
19-08-2016 / 16:45
"Oh iya kak. Sejujurnya ada yang ingin kutanyakan." tanya Valin, yang sedang melihat Reggie melakukan shadow boxing di Ring Tinju sendirian.
"Apa?" balas Reggie sambil melepaskan tinju-tinjunya yang cepat.
Ruangan sebesar lapang futsal indoor diisi hanya oleh mereka berdua. Tempat dimana Ring tinju dan peralatan fitness berada dan hanya mereka yang memiliki akses platinum dan diamond yang bisa memasukinya.
Valin mulai berjalan diatas tali Ring tinju sambil mengendalikan keseimbangannya.
"Kak Farel kudengar sedang sibuk pergi ke daerah kota Cimahi. Apa yang dilakukannya di kota asalnya?"
"Ia sedang pergi kesana untuk menemui seseorang, ia berkata bahwa disana ia memiliki sahabat baik dan pergi kesana untuk menjalin bisnis pribadinya."
Reggie mulai melayangkan kombo-kombo yang ia pelajari dari petinju kelas dunia. Valin bertepuk tangan dan menilai itu hebat.
"Berarti bukan urusan kita?" tanya balik Valin.
"Bukan, tugasnya di wilayah Clubboys sudah selesai untuk bulan ini. Meskipun biasanya ia pergi menghabiskan waktu secara tidak jelas dengan menikmati club malam milik kita namun kali ini ia memilih untuk pulang setelah 3 tahun terakhir bisnis ini berkembang."
"Pasti aneh sekali, orang yang awalnya terlihat sangat kampungan kini gayanya berkelas sekali. Aku penasaran teman-temannya disana akan beranggapan seperti apa setelah sudah lama tak melihatnya." Valin menertawakan Farel.
Dan Reggie menanggapinya dengan tersenyum sinis.
"Valin, Apa menurutmu aku salah karena telah mengirimi mata-mata untuk mengawasi Farel?"
"Kenapa kakak menanyakannya? Kak Farel kan orang yang sangat setia." balas Valin.
Ekspresi Reggie berubah.
"Tidak, hanya saja sepertinya aku mengkhawatirkannya....."
Farel Indriya, No. 2 Clubboys yang menguasai bisnis jalanan di 100 titik tagih wilayah Clubboys. Umur 21 tahun dan dikenal dengan julukan Brother karena menjadi cowok yang bergaul dan dikagumi mereka yang ada di jalanan. Bukan hal aneh jika ia adalah sosok pria yang dikagumi oleh bawahan dan gadis-gadis.
Sekarang ini sang Brother telah tiba di salah satu terminal Cimahi. Ia turun dari angkot dan berjalan melewati pasar sambil menoleh sana-sini saking lamanya tidak pulang.
"Mengerikan juga aku pulang pakai outfit mahal, harusnya setelan pulang kampung." ungkap pendapatnya melihat beceknya Terminal yang baru reda hujan di pagi hari dan dipenuhi genangan air.
"Brother!!" ucap seseorang, sedang berlari bersama teman-temannya.
"Oalah, Jeki sama temen-temennya sekarang baru masuk SMA ya." sapa Farel melambaikan tangan ke teman-teman didikannya.
"Kemana saja Brother? Banyak hal yang sudah berubah sejak Brother pergi!" ucap Jeki dengan teriak.
"Ada apa dengan pakaian yang mewah ini?! Dapat darimana Kak?" tanya teman Jeki, Rahmat.
"Merantau di Ibukota. Cukup basa basinya, bagaimana situasi disini sekarang? Setelah Maung memenangkan kekuasaan yang aku kasih secara gratis?"
"Kami cuma tahu kalo dia rajanya disini, kami pergi duluan Brother. Harus berangkat sekolah." ucap Jeki.
"Pfft, cuma di Nusantara anak nakal rajin sekolah." bangusnya.
Ada dua perebutan kekuasaan yang terjadi di kota Cimahi pada tahun 2013. Dimana kubu Maung dan kubu Elang saling berebut kekuasaan untuk menentukan siapa yang berhak untuk duduk diatas.
Farel Indriya sebagai ketua dari kubu Elang dan Toni Nurjaman sebagai ketua dari kubu Maung. Pernah terdapat perebutan kekuasaan yang sangat besar antara anak berusia 19 tahun dengan preman berusia 38 tahun saat itu dan menghilangkan puluhan nyawa setelah perebutan kekuasaan.
__ADS_1
Farel yang dipanggil sebagai Brother sekaligus ketua dari kubu Elang mengundurkan diri dan membubarkan grup Elang miliknya setelah bertambahnya korban pembunuhan yang melibatkan kedua kubu.
Ia kabur ke kota Bandung untuk menghindari amukan warga satu kota setelah namanya dikotori oleh Toni dan membuatnya diasingkan dari kota.
Dan kini ketua dari kubu Elang kembali ke halamannya, disaat Toni Nurjaman kini menjadi seorang mafia di kota Cimahi dibawah kekuasaan No. 4 Undervalue, sang Fatherknight.
Ketika Fatherknight meninggal, urusan bisnis dan segala macam telah terputuskan dengan Painraiders dan kini ia berdiri tanpa dibawah kendali siapapun, bersama dengan Yanko Simaganjar, ketua tenaga kerja debt-collector dan juga Joon, ketua geng Anjing-Liar.
"Anginnya terasa berbeda."
Farel memajukan langkahnya tanpa ada tujuan untuk kembali ke rumahnya. Karena ia berjanji setelah diusir dari rumah ia akan menjadi orang yang lebih mandiri dalam hal apapun.
No. 2 Clubboys, Brother, itulah ia sekarang. Memiliki anak buah hingga 900 orang didalam Clubboys dan masih memiliki banyak koneksi dan sekitu lain yang mau membantunya.
"Apa Anda adalah Brother" terdengar suara yang asing bagi telinga Farel.
Berbaliklah ia melihat 10 orang berdiri dihadapannya seperti berandalan berjaket hitam dan celana jeans.
Mereka menundukkan kepala mereka dihadapannya, nampaknya si Elang masih memiliki nama di tempat yang ditinggalkannya selama 3 tahun.
"Apakah tradisi masih berlanjut?" tanya sang Brother, memasang batang rokok di bibirnya.
Salah satu anak buah maju dan menjentik korek api dan menyalakan api rokok milik Farel, "Iya kak, Kebetulan mau dimulai."
Di kota ini, ada sebuah budaya di salah satu tempat yang selalu digunakan ajang untuk mencari uang dengan berkelahi. Serupa dengan event yang diadakan Troy-Skusher namun tidak berlangsung online dan telah disetujui oleh pihak berwenang.
Dan yang memegang pertunjukan tradisi kini adalah Toni, sebagai orang yang secara tidak langsung memimpin kota ini dan mengendalikan walikota dan kapolres.
"Semua berubah sejak Brother pergi. Sang maung telah beranjak naik lebih tinggi dan mengendalikan bisnis di kota ini dengan perlindungan dari walikota dan kapolres. Jika ia mengetahui anda kembali ke kota ini, bisa-bisa Anda akan dibunuh." ucap salah satu mantan pengikutnya dengan rasa penuh kekhawatiran.
Bagaimana bisa pemerintah membiarkannya terbuka terang-terangan? Apa tidak diliput media atau orang-orang iseng?
Tradisi yang dulunya diadakan secara privat kini terbuka dan dipertontonkan sebagai ajang taruhan.
"Hei, beritahu aku apakah ketua Anjing-Liar ada disini?" tanya Farel.
"Ada." sigap menjawab anak buahnya itu, "Disana." tunjuklah sebuah jari ke satu arah dimana Joon sedang duduk menonton.
"Begitu ya, Maung naik ke tempat lebih tinggi sedangkan si Anjing-Liar kini telah menggantikan Maung dan Elang."
Farel merasakan bahwa ada seseorang sedang berjalan mendekatinya.
"Orang yang dikelilingi anjing itu adalah Joon. Kau pasti terkejut melihat betapa bebasnya ia duduk di kursi itu dan bertindak semenanya."
"Tidak sopan sekali berbicara seperti itu pada Brother!!" salah satu bawahan Farel murka dan melancarkan pukulan.
Ia hanya tersenyum dan tidak bereaksi, namun Farel bergerak dengan sendirinya menahan lengan anak buahnya.
"Tinggalkan kami sendirian, aku tidak ingin terlihat mencolok." ia memberikan perintah pada bawahannya.
Semuanya kemudian memisahkan diri dan pergi mencari titik tonton yang memuaskan.
"Sedang dalam perjalanan membersihkan nama kakakmu dan juga menyelamatkan dirimu dari kejaran keluarga pejabat? Liran Al-Qaesim?"
"Benar. Dan aku akan memulai perjalananku dari sini."
__ADS_1
"Kau membutuhkan uang? Kenapa tidak meminta saja padaku?" ucap Farel menawarinya uang.
"Bukan itu yang kuinginkan."
"Lalu apa?"
Liran kemudian menunjuk Joon yang kebetulan sedang menatap Liran dan Farel dari kejauhan.
"Dia, aku ingin menjinakkan anjing itu."
Joon terlihat marah karena pandangan Liran yang merendahkannya.
Ia yang asalnya merupakan imigran asal Thailand dan terkenal sebagai pemimpin geng besar di Bangkok merasa direndahkan dengan tatapan anak yang terlihat lemah itu.
Sudahlah cukup baginya penghinaan yang turun padanya setelah kekalahannya atas musuh yang tidak ia kenal dan menatapnya rendah seperti Liran.
"Di.... Dia sangat marah." Farel tersenyum melihat Liran memancingnya dengan mudah.
"Aku tahu, kenapa tidak kau saja yang bertarung?" tanya Liran.
"Bukankah kau yang memancingnya? Jangan bertindak seperti pengecut bocah." Farel menyalakan rokoknya.
Liran kemudian menatap Joon sekali lagi.
"Itu karena Sandra jadi pacarnya dan mereka sudah tidur bersa—" Liran berhenti bicara setelah melihat Farel mendadak marah setelah mendengar perkataannya.
"Liran, apa mulutmu harus kurobek....."
Aku sudah mencari tahu info kota ini dan juga orang penting yang berkaitannya. Informasi mengenai Sandra yang merupakan mantan pacar dari Farel mesti kubungkam agar rencanaku menghentikan Simaganjar lancar. Bagaimana pun, aku harus menghentikan penggusuran tanah dan membalas dendam pada Joon.
"Mengapa kau meragukan aku? Kau ingin bertanya ini pada siapa selain bertanya padanya langsung?..... Apa kau tidak marah? Bukankah Sandra kau putuskan karena kau ingin lari dari tanggung jawabmu? Kenapa sekarang hidup enak sebagai Clubboys nomor 2 yang punya kuasa dan uang? Kenapa lari dari masa lalu?"
Gangguan trauma yang dialami Farel karena tekanan masa lalu sangat berdampak besar baginya. Ia tidak bisa menggunakan akal sehatnya untuk memilah informasi melalui perasaan dan logika yang sedang bertabrakan.
"Bukankah kau ingin menghabisi mereka yang macam-macam denganmu? Bukankah kau datang kemari untuk menemui Sandra?!"
Farel memulai langkah pertamanya ke arah Joon dengan penuh keraguan dan pelan. Sedikit demi sedikit, semakin cepat hingga tak ada keraguan lagi dalam hatinya.
Tanpa Liran dan Farel sadari, ada satu orang yang mendengarkan percakapan mereka. Yang tidak lain dan bukan ialah Reska yang pernah menjadi teman dekat Farel ketika didalam kubu Elang.
"Hei Farel?" Reska memanggil Farel.
Farel tidak menjawab apa-apa, ia dibuat tuli dan buta oleh kebencian yang amat sangat mendalam.
Farel tak mengucapkan apapun dan langsung maju mendekati Joon dan mengajaknya bertarung.
Joon tidak terpancing karena Farel, namun karena kemampuan Liran dalam memanipulasi orang dari informasi yang ia dapatkan.
Secara naluriah, Joon sadar bahwa Liran adalah orang yang sangat berbahaya dan berpotensi menjadi penjahat kelas kakap.
Kak, aku sudah berjalan cukup jauh dan aku sudah memutuskannya dari sini. Aku ingin membangun kekuatan untuk melawan balik keluarga Tsajaka dan membersihkan namamu. Maafkan aku, tapi aku harus menjadi lebih jahat dari mereka karena musuhku adalah orang berkuasa.
Corcus berdiri disamping Joon dan menatap Liran dari kejauhan.
"Jadi Malaikat bersayap hitam telah lahir ya. Ini akan menjadi hal yang paling menyakitkan bagi Urfana jika ia seandainya tahu bahwa sahabatnya berubah menjadi monster."
__ADS_1
....Bersambung....