Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Dia yang memegang takdir seberat semesta


__ADS_3

16-08-2016 / 21:32


Johannes terpukul mundur oleh Urfana yang melancarkan serangan tinju cepat milik Reggie, kali ini tinju tersebut diluncurkan dengan jauh lebih sempurna. Mata merah itu memberinya kemampuan fisik yang signifikan luar biasanya.


"Aku tahu pukulan ini, ini milik Reggie si tinju cepat. Bagaimana kau bisa melancarkan serangan yang bahkan kau tidak kenal sama sekali?" Johannes membalasnya dengan tendangan Roundhouse yang keras.


Urfana memuntahkan tiga buah gigi dan bercakan darah dari mulutnya, "Hrraaahhh!!! Ia terus menerus berteriak."


Johannes secara instan dapat membaca Urfana, serangan dan pikirannya terlintas sebagai bayangan bacaan yang dapat ia hindari sebelum serangan itu dilancarkan.


Sebuah kemampuan Jardanish yang mewarisi kepingan dimensi ke-4, dimensi yang menghubungkan masa kini dengan masa depan.


"Aku bisa membaca masa depan seseorang dari ketidaktenangannya, tapi kau bisa membaca masa lalu....."


Buag! Buag! Buag!!


Tangan demi tangan putus, organ terlempar, mata yang berlubang, mereka beregenerasi satu sama lain. Semakin cepat kemampuan regenerasi itu seiring semakin panasnya tekad yang diperjuangkan.


"Bagaimana kau punya kemampuan untuk kembali ke masa lalu? Hanya dengan menatap mataku? Hei, Urfana. Apa kau bisa mengubah takdir masa sekarang dengan pergi ke masa lalu?"


Johannes mulai membuka pembatas kekuatannya yang pertama, sejak awal ia menahan diri.


S..sial, mata ini mulai kewalahan untuk membaca serangannya.


Urfana mulai merasa lelah, entah mengapa mata merah itu sedikit demi sedikit mulai kehilangan petunjuk untuk lebih unggul dibandingkan musuh.


Ini berbeda ketika ia melawan Christian Galeo, Keisal, Fatherknight.


Musuh yang sedang ia hadapi ini adalah entitas khusus yang tidak mudah untuk dianalisa, mata ini bahkan tidak dapat mengikutinya, mungkin latihan adalah solusi bagi mata ini.


Tapi Urfana tidak menyerah, ia tetap bangkit kembali meskipun telah terjatuh beberapa kali.


"Kau sangat unik, kau bahkan bukan B.L.E.S.S, kau hanya manusia biasa! Aku sudah melancarkan serangan untuk menghancurkan mata merah itu, tapi aku tak bisa menembusnya sama sekali."


Urfana meregenerasi tubuhnya, anak SMA ini punya potensi kuat yang memancing dunia. Kekuatan super adalah hal yang masih asing bagi jaman sekarang karena era damai ini.


Namun, sesungguhnya ada banyak sekali manusia yang memiliki kekuatan dan sihir dalam tubuhnya, namun hanya ada beberapa saja yang bisa membangkitkan potensi sesungguhnya dari diri mereka.


Berlaku bagi B.L.E.S.S yang bahkan manusia modifikasi, atau manusia biasa bahkan memilikinya.


Ini adalah dunia dimana Ouvel Euronova melegalisir sihir untuk alam bumi.


Johannes menaikkan level serangannya ke level yang lebih tinggi, Urfana tak bisa menahan serangan-serangan itu.

__ADS_1


Kemudian terlihatlah peluru dengan kecepatan 400 meter per detik menghantam lengan Johannes.


Johannes cukup terkejut, ia tidak menyangka jika ia tak mendengar atau merasakan peluru itu terbang ke arahnya.


Urfana kemudian melakukan serangan balasan yang membuat Johannes terpental 20 meter dari jaraknya saat ini.


Tubuhnya terlempar dan menghujam permukaan dengan cukup keras. Pria itu kemudian terkapar dan melihat ke arah langit.


Langit itu menangis, agak berwarna merah. Kejadian yang menimbulkan PTSD pada dirinya ketika pembantaian bangsa Jardanish.


Seketika pria itu dihujani oleh ledakan memori, yang membuatnya ingat momen-momen ratusan tahun. Berisikan tentang kebahagiaan, keburukan, kehampaan, dan kebisingan.


Urfana terdiam melihatnya melamun di tanah, mata Johannes meredup menjadi warna hitam.


"Ternyata kau memang ada di masa lalu ya....Nama aslimu adalah Ouvel Euronova. Kini aku ingat, hari ketika kau memberitahuku tentang pembantaian yang aku lakukan kepada bangsaku sendiri atas perintah World-Council."


"Ouvel? Euronova?" Urfana masih bingung, lagi-lagi nama itu berkumandang pada telinganya.


Urfana kemudian teringat, ia harus menyelesaikan semuanya sebelum tanggal 17 atau ia takkan bisa melihat Fadhilah lagi.


Tapi, Fadhilah berhasil selamat, ia mengetahuinya saat Corcus membisikkan soal Keisal kepadanya. Lalu, apa ini semua selesai ketika Fadhilah selamat?


Apa alasan mengapa aku tidak akan bisa melihat Fadhilah lagi jika aku tak bisa menyelesaikan ini?


"Ada yang ingin kutanyakan. Apa benar kau yang menculik Fadhilah? Atau ia sendiri yang datang kepadamu."


Urfana mulai jalan mendekati Johannes, kemudian ia duduk disebelahnya, "Karena konyol bagiku untuk bertarung demi wanita yang kucintai, aku sudah menyelamatkan Fadhilah beberapa kali. Namun aku tidak mengerti, mengapa kali ini ia terlihat berbeda? Seolah-olah ia yang datang kepadamu kali ini."


Urfana kemudian merebahkan dirinya bersama Johannes, suara-suara di sekitarnya seketika sunyi, benar-benar tidak terdengar ledakan, peluru, ataupun suara manusia.


Hanya suara hujan...


Johannes menutup matanya, lalu ia membuka matanya kembali.


"Fadhilah yang datang kepadaku, ia ingin menyelesaikan urusan masa lalunya denganku. Gadis itu ingin kabur dari rumah, Urfana. Tetapi ia menjual dirinya padaku, ia ingin aku melindunginya dari marabahaya yang akan datang kepadanya. Aku sama sekali tak pernah mendengar namamu terucap olehnya. Gadis itu.....mungkin sebenarnya ingin juga melihat perjuanganmu untuknya."


Semua kekacauan yang terjadi ditempat ini.......semua yang mati ditempat ini........semua yang menginginkan ketenangan dari lelahnya dunia ditempat ini......harus hancur karena keinginan seorang bocah lelaki yang ingin menyelamatkan gadis yang disukainya?


Apa itu yang ingin kau coba katakan dalam hatimu? Rahmania Urfana?


"Apa yang telah kuperbuat.....jika saja aku tak pernah kemari....mungkin kekacauan ini takkan terjadi."


..."Apa yang kau coba renungi? Bangunlah."...

__ADS_1


Terdengar suara bergema didalam kesenyapan kepalanya.


......"Apa kau ingin berhenti disini? Ini belum selesai, kau masih harus melakukan sesuatu."......


..."KITA HARUS BALAS DENDAM, INI ADALAH KEJADIAN YANG SUDAH ADA DALAM TAKDIR, KAU HARUS BANGUN ATAU AKU AKAN MERENGGUT SEMUANYA YANG KAU MILIKI"...


Urfana terpicu sakit kepala yang sangat hebat, ia berteriak dengan sangat kencang.


..."Ini adalah perjalanan untuk menebus dosa kehidupanmu sebelumnya, kau harus mengikuti apa yang kukatakan. Fadhilah selamat! Namun kau bodoh.....Kau membiarkannya tidur bersama pria ini. Kau mencintai gadis itu bukan?"...


"Hahh......HAARRRRGGGHHHH!!!!" Urfana berteriak kencang.


..."Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh Pria ini sepuasmu! Hancurkan dia! HANCURKAN HINGGA BERKEPING-KEPING!"...


Tanpa sadar, Urfana menggerakkan tubuhnya sendiri. Ia kemudian menghantam Johannes dengan batu sebesar kepala dan menghujamnya hingga wajah Johannes hancur.


Pria berjubah hitam itu muncul dihadapannya, pria dengan bertopeng itu berdiri dihadapannya.


"Semua yang telah hidup suatu hari nanti akan mati. Namun takkan pernah telat bagi seseorang untuk membayar apa yang ia telah mulai. Aku telah membunuh keturunan Jardanish yang lain, kini keturunan Jardanish mati bersamanya dan gadis itu takkan mewarisi keturunan dari darah lelaki ini. Dasar pria yang biadab...."


Urfana kemudian terbangun, ia saling tatap satu sama lain dengan pria misterius yang ada didepannya.


"Ouvel Euronova, kau akan terus maju. Kau akan menyelamatkan dunia ini kembali untuk menghentikan orang-orang itu dari keserakahan dan kebodohannya yang menghancurkan dunia ini."


Hujan kemudian berhenti, entah mengapa untuk hari ini. Matahari tiba-tiba terbit secara perlahan.


"Kau harus membalas dendam teman-teman baikmu pada mereka yang kini berada di puncak, orang yang membuatmu memutar balikkan waktu."


Corcus kemudian muncul, ia menyerang sosok pria yang sedang berada dihadapannya.


Namun, serangannya tertembus.


"Kita pernah hidup bersama, dan kita pernah mati bersama bukan? Corcus?" ia kemudian menghilang secara transparan.


..."Urfana, lanjutkan kehidupan ini. Karena kau harus hidup sebagai wujud balas dendam. Mereka harus membayar...."...


Urfana kemudian lemas dan terjatuh, Corcus menolongnya sebelum ia benar-benar terjatuh, ia memegang bajunya.


"Corcus.....Aku...."


"Tidak apa, ini bukan salahmu. Teman-temanmu selamat semua, sebaiknya mari kita pulang. Ingat baik-baik Urfana.."


Jangan menyalahkan dirimu atas sesuatu yang diluar kendalimu.....

__ADS_1


.......Bersambung.......


...----------------...


__ADS_2