Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Menyusup kedalam tempat yang disebut "Grand Angkasawira"


__ADS_3

Jurnal Urfana


13-08-2016 / 21:00


Ini, adalah catatan milik Rahmania Urfana yang ditulis sejak 13 Agustus 2016. Ada sesuatu yang mesti kutunjukkan hanya dari penglihatanku semata.


Hari ini, aku mengadakan pertemuan dengan semua orang yang menjalin kerja sama denganku.


Keisal Saniswara, Valin Alfredo, Melviana Aulia, Hartono, dan Ranggi Harold.


Kita berkumpul pada suatu tempat untuk merencanakan penyusupan kami ke sarang iblis yang bersemanyam di tempat yang mereka sebut "Castle", Grand Angkasawira milik geng Noparents, geng yang paling berpengaruh dan terkuat di kota ini dengan bisnis legal yang mencapai 20% tersebar di seluruh kota.


Semua yang berkumpul memiliki maksud dan tujuan yang berbeda, tapi kami memiliki sebuah misi bersama untuk menjatuhkan Johannes Gates dari tahta tertinggi Noparents dan membuatnya ambruk tak bersisa.


Aku yang ingin menyelamatkan Fadhilah, Keisal yang ingin membalas dendam soal Ranti dan Galang, Valin yang ingin mencari tahu soal kakaknya yang hilang darisana, Melviana yang ingin magang di perhotelan, Hartono yang ingin mengawasi Melviana sambil mencicipi seluruh fasilitas Grand Angkasawira dan Ranggi yang ingin uang dan aset milik Noparents.


Tidak ada begitu banyak cerita yang dapat dikatakan soal Johannes Gates, namun aku harus menjamin bahwa orang ini adalah iblis berwujud manusia yang duduk dan melihat seluruh kota dari atas mereka.


Aku memutuskan untuk izin dari sekolah untuk beberapa hari kedepan untuk tidak melaksanakan aktivitas pembelajaran, aku tak bisa membiarkan seseorang melukai dan melecehkan orang yang aku paling sayangi.


Mata ini terus berkata bahwa "Aku bisa melihat jalan!", seolah mata ini ingin aku untuk terus melangkah dan mengambil keputusan apa yang aku yakini benar.


Bagaimanapun juga, tugasku sebagai seorang sahabat yang mencintainya adalah aku harus menyelamatkannya apapun yang akan terjadi pada diriku.


Begitu kutemukan petunjuk mengenai keberadaan Fadhilah melalui kertas itu, aku merasa bahwa aku tidak hanya berurusan dengan iblis yang bersemanyam di tubuh manusia, tetapi ada juga sosok yang berperan sebagai pemain yang menggerakkan bidak bagaikan di dalam catur.


Tapi jadi apa aku sebenarnya? Apakah aku adalah Raja? Ratu? Gajah? Kuda? Benteng? Atau aku hanyalah sebuah pion yang dikorbankan di garis depan?


Mataku berkata bahwa teman-temanku melihatku sebagai seorang pahlawan, tapi apakah pahlawan bermain sebagai bidak didalam catur? Tidak ada hal heroik yang berkaitan dengan catur.


Apa yang kita lakukan didalam catur hanyalah membunuh dan mengklaim tahta sebagai pemenang. Tidak ada yang namanya pahlawan, namun mereka yang memenangi permainan akan menjadi seorang penguasa!


Benar, dan pemain itulah yang menjadi penguasanya. Bidak tidak mungkin bisa melawan pemain yang mengendalikannya.


Tapi, apa hanya aku seorang yang ia gerakkan? Aku sama sekali tak mengerti.


Orang ini, selalu ikut sangkut dengan apa yang kuinginkan dengan mengirimkan kertas yang berisi petunjuk dan ingin melihat bahwa aku sukses.


Semenjak hari dimana aku bermain dengan Fadhilah ke ECB, semua hal tiba-tiba berubah jadi aneh mulai dari buku yang membisikkanku sesuatu, Fadhilah yang pingsan tidak jelas, aku yang melihat Athnia, dan orang yang terus menerus mengirimiku surat dan memberi petunjukku supaya urusanku dipermudah.


Awalnya, kupikir ia adalah seorang malaikat yang hanya berniat untuk melindungiku dan senang melihatku berhasil, namun surat yang ia terakhir kirimkan padaku mulai menunjukkan seperti apa malaikat ini dari tulisannya.


Dia adalah manusia yang bermain sebagai sosok Tuhan di cerita ini.


Dia memanggilku Ouvel Euronova. Sebenarnya siapa Ouvel Euronova? Lalu mengapa nama itu juga tersimpan pada kartu kredit yang kuperoleh dari orang misterius itu?


Ketika aku ingin menyelamatkan Fadhilah, ia memberiku petunjuk, sedangkan ketika aku ingin menyelamatkan Liran ia sama sekali tidak memberikanku apapun, tidak satupun petunjuk.


Apa yang membuatnya ingin aku menyelamatkan Fadhilah?

__ADS_1


...----------------...


14-08-2016 / 19:00


Urfana dan Keisal berangkat menggunakan motor mereka masing-masing ke tempat yang bernama Grand Angkasawira yang terletak di daerah tengah kota Bandung.


Kawasan tengah adalah kawasan yang ramai dengan mereka yang datang dari golongan menengah ke atas. Mereka yang berasal dari orang kaya maupun konglomerat, daerah tengah kota Bandung lah yang menjadi wisata hiburan paling menarik.


"Aku, aku tak menyangka akan masuk ke tempat seperti ini untuk pertama kalinya....."


"Brengsek, jadi ini mainan anak orang kaya. Cewe cewe disini pasti high-class kan? Aku sih ingin cicipi satu." Keisal menghisap rokoknya sambil menatap kagum tempat yang masif ini.


Las Vegas van Java, itulah kata-kata yang tepat untuk menyebut kawasan hiburan dan wisata ini. Tidak hanya ada Grand Angkasawira, di sekitaran pun terdapat tempat restoran mewah, mall, kantor perusahaan, dan masih banyak lainnya.


Dalam perencanaan Ranggi, Urfana akan menjadi Housekeeper dalam penyusupan ini, Ranggi telah memanipulasi CV dan memberikan portofolio yang menarik untuk Hotel agar Urfana dapat diterima dengan mudah.


Hanya butuh kepercayaan diri yang tinggi dalam interview maka ia bisa memulai kerja pada malam ini juga.


Keisal akan berperan sebagai tamu VIP yang akan menyusup ke event utama yang diadakan langsung oleh Johannes Gates untuk para relasi bisnis dan orang-orang penting lainnya di rooftop.


"Kakak~" seorang gadis menghampiri Keisal dan menoel punggungnya.


Keisal dan Urfana menoleh kebelakang, terdapat empat orang gadis imigran Nozomu, Soviette, Swedia, dan United Kingdom menghampiri Keisal yang terlihat sangat maskulin dan tampan hari ini.


Keisal merasa sangat gugup dan terkejut, ia tak dapat mengelak dari gadis-gadis level tinggi ini.


Sementara Keisal digiring ke lobi hotel untuk dipesankan kamar dan akan bermain ditempat hiburan bersama para gadis yang mengelilinginya.


Remaja yang bernama Rahmania Urfana itu menyebut pria berambut merah itu sebagai bajingan beruntung.


Ketika Keisal dikirim untuk bersenang-senang, Urfana dikirim untuk menyusup sebagai Housekeeper.


"Haish.... Sudahlah, aku percaya sama keputusan Ranggi." Ia mengencangkan kepalannya di pegangan tas polonya.


Sambil berjalan ke belakang gedung menuju kantor kepegawaian hotel, Urfana menelpon Ranggi untuk meminta kejelasan tugas.


"Urfana."


"Ranggi, kau dapat melihatku sedang berjalan bukan?"


"Sangat jelas, aku mengawasimu dan Keisal melalui kamera tersembunyi yang terletak pada kancing kalian." Ranggi sedang duduk memonitor Urfana dan Keisal, ia mencoba mengamati seisi hotel dan merekamnya melalui layar jarak jauh.


"Aku tak menyangka bahwa ada geng jalanan yang bahkan main ke dunia bisnis seperti ini, dan seolah olah mereka punya kekuasaan sendiri yang bahkan polisi tak bisa sentuh." Urfana mengedarkan pandangannya kesana kemari, ia masih tak percaya menginjakan kakinya ditempat yang terasa sangat asing dan menarik ini.


"Itu karena Noparents memiliki relasi dengan konglomerat dan partai politik yang kuat, sejujurnya sebagai otak dari Troy-Skusher, aku sama sekali belum mengetahui banyak soal mereka." Ranggi mengangkat alisnya, dan menatap ke mi-instan yang sedang ia cicipi.


"Tem...Tempat apa ini? Kenapa aku merasa gugup?"


"Kau pasti terlalu lama hidup di jalanan dan tinggal bersama masyarakat menengah-kebawah, pasti akan sulit berinteraksi dengan mereka apalagi kau disini akan bekerja. Sebelum nanti PKL setidaknya kau akan memiliki pengalaman bekerja."

__ADS_1


*PKL \= Praktek Kerja Lapangan.


"Aku sudah sampai didepan kantor."


"Siapkan berkas lamaran untuk interview, jangan gugup, tenang, dan cobalah terlihat profesional. Apa lensa hitam di mata kananmu itu cukup mengganggumu?"


Urfana memegang lensa yang ia pasang di mata kanannya yang berwarna merah.


"Tidak, namun entah mengapa aku tiba-tiba menjadi sedikit lebih bodoh."


"Akan kukirimkan tugas objektif yang harus kau penuhi, yang pasti tugasmu disini kebanyakan adalah menyabotase beberapa fasilitas, memasang kamera kecil, dan mengambil beberapa foto yang akan dikirimkan padaku. Semoga beruntung, kawan."


Panggilan telepon Urfana dan Ranggi diakhiri.


Sebelum masuk ke kantor, Urfana terlebih dulu menarik nafas dan menenangkan dirinya.


"Baiklah, saatnya aku akan ma-"


Bugg!


Urfana disenggol.


"Kenapa kau berdiri di jalanku? Bedebah dari kelas rendah yang ingin melamar kerja tidak seharusnya menghalangiku."


Urfana berjalan ke pinggir untuk tidak menghalanginya. Orang yang mengenakan jas mewah itu memasuki kantor bersama dengan dua pengawalnya.


Ia sangat tinggi, kekar, rambut bermodel oldschool, dan kacamata emas.


Direktur Charles James, eksekutif Noparents No.4. (Orang yang memegang Grand Angkasawira secara keseluruhan).


Urfana dengan segera langsung menundukkan kepala dan memberi salam, namun ia diacuhkan dan bahkan setelah minggir dianggap tak ada sama sekali.


"Ternyata, tempat ini jauh lebih dari dugaanku." ucapnya setelah menerima perlakuan tidak enak.


Ranggi sudah mendengar percakapan mereka tadi dan berhasil mengkonfirmasi identitas yang berkontak fisik dengan Urfana.


Alat pendengar pada kancing kedua itu bisa mendengar percakapan dengan sangat jelas.


Namun ia hanya bisa berkomunikasi lewat telepon jika ingin memerintah Urfana dan Keisal.


"Tadi itu hampir saja...." Leganya ia melihat Urfana tidak dipukul ataupun diusir.


Tidak memasukan perilaku enak itu kedalam hati, Urfana mengambil langkah pertama di pintu masuk.


"Fadhilah, aku datang....." ucap remaja lelaki dengan penuh percaya diri dan semangat.


..........Bersambung..........


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2