Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Mein Fuhrer : Emmerson Dielbert


__ADS_3

Urfana, ingatlah. Jika kau memang pernah pergi ke masa lalu dan bertemu dengan kami bertiga, maka pada hari itu kau adalah bagian dari sejarah. Kumohon, jika itu terjadi lagi jangan pernah ubah sejarah yang sudah terjadi.


-Corcus, 10-08-2016


...----------------...


14-08-1942 / 09:20


"Sungguh, aku dapat pergi ke masa lalu. Mimpi yang terasa begitu nyata ini memiliki pengaruh yang sama seperti realita."


Urfana melihat pemandangan unik di pusat kota Haidenheim, dimana lapangan luas terpapar dengan selimut hijau dan bebas asap rokok.


Kota Haidenheim terlihat seperti sebuah hasil dari imajinasi seorang idealis, yang sangat menyukai lingkungan hijau dan bebas asap rokok.


Bahkan terlihat begitu banyak orang membawa peliharaan mereka yaitu Anjing dan Kucing untuk menikmati lingkungan itu.


Semua ini adalah berkat sang Mein Fuhrer! Karena idealisme yang dimilikinya ia membuat seluruh kota di Jerman menjadi lebih layak untuk diduduki dibandingkan sebelumnya ketika dunia Industri tidak disiplin dalam pengelolaan limbah.


Idealisme adalah hal yang luar biasa, hal tersebut dapat merubah sebuah mimpi menjadi kenyataan.


Jika bicara soal Idealisme, mata kanan pada remaja itu juga menunjukkan hal yang sama, ia hidup ditubuh seorang remaja 15 tahun dan memberinya sebuah kenyataan didalam mimpi.


Urfana sedang berdiri menghadap patung sang Agung, Emmerson Dielbert.


Emmerson adalah seorang veteran perang yang muncul pada Perang Dunia Pertama.


Pada keterpurukannya setelah perang membuatnya muak kepada pemerintahan kala itu, dimana teman-temannya yang meninggal saat berperang hanya dianggap sebagai pion dibalik medali yang diberikan pada mereka.


...Pion itu disebut sebagai senjata politik...


Ia mengumpulkan hati para veteran untuk membangun Partai Pekerja yang mendukungnya untuk membuat perubahan besar di Jerman atas dasar Idealisme yang disampaikan oleh orang berkarisma tinggi itu.


Dari seorang veteran perang menjadi, politikus, lalu menjadi seorang diktator yang mendapatkan dukungan dari militer. Dan di waktu ini Jerman telah menjadi negara yang memiliki kekuatan absolut, beserta dukungannya dari benua Asia.


"Yang sedang kamu lihat ini adalah orang yang paling berkuasa di negeri kami. Dan ia juga sangat dihormati di negeri kami."


Seseorang sedang berjalan mendekati Urfana dari belakang.


Urfana membalikkan badan untuk menyapa orang tersebut, ternyata ia adalah seorang Tunawisma yang sedang berjalan di taman.


"Aku membawa beberapa makanan dan karpet, bagaimana jika kamu bergabung denganku untuk piknik di tempat ini? Ini adalah hari yang indah, matahari pun bagus untuk tubuh." sang Tunawisma itu tersenyum pada Urfana sambil menawarkannya roti.


Urfana menolaknya dengan halus, "Maaf pak, tapi saya sedang menunggu orang. Uhm..." gumamnya.


Tunawisma itu kemudian memberikan Urfana roti dan menepuk telapak tangan Urfana.


"Tidak apa, ia pasti akan menemuimu kok. Kamu pasti akan melihatnya jika ia berjalan-jalan sambil menengok sana-sini~"


Mereka berdua mencari tempat bagus untuk berpiknik, keduanya memutuskan untuk menggelar karpet dibawah pohon.


"Anu, kupikir kita akan berpiknik dibawah matahari pagi?" tanya Urfana dengan sopan.


"Benarkah? Ah, aku lupa hahaha!" balas si Tunawisma itu.


Aya-aya wae jelema.


Ucap Urfana dalam hati, dengan menggunakan bahasa Sunda.


Mereka berdua pun mengeluarkan roti dan melapisinya dengan selai kacang. Sambil menyiapkan makanan dan minuman, Tunawisma tersebut ingin membuka pembicaraan.


"Apa kamu tahu? Odin, Dewa dari mitologi Nordik? Ia adalah buyut dari para orang Eropa."


"Uhuh?" balas Urfana singkat.


"Meskipun ia adalah seorang penguasa 9 semesta ia sangat suka untuk berbaur dengan para manusia dengan menyamar menjadi mereka. Odin sangat suka mencari ilmu dan informasi dari umat manusia, ia sangat cerdas dan punya banyak julukan."


"Sepertinya paman sangat menyukai Dewa Odin." sambung Urfana ditengah cerita.

__ADS_1


"Benar, begitu pula dengan Emmerson Dielbert. Ia sangat mencintai dewa itu dan menyembahnya. Dengan mendambakan dewa itu, ia meniru pengalaman dewa tersebut dan bahkan setelah ia menjadi Bapak bagi para masyarakat Jerman ia masih suka berbaur dengan kalangan menengah bawah."


Paman Tunawisma itu menyuguhkan secangkir air teh hangat pada Urfana.


"Jadi, apa bisa dibilang bahwa Paman adalah orang yang mencariku melalui pak Wolf? Dengan kata lain, Paman adalah Mein Fuhrer. Pria yang suka berbaur dengan orang dibawah kaki langit seperti Odin."


Tunawisma itu tersenyum, sepertinya anak yang menemaninya piknik ini memiliki persepsi yang sangat teliti dalam mengolah informasi dan teka-teki.


"Para Tunawisma disini memanggilku dengan nama Henry. Kuharap kedepannya kamu akan memanggilku dengan sebutan Henry juga. Dan kamu adalah Rahmania Urfana bukan? Aku telah mengetahui namamu dari Wolfgang."


"Kalau begitu kita telah resmi berkenalan, Mein Fuhrer." Urfana menjulurkan telapak tangannya pada Henry.


Mereka berdua kemudian bersalaman.


"Henry saja, serius." pria itu tersenyum.


"Emmerson dan Henry adalah orang yang berbeda, tapi mereka satu orang bukan?" Urfana bertanya.


"Kamu benar." Henry kehilangan senyumnya.


Suasana pusat kota tidak cukup ramai kala itu, dan benar-benar sangat tenang tanpa adanya kericuhan. Padahal kala ini waktu sedang panasnya Perang Dunia kedua.


Tidak lama setelah Jerman mengalahkan Palandia. Jardanish kini ada di genggaman tangan Emmerson.


Emmerson Dielbert dikenal sebagai orang yang sangat membenci keturunan Jardanish. Mereka adalah peninggalan sejarah di abad kehampaan yang bertahan hingga zaman ini.


Ada sebuah sejarah yang dihapus oleh World Council dan hanya diketahui leluhur agung keturunan Jardanish. Dan pengetahuan itu di wariskan kepada pemimpin keturunan itu setiap zamannya melalui tatapan mata yang bersaling saat menjelang kematian.


Tapi sejujurnya Emmerson hanya berakting tentang kebencian itu, bagaimanapun juga itu adalah perintah World Council kepadanya.


Disisi lain ia melindungi Jardanish dengan menguasai Palandia dan menjadikannya satu didalam Jerman.


Kala ia berkuasa, ia pun menciptakan identitas baru yang bernama Henry. Sebagai Tunawisma yang bisa mencari tahu informasi yang tak bisa digapai dengan nama Emmerson.


"Aku memiliki seorang putra bersama dengan wanita Jardanish, dan saat ini aku sedang mencari putraku. Tapi benar-benar sangat sulit sekali untuk menjamah kedalam keberadaan Jardanish."


"Kami bukan suami dan istri, kami tak diperbolehkan menikah karena status kami. Dan kini satu-satunya harapanku untuk memastikan bahwa dunia kedepannya akan jadi lebih baik adalah dengan menemukan putraku."


Henry mendekat pada Urfana dan memegang kedua pundak remaja itu dengan erat.


"Kumohon Urfana, aku....aku ingin menyelamatkan putraku.... Kamu bilang kamu dari masa depan bukan?! Apa yang terjadi pada Jardanish?!" Henry terlihat cemas entah mengapa.


Urfana merasa berat hati menjawab pertanyaan itu, ia tahu apa yang terjadi pada Jardanish. Disaat yang lain menertawakan Urfana saat ia mengaku dari masa depan, Henry sama sekali tidak mengetawainya.


"Buku sejarah mengatakan... Bahwa Jardanish telah punah karena pembantaian, Emmerson Dielbert adalah orang yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian itu."


Mendengar hal itu Henry sangat shock, ia sama sekali tidak menyangka hal tersebut akan terjadi dalam beberapa waktu kedepan.


"Aku.... Aku harus apa...Jika tidak menuruti World-Council semua keluargaku akan dibunuh termasuk sepupuku dan anak mereka."


Urfana hanya terdiam dan ikut sedih, pada dasarnya hal ini sudah terjadi bahkan sebelum ia lahir. Ia hanya diberikan tiket untuk menjadi saksi sejarah dalam pembantaian umat Jardanish.


"Adamska.... Brengsek, si pengkhianat itu pasti sudah menjadi biadab yang menjilati mereka...."


Urfana kemudian menepuk pundak Henry yang terlihat sangat marah. Ia mencoba untuk menenangkannya dan menegurnya untuk melakukan apa yang terbaik.


Henry yang tadinya marah kemudian menangis karena ketidakmampuan. Ia tahu bahwa kekasihnya sangat membenci dirinya setelah apa yang ia perbuat pada negerinya.


Tapi pria itu merindukan kekasih dan anaknya, dan sedang berharap bahwa mereka bertiga bisa kabur dari situasi ini dan hidup sebagai keluarga bahagia.


Meski begitu, itu adalah keinginan paling egois yang tidak dapat dihormati. Tapi jika hal itu terjadi, apa yang akan terjadi di masa depan nanti?


Bagaimana dengan Idealisme yang ia pegang untuk negeri, rekan seperjuangan, dan orang-orang yang mengikutinya dari belakang?


"Urfana." ucapnya dengan suara lemah.


Mereka berdua berdiri.

__ADS_1


"Katakan saja. Aku memang harus melakukan tugas disini."


"Ada sesuatu yang ingin kukatakan hanya padamu saja." Pria itu berhenti menangis dan lebih serius sekarang.


Keduanya berdiri dan diam sejenak saling menatap, bagaikan seorang sahabat.


"Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku di masa depan, tapi bagaimanapun juga jika aku mati aku masih bisa melanjutkan hidup sebagai putraku." Henry mengangkat kepalanya ke arah langit.


"Apa maksudnya Paman?" Urfana tidak memahami apa maksud yang dikatakan Henry.


"Aku adalah B.L.E.S.S. Proyek prajurit terbaik yang diciptakan untuk mengendalikan dunia agar seimbang dan pernah digunakan saat Perang Dunia pertama. Kami bisa bereinkarnasi dengan mewarisi ingatan dan sifat kami kepada keturunan kami yang berjenis kelamin sama. Itu berlaku saat tubuh kami mati."


"Bukannya hal itu sangat buruk? Bukankah manusia seperti itu tidak seharusnya ada?" Urfana mengungkapkan keraguan yang kuat atas kehadiran makhluk seperti itu.


"Sejujurnya ini adalah kutukan bagiku, dan semua B.L.E.S.S lahir pada hari yang sama di tahun 1889. Aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan putraku, cucuku, dan keturunanku di masa yang akan datang. Jika seandainya kamu ada di masa depan nanti. Bisakah kamu selamatkan dirinya dari kutukan ini?"


Henry menundukkan kepalanya pada Urfana.


"Aku mohon" ucap Henry dengan nada suara yang terdengar berat.


"Angkat kepalamu Paman. Paman tidak perlu sampai memohon, apapun yang terjadi aku akan selalu berusaha menjadi pahlawan bagi semua orang!"


...----------------...


14-08-2016 / 22:00


"Ugh..." Johannes terbangun dari pingsannya.


"Johannes! Kamu tak apa-apa?!" peluk Girana.


"Girana....." panggil Johannes dengan lemah lembut.


Johannes mengeluarkan air matanya.


"Urfana adalah pahlawanku..... Kamu sudah membunuhnya....Kupikir kini tidak ada satupun hal baik yang datang dari kematiannya."


Johannes kemudian berdiri, dibantu dengan Girana. Johannes berjalan sendiri menuju lift pribadinya.


"Bawa Urfana ke laboratorium, ia harus hidup..... Ia tidak boleh mati sekarang."


Girana menggebrak meja untuk menyadarkan Johannes yang tidak sepenuhnya sadar dalam realita.


"Apa maksudmu Johannes? Bukankah bagus jika Urfana mati?! Tak ada yang menghalangi kita!"


Tatap Johannes dengan tajam dan seram. Ia mengancam akan membunuh Girana meskipun mereka adalah sahabat seperjuangan di masa lalu.


"Kau ingin mati?" suara yang sangat menyeramkan itu muncul dari kekuatan tekad membunuh yang sama kuatnya ia tujukan kepada World-Council.


Tanpa basa-basi Girana yang takut itu lekas membawa peti Urfana menuju lift untuk pergi ke laboratorium.


"Padahal aku sendiri yang memintamu untuk menyelamatkanku. Tapi malah aku yang membuatmu terbunuh." Johannes menghapus air mata yang membasahi wajahnya.


Girana kemudian masuk ke dalam lift dan langsung pergi ke bawah tanah.


"Rahmania Urfana seorang pahlawan di masa depan yang akan menghentikan kutukanku, Fadhilah Asmira Putri seorang anak perempuan dari Yohan Arunaldi—"


...Keturunan Vladimir Adamska...


...Orang yang bertanggung jawab karena membujuk World-Council untuk memusnahkan orang Jardanish...


Johannes yang malang itu bingung harus melakukan apa setelah dilanda oleh lautan fakta yang mulai bermunculan dari ingatannya.


Kini baginya tujuan balas dendam itu tidak hanya soal membunuh mereka yang bertanggung jawab, namun ada konsekuensi serius yang dialami dunia jika kehilangan pemimpin utamanya.


Dia memilih untuk duduk, dan kemudian meminum Whisky hingga tubuhnya tak kuat menahan kantuk.


.......Bersambung.......

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2