Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Kembali Sekolah


__ADS_3

10-08-2016


Rahmania Urfana


Hari ini adalah hari rabu, ini adalah hari kedua aku bersekolah kembali setelah memulai lembaran baru yang cerah dan tak gelap.


Aku masih menggunakan sepedaku untuk berangkat sekolah karena kelas 10 tidak diizinkan membawa motor, aku memutuskan untuk berangkat pagi ke sekolah karena ingin merasakan bagaimana rasanya angin sejuk sekolah di pagi hari.


Ketika aku mengayuh sepeda, lagi-lagi remaja laki-laki yang pernah mengajakku balapan di pahlawan menghampiriku dengan tujuan yang sama, berangkat sekolah.


"Bang, kita ketemu lagi setelah minggu kemarin ya?" sapa seorang remaja yang kuingat memiliki senyum yang hangat nan ramah.


"Kau tidak berangkat telat lagi?" tanya diriku yang membalas senyuman dengan senyuman lagi.


Entah kenapa pada saat pertemuan kami di daerah Jalan Pahlawan, aku merasa bahwa aku pernah melihatnya ditempat lain.....


"Kali ini aku berangkat lebih pagi karena aku ingin merasakan angin sejuk sekolah, terlebih lagi ketika lapangan luas kosong, tidak dipenuhi oleh orang-orang." balas ia.


Ia menjulurkan tangannya sambil dikepal dan mengajakku kenalan.


"Valin Alfredo." terucap sebuah nama dari suara yang halus, orang ini pasti memikat banyak cewek yang ada disekitarnya.


"Rahmania Urfana." aku memberatkan suaraku, agar terlihat jauh lebih jantan darinya. Ia terlihat feminis seperti artis korea yang hobinya berdansa, setidaknya aku lebih jantan bukan?


"Kali ini kita punya waktu santai untuk berjalan di kelurusan yang panjang ini, kita tidak perlu balapan dan bisa mengobrol dalam 5 menit ini."


Ia membuka pembicaraan obrolan dan bercerita tentang kehidupannya.


Kami menghabiskan waktu 5 menit dengan bertukar cerita tentang kehidupan di sekolah, tanpa sama sekali berbicara tentang kejadian di luar.


Aku bercerita tentang diriku yang menjadi pahlawan sekolah karena menghajar berandalan di sekolah, sedangkan dia bercerita tentang dirinya yang sudah menjadi sabuk hitam di eskul Taekwondo dan dia adalah pedansa profesional.


Berbeda denganku, ia terlihat seperti malaikat yang berkulit cerah dan menjaga tubuhnya dengan baik. Ia memiliki tubuh sempurna yang diinginkan banyak pria, dan terlihat modis dalam berpakaian.


"Urfana, ambillah kartu namaku." Valin memasukkan kartu nama ke saku seragamku.


"Ini?....."


"Namaku, dan ini adalah perusahaan agensi hiburanku. Aku memegang salah satu anak perusahaan besar sebagai Bos, mainlah kesana jika pada malam hari kau tak memiliki kegiatan, kau akan disambut sebagai VIP! Aku pergi dulu~!"


Valin melambaikan tangannya dan pergi ke arah kiri perempatan. Kami berpisah di jalan, dan menempuh arah yang berbeda lagi.


Jalanan cukup sepi dan tidak begitu ramai pada pagi hari, dan semua terlihat baik-baik saja. Di sekolah sudah tak ada lagi kasus bullying karena sekarang aku adalah rajanya.


Tang !


Sejenak, aku mendengar bunyi tongkat yang sama dengan punya Vicky, sumber suara tersebut ada di sebelah kiri gang yang baru saja kulewati.


"Cepat serahin duitnya! Kau tahu aku siapa bukan?! Aku ini sodaranya Jaeger! Urfana! Kalo ga bayar nanti akan kupanggil dia!" ucap seorang bocah bercelana biru dongker.


Mereka ber-empat, sedang membully orang yang bercelana biru dongker juga, aku dapat merasakan bahwa para pembully ini adalah kelas 9 SMP dan korban adalah kelas 7 SMP.


Dia ini menggunakan namaku sebagai aksi kejahatannya, aku sudah mendengar cukup dan harus kupisahkan mereka.


"Haduh, kalian ga seharusnya berantem. Ada apa ini?" Aku anak SMA, mereka pasti nurut padaku kan? Mereka akan pamit dengan sopan.


"Naon Gobl—"

__ADS_1


Buag !!!


Aku menggamparnya sambil tersenyum, aku sudah berusaha ramah namun tanganku kelepasan duluan meskipun ekspresi dan perasaan hatiku masih hangat.


Aku tak suka orang yang berbicara kasar saat kusapa dengan hangat.


Bocah itu terkapar dalam satu gamparanku hingga air matanya keluar.


Senyumku hilang dan aku menatap mereka semua dengan tatapan serius, hingga mereka ketakutan.


"Pesan atas nama Jaeger, jangan gunakan namanya atau kalian bakal DIHABISI!!" ucap diriku dengan tegas, menakuti anak-anak pembully hingga kabur.


Sial, siapa yang menyebar luaskan namaku? Padahal aku cuma ingin sekolah dengan normal.


"Te.... Terima kasih....." ucap anak itu, sambil memberikan dompetnya padaku.


Dompet itu kudorong kembali dengan halus hingga menyentuh dadanya.


"Kakak disini untuk menolongmu, bukan untuk mengambil uangmu. Berhati-hatilah di jalan dik!"


Aku membantunya berdiri dan menepuk bajunya yang terkena debu.


"Kakak pergi dulu ya."


"Kak, siapa namanya?"


Seorang bocah SMP kelas 7 ini menanyakan namaku yang sama sekali tak berarti apapun selain sebuah ancaman yang membahayakan orang sekitarnya.


Apakah ia perlu tahu? Kurasa tidak. Cukup senyum dan kutinggalkan saja.


Saatnya kembali pergi ke sekolah dan menikmati hari dengan penuh semangat.


Keadaan sekolah jauh lebih kondusif tanpa adanya pengaruh Keisal, anak itu bahkan masih tidak masuk sekolah setelah dikalahkan oleh Urfana.


Christian Galeo sendiri bahkan sudah memberanikan diri untuk sekolah kembali karena sudah tak begitu malu.


Urfana cukup banyak disapa oleh orang-orang di sekolahan setelah ia jadi cukup terkenal, ia tak pernah disambut hangat seperti itu sebelumnya.


Pada hari senin kemarin, seisi kelas menyambut dan mengangkatnya bagaikan seorang musisi yang turun dari panggung.


Tentunya hanya dengan melihat keadaan sekolah itu, Semua murid menjadikan Urfana sebagai yang paling berpengaruh di sekolah ini.


Pada jam pelajaran siang, Urfana memutuskan untuk pergi ke toilet, ia ingin istirahat lebih duluan sebelum jam 12. Ia mengambil rute yang melewati kantin karena ingin sekalian jajan.


"Urfana..." terdengar suara gadis yang memanggilku dengan halus ketika aku baru sampai kantin.


Gadis itu adalah Melviana Aulia, ia sedang duduk di kantin bersama satu orang laki-laki yang wajahnya terlihat kaku bagaikan boneka, tidak lain dan bukan ia adalah bodyguard Melviana.


"Uhm.... Hai" rasa canggung Urfana kambuh kembali, lantas gadis itu memenuhi kriteria Urfana sebagai idaman.


Lelaki itu merubah cara jalannya menjadi lebih jantan dan berkelas, ia merasa terayu oleh panggilan itu. Urfana mempertanyakan sertifikat budaknya sebagai budak Fadhilah, Melviana kini menyita perhatian Urfana selebihnya.


"Aku sudah nonton pertandingan kamu lawan kak Christian dan Keisal, kamu bener-bener keren banget deh."


Urfana tahu, bahwa Melviana cukup mengenal Hasan dan Keisal. Liran telah bercerita bahwa Melviana, Hasan dan Keisal adalah sahabat sejak SMP.


"Kamu..... Kamu ga marah kan kalo aku hampir membunuhnya saat itu? Sejujurnya aku lepas kendali...." Urfana menundukkan pandangannya didepan Melviana.

__ADS_1


"Aku yakin Keisal kini sudah lebih sadar dan kembali ke lajurnya kembali, sejujurnya Keisal bukanlah orang yang seperti kamu lihat Urfan...."


Hartono memesankan Nusanmie tambahan untuk Urfana, selagi mereka mengobrol dengan santai.


"Narkoba, dunia malam, gengster, uang, alkohol, dan wanita sudah mengubahnya. Anak itu dulunya cuma pendiem yang taunya hanya belajar, sama seperti Liran." Melviana melihat foto Keisal yang masih SMP.


Keisal Saniswara mengalami gejolak emosional yang mengguncangnya menuju titik dimana kewarasan sudah tidak bisa disebut waras.


Ia tidak berbeda dengan remaja Amerika yang nakal ketika sudah berubah, semua karena kasus bullying dan mendiang orang tuanya.


Ibu dan Ayah Keisal adalah hatinya, dan saat hatinya sudah mati, Fatherknight menemukan Keisal malam hari ketika ia mampir ke Bandung untuk urusan bisnis dan mengajarinya tentang dunia gelap.


Hingga anak polos yang hanya tahu belajar itu memutuskan untuk membangun gengnya bersama Ranggi Harold, yang ia temukan saat olimpiade pendidikan 2015 kemarin. Ranggi meraih juara 1, dan itulah yang membawa kesialannya ke dunia geng.


Ranggi juga terbawa dalam kegelapan dan mereka membangun Troy-Skusher, geng motor bertema American-Bike, dalam waktu satu tahun mereka berhasil dikenal sebagai salah satu dari empat geng paling berpengaruh di kota Bandung.


"Ini udah jadi ya, Nusanmie-nya." ucap bu Among, pedagang Nusanmie di kantin.


"Makasih bu" ucap Urfana karena telah disuguhi makanan favoritnya.


"Pfft... Amogus...." sindir Melviana dengan pelan.


"Hm?" Urfana memiringkan kepalanya.


Melviana menahan tawa diwajahnya. "Bukan apa-apa."


Hartono memesankan rasa Nusanmie yang sama untuk mereka berdua yaitu rasa Korean Spicy Ramyeon, sedangkan untuk dirinya hanya memesan rasa original.


Urfana menjalin hubungan pertemanan baru dengan Melviana. Mereka berdua memiliki rasa saling menyukai satu sama lain.


Baru saja 2 bulan berada di sekolah, Rahmania Urfana secara tidak sengaja memancing hati seorang selebgram terkenal di platform Lensgram, Melviana memiliki jumlah follower mencapai 2 juta, ia bahkan bermain dalam serial TV terkenal di Nusantara, yang berjudul 'Keluarga Bahasa'.


Hartono sendiri juga tak menyangka bahwa Melviana sebegitu terpikatnya oleh karisma Urfana, padahal ia tahu bahwa diluar sana ada banyak laki-laki selebritas yang ingin menjadi pacarnya.


"Hayoo~ siapa yang lagi bolos nihh~" seorang guru PPL menjewer telinga Urfana dengan keras.


"Aaaahahah, Bu Windaaa, sakittt" Urfana memegangi tangan bu Winda yang sedang menjewer telinga Urfana.


...Ough sial, aku tidak ingat kalau aku pengen jadi anak rajin !...


Ini jelas adalah kesalahan Urfana sendiri


"Aku mah baru beres olahraga Bu Winda, yang lain juga lagi jajan, ini Urfana bolos." Melviana mengkhianati Urfana, ia tak membelanya.


"Urfana..... Beraninya kamu bolos....... Kamu harus ibu hukum...."


"Uhuhu, jangan bu.... Jangan dihukumm."


Bu Winda kemudian menarik Urfana kembali ke kelas, ia bolos di jam pelajarannya.


"Kaya suami takut istri." Hartono tersenyum.


"It is, hahaha" Melviana tertawa.


......Urfana, kamu benar-benar cowok yang menarik. Entah kenapa aku malah jadi makin ingin dekat denganmu......


Ucap Melviana Aulia, gadis yang menjadi saingan Fadhilah dalam percintaan Urfana.

__ADS_1


..........Bersambung..........


__ADS_2