
Suasana dingin masih menghiasi ruangan Penthouse milik Johannes yang terletak di bagian tertinggi Grand Angkasawira.
Sebuah lift khusus yang hanya bisa diakses menggunakan nomor pin dan kartu VVIP.
"Ingat, kalian harus menunduk ketika berada di tempat ini, selalu melihat kebawah dan jangan tatap President, kalian mungkin bisa mati disini juga jika kalian melanggar perintah." ucap Girana sambil memegang ponselnya yang ia mainkan.
TING! Lift telah sampai di Penthouse.
"Maju dan simpan, lalu kembalilah turun." ucap Girana.
Johannes baru saja selesai berbicara dengan Reki, Reki menyapa pada Girana yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya.
"Nona sepertinya berdandan cukup manis." Reki menghaturkan salam pada Girana.
"Memang~ lagian aku ingin terlihat menarik di mata lelaki calon ku~" Girana terlihat sangat lemah oleh pujian.
Johannes hanya terdiam melihat interaksi mereka berdua, ia duduk di kursi dan hanya mengedipkan mata setiap 4-6 detik.
Reki dan anak buahnya memutuskan untuk pamit dan turun menggunakan lift.
"Maaf, sepertinya hadiah ulang tahunmu sudah kubunuh. Aku membawakanmu Rahmania Urfana! Dia pacarnya Fadhilah lho~" Girana membuka tutup peti mati itu dengan satu tangan.
Gadis itu memiliki kekuatan fisik yang mengerikan, bahkan membuka peti mati itu saja membutuhkan dua orang laki laki dewasa dengan kedua tangannya. Girana mampu mengangkat beban lebih baik dari Fightor.
Johannes berjalan mendekati peti mati Urfana dan melihat wajahnya yang pucat. Terlihat mata kirinya memutih seperti orang mati dan mata kanannya yang terbuka melotot sambil memancarkan cahaya merah.
"Serigalaku...." tangan Johannes mendekati wajah Urfana perlahan.
Girana kemudian menoleh ke wajah Johannes, ia tak melihat Johannes seperti biasanya yang kadang suka memberikan reaksi liar bagaikan orang yang menyebut dirinya Bad Boy.
Kepribadian lainnya sedang menguasai dirinya.
Mata kanan Urfana kemudian tiba bereaksi dan menajamkan penglihatannya ke arah mata Johannes.
Kau......akan memberinya petunjuk..... Kau akan memperlihatkan semuanya padaku.......
Kedua mata milik Johannes bersinar warna ungu, kemampuan membaca pikiran yang diperoleh dari darah suku Jardanish itu sedang membaca apa yang ingin Urfana lakukan.
Namun Johannes tak mampu melihat lebih dalam dengan menatap mata itu, Urfana benar-benar tidak memiliki fungsi organ yang berjalan kecuali mata itu sendiri.
Kemudian tak lama mata kanan Urfana itu menghipnotis Johannes untuk mendekat dan berinteraksi mata antar mata.
"Johannes!! Sadarlah!"
"Johannes akan mengikuti kemauanku, Johannes akan memperlihatkan kenapa ia selalu menginginkan Fadhilah. Sekarang tak boleh ada lagi rahasia dan pengkhianatan diantara orang yang kuanggap teman...." mata itu mengendalikan tubuh Urfana.
"Grrrraaahhhhhhh!!!!!" Johannes masih mencoba untuk melawan kekuatan dahsyat yang ada pada mata kanan Urfana.
Girana kemudian mengeluarkan pistol dan berniat untuk menembak lagi, kemudian mata tersebut menciptakan cairan lem yang sangat keras yang membekukan dalam pistol tersebut sehingga tak bisa digunakan.
"Tidak mungkin.... Siapa Urfana sebenarnya....?? Padahal kami berdua adalah eksperimen manusia terkuat, kami adalah puncak rantai makanan yang akan menguasai dunia..."
Johannes dan Girana adalah teman baik yang tidak pernah tergantikan sejak keduanya pernah hidup dan bermain bersama.
Sebuah waktu dimana bahkan belum ada peradaban modern yang hinggap di muka bumi ini melainkan sebuah layar berisikan warna hitam dan putih.
Secara fisik mereka hanyalah anak 20 tahun dan 19 tahun. Namun umur jiwa mereka adalah 85 tahun dan 84 tahun.
__ADS_1
"Eye of Creator, Observe the memories...." ucap Rahmania Urfana.
...----------------...
14-08-1942 / 08:00
Jerman, kota Haidenheim.
Urfana tiba di masa lalu milik Johannes, kali ini ia berada di kota Haidenheim di masa perang dunia ke-2.
"Ibu, aku pergi sekolah dulu yaa! ~" ucap seorang anak laki-laki berusia 13 tahun.
Sang Ibu menahan lengan anak lelakinya dan mengelus-elus tangannya, "Inche, jangan lupakan ban lenganmu, kalau kamu keluar dari rumah tanpa ini kamu bisa masuk penjara." ucap sang Ibu sambil tersenyum manis pada anaknya.
Anak laki-laki itu kemudian membiarkan ibunya memakaikan ban lengan padanya. Ia tak sabar untuk lekas pergi bersekolah.
Berlarilah anak lelaki itu, dengan semangatnya bersekolah.
"Hei Inche!!" panggil seorang bocah laki-laki yang ikut mendekatinya dan berlari.
Sapa Inche, melambaikan tangannya, "Orsamu! Ayo kejar pesawat balon itu!"
Mereka berdua lari bersama-sama mengejar pesawat balon itu. Disisi lain, Urfana tiba di ingatan milik Johannes Gates.
Lelaki itu masih mengenakan seragam pegawai hotel Grand Angkasawira.
"Apa ini? Apakah aku sudah mati?" Urfana tidak ingat apa yang terjadi, ia hanya mengingat bahwa peluru yang menembus kepalanya mematikan seluruh fungsi otak dan membuatnya berada disini.
Orang-orang dengan pakaian bernuansa masa lalu melirik ke arah Urfana yang memiliki pakaian aneh. Urfana yang menyadari itu langsung berjalan mencari gang kosong di kota tersebut.
Apa ini? Dimana aku berada? Apa ini mimpi lagi atau kenyataan? Kenapa rasanya seperti saat pergi ke Athnia?
Simbol yang menyerupai sayap itu lagi-lagi aktif, seolah-olah hal tersebut seperti memberinya sebuah tugas yang harus diselesaikan agar bisa keluar dari sana.
Sepertinya mata itu ingin menunjukkan sesuatu pada Urfana melalui simbol yang ada ditangannya. Urfana dapat melihat jarum digital yang menyerupai game balapan dalam komputer yang menunjukkan ia harus pergi kesana.
"Gawat...." Urfana melihat para petugas kepolisian yang membawa senjata laras panjang.
Petugas itu melirik Urfana, "Disana!"
Urfana kemudian berlari menjauhi, ia berusaha untuk melarikan diri dari kejaran mereka.
PRRRIITTT!!!!! salah satu petugas kepolisian menyulutkan suara pada peluit itu untuk memanggil kawanan lainnya.
Sial, tidak mungkin aku akan mati dalam tempat ini. Sejujurnya kenapa aku berada disini?
Urfana sudah mempelajari kemampuan surviving (bertahan hidup) dari Yourtube, ia berusaha untuk mengalokasikan pengetahuan yang ia peroleh dan membiarkan mata kanannya melakukan sisa pekerjaannya.
Ia berlari melewati pasar, dan tak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang membawa keranjang belanjaan.
Urfana pun terjatuh tergeletak bersama wanita itu.
Kemudian petugas tersebut menodongkan senjata pada Urfana, disusul oleh kawanannya yang lain.
"Angkat tangan!!" ucap sang polisi.
Salah satu kawanan polisi menurunkan senjatanya, "Dia bukan Jardanish? Tapi dia seorang anak keturunan Asia!"
__ADS_1
"Pantas saja dia tidak mengenakan ban lengan. Kita akan membawanya ke kantor."
Urfana kemudian mengangkat tangannya. Para petugas membawa ia ke truk untuk dimintai keterangan di kantor.
Tangannya diikat oleh tali dan Urfana tidak sama sekali diperlakukan seperti penjahat oleh mereka. Sejujurnya mereka hanya kaget saja mengapa orang Asia masuk ke kawasan dimana orang-orang Jardanish berada.
"Kau sungguh beruntung kami tidak menembakmu nak, orang-orang Asia adalah kawan kami di Perang Dunia ini. Ada undang-undang yang melindungimu di negeri Jerman." kata salah satu polisi.
"Kau liat bocah ini? Dia menabrak seorang wanita Jardanish dengan keras! Mungkin ****** itu sedang menangis karena belanjaannya hancur!!"
Para petugas itu menertawakan wanita yang ditabrak oleh Urfana. Sepertinya keturunan Jardanish sangat dibenci dan dianggap hina ditempat ini.
Tidak sedikit dari mereka yang mendapat perlakuan hina dari masyarakat Jerman. Negeri yang bernama Palandia adalah negeri dimana para Jardanish berkumpul, mereka telah dikalahkan dan kini menjadi bagian dari Jerman.
Orang-orang di Barat yang menjadi musuh dari Jerman sendiri bahkan tidak peduli jika Palandia telah hancur, pada dasarnya ini adalah restu dari World Council yang dihibahkan kepada para pemimpin negara melalui surat hitam.
"Kita sudah sampai nak, kau tidak perlu khawatir karena kami akan memperlakukanmu dengan baik, kau bukan mata-mata kan?" tanya sang petugas.
"Kenapa aku harus jadi mata-mata?" tanya Urfana.
"Pakaianmu, terlihat.... Asing. Kami hanya beranggapan bahwa mungkin bisa saja kau prajurit musuh, tapi ternyata kau Asia. Sepertinya kau orang Nusantara." ucapnya.
"Eh, Anda tahu Nusantara?" tanya Urfana.
"Ya, aku tahu. Apalagi pulau Bali, aku sangat mencintai tempat itu dan berharap bisa pergi kesana setelah perang selesai. Aku hanya dapat melihat tempat itu dari majalah, jujur saja meskipun majalah dicetak dengan warna hitam dan putih aku dapat mengetahui bahwa pulau itu adalah pulau Surga."
Petugas itu kemudian mempersilahkan Urfana untuk duduk sambil dimintai keterangan.
Urfana hanya menjawab dengan jujur soal pernyataan ia berasal dari masa depan. Petugas disana hanya menertawainya seolah-olah Urfana sedang melontarkan pernyataan lucu.
Ia menceritakan soal keadaan masa depan bagaikan dongeng berisi hal tidak masuk akal bagi mereka.
Setelah ditanyai keterangan, Urfana langsung diberikan baju baru untuk beradaptasi dan diberikan uang untuk bertahan hidup selama 3 hari.
"Yaampun, kau ini memang anak yang lucu. Kuharap kita bisa jadi teman bukan? Aku adalah Wolfgang, Terodoa Wolfgang."
"Panggil saja Urfana. Sepertinya mulai beberapa waktu kedepan aku membutuhkan bantuan Anda pak Wolf."
Wolf memberikan Urfana sebuah surat, cap surat tersebut terdapat logo yang mirip dengan swastika.
"Kau bisa temui aku di taman kota setiap sore, aku pasti ada disana untuk menyegarkan isi kepalaku." Wolf kemudian pergi kembali bertugas.
Surat apa ini....?
Urfana membuka isi surat tersebut, ia membacanya
......" Kuhaturkan salam padamu anak keturunan Asia. Kehadiranmu akan sangat kutunggu di pusat kota Haidenheim, ada hal yang ingin kubicarakan hanya empat mata denganmu saja. Pastikan kau bisa hadir, kau ingin menjadi orang yang dihormati seluruh Jerman? Kalau begitu jangan lepaskan kesempatan ini. "......
Tertulis, Mein Fuhrer. Sang pemimpin.
"Aku tak paham, ini bahkan belum 2 jam. Sepertinya aku benar-benar harus menemui si Mein Fuhrer ini."
Lelaki itu kemudian berjalan, melangkah menuju pusat kota. Lagi-lagi, hal yang menyulut rasa keingintahuan menghampiri Urfana kembali.
"Fadhilah, kamu tunggu saja. Setelah semua ini selesai, aku pasti datang."
..........Bersambung..........
__ADS_1
...----------------...