
Tidak asing lagi bahwa dalam dunia premanisme Cimahi mengenai siapa yang paling kuat diantara mereka yang menjadi pemegang kuasa di jalanan.
Dia yang menjadi sosok kekejaman dan aturan absolut didalam masyarakat yang dikenal sebagai Kebal bacok, Toni Nurjaman, yang pernah menjadi pemimpin kubu Harimau.
Dia pernah berkuasa selama 5 tahun pada kala itu sebagai preman terkuat yang mengendalikan jalanan. Namun itu cerita ketika belum adanya perlawanan atas nama masyarakat.
Kepolisian resor dan pemerintah daerah tak mampu menghentikan maraknya kekuasaan mereka saat itu karena pihak mereka sendiri telah disuap oleh dia yang menempati kursi No. 4 di Undervalue, Fatherknight.
Toni Nurjaman menguasai kota Cimahi sebagai titipan dari Fatherknight karena telah menjadi eksekutif Painraiders.
"Pada kala itu, pertumpahan darah dimana-mana. Tidak sedikit orang yang terkena tebas karena telat bayar iuran atau tidak bayar iuran." ucap kakek tua yang sedang menonton keramaian destruktif di lapangan dari atap rumahnya.
Lalu cucunya bertanya kembali setelah ia melihat dengan mata dan kepala sendiri apa yang kakeknya liat saat ini.
"Kek, kenapa ada banyak preman sama polisi yang saling bertengkar?"
Kakek itu kemudian mengelus kepala cucunya dan kemudian cucunya itu memeluk kaki sang kakek.
"Karena perang belum berakhir, seseorang sedang berjuang untuk membebaskan kita dari aturan dan teror yang kita alami sekarang ini."
...Jadi kamu telah kembali, wahai sang pemimpin dari kubu Elang, Brother si pejuang kebebasan yang selalu bermimpi untuk terbang tinggi....
Kerumunan polisi, geng Anjing-Liar, dan kubu Elang berperang dalam tiga pihak berbeda. Suasana disana bagaikan medan perang, pertumpahan darah terjadi dimana-mana.
Kericuhan yang disebabkan tiga pihak itu menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap pihak berwenang semakin mengurang disebabkan lemahnya sebuah pasukan yang dikirimkan untuk menghentikan bentrokan antar dua geng itu.
"Lindungi bos!! Halangi ia agar tidak mendekati bos!!"
Joon melarikan diri dari perkelahian geng itu setelah hampir dibunuh oleh Farel karena kemarahannya atas perbuatan buruk yang ia lakukan terhadap Sandra dan Reska.
Berita ini menyebar dengan luas ke seluruh bagian provinsi setelah viralnya video dari platform sosial media.
Tidak lama setelah itu, rombongan para tentara masuk dan menembakkan peluru peringatan kepada seluruh orang yang berkelahi.
Semua yang menyadari itu kemudian berlari melarikan diri setelah lemparan gas air mata mengenai tanah dan menyebar.
Farel yang masih tidak terima kemudian mengejar Joon yang diangkut menggunakan mobil pickup.
Kejadian pada hari itu kemudian dikenal sebagai Cimahi Berdarah.
Peperangan terbesar antar preman yang pernah terjadi disana.
Dampak yang terjadi selama itu terjadi adalah tertekannya kekuasaan Anjing-Liar setelah hilangnya nyawa Joon yang memimpin geng Anjing-Liar setelah berhasil dibunuh oleh pemimpin Kubu Elang yang mengejar Joon dan membunuh semua yang menghalanginya.
Salah satu pilar dari Toni Nurjaman telah jatuh dan kini kekuasaannya di dunia premanisme telah bubar karena kuantitas preman yang banyak tidak dapat ditransparasi oleh berita dan memancing perhatian pemerintah pusat.
...----------------...
19-08-2016 / 22:00
"Jadi si Brother telah kembali? Dia yang memiliki pasukan sedikit berhasil menggulingkan keadaan dan salah satu pilar yang kita bangun?" ucap Toni.
"Begitulah pak, kini kita takkan bisa mendapatkan iuran lagi dari tiap tempat karena sebagian dari mereka ditangkap dan terbunuh, bahkan yang melarikan diri juga melepaskan hubungan dengan kita" Simaganjar takut melihat bosnya marah.
__ADS_1
"Pergilah, Simaganjar. Bisnis yang bagian peminjaman uang dan proyek kita masih bisa kita atasi. Kita hanya kehilangan kekuasaan pada dunia jalanan dan juga kepolisian yang terbatasi."
Simaganjar pergi meninggalkan ruangan dengan keringatnya yang bercucuran mengotori lantai mewah di ruangan milik Toni.
Orang yang telah merasa memiliki segalanya itu kini hanya bisa duduk dan menghela nafas, ia sama sekali tak mengerti kenapa ia tidak marah atas semua hal itu.
"Fatherknight, engkau dengan mudahnya pergi pada hari itu dan engkau kehilangan segalanya termasuk nyawamu. Apa mungkin ini adalah giliranku juga? Bagaimana dengan Obani? Jennifer? Keisal? Aku sama sekali tak mendengar apapun dari mereka."
Toni meminum Soju secara langsung sebanyak 1 botol.
"Guahhh, ahahahaha. Sepertinya kenikmatan ini akan segera berakhir. Aku tidak menyangka bahwa ini berlangsung begitu cepat hahahaha!"
Toni kemudian menari-nari sendiri dengan lagu klasik yang ia setel. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada kekuasaannya.
Depresi karena melihat Fatherknight runtuh, ia rapuh setelah menghilangnya orang yang ia anggap sebagai pahlawan.
Toni yang asalnya hanya seorang pengemis diubah menjadi seorang preman yang kuat dan menyatukan seluruh kota berkat kemampuan bertarung dan cara berpikirnya.
"Namun itu cerita lama, dan kau sedang dalam pengaruh narkoba." berdiri seseorang didepan pintu yang terbuka menganga.
"Eh? Siapa kau?"
"Karena ini adalah hari terakhir dimana kau akan hidup, akan kuberitahu. Pahlawanmu dikalahkan oleh pahlawanku. Dan kini aku akan mengambil segalanya yang kau miliki. Aku adalah Liran Al-Qaesim, akulah yang memulai perang ini."
Toni merasa agak pusing setelah kehadiran Liran didepannya.
"Toni, biar kukatakan sesuatu. Fatherknight sudah mati, Obani sudah mati, Jennifer dipenjara, dan Keisal sekarat. Kau dekat dengan Keisal bukan?"
"Kau mengenal kami?!! Lalu kau berani berkata selancang itu padaku padahal kau cuma anak kecil yang lemah?!!" Toni murka, kemudian ia melempar botol Soju ke arah muka Liran.
"Semua bawahanmu sudah kuserahkan pada masyarakat, kalian akan dilahap oleh apa yang kalian buat derita. Dan itu sudah kusampaikan secara rahasia kepada wakil walikota yang memiliki keinginan murni."
"Sial, sejak kapan kau memulai semua rencana ini hah!! Kau menghancurkan semua yang telah kubangun!!!"
Toni mencoba memukul Liran saat sedang mabuk.
Liran cukup kaget, namun bukan karena dipukul oleh si Maung yang sangat kuat, tapi karena dirinya ternyata bukan seorang pecundang lagi.
"Kalau tidak salah, Urfana memukul Christian seperti ini...." Liran mencoba memukul seperti Urfana.
Sebuah pukulan terlayang ke wajahnya dengan cepat. Dan secara tidak sadar Toni Nurjaman terjatuh. Ia kesulitan untuk berdiri karena kadar mabuknya ada ditingkat tinggi.
"Apa ini? Kau lemah sekali, atau aku yang terlalu kuat?" Liran tidak menyangka bahwa pukulannya efektif.
"Uhuk, uhuk!!" Toni mengeluarkan dahak dari batuknya.
Tidak lama kemudian, Farel datang dan melihat Liran sedang berdiri dan memasukkan lengannya ke saku.
Pria itu, bermandikan air darah dan penuh sayatan pisau yang mengoreh kulitnya.
"Liran, sejujurnya aku berterima kasih karena kau telah memberi informasi tentang Sandra, namun sahabatku....sahabatku Reska mati karenamu....!" Farel menggenggam tongkat kasti dengan sangat kuat sambil menahan emosi.
Liran kemudian berbalik dan melihat ke Farel.
__ADS_1
"Bukankah kau yang menuai bensin dan membakarnya sendiri? Aku hanya menawarimu korek api? Ini adalah salah Joon, dan kau sangat tahu soal itu. Kau hanya tak bisa menemukan orang yang bisa disalahkan bukan?"
Liran kemudian memegang pundak milik Farel, lalu menepuknya dua kali.
"Toni adalah milikmu, dialah yang memulai semua ini."
Liran kemudian mulai berjalan meninggalkan mereka berdua. Ia memberikan Farel musuh yang sangat ingin ia bunuh dan membuatnya melarikan diri dari masa lalu.
"Kau....monster....selanjutnya kemana kau akan pergi?" Farel masih menggenggam tongkat itu dengan emosi.
"Kupikir sesuatu yang dimiliki Toni adalah yang kuinginkan, tapi ternyata ini sama sekali tidak menarik. Sepertinya terlalu banyak kekotoran yang tak mampu dibersihkan disini." Liran menjinjing tas besar yang berisikan uang.
"Apa maksudmu?"
Liran melangkah menjauhi Farel tanpa menjawab pertanyaannya. Ia kemudian menyewa taksi dan pergi dari tempat itu.
Sementara Farel ada diambang kebingungan dan penuh emosi. Kebingungan karena apa yang dikatakan Liran dan emosi karena Toni yang merusak segalanya.
Selama bermain Revolution Arc di GS4, aku selalu menyukai peran pahlawan yang dianggap kriminal karena menjadi musuh pemerintah. Kini aku meruntuhkan pusat oknum yang mengatur kekuasaan kota mulai dari preman, kepolisian, pejabat sama seperti yang Amon lakukan.
Apakah aku jahat karena aku menyebabkan pertumpahan darah dalam prosesnya?
Memangnya berapa harga yang pantas untuk menghilangkan kejahatan yang dibangun atas hierarki dan kebijakan yang merugikan mereka yang dibawah?
Hei, Rahmania Urfana. Sepertinya aku tak bisa mengikutimu sebagai pahlawan, karena pahlawan harus bersinar dimata banyak orang dan menjadi orang yang dikagumi. Sedangkan aku adalah kegelapan yang hanya akan menodaimu.
Aku ingin membalaskan dendamku kepada keluarga pejabat Tsajaka dan mencari keberadaan Ibu dan Ayah. Semakin aku berjalan, aku kehilangan cahaya dan ditelan oleh gelap. Namun aku bisa merasakan bahwa aku semakin dekat dengan kebenaran, semakin dekat dengan tujuan.
Aku akan membangun kekuatanku sendiri, membebaskan ibu, ayah, dan merubah negeri ini sebagai negeri yang nyaman ditempati semua orang.
Aku akan mengendalikan semua kejahatan sehingga tak ada satupun yang akan melakukan perilaku kejahatan lagi.
Meskipun kini aku di cap sebagai orang jahat, tapi tujuanku baik. Aku tidak salah.
Para warga mulai memasuki kawasan kediaman Toni Nurjaman dan merusak semua properti miliknya.
"Bapak ga nyangka banget, bisa-bisanya ada orang yang berani ngendaliin oknum dan bikin susah hidup disini. Syukurlah, sekarang rumah orang itu dibakar dan sekarang sepertinya pemerintah Nusantara akan menindaklanjuti pemerintahan kota ini dan membenahi semuanya." kata supir taksi itu.
"Iya."
"Ngomong-ngomong, pahlawan." kata supir taksi itu.
"?" Liran tiba-tiba terkejut ada yang memanggilnya seperti itu.
"Kenapa bapak memanggilku begitu?"
"Kau yang melakukannya bukan? Kau yang membuat kekuasaan Toni Nurjaman runtuh? Kenapa kau mau berbuat sejauh ini?"
Liran tersenyum, persepsi tukang taksi ini sangatlah kuat.
"Ini cuma tindakan balas budi......"
..........Bersambung..........
__ADS_1
...----------------...