
Pada saat itu, Urfana kehilangan salah satu cahaya hidupnya. Monster yang tidak berperikemanusiaan telah merebut nyawa sahabatnya yang sangat ia sayangi.
"SIAL, KENAPA AKU MEMBIARKANNYA MATI?!!" Urfana memukul wajahnya sendiri dan mengadukan kepalanya ke dinding sampai berdarah.
Tersungkur ke lantai dan menangis. Saat ini ia sedang berada dibawah jalan layang Pasopati, diam dan merenung sambil memojokkan dirinya ke dinding.
Entah secara kebetulan atau bukan, gadis itu juga muncul dihadapannya.
Fadhilah sudah melihat Urfana dari kejauhan, ia melihat Urfana melukai dirinya dan lekas mendatanginya untuk menolongnya.
Jaket milik Johannes itu telah memancing perhatiannya sehingga saat itu juga, gadis itu secara tidak sadar ingin mengecek yang memakainya.
"Kamu.... Kamu ga seharusnya melukai diri sendiri, kamu bisa meninggal kalau kehabisan darah." Fadhilah mengelapi Urfana dengan tisu yang ia bawa.
Lemas karena letih dan stress, remaja lelaki itu kemudian pingsan. Fadhilah kemudian menahan Urfana dari sisi agar ia tidak tertidur ditanah.
Fadhilah memutuskan untuk menunggu Urfana bangun sambil memulihkan tenaganya.
Saat itu masih pukul 5 pagi, mereka beristirahat bersama sambil menunggu keduanya pulih sehingga bisa pulang.
Setengah jam kemudian, Urfana bangun dan menyadari bahwa ia sedang bersandar pada seorang perempuan.
"Uwahh, maaf!" Ia langsung menjauhi Fadhilah karena malu.
"Tidak apa, aku kedinginan. Bisakah kamu duduk dekatku lagi?..." Fadhilah memohon pada Urfana.
"Itu....luka lebam?"
Urfana mengecek tangan dan wajah Fadhilah yang lebam karena dipukul.
"Kamu gapapa kok, cukup pakai salep dan biarkan sembuh dengan sendirinya."
Urfana tahu, amat sangat tahu. Urfana sudah sering mendapatkan luka lebam karena berkelahi. Ia sudah terbiasa terkena pukul hingga berdarah.
Remaja lelaki itu mengajak sang gadis yang menemaninya untuk mencari warung terdekat, ia memegang tangan Fadhilah dan menuntunnya untuk jalan bersama.
Dalam pengalaman sekali dalam seumur hidup, ini adalah pertama kalinya Fadhilah merasakan bagaimana kehidupan di bawah, ia selalu berada di atas karena prestasi dan lingkungan hidupnya yang dipenuhi orang kaya.
Gadis itu melihat ada orang tua yang memulung bersama anaknya, lalu ada pengamen yang sedang makan bersama disebuah taman bersama-sama.
Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat, berbeda dengan pemandangan kasta tinggi yang suka menghamburkan sisa makanan dan saling pamer kekayaan.
Gadis itu mengeluarkan air mata, menyesal karena menghamburkan uang sembarang, berfoya-foya, dan membuang sisa makanan.
Secara tidak sadar, Urfana telah membuka hatinya yang bodoh. Gadis itu benar-benar tidak menyangka bahwa ada banyak orang yang sangat menderita karena hidupnya yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan.
"Eh, kamu kenapa?" Urfana berhenti setelah melihat Fadhilah tiba-tiba terlihat sedih.
Fadhilah mengusap air matanya, "Tidak apa."
Mereka berdua tiba di warung. Tidak ada siapapun yang menongkrong di warung itu.
"Permisi bu, Nusanmie sama teh manis angetnya dua ya."
Sang Ibu pemilik warung keluar setelah melihat Urfana dan Fadhilah terluka.
"Yaampun, ayo duduk dulu. Itu pada berdarah, nanti infeksi."
Ibu warung itu mengambil cairan antiseptik dan beberapa pembalut luka juga kapas.
"Tahan ya ini gabakal sakit."
"Ughh, agak perih..."
"Gapapa, ini biar kamu cepet sembuh."
"Anu, makasih bu...."
Urfana dan Fadhilah kemudian mengobrol dengan santai dan menceritakan tentang isi kehidupannya belakang ini.
__ADS_1
Urfana menceritakan dirinya yang pergi dari rumah setelah fitnah menghancurkan hidupnya dan Fadhilah pergi karena bertengkar dengan Ibunya.
Lalu mengenai tragedi yang terjadi tidak lama dalam hitungan jam, mengenai kematian Oktavial dan juga pengorbanan Lorenzo yang menyelamatkan dirinya dari si gila Johannes.
Tidak disangka-sangka bahwa pertemuan pertama mereka dibuka dengan tragedi dan semakin lama mereka mengobrol semuanya menjadi tragedi.
Urfana dan Fadhilah saling tertarik satu sama lain. Mereka bercerita tentang game masa kecil yang mereka mainkan, lalu mengenai film dan komik yang mereka baca.
Satu frekuensi itu sangat menyenangkan, benar benar menyenangkan. Bagi keduanya, masing-masing dari mereka adalah kepingan jiwa yang saling melingkupi satu sama lain.
Ibu warung yang bernama Seranda menyajikan Nusanmie di atas dua mangkok bersama teh manis hangat untuk diminum.
Bu Seranda senang melihat Urfana dan Fadhilah yang terlihat bahagia setelah mie buatannya disajikan.
Mereka langsung memakan mie tersebut. Ini adalah pertama kalinya bagi Fadhilah untuk memakan Mie instan, orang tuanya melarang untuk makan-makanan jalanan karena cenderung kurang sehat.
Fadhilah tidak menyangka bahwa Mie instan sangatlah enak, ini bahkan jauh lebih enak dibandingkan makanan restoran yang menyajikan Ramen dan lain-lain.
"Oalah, ada apaa. Kalian gausah bayarr, itu gratis kok!" ucap Bu Seranda yang menolak untuk dibayar.
"Eh Ibu, Ibu kan cari nafkah juga. Saya bisa bayar kok bu, tidak apa-apa." Urfana masih belum menarik uang yang ia ingin berikan pada bu Seranda meskipun menolak.
"Tidak apa, disimpen aja. Siapa tau kalian butuh." Bu Seranda mengelus kepala Urfana dan Fadhilah.
Urfana dan Fadhilah tak berkata apa-apa, melainkan merasa malu karena tidak jadi bayar. Meski begitu Urfana dan Fadhilah sendiri berjanji pada dirinya bahwa suatu hari nanti, mereka akan membalas kebaikan Ibu Seranda yang telah membantu mereka.
Pada hari itu, keduanya kemudian pergi berjalan mendekati jalan raya.
"Pada hari ini, kita akan kembali ke kehidupan kita yang semestinya. Dimana engkau akan pulang dan aku akan berjuang dari 0."
"Dan mulai sekarang, kita berjanji akan menjalani hidup sebaik mungkin."
Mereka berdua saling menyalami kelingking mereka.
"Sejujurnya aku selalu ingin bersamamu, tapi akan lebih baik jika kita berpisah. Siapa tahu nanti kita akan ketemu lagi?" Urfana tersenyum.
"Aku Rahmania Urfana."
Salah satu mobil pribadi milik anak buah Yohan Arunaldi berhenti didepan Fadhilah, sang supir datang karena Fadhilah memintanya. Ia ingin pulang, dan ia ingin menjalani hidupnya dengan benar.
Dinamika hidup keduanya berubah ketika mereka bertemu satu sama lain. Tidak peduli jika sang lelaki adalah lelaki tidak berpendidikan dan sang perempuan adalah perempuan berpendidikan.
Hari ke hari, keduanya mulai mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Dimana keduanya mendapati tujuan hidup dan mimpi yang harus diperjuangkan.
Hingga satu tahun telah tiba bagi mereka untuk berubah
Urfana bertemu dengan Kakek Wei Shung yang ia temui di bangku jalanan dan kemudian hidup bersama dirumahnya berdua.
Dan Fadhilah mulai menghasilkan prestasi yang hebat untuk sekolah dan keluarganya.
...Dua tahun telah berlalu...
07-04-2016
"Hei, kakek."
"Ya?"
"Gadis yang ada di panggung dekat gedung sate itu adalah teman yang kuceritakan waktu itu. Ia sedang membacakan puisinya."
Diatas panggung itu, sang gadis yang terlihat cantik dan menawan itu sedang berdiri diatas panggung untuk berpuisi mengenai krisis moral yang sedang terjadi di negeri.
Ia terpilih sebagai bahasawan junior untuk mewakili seluruh Indonesia untuk membagikan puisi yang disiarkan di seluruh channel TV.
Siapapun yang mencintai dan menyayangi Fadhilah, tentunya bangga melihatnya bisa berdiri diatas sana dan disaksikan oleh sang Presiden sendiri.
"Dia punya banyak sekali teman yang mendukungnya pada momen ini." Urfana melihat gerombolan teman kelas Fadhilah yang menyorakinya ketika Fadhilah naik ke atas panggung.
Wei Shung ikut tersenyum melihat Urfana sebahagia itu ketika Fadhilah muncul.
__ADS_1
"Kalau begitu dekatilah ia ketika acara ini berakhir, mintalah nomor ponselnya dan berikan apresiasi terbaik."
"Kalau begitu, setelah ini selesai. Aku akan memberinya coklat batangan. Fadhilah sangat menyukainya."
Semuanya bertepuk tangan saat pembawa acara menyebut namanya. Gadis itu terlihat sangat percaya diri ketika musik mulai diayunkan.
...Kupersembahkan puisi ini, untuk negeriku yang kucinta. Pada negeri Nusantara yang indah akan keragaman dan budayanya. Dan pada suku dan bangsanya yang asri dan subur. Wahai Nusantaraku, majulah dengan langkah kebanggaan....
...Pendidikan adalah sebuah kewajiban, Ilmu adalah sebuah keharusan. Membentuk pola pikir cerdas dan kritis adalah tujuan untuk memajukan bangsa dan negara yang tercinta ini....
...Mirisnya negeri ini, mulai terpengaruhi oleh budaya buruk yang sudah ada pada zaman dahulu. Krisis moral dan etika pada generasi baru kini menjadi budaya yang kita turunkan pada generasi baru....
...Anak-anak mulai melemparkan buku berisikan catatan masa depannya pada sungai kesengsaraan dan melupakan apa yang telah di impikan sejak kecil dan fokus pada budaya buruk yang baru muncul pada masyarakat....
...Egoisme, gengsi, dan kekerasan, yang terjadi pada rumah tangga, lingkungan tetangga, sekolah, dan masyarakat adalah lembaran lama yang mesti kita bakar dan lanjut ke bab baru....
...Kali ini, pada bab baru akan terbuka lembaran putih yang tidak pernah kita buka. Putihnya bagaikan sayap yang langit turunkan nan bersifat suci dan bersih....
...Sebuah lembaran yang tercipta dari anugrah Tuhan yang masing-masing dari kita yakini sesuai kepercayaan dan mesti diagungkan dan menjadi pedoman sebagai diri kita yang baru....
...Nusantara harus menjadi negeri yang paling maju, indah, damai, dan tentram. Kutitipkan pesan pada seluruh generasi negeri ini....
...Aku, Fadhilah Asmira Putri. Putri Negeri Nusantara, menyampaikan salam dan terima kasih.......
Puisi itu berakhir dengan tepuk tangan meriah yang diberikan oleh semua hadirin yang ada disana dan seluruh Nusantara yang menyaksikan.
Gadis itu turun dari panggung dan berjalan menuju kediaman guru Bahasa Indonesia yang menemaninya ke Gedung Sate.
Tanpa ada satupun yang menyadari, Urfana kini berdiri dihadapan Fadhilah ketika Fadhilah berjalan sambil melihat ke tanah yang ia langkahi.
"Itu tadi benar-benar puisi yang sangat hebat."
Fadhilah terkejut dengan suara yang ia dengar. Melihat bahwa kini muncul lelaki yang tak tampak asing berdiri dihadapannya, gadis itu berlari dan memeluknya dengan perasaan bahagia.
"Kukira kamu gabakal datang, aku selalu ingin bertemu denganmu Urfana."
"Kamu sudah menjadi orang yang hebat, dan tentunya aku ikutan bahagia!"
Urfana memberikan coklat batangan sebagai apresiasinya terhadap puisi Fadhilah yang sangat ia anggap hebat.
HEI!
Terlihat gerombolan teman Fadhilah berlari mendatangi Urfana dalam jumlah ber-lima. Tidak lain dan bukan mereka adalah teman-teman Fadhilah yang sangat menyayanginya.
"Jangan lupa baca belakang bungkus coklatnya, aku pergi dulu yaa~" Urfana kemudian melarikan diri dengan memanjat dinding kawasan Gedung Sate.
Teman-temannya tidak mengejar Urfana, mereka mendatangi Fadhilah untuk memastikan dirinya tak apa-apa.
"Dhilah, kamu gapapa kan? Dasar orang mesum, beraninya menyentuh Fadhilah!"
"Aku gapapa." Fadhilah membalikkan wajah dan berjalan duluan ke tempat gurunya sambil melihat belakang bungkus coklat.
Disisi lain, Urfana kembali ke tempat dimana kakek Wei Shung menunggunya.
"Kakek~ aku sudah selesai mendatangi Fadhilah....?"
Urfana melirik kesana kemari, mencari keberadaan kakek Wei Shung. Namun ia sudah tidak ada disana.
Urfana tidak tahu, bahwa pada saat itu Wei Shung menghilang tanpa ada jejak, dan entah apa yang terjadi padanya hingga menghilang.
Ketika ia tiba dirumah, sang Kakek tidak ada dirumah. Pada hari itu, Urfana mendapatkan perhatian Fadhilah yang ia cintai dan juga kehilangan kakek tiri yang ia sayangi dalam satu hari.
Baginya, apa yang bisa ia lakukan hanyalah menjalani hidup dengan apa adanya seperti biasa.
Urfana tak kembali ke jalanan untuk mencari uang, karena ia menerima warisan rumah dan uang yang setiap bulan di kirimkan dari Dana Pensiun sang kakek melalui kantor POS.
"...." Urfana hanya duduk di kursi sambil melihat foto-foto kakek Wei Shung bersama anak-anaknya yang kini entah kemana.
Urfana berjanji pada sang Kakek, bahwa ia akan mencari keberadaan anak-anak yang ada di foto. Ada banyak hal yang ia masih tak mengerti soal masa lalu Wei Shung.
__ADS_1
Karena ia yakin, Wei Shung tidak menghilang tanpa alasan. Pasti ada alasan mengapa ia meninggalkan rumah ini pada Urfana.
.......Bersambung.......