Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Aku tidak sekuat yang mereka bayangkan


__ADS_3

"Gadis itu tidak bisa kurasakan.." ucap arwah yang berjuang untuk mencari putri dari Yohan Arunaldi.


Sudah lama ia berusaha mencari orang yang tahu informasi tentang Fadhilah, dan bahkan ia berusaha untuk mencari dengan mengikuti Johannes.


Fadhilah tidak bisa ditemukan, kenapa? Bukannya itu adalah tugas yang mudah? Yang jelas, Johannes bukanlah orang yang ceroboh dan ia tahu akan ada sangkut paut gaib.


Didalam B.L.E.S.S, ada beberapa dari mereka yang bisa melacak keberadaan seseorang hanya dengan insting, bau, atau penglihatan.


Johannes sangat memahami, bagaimana ia bisa mencegah monster serupa yang dapat melacak manusia.


Disisi lain hotel, terlihat pria itali bergaya korea itu sedang berjalan sendirian dan kemudian duduk untuk memesan pasta.


Suasana Grand Angkasawira cukup ramai, diisi oleh mereka yang punya kemampuan ekonomi kelas atas di Nusantara. Valin mendengar obrolan para elit ekonomi itu, yang mereka bicarakan adalah uang, wanita, dan relasi.


"Anu, maaf. Apa boleh saya ikut duduk bersama Anda?" tanya pria tua yang menghampiri Valin yang sedang bermain ponsel.


Valin menaikkan wajahnya dan berkata, "Iya pak, silahkan." sambil tersenyum ramah.


Pria tua itu kemudian melepas topinya dan mengucapkan terima kasih, ia duduk dengan sikap tubuh yang sopan. Tongkatnya ia senderkan pada meja dan duduk berhadapan dengan Valin.


"Pak, apa Anda adalah salah satu tamu dari Noparents?" tanya Valin dengan lemah lembut.


"Noparents? Saya tidak pernah mendengar nama itu, tapi yang jelas saya bagian dari Liga Bisnis Nusantara. Tuan Johannes Gates adalah pemimpin dari liga tersebut."


Valin mengangguk, ia menaruh jempolnya dibawah dagu sambil menggosoknya. Pria tua itu juga tertarik dengan anak muda yang duduk sendirian ditempat ini.


"Apa Anda adalah pemilik bisnis juga?" tanya pria tua itu, meyakini bahwa Valin adalah orang kaya karena penampilan yang spesial." pria tua itu merogoh-rogoh sakunya, ia mencari kartu nama.


"Iya, saya sendiri adalah CEO dari LDB Entertainment. Valin Alfredo" ucapnya.


LDB Entertainment adalah anak perusahaan dari Clubboys, mereka adalah agensi yang fokus pada dunia hiburan khususnya boyband dan girlband. Mereka menciptakan peluang besar bagi mereka yang berbakat di dunia seni tari modern.


"Nama saya adalah Soejarko Widyotomo, saya pemilik dari PT. Goyong Tani. Perusahaan yang terfokuskan pada pemberdayaan pertanian di Nusantara."


Pria tua itu punya nama yang besar, Valin pernah mendengarnya. Namun siapa Johannes ini? Yang masih sangat muda didengarnya namun punya pengaruh besar sekali.


"Ayah, aku habis beli sundae. Ayah mau juga?" ucap gadis yang merupakan putrinya itu.


Gadis itu melihat Valin, Valin kemudian tersenyum dan melambaikan tangan.


"Mau apa Anda dengan ayahku? Anda disini tidak mencoba untuk menghipnotis dan menipu ayahku kan? Dengan sembarang ikut duduk."


Reaksinya diluar perkiraan Valin, setan yang sedang membisiki Valin untuk menggoda gadis didepannya pun tercengang mendengar ada gadis yang tidak terpesona oleh wajah tampan Valin.


"Tapi, tapi aku tidak melakukan apapun dan sedang menunggu Pastaku??" Valin meninggikan nada suaranya, panik karena difitnah.


"Sabella." ucap Soejarko dengan lembut, menegur putrinya.


"Ayah, tidak. Pria tampan seperti ini adalah penipu handal, ia memang keliatan baik, namun bermuka dua. Kau, berdirilah. Jauhi ayahku atau kau akan menerima konsekuensinya." Sabella mengancam Valin akan konsekuensinya.


Kedua orang pengawal Sabella mendekatinya dan berniat untuk memaksa Valin untuk berdiri. Namun Soejarko berteriak, ia memerintahkan kedua pengawalnya untuk tidak menuruti Sabella.


"Valin, maafkan saya. Biar saya yang pergi...." pria itu berusaha untuk berdiri.

__ADS_1


Valin kemudian memegang kedua lengan Soejarko, dan menekannya kebawah dengan lembut dan pelan. Remaja itu tak ingin merepotkan pria tua yang baik hati itu, ia memutuskan bahwa ia sendirilah yang akan pindah meja.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Valin pergi dengan perasaan tidak enak. Ia tak peduli dengan Pasta pesanannya, dan Sabella yang tadinya begitu kesal karena kehadiran Valin kini merasa bersalah, ia ingin minta maaf namun Valin sudah menghilang tak terlihat lagi.


"Sabella... Dia adalah pemuda yang baik, aku bisa merasakannya. Dan kini permintaan maafku tidak diterima olehnya." Soejarko terlihat sedih, putri kesayangannya mengusir pemuda yang disukai olehnya.


Setelah Valin pergi, tiba seorang laki-laki yang ditemani oleh pengawal laki-laki dan perempuan. Pria gemuk tinggi berkulit sawo matang dan rambut galing berwarna hijau menghampiri Sabella.


"Wah, ternyata kita bertemu lagi! Kekeke~" tertawalah pria bejat itu.


Sabella merasa ketakutan melihatnya, ia bersembunyi dibelakang pengawalnya.


Tanpa segan-segan pria itu kemudian menjatuhkan kedua pengawalnya dengan mudah.


"Jangan begitu keke, aku jatuh cinta padamu!! Bagaimana kalau kita bermain dulu sebentar berdua." pria itu berjalan semakin dekat.


Kedua pengawal sang pria kemudian berusaha menarik Sabella. Soejarko yang marah kemudian memegang tongkatnya dan mengayunkan tongkat itu dengan keras pada kedua pengawal itu.


Tapi sayangnya tongkat itu ditepis dengan mudah hingga terlempar jauh.


Para penjaga Grand Angkasawira tidak berani melakukan apa-apa pada pria itu. Karena pada dasarnya, ia adalah No. 6 di Noparents, sekaligus mata-mata Blade-Wolf. Yang diutus oleh Murajishi untuk mengawasi Liga Bisnis Nusantara.


Yakuza : Bansuke Akasha, itulah namanya.


"Lepaskan gadis itu, brengsek." ucap Valin dari belakang Bansuke.


Bansuke menoleh kebelakang sambil melotot. Terlihat Valin yang sangat marah.


"Lo... Lorenzo ya!" ucap Bansuke sedikit terkejut, melihat seseorang mirip dengan orang yang pernah menghajarnya habis-habisan.


Bansuke, yang tadinya cukup tertekan kemudian tertawa, ia baru sadar bahwa dihadapannya adalah adiknya Lorenzo.


"Aku baru saja ingin membalas dendam, tapi bedebah itu mati duluan. Bagaimana jika kau saja yang menerimanya bocah!!" Bansuke tidak tahan ingin mencabik Valin hingga mendarah daging.


Kedua pengawal itu membawa Sabella. Dengan cepat, Valin melewati Bansuke dan menendang kedua pengawal itu.


Tidak lama, para security Grand Angkasawira berdatangan dan berusaha untuk memisahkan Bansuke dan Valin, para security bersikap netral demi kenyamanan customer hotel.


Lagipula, Grand Angkasawira adalah tempat yang merajakan tamu.


"Jangan tahan aku!! Aku ingin mencabiknya atau kalian yang akan kucabik!!" Bansuke merobek bajunya dan menunjukkan tatonya yang seram.


"Bansuke...."


"HAAAHH?!!!" balas Bansuke yang kehilangan ketenangan karena balas dendam.


Tidak disadari bahwa dibelakangnya ada Girana berbicara.


Bansuke kemudian berlutut dan memohon ampun pada Girana.


"Nona! Ini, ini tidak seperti yang Nona pikirkan!" Bansuke bersujud, ia takut.


Girana kemudian menendang kepala Bansuke dengan 20% tenaganya, Bansuke kemudian jatuh terpingsan dalam sekali tendangan yang sangat cepat itu.

__ADS_1


Setelah kejadian tidak mengenakkan itu, pihak Grand Angkasawira meminta maaf dan berjanji akan mengkompensasi ketidaknyamanan itu dengan memberikan semua pesanan menjadi gratis.


Sabella kemudian memeluk ayahnya dalam keadaan takut. Valin saling bertatapan dengan Girana, tak lama setelah itu Girana mengedipkan mata dan pergi meninggalkan Valin.


"A... Anu...maafkan aku soal yang tadi." gadis itu meminta maaf pada Valin.


Valin kemudian membalasnya dengan senyum, "Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan."


Sabella kemudian mengajak Valin untuk duduk bersama ayahnya. Valin kemudian memutuskan untuk duduk bersama, kebetulan Pasta pesanannya sudah tiba.


"Saya, saya akan menunggu pesanan Anda sekalian tiba...." ucap Valin dengan sikap duduk yang sopan.


"Tidak, makanlah duluan. Kami boleh sambil menunggu saja." balas Soejarko.


Valin menundukkan kepala sejenak untuk berdoa, ia pun menyantap makanannya dengan sikap sopan dan elegan. Tidak terburu-buru saat makan, menikmati setiap kunyahan, dan juga tidak berisik.


Melihat hal itu, Soejarko dan Sabella dapat mengerti bahwa lelaki ini sangatlah mengerti apa itu adab. Melihat hal itu Sabella semakin ingin berkenalan dengan Valin.


"Apa, aku boleh berkenalan? Namaku Sabella Widyotomo." Sabella memperkenalkan dirinya.


"Valin, Valin saja." balas lelaki itu, menyembunyikan nama belakangnya.


Sabella memanyunkan bibirnya, ia merasa semakin penasaran dengan lelaki yang ada dihadapannya ini.


Aneh, itulah yang dapat dikatakan setelah melihatnya. Tidak begitu tertarik dengan kehadiran perempuan dan hanya terfokus pada dirinya sendiri atau keluarganya.


Tentu saja, Sabella selama ini sering menghadapi gombalan dan modus para lelaki yang ingin mendapatkan hatinya. Yang padahal tiada satupun yang tahu bahwa gadis itu menganggap bahwa laki-laki yang menggombal dan menggoda adalah laki-laki yang lemah.


Namun, Sabella hampir tak pernah menemui orang seperti Valin. Yang bahkan mengacuhkannya dan sama sekali tidak menatap wajahnya. Gadis itu bingung, apa isi kepala Valin.


Valin hanya berpikir, apakah kakaknya benar-benar sudah mati seperti yang mereka katakan? Apakah sudah tidak ada jalan lain? Sial, itulah yang ia baru saja katakan dalam pikirannya.


Ia melipat dahinya, berpikir bahwa ini jadi semakin rumit. Yang tadinya tujuan dirinya adalah untuk membawa kakaknya pulang kini menjadi balas dendam. Tapi, sungguh, siapa yang bertanggung jawab atas kematian kakaknya?


Tidak, ini jelas ulah Johannes. Aku harus membunuhnya.


Valin merasa tak tenang, kepalanya berisik, hatinya gundah, matanya berkunang-kunang.


Lalu... Sentuhan lembut dan hangat tiba-tiba menyelimuti tangannya yang dingin.


Valin tersadar kembali, ia kaget setelah merasakan sentuhan itu. Terlihat Sabella sedang mengkhawatirkan Valin yang wajahnya memucat.


"Valin, kamu baik-baik saja kan?" tidak salah lagi, gadis itu mengkhawatirkan keadannya.


"Aku tidak apa-apa." balas Valin dengan senyum.


Sabella kemudian mengelus-ngelus lengan Valin, "Tidak jangan bohong, tidak perlu ditahan...."


Air mata Valin kemudian pecah. Ia menundukkan kepala ke muka meja.


"Tidak.... Aku rapuh....."


..........Bersambung..........

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2