Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Membuka bilik masa lalu


__ADS_3

"Aku mendengar semua yang dikatakan oleh Fatlan, dan kupikir kini masalahnya bukan tentang Fadhilah. Begitu kan? Urfana."


Corcus menemani Urfana yang sedang duduk sambil melihat pertandingan futsal berlanjut.


Urfana menghiraukan keberadaan Corcus, ia mengalihkan pikirannya pada pertandingan futsal berlanjut dengan serunya.


Uagh.


"Salah satu pemain jatuh....." ucap Urfana


Hidup adalah perjuangan, tidak ada yang tahu kapan manusia akan terjatuh. Namun mereka harus bersiap untuk kemungkinan terburuk yang akan datang.


Satu orang yang bermain sangar mendatangi pemain yang jatuh.


"Bro.... Maafkan aku, aku tak senga—"


Buagg !!


Satu per satu dari mereka mulai berantem saling membela temannya sendiri, para penonton tidak panik. Mereka malah menyemangati dan membuat konten dari kejadian unik ini.


Tentu saja Danawi ada disana sebagai salah satu pemain, suasana keributan di sekolah harus dimeriahkan oleh si tukang pemanas yang paling tak bisa hidup tanpa membuat masalah.


"Tentu kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk bukan? Kalau tidak siap, pada akhirnya hal terburuk akan terjadi." Urfana mengangkat kakinya dari tempat dan pergi.


Suasana mulai mendingin setelah adanya campur tangan guru yang masuk lapangan. Semuanya membubarkan diri dari lapangan dan fokus pada urusan masing-masing kembali.


"Galeo, bukannya itu Urfan? Kau katanya ingin tanding ulang dengannya?" ucap teman Christian yang sedang di parkiran motor.


Christian menoleh ke arah Urfana, ia tentunya berkeinginan untuk mengembalikan namanya kembali karena telah dipermalukan.


"Biarkan saja. Aku udah ga minat." Christian mengurungkan niatnya setelah mengingat kembali kalau Urfana berhasil mengalahkan Keisal.


Urfana menaiki sepedanya lalu pergi berkeliling kota Bandung, ia berniat untuk pergi ke rumah Liran.


Walikelas Liran memberikan alamat sekaligus memintanya sebagai perwakilan sebagai pihak sekolah untuk memastikan keberadaan Liran yang sudah 'Alfa' selama 3 hari.


Jalan Tongkeng adalah tempat dimana Liran tinggal, tempat yang dipenuhi oleh rumah berjajaran secara geografis dan tersusun rapih.


Rumah itu kini sudah kosong, tak ada seorangpun didalamnya dan semua barang sedang disita. Terlihat para pria berbaju hitam mengawasi rumah itu.


Urfana yang melihat itu hanya bisa terdiam dan tak mampu melakukan apa-apa.


"Pak, pengen es teh campur jeruk."


Urfana memutuskan untuk berhenti sejenak sambil memesan es teh campur jeruk. Sambil meminum jajanannya, Urfana dan tukang dagang mengobrol mengenai keadaan yang terjadi disini.


Sang pedagang sudah berdagang makanan dan minuman di Jalan Tongkeng selama hampir 5 tahun, dan ini pertama kalinya ia melihat adanya orang berjas hitam yang terus mengawasi rumah Liran.


Liran pergi hanya dengan membawa tas berisikan makanan dan bajunya saja. Ia melihat kedua orangnya dipaksa untuk ikut dengan pihak pejabat itu ke dalam mobil.


Ia hanya bisa melihatnya dari dalam lemari, dan Liran sangatlah beruntung bisa melarikan diri dari jendela kamarnya.


"Nak sebaiknya, kamu fokuslah bersekolah. Kalau kamu cari teman kamu yang ada di rumah itu kamu kemungkinan akan dalam bahaya." Pedagang itu menasehati Urfana demi keselamatannya.


"Baik mang, makasih buat minumannya."


Urfana pergi dari warung tersebut dan melanjutkan ekspedisinya. Setelah memfotokan kondisi rumah Liran, ia mengirimnya ke Walikelas Liran.

__ADS_1


Tempat selanjutnya adalah Kiaracondong, tempat yang biasa dihinggapi oleh anak-anak pengamen, pemulung dan preman.


Urfana tidak berniat untuk mencari Liran dengan cara membabibuta, ia membiarkan mata kanan itu melakukan pekerjaannya. Ia berharap bahwa mata kanan itu dapat membantunya mencari Liran karena mata kanan miliknya sudah berkontribusi banyak di waktu sebelumnya.


Ia tiba di Stasiun kereta api Kiaracondong, Urfana cukup melihat banyaknya pengamen dan pengemis di lokasi tersebut.


"Kehidupan dibawah jembatan layang ini sama sekali tak berubah....." ucap Rahmania Urfana, pada tempat yang penuh kenangan ini.


Kiaracondong saat ini adalah tempat kekuasaan milik Reggie Jackson, memang ia hidup dalam kemewahan dan memiliki bisnis yang unggul pada dunia malam.


Namun Farel, si No. 2 dari Clubboys adalah orang yang memiliki bisnis di dunia jalanan. Ia memegang banyak kendali preman pasar.


Kekuasaan Clubboys dimulai dari Cicadas, Tegalega, Buahbatu, dan Kawaluyaan.


Entah kebetulan atau bukan, Farel sedang berada di Kiaracondong, ia datang kemari untuk menagih ketua preman Kiaracondong iuran mingguan.


Clubboys memiliki 100 titik tagih dalam lingkupan areanya, Farel adalah orang yang bertanggung jawab dalam dunia jalanan.


"Urfana, kau tidak seharusnya berkeliaran mencari mereka sembarangan. Aku bisa mencari mereka dan orang misterius itu pasti akan mengirimi kita surat."


"Mungkin kau benar, Corcus."


"Lalu apa alasanmu untuk berdiam lebih lama? Hari menjelang malam, bukankah ini waktunya untuk seorang pelajar pulang? Seperti anak-anak lain yang pulang kerumahnya dan makan bersama?" ucap Corcus, ia mengajak Urfana untuk pulang.


Sekilas, Urfana melihat ada tiga orang anak seumuran SD yang sedang setoran pada salah satu preman yang ada disana.


Buag !!


Salah satu dari ketiga anak digampar karena setorannya kurang, ia dimarahi dengan bahasa yang kasar dan tak pantas didengar.


Kedua temannya membantunya berdiri dan pergi setelah diceramahi oleh si Preman.


Urfana menaiki sepedanya kembali lalu pergi ke arah utara menuju rumahnya.


Hari ini berjalan cukup lancar bagi Rahmania Urfana untuk bersekolah, ia tak perlu hidup dalam penindasan dan kini ia bisa bersekolah dengan fokus.


Urfana merasa cukup sakit hati melihat seorang anak digampar oleh preman yang memalaknya. Hal tersebut membuka luka hati Urfana yang selalu ia ingin tutupi.


Selama tahunan, jalanan telah menjadi jembatan keduanya untuk menyebrang danau kesengsaraan, kabur dari rumah berarti harus hidup dan bertahan di luar rumah.


...----------------...


24-03-2014


Kerlap-kerlip lampu warna-warni menyala bergantian, bersama dengan tempo irama yang berubah-rubah.


Ya, itu adalah club malam. Akar dari kenakalan dan tempat dimana semua orang menghilangkan penatnya setelah jenuh beraktivitas.


Gadis yang bernama Fadhilah Asmira Putri berdansa ditengah keramaian itu bersama dengan sahabatnya Shilmi dan Indri, dan pacarnya Johannes Gates.


Johannes Gates, ketua dari grup Noparents. Pria itu bertubuh tinggi, kekar dan tampan. Rambutnya berwarna kuning dan matanya berwarna biru.


Pada saat itu Johannes masih duduk di bangku SMA kelas 2 dan Fadhilah, Shilmi dan Indri duduk di bangku SMP kelas 1.


Noparents berkuasa di daerah tengah kota Bandung. Dimana tempat tersebut adalah pusat dari pemerintahan negara, provinsi, dan kota.


Keluarga Gates adalah keluarga yang berasal dari Amerika, mereka sudah tinggal di Nusantara sejak tahun 1960 dan menjadikan kota ini sebagai tempat dimana mereka bisa menikmati hidup relatif murah dengan rupiah sedangkan bisnis mereka di Amerika menghasilkan dolar.

__ADS_1


Pada tahun itu, kurs dolar dengan rupiah adalah 1 : 6000.


Ayah Johannes Gates, Linberg Gates adalah Wakil Gubernur dari provinsi DKI Bandung. Tidak hanya seorang pengusaha namun ia menjabat sebagai Wakil Gubernur di daerah spesial DKI Bandung.


"Sayang." Fadhilah memeluk Johannes.


Johannes mengelus kepala Fadhilah dan tersenyum. Para pelayan kemudian datang menghampiri Johannes dan sekitarnya.


Club Heavengates, club malam milik Johannes. Malam ini mereka semua berbahagia menikmati momen kebersamaan meskipun nuansa cukup nakal.


Eksekutif Noparents pada malam itu hadir semua dalam satu tempat dan sedang menikmati waktu mereka.


Lorenzo Alfredo sebagai wakil presiden Noparents sedang sibuk memainkan ponsel di counter sambil mengobrol dengan bartender.


Nanda Reki Prahmanan sebagai Eksekutif utama sibuk mengobrol dengan para gadis. Alkohol menguasai mereka semua.


"Sepertinya semua eksekutif kali ini benar-benar senang dengan malam hari ini. Mengapa kau tidak bergabung dengan mereka Lorenzo?" tanya sang Bartender, teman Lorenzo yang selalu menemaninya di counter.


"Aku sedang membantu adikku mengerjakan PR. Lagian aku tidak suka dengan alkohol." balas Lorenzo.


Lorenzo Alfredo adalah kakak dari Valin Alfredo. Sama seperti Valin, ia adalah atlit Taekwondo. Lorenzo tidak memiliki ketertarikan pada perempuan, ia adalah aseksual (Sosok yang tidak memiliki ketertarikan seksual).


Sebagai seorang wakil Presiden dari Noparents, Lorenzo diakui atas kecerdasan dan atas kekuatan tempur yang ia miliki.


"Lorenzo, kau sangat hebat dan masih muda. Tempat ini padahal tempat yang sangat menggiurkan hasrat manusia, alkohol dan wanita selalu menjadi tempat dimana hati dan sifat asli seorang pria terbuka. Namun apa ini? Kau sangatlah tertutup dan konfiden menjaga citramu"


"Hmph." ucap Lorenzo, ia tersenyum setelah dipuji oleh Bartender.


Lorenzo melihat-lihat sekeliling, memastikan tak ada satupun orang yang bisa mendengar dalam jarak lingkup obrolan mereka berdua


"Ngomong-ngomong, ada gosip menarik apa hari ini?" tanya Lorenzo.


Sang Bartender kemudian duduk setelah tak ada yang memesan minuman.


"Presiden memiliki pacar baru, kau bisa melihatnya disana."


Lorenzo menoleh kebelakang dan melihat Johannes sedang sibuk mendengarkan iringan musik bersama dengan Fadhilah.


"Aku tidak tahu siapa gadis itu, tapi yang jelas ia cukup berbahaya karena ia sepertinya mengetahui kelemahan Johannes."


"Ya.... Dan yang cukup berbahayanya adalah mengenai identitas gadis tersebut." ucap Bartender.


Sang Bartender memberikan data transaksi minuman yang Fadhilah bayar melalui sidik jarinya. Lorenzo sangat terkejut melihat nama dan nomor rekening transaksinya.


"Kau bercanda...."


Lorenzo mengetahui kode rekening yang ia lihat, itu adalah nomor kredit Super Premium yang diketahui hanya 50 orang di Nusantara yang memilikinya. Fadhilah adalah salah satunya, sidik jari telunjuk tangan kanan didalamnya telah ditanami oleh chip Nanomachine yang bisa membuatnya membeli apapun yang ia inginkan.


"Apa Presiden mengetahui ini?" Lorenzo masih tak percaya dengan apa yang ia lihat


"Tidak, Presiden tidak tahu dan akan lebih baik tidak tahu." ucap Bartender.


"Aku paham maksudmu."


Lorenzo berbalik dan melihat Johannes dan Fadhilah sedang berpegangan tangan, cinta mereka untuk masing-masing semakin mendalam. Untuk pertama kalinya Lorenzo merasakan ketegangan dalam hidupnya, ini bukan masalah sepele.


"Sial, aku harus mencegahnya!!"

__ADS_1


Linberg Gates dan Yohan Arunaldi memiliki hubungan yang sangat buruk. Lorenzo memahami hal tersebut, dan ia kemudian berlari mendekati mereka berdua untuk mencegah kejadian buruk yang bisa mengakhiri Noparents.


.......Bersambung.......


__ADS_2