
Tidak sedikit pemandangan yang kurang menyenangkan dari sisi pekerja mengenai bagaimana lingkungan yang mereka alami.
Bukan jadi rahasia umum bahwa ekspektasi berbeda dengan realita, semua orang ingin bekerja dengan santai dan nyaman.
" Kamu harusnya siapin kamar dengan baik! Kenapa kamu malah mengacaukannya?? "
" Maaf, pak, saya akan berusaha jadi lebih baik lagi. "
Seorang supervisor terlihat menampar anak buahnya yang tidak becus dalam bekerja. Ia mengancamnya apabila tidak benar dalam bekerja.
Bagi Urfana, tempat kerja ternyata tidak ada bedanya dengan jalanan. Prinsip hierarki, dimana yang diataslah yang memangsa bawahnya.
Ia bertanya pada dirinya sendiri, apa yang akan ia lakukan jika ia mendapatkan perlakuan tidak enak? Tentu membalasnya tidak peduli apa yang terjadi, namun ia mengingat dengan tajam bahwa Ranggi ingin Urfana memainkan penyamaran dengan bersih.
Sang Jaeger tidak boleh mengamuk, mesti bermain sebagai pecundang menyedihkan ketika kena marah, dan bekerja dengan profesional supaya bisa dapat akses lebih dalam.
"Ya Tuhan, bukan tipeku untuk tertindas dan ditatap menyedihkan apalagi oleh kasta atas." terhela nafasnya diantara atmosfir perbudakan di tempat mewah ini.
Dia tidak perlu memedulikan penindasan karena dia membawa harta karun yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan undangan VIP sekalipun.
Ia pergi ke ruangan interview dan menunggu gilirannya untuk dipanggil. Terlihat bahwa HRD yang ditugaskan pada sesi interview ini adalah salah satu bawahan eksekutif Direktur Charles James, bros yang terdapat dalam jasnya tertandai dengan angka 4, yang artinya adalah ia anak buah dari Eksekutif nomor 4.
Tiba pada akhirnya dimana Urfana masuk kedalam ruangan pribadi orang tersebut, ia adalah Bagunda Linggabuana, HRD berumur 26 tahun yang memegang posisi penting di divisi 4 Noparents.
"Boleh saya lihat CV nya?" tanya ia dengan sopan.
Urfana meletakkan map yang berisikan dokumen lengkap didalamnya, diletakkanlah map tersebut di tengah meja, "Silahkan."
Dokumen yang Ranggi persiapkan pada lamaran tersebut dibuat dengan rekayasa yang sempurna dan terlihat sangat asli.
"Silahkan perkenalkan diri Anda."
Dibandingkan memperkenalkan diri, Urfana memilih untuk mengeluarkan jaket milik Johannes yang dititipkan padanya.
Semua anak buah Noparents yang menyaksikan pada hari itu, akan paham apa artinya jaket tersebut pada hari ketika ia serahkan.
"Kamu....kamu......Rahmania Urfana. VVIP kami, mengapa melamar kerja disini?"
Ranggi terkejut mendengar dan melihat apa yang dilakukan Urfana tidak sesuai rencananya.
"Bapak mengenal saya? Saya disini, karena keperluan Praktek Kerja Lapangan di sekolahan."
Meskipun jurusanku komputer sih.
"Ah.... Ah iya iya!" ucap Bagunda, ia memasukkan kembali dokumen tersebut kedalam mapnya, "A.. Anda bisa langsung bekerja saja...." sambungnya dengan panik.
"Terima kasih banyak pak!"
"Sama-sama....semoga magangnya menyenangkan."
__ADS_1
Bagunda gugup, sama seperti Direkturnya. Ia tak bisa melaporkan langsung kepada Johannes, semua laporan divisi harus dilaporkan melalui eksekutif, dan eksekutif akan menyampaikan seluruh laporan dalam satu berkas ke puncak tahta.
Urfana keluar dari kantor dan langsung menemui bawahan sang HRD yang akan menuntun Urfana melakukan pekerjaannya di Hotel Angkasawira.
Status VVIP yang Ranggi dengar untuk Urfana membuatnya terkejut, ia sama sekali tidak mengetahui soal ini. Namun baginya itu adalah hal yang bagus! Urfana bisa memiliki dua status untuk menyelinap kesana kemari, akan jadi hal yang sangat bagus ketika pergantian shift.
Ranggi kemudian memutuskan untuk menelpon Urfana kembali.
"Ada apa?" tanya Urfana dengan santai.
Ranggi sedikit meninggikan nadanya, "Apa jaket itu sebenarnya?"
"Dia sangat ingin melihat jaket ini ke tangannya kembali, aku memamerkan jaket tersebut karena aku yakin anggota Noparents paham apa artinya."
"Tapi bagaimana jika mereka melaporkanmu saat melakukannya? Kau bisa saja di tangkap begitu juga." Mata Ranggi melirik ke arah Keisal yang sedang keasikan bermain dengan gadis-gadisnya.
Urfana tertawa sedikit, "Mereka tak bisa lakukan itu, Johannes tidak menyukai jika laporan yang diterima dari bawahan eksekutif."
"Bagaimana kau bisa tahu? Kau sendiri bukan Noparents."
"Aku memiliki intel. Tapi itu tidak penting." Urfana menutup panggilan tersebut dan lekas memasang bug didalam ruangan pegawai Housekeeper.
Seorang Floor-Supervisor, yang bertanggung jawab mengawasi kinerja Housekeeper telah tiba di dalam ruangan dan lalu duduk di kursinya.
"Pak Bagunda telah menyampaikan bahwa mulai esok, kamu akan mulai bekerja disini dan akan kami arahkan untuk pelatihan, tolong baca buku ini dan observasi setiap sisi hotel agar kamu bisa lebih mengenal pekerjaan lebih baik." ia memberikan buku panduan kepada Urfana.
"Terima kasih pak." ucapnya.
Yang cukup mengejutkannya adalah....
Buagg
Urfana dijahili oleh tiga orang senior yang menyambutnya, ia dipukul dibagian perut sebagai pelampiasan kekesalan yang dialami salah satu senior itu oleh para tamu.
"Wahh, maaf yaa. Padahal aku cuma mau ngajak salaman~" ucap salah satu senior yang bernama Gato.
"Iya gapapa, tapi ga sakit tuh?" balas Urfana.
Ketiganya menatap Urfana dengan sinis, sedangkan 14 orang Housekeeper yang lain hanya diam karena mereka bertiga adalah senior tertinggi dan merasa berkuasa.
"Aku baru saja nyampe sambil bawa tas, dan sekarang aku udh kena pukul lalu bau ketek itu menempel di bajuku." kata Urfana, ia menyindir balik orang yang tak tahu malu itu.
Gato menarik kerah baju Urfana dan menatapnya dengan marah. Tidak lama lagi mereka dipisahkan supaya tidak membuat keributan yang memancing masalah.
"Awas kau bocah!" ancam Gato.
Urfana hanya diam dan menatap balik orang arogan itu hingga ia pergi keluar ruangan.
"Kamu gapapa kan? Itu pasti lumayan sakit, kamu pasti menahan diri. Tapi kenapa kamu tersenyum?" tanya salah satu rekan Urfana.
__ADS_1
Urfana melebarkan senyumnya sambil menyimpan tas di loker yang kosong, "Karena sang profesional memiliki standar. Sedangkan si muka boros itu cuma anak kecil yang hidup didalam tubuh tua."
Urfana hampir saja menjadi korban perundungan dan diperlakukan tidak enak oleh seniornya, tapi ia menunjukkan bahwa ia tidaklah lemah dan ini bukan apa-apa.
Ternyata misi penyamaran ini jauh lebih menarik dari yang ia duga, sudah ada berapa bedebah yang ia temui sejak berjalan masuk kedalam kantor? Wajah yang ditunjukkan kepada tamu ternyata rekayasa palsu yang dibuat oleh para pekerja.
Urfana bertanya-tanya, kenapa tidak jadi aktor film saja jika jago berpura-pura? Keliatannya semua orang disini berbakat melakukannya.
Pengalaman adalah hal yang paling berharga, Urfana berusaha untuk menikmati pekerjaan sementara ini dan melakukan yang terbaik untuk membawa balik Fadhilah.
Ranggi kemudiann menghubungi Urfana melalui telepon, Urfana memasang earphone bluetooth di telinga kanannya.
"Berkelilinglah, aku akan memandumu."
"Keisal baik-baik saja?" Urfana mengkhawatirkannya.
"Yeah, dia tidak akan melakukan hal sembrono dengan para gadis itu." jawabnya.
Tidak lain dan bukan yang ia lakukan pada jam itu hanyalah berjalan-jalan mengelilingi kantor untuk mengenal jauh lebih dalam.
Secara tidak sengaja, Urfana melihat salah satu eksekutif sedang melakukan hubungan panas didalam ruangan pribadi di kantor. Dia adalah Parkison Sameon, eksekutif baru yang ia tak pernah lihat.
Pintu itu sedikit terbuka, Urfana berusaha untuk membukanya dikit.
"Tolong singkirkan kamera itu dari adegan tersebut." ucap Ranggi.
Urfana bisik dengan pelan-pelan, "Tidak-tidak, maksudku lihatlah struktur organisasi Noparents itu."
Ranggi kemudian mengambil tangkapan layar dari kamera kancing Urfana.
"Oke.... Hanya perlu memotong adegan sialan itu dan mengambil inti pentingnya saja."
Kemudian eksekutif itu tiba tiba menoleh kebelakang sambil melotot, Urfana dengan reflek langsung berjalan pergi tanpa suara.
Upaya yang Urfana lakukan terekam di CCTV dan ia mulai menjauhi diri dari ruangan tersebut agar tidak dicurigai eksekutif itu.
"Kau berhasil kabur?"
"Iya, hubungi aku nanti. Aku harus menjaga sikapku dulu hingga kondusif."
"Baiklah, berhati-hatilah." Ranggi menutupi panggilannya.
Tadi itu hampir saja, jika saja Urfana benar-benar ketahuan maka ia kemungkinan besar akan dikeluarkan dan dihajar oleh Noparents.
Setiap eksekutif disini memiliki otoritas tinggi dibandingkan staf mana pun di bisnis milik Noparents. Dari segi kekuatan mereka memiliki kemampuan yang cukup kuat untuk menandingi ketua geng besar di kota Bandung.
"Lebih baik aku mendekati para pekerja di hotel ini terlebih dahulu."
..........Bersambung..........
__ADS_1
...----------------...