Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

15-08-2016 / 10:30


"Semuanya sudah berkumpul disini?" tanya Ranggi yang sudah menyelesaikan naskah dan jurnal dari tugas yang kemarin diselesaikan Keisal dan Urfana.


Berkumpullah mereka di Fire Rainbow daerah Lembang. Ranggi, Keisal, Valin, Melviana, dan Hartono.


"Sekarang, akan kujelaskan dalam rinci dan jangan melewatkan satupun detail kecil untuk keberhasilan esok. Satu orang telah tumbang, meski begitu itu tak mengubah keinginan kita untuk menumbangkan si bedeb*h yang telah merugikan kita semua."


Ranggi memikirkan alur terbaik sebagai jalan pembuka diskusi ini. Entah mengapa ia merasa tegang setelah melihat Urfana yang tertembak itu tiba-tiba mengeluarkan kekuatan yang luar biasa dari matanya.


Bukan hanya Johannes dan Girana yang melihatnya. Ranggi adalah saksi mata dari kamera yang disisipkan di kancing.


Itu adalah hal yang paling tidak biasa dan tak pernah disangka dalam seumur hidupnya.


Mengatakannya disini pun siapa yang akan percaya? Setidaknya secercah cahaya menunjukkan bahwa awan yang tertutup kegelapan telah membuka jalan masuknya cahaya.


Namun sayang, alat pendengar yang dipasang pada kancing dibawah kamera itu tak begitu bisa menangkap suara dengan jelas karena gelombang kekuatan yang diciptakan mata kanan tersebut.


Ia kemudian mulai menjelaskan mengenai ringkasan tugas aliansi kemarin beserta informasi yang didapatkan.


Semuanya mencermati dengan sangat serius, tidak terlihat adanya candaan dalam raut wajah mereka.


Tidak ada waktu untuk terus menangisi teman yang berjuang sangat keras hingga nyawa jadi taruhannya.


Namun hal yang cukup mengejutkan adalah datangnya salah satu anggota dari Noparents yang tidak begitu dikenal.


"Salam kenal, namaku adalah Taroe. Aku siap untuk bertugas dibawah kendali kalian, sesuai dengan permintaan sang Wakil Presiden dari Noparents." Taroe, pria berumur 18 tahun itu memperkenalkan diri dihadapan musuhnya.


Valin kemudian menodongkan ujung kakinya di leher Taroe dengan sigap.


"Kakakku! Katakan dimana ia sekarang!!!" teriak Valin yang terdengar begitu pasrah ingin kakaknya kembali.


Keisal langsung menarik Valin untuk tetap bersikap tenang dan menyuruh mereka duduk dan berdiskusi.


"Dengar, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Tapi kau tidak bisa bersikap seperti ini Valin!!" Keisal menceramahi Valin yang hampir kehilangan kendali.


Melviana menghela nafas, "Tenanglah, kita harus segera bertindak. Waktu kita tidak banyak, dan lawan kita terlalu kuat."

__ADS_1


"Taroe." panggil Ranggi.


Taroe langsung mengangguk dan memberikan berkas penting.


9 eksekutif Noparents beserta bosnya.


Terlihat informasi yang mencantumkan foto, umur, jenis kelamin, tanggal kelahiran.


"Ini?!" Melviana terkejut melihatnya.


"Ya, tapi tidak ada data mengenai si No.3 dan Wakil Presiden. Secara urutan organisasi Wakil Presiden masuk menjadi No.2 di Noparents dan No. 1 adalah Johannes itu sendiri bukan?" tanya Keisal.


Taroe membalas, "Benar. Wakil Presiden hadir sebagai eksekutif pertama. Jadi bisa dibilang bahwa Johannes terpisah dari hitungan sembilan eksekutif."


"Jadi disana ada sepuluh orang paling berpengaruh." balas Hartono terhadap ungkapan itu.


Melviana kemudian berinisiatif untuk menempelkan pas foto milik Galang ke bagian No. 3 di berkas itu.


Ranggi kemudian memindahkan foto Galang ke No. 2, "Tidak, No. 3 dari Noparents adalah cewek."


Ranggi kemudian menunjukkan sebuah presentasi yang ia susun menggunakan Proyektor.


Keisal dan Melviana hanya fokus kepada Galang. Sejak awal tujuan mereka berdua adalah untuk meminta kepastian dan kebenarannya.


Valin tidak percaya bahwa ia tak melihat kakaknya didalam sembilan eksekutif. Ia padahal pernah menyusup ke tempat itu hanya untuk mencari tahu informasi kakaknya.


Valin tahu bahwa tiga tahun kemarin kakaknya adalah Wakil Presiden. Namun entah mengapa ia tak ada didaftar ini seolah-olah sejarah menelannya.


"Ranggi, kapan kamu terakhir kali mengecek kamera Urfana?" tanya Hartono.


"Kameranya....."


Ranggi tahu, bahwa kameranya hancur karena kekuatan mata Urfana. Namun ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya.


"Setidaknya kamu punya rekamannya bukan? Kita harus melihat visual seperti apa terakhir kali rekaman itu tunjukan." Asisten Melviana itu memiliki persepsi kuat, ia tak melewatkan celah kejanggalan di dalam pikirannya.


Ranggi kemudian menunjukkan rekaman Johannes yang sedang berteriak dan berjuang keras melawan kuasa mata kanan milik Urfana.

__ADS_1


Mereka semua terdiam melihat rekaman tersebut, tidak paham apa yang sedang terjadi namun cukup menjelaskan bahwa Urfana tidak sepenuhnya mati.


"Dia?....bukannya ditembak dibagian kepala?" Keisal menganga melihat rekaman itu.


"Benar, ia memang tertembak. Aku adalah saksi mata." balas Taroe.


"Aku tidak melihat siapa-siapa selain Girana di ruangan itu. Urfana sudah mengarahkan kamera dengan baik ke seluruh sudut ruangan kecil itu." kata Ranggi.


Taroe kemudian membenarkan posisi kacamatanya, "Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Tapi biar kukatakan bahwa Noparents memiliki laboratorium rahasia dibawah Grand Angkasawira."


"Siapa kau sebenarnya? Kau bahkan tidak punya otoritas dalam organisasi tapi kau terlihat seperti dapat bergerak dengan leluasa disana?" tanya Keisal.


Taroe kemudian memberikan satu kertas A4 berisikan huruf, angka, dan simbol special.


"Ini adalah akses yang bisa kalian gunakan dari lift Penthouse milik Johannes, dan bisa digunakan untuk pergi ke Laboratorium tersebut. Menggunakan komputer cukup sulit juga, tapi sepertinya aku sudah cukup membantu. Selamat tinggal kalian semua."


Taroe kemudian kehilangan kesadaran dan tergeletak di lantai. Ia telah menjadi boneka dan wadah yang dapat Corcus kendalikan untuk berinteraksi.


"Ranggi, apa benar bahwa kau yang mengundang orang ini kemari?" kata Melviana.


"Tidak, aku sama sekali tidak mengundangnya. Tapi kenapa ia tiba-tiba datang kemari dan memberi tahu kita soal ini? Apa benar Galang mengirimkan bantuan informasi untuk kita?"


Mereka berlima kemudian memutuskan untuk menunda penyusunan rencana dalam 5 menit sejenak sambil dihidangi minuman dan makanan untuk mengisi energi mereka.


Sedangkan Corcus pergi dari tempat tersebut dan ingin mencari tahu tentang keberadaan Yohan Arunaldi yang menjadi sorotan sekilas dari pembicaraan Galang dan Lorenzo.


"Setiap kali Urfana berurusan dengan penjahat besar, selalu saja terlibat Yohan Arunaldi didalamnya. Dan yang digunakan oleh penjahat hanyalah putrinya, mereka tidak menculik anak laki-laki maupun istrinya."


Corcus kemudian terbang dan pergi ke tempat kediaman Yohan Arunaldi.


"Bagaimanapun, teka-teki terbesar ada pada identitas orang tersebut. Johannes pasti memiliki hubungan rahasia dengan Yohan Arunaldi dibandingkan masa lalunya dengan Fadhilah. Pria ini seolah-olah jauh lebih mengenal ayahnya dibandingkan putrinya sendiri yang disandera."


Arwah terbang itu merubah arah terbangnya, ada hal yang jauh lebih penting dibandingkan Yohan Arunaldi.


"Linberg Gates...."


Benar, hanya dialah yang bisa menjawab semua hal tentang Johannes Gates.

__ADS_1


..........Bersambung..........


...----------------...


__ADS_2