Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Langkah pertama untuk menguasai dunia


__ADS_3

11-08-2016 / 05:43


"Pada akhirnya aku mulai berhubungan kembali dengan Fadhilah setelah 2 tahun lamanya berpisah di pertemuan pertama kami."


"Aku sudah mendengarnya, tapi apa yang terjadi pada Wei Shung?"


"Aku.... Aku tidak pernah mengetahuinya Corcus."


Urfana memegang tangannya yang gemetaran. Udara dingin di pagi yang masih gelap mencengkram dirinya yang masih tenggelam dalam kenangan.


"Dari yang kulihat, apakah mungkin saja Johannes adalah pelakunya?" tanya Corcus.


"Semakin sulit saja, aku bahkan tidak bisa melihat kemana langkahku selanjutnya. Bahkan mata yang bisa melihat masa lalu ini tidak bisa melihat takdir orang."


Urfana menyiapkan sarapan untuknya sambil bersiap untuk kembali bersekolah. Hatinya masih merasa tidak enakan setelah tak ada kabar dari Fadhilah dan Liran.


Hidupnya saat ini sudah enak dan tentram, Ada empat orang yang saat ini sedang sangat tertarik padanya.


Melviana yang menyukai aksi heroiknya, Toriko yang memujanya bagaikan dewa, Phaseon yang menganggap Urfana sama sepertinya, dan Reggie yang ingin melayangkan seluruh tinju yang ia latih padanya.


Urfana teringat sesuatu dengan Oktavial, Ugal, dan Johannes. Ia berpikir bahwa Ugal adalah kunci mengenai Liran dan Johannes adalah kunci yang membawanya pada Fadhilah.


Bukan hal baru jika Ugal mengumpulkan anak yang kabur dari rumah untuk dijadikan anak buah atau budaknya.


DRRRT.....


Ponsel pintar berdering diatas meja ruang tamu, Urfana kemudian membawa makanan ke meja itu dan mengangkat ponsel.


"Aku harus mengkonfirmasi, bahwa saat ini Fadhilah Asmira Putri yang dijamin pihak kepolisian telah menghilang sekitar beberapa hari lalu." Phaseon merasa bersalah atas kelalaiannya.


"Ya, gadis itu menghilang setelah pergi dari rumah sakit, sungguh aneh jika Ayahnya memiliki kekuasaan dan pihak polisi yang melindunginya gagal untuk menjaga satu gadis remaja."


Urfana benar-benar marah, ia menahan kepalan tangan kirinya kuat-kuat dan bernafas cukup dalam.


"Aku harus bilang.... Bahwa saat ini aku tak bisa membantumu mencari Fadhilah karena ada prioritas yang lebih penting...." nada suara yang tak begitu jelas dan penuh keraguan dapat didengar oleh Urfana dan Corcus.


Phaseon sudah berjanji pada Yohan untuk menjaga Fadhilah secara pribadi karena ia adalah temannya. Namun janji itu harus ia ingkari karena statusnya sebagai agen berpisau dua.


Statusnya yang ikut mengacaukan aktivitas Painraiders sudah membuatnya cukup untuk mengundurkan diri dan menjaga batasnya demi keamanan identitasnya.

__ADS_1


"Kadang aku selalu mencoba untuk memahami orang melalui kata-kata dan emosi mereka. Ketika aku observasi kembali kejadian kemarin, pak Yohan adalah orang itu kan? Orang yang membantai ratusan pihak Painraiders yang bersenjata api."


"....."


Mata kanan Urfana memancarkan cahaya berwarna merah seolah-olah ia sangat serius.


"Aku yakin beliau ada hubungannya dengan kau. Entah bagaimana kau selalu terhubung dengan semua orang." ucap Urfana.


"Itu memang benar, akulah yang memberinya informasi." balas Phaseon.


"Dan kemana beliau pergi? Aku tahu bahwa kau mengetahui keberadaannya, tapi kau tidak bisa mengatakannya karena kau agen kepolisian. Namun disisi lain kau adalah teman bagi Fadhilah, dan Fatherknight mengenalmu. Kau berwajah tiga."


Hatinya dipenuhi oleh kegelapan, Urfana sedang mendapatkan dorongan batin dan juga tekanan kuat yang menunggunya.


"..." Phaseon terdiam.


"Terima kasih sudah memberiku informasi itu, lagipula aku sudah memutuskan untuk bergerak mencarinya. Jaga dirimu baik-baik kawan." Urfana memutuskan sambungan panggilannya.


Urfana meminum teh hangat yang ia buat, bersama dengan Corcus ia meminumnya untuk menghangatkan diri di pagi yg dingin ini.


"Tadi itu berbahaya sekali. Jadi Fatherknight mengenal Phaseon." Corcus memegang buku komik milik Urfana yang ia ingin lanjut baca.


Urfana mengambil potongan pertama dari roti bakar yang ia buat.


"Kita tidak bisa mempercayai orang seperti itu sepenuhnya, ketika kau berhubungan dengan orang baru dan kau mengetahui bahwa ia terhubung dengan yang kita anggap teman dan musuh, kita harus mewaspadainya Urfana."


"Aku merasa bahwa mulai sekarang aku tak bisa bergerak sendirian."


Remaja berumur 15 tahun itu sejujurnya sudah lelah dengan apa yang ia hadapi selama ini.


"Menurutmu begitu?" Corcus meragukan pendapat Urfana.


"Lihatlah orang-orang yang belakangan ini kutemui, tidak lain dan bukan mereka adalah orang yang saling bergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan. Aku tak yakin kalau menyelamatkan dunia juga bisa dilakukan sendirian."


Urfana mulai memahami kunci penting dari sebuah tujuan, dengan mencapainya sendirian maka takkan ada manfaat yang bisa dirasakan untuk banyak orang.


Semakin lama, musuh yang dihadapinya semakin memiliki kekuatan lebih untuk dihadapi.


Ini bukan hanya soal menghajar musuh ataupun menjatuhkannya, tetapi dari setiap tindakan yang diambil pasti ada konsekuensi baik dan buruk.

__ADS_1


Untuk setiap tindakan yang diambil tentunya belum tentu bisa terwujud sepenuhnya, oleh karena itu persiapan yang matang itu diperlukan.


Membangun kastil kuat yang hanya ditempatkan sendirian adalah hal yang sangat salah. Manusia adalah makhluk sosial, manusia membutuhkan orang sepihak yang bisa saling merangkul.


Kastil membutuhkan raja, ratu, menteri, kesatria, prajurit, penghuni. Kastil harus dijaga dengan bersama.


Melindungi apa yang ingin dijaga, lebih baik melakukannya secara bersama.


"Aku akan membangun geng milikku di kota ini, jika ingin mengambil alih dunia maka harus kulakukan mulai dari skala kota."


Corcus bangga dengan pemikiran Urfana yang kritis.


"Saatnya bersiap-siap untuk berangkat sekolah." Corcus membantu Urfana dengan menyiapkan tas dan peralatan sekolah yang harus dibawa.


Urfana mengambil buku komik yang barusan Corcus baca. Ia melihat sang karakter utama membentuk aliansi dengan mantan musuhnya dan memberi mereka masing-masing keuntungan dengan negosiasi yang berbasis win-win.


Kartu kredit yang diberikan padanya bersama suntikan dan koordinat markas Painraiders menjadi peluang yang bagus bagi Urfana untuk memulai membangun kekuatan dan sistem dalam geng miliknya.


"Kartu Platinum Gold kredit, kelas dunia...." Urfana melihat kartu kredit yang ia terima, benar benar sangat mengkilap dan cantik.


"Kau takkan terkena pajak jika menggunakan itu, aku yakin itu tidak ditanam dengan namamu didalamnya karena kau belum cukup umur untuk mendaftar." Corcus sudah menyiapkan segalanya dan Urfana sudah bisa pergi.


Urfana sekilas menoleh ke lemari buku yang ada disebelah TV. Ada banyak sekali buku tentang edukasi finansial dan pengembangan diri.


"Sebaiknya.... Aku mempelajari itu dulu, jika benda ini kupakai sembarangan, mungkin ini akan menjadi pisau yang mengarah ke leherku."


Urfana bersiap-siap sambil memikirkan tentang bagaimana caranya untuk membangun organisasi dan bernegosiasi.


Ia menginginkan 5 orang penting dibawahnya yang nantinya akan ia perintah untuk membawahi banyak orang.


Sekilas ia mengingat seorang monster karismatik yang bisa ia andalkan apabila sudah dijinakkan.


"Dia ya....." bisik pelan Urfana.


VRROM! VRROMM


Kali ini ia menggunakan sepeda motor untuk pergi bersekolah, ia ingin mengunjungi bengkel sekolah yang dikelola oleh bawahan Keisal.


"Saatnya untuk merekrut Keisal sebagai anggota pertama."

__ADS_1


..........Bersambung..........


__ADS_2