pada Unalynn, keinginan memiliki gadis tersebut dalam kehidupannya sudah menjadi janji yang ia buat dalam dirinya.
Unalynn tertarik pada Corcus, sama seperti para gadis yang lain. Ourandle memahami itu, tapi ia takkan pernah menyerah untuk hal itu.
"Jadi, kau terjebak disini dan tidak bisa pulang?" tanya Corcus.
"Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi hingga aku bisa berada di dunia ini, apakah aku sudah mati atau belum." Urfana melihat telapak tangannya.
Simbol di tangannya tersebut hanya tertempel seperti tato dan tidak ada kedipan.
"Aku bahkan tidak paham, apa simbol dari tangan ini."
Urfana menoleh ke arah Unalynn, untuk memastikan sekali lagi bahwa ia bukan Fadhilah Asmira Putri, dan benar saja.
Mata kanan Urfana memberitahu Urfana bahwa ia tak mengenal gadis itu sama sekali.
Ini adalah tahun 234 sebelum Masehi, tahun dimana mereka masih bisa berkumpul dan tertawa bersama, dan 41 tahun berikutnya adalah kehancuran Athnia.
Urfana belum mendengar ceritanya secara penuh, karena Corcus baru cerita sedikit. Tapi satu hal yang jelas adalah Unalynn dan Ourandle adalah alasan mengapa Corcus berjuang sampe masa depan sekarang.
Mereka saling memperkenalkan diri, Ourandle tentunya mudah berbaur dengan siapapun, sedangkan Corcus punya sifat sedingin salju.
Corcus di umur 16 tahun adalah orang yang memiliki mental dewasa, dan ia sangat kesulitan untuk mengekspresikan diri, karena ia lebih terbiasa dengan kehidupan keras di peperangan dibandingkan menyesuaikan diri di kehidupan normal.
BUGG!! BUGG!!! BUAGG!!
Di dimensi waktu saat ini yang sedang berjalan, Corcus masih beradu tangan dengan Fatherknight. Tubuh Urfana dan Fatherknight berlebam akibat beradu serangan.
"Hahahaha, ini benar-benar menarik! Kau benar-benar menghiburku, Corcus!!"
Fatherknight dan Corcus mengambil jarak, mereka berdua menyiapkan kuda-kuda baru, kuda-kuda yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
__ADS_1
"Mari kita akhiri disini, sekarang juga! FATHERKNIGHT!" teriak Corcus, ia tersenyum dalam tubuh Urfana.
..........Bersambung..........