Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Black Day (2)


__ADS_3

"Melviana." sapa Rion dengan ramah


"Rion?"


Rion duduk disebelah Melviana, ia merapihkan jaketnya dan membersihkan sarung tangan miliknya selagi menunggu Urfana mulai maju menghadapi Keisal.


Penonton sudah mulai bersorak dengan meriah dan memberikan dukungan pada Keisal.


"Kau masih belum maju? Yaampun, aku bahkan tidak memasang kuda-kuda melawanmu." Keisal memasukan kedua tangannya ke saku dan membuka celah untuk Urfana menyerang.


Urfana tahu bahwa sosok yang bernama Keisal Saniswara adalah orang yang tak bisa diprediksi, ia tak pernah bertarung melawan Keisal.


Pertarungan tidak bisa selesai jika tidak ada yang maju untuk menyerang, namun ia sama sekali masih mengelilingi Keisal secara perlahan sambil mencoba melihat celah.


Keisal sama sekali tidak menoleh pada Urfana yang terus berganti posisi, satu hal yang jelas adalah Keisal tahu bagaimana Urfana bertarung, sedangkan Urfana tak mengenalnya.


...Sebenarnya, seperti apa Karate dan Aikido itu?...


Terlalu banyak pertanyaan dibenak yang membuatnya tak bisa menyerang.


"Majulah brengsek, kenapa menungguku untuk maju? Singkirkan juga penutup mata itu karena aku ingin melihatnya." Keisal membalikkan tubuhnya dan terkejut melihat Tinju milik Urfana dilayangkan pada wajahnya.


Sebelum mengenai wajahnya, Keisal mengelak pukulan tersebut dan menjungkirbalikkan Urfana.


"Aikido!" Rion terkejut melihat reflek Keisal yang mampu menemukan titik celah Urfana secara langsung.


Urfana kemudian bangun kembali dan mengambil posisi sejauh 5 langkah dari Keisal.


"Aku sudah melihat banyak petinju dan bertarung dengan petinju. Tapi apa kau pernah melihat teknik yang tadi kupakai?"


Urfana maju kembali melayangkan kombo tinju miliknya, Keisal menghindar dan menahan semua serangan milik Urfana.


Keisal mengepalkan tangannya, ia mengumpulkan seluruh tenaga ditubuhnya untuk disalurkan pada tangan kanannya.


Keisal berencana untuk menjatuhkan Urfana dalam satu pukulan ke bagian tengah dadanya, ketika itu juga Urfana langsung melindungi dadanya.


"BUAG"


Urfana terbang kebelakang sejauh 10 sentimeter. Ia bisa merasakan tangannya sakit setelah menahan serangan itu. Rasanya bahkan jauh lebih keras dibandingkan oleh pemukul Baseball.


"Urfana...." Keisal membuka telapak tangannya setelah memukul Urfana.


Keisal hanya berdiri disana sambil menatap telapak tangannya sedangkan Urfana masih memasang kuda-kudanya.


Tak lama kemudian ia merobek kaosnya sendiri dan terlihatlah badan idaman kaum wanita, berotot dan memiliki lemak yang sedikit. Penuh jahitan bekas luka sayat ada pada tubuhnya.


Anak berumur 17 tahun itu sudah melalui banyak momen yang menyiksa dirinya selama hidup.


"Kau takkan bisa mengalahkanku, dan kau akan mati disini...." ucap Keisal dengan tatapan kosongnya.


Reggie merasakan hal yang aneh saat melihat Keisal bertarung, ia terlihat sangat tenang dan tidak emosi. Secara langsung ia pernah bertarung dengan Keisal meskipun tidak sampai selesai.


Keisal adalah ketua geng dengan reputasi brutal dan sosiopat, suka menyiksa lawan terutama ketika darah terciprat pada wajahnya sambil tersenyum.


Keisal bahkan merasa tidak bergairah untuk bertarung. Ia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya.


Ranggi telah menukar narkoba yang biasa Keisal pakai dengan obat depresan dan penenang. Sehingga sarafnya tak bekerja ketika adrenalin terpancing oleh gestur liarnya.


Keisal meminum obat tersebut ketika ia berada diruangan pribadinya, saat Battle-Royale berjalan.


"Baiklah, jagoan yang dipanggil pahlawan. 10 serangan pertama adalah milikmu." Keisal benar-benar membiarkan dirinya penuh celah.


Urfana langsung maju dengan kuda-kudanya yang terpasang, ia melangkah dengan cepat dan melayangkan pukulan tepat ke wajah Keisal.


Keisal sama sekali tak memberikan reaksi yang mengejutkan, rasanya seperti memukul mayat. Namun tentunya darah tetap keluar dari hidungnya.


Urfana menghajar Keisal dengan sepenuh tenaga, ia mengurangi intensitas serangan dan memenuhkan semua aspek tenaga yang terpusat pada Tinjunya.


Keisal terjatuh saat Urfana melayangkan pukulan terakhirnya pada ulu hati.


"Aneh, sama sekali ga sakit." Keisal bangkit kembali setelah dihajar.


Keisal kemudian maju dan mengayunkan kakinya pada bahu kanan Urfana dan melontarkan tangan kanannya ke ulu hati milik Urfana.


"Ahg..." Urfana memuntahkan darah dari mulutnya.


Keisal berjalan pelan-pelan, ia menarik penutup mata kanan Urfana dan melemparkannya dengan jauh.


"Kita bertarung dengan penuh dedikasi. Kau tidak buta, kau seharusnya hargai aku dan bertarunglah dengan benar...." Keisal membantu Urfana bangun lalu menepuk-nepuk bajunya yang terkena debu.


Melviana sendiri tidak menyangka akan melihat Keisal sebegitu sportifnya, Keisal mungkin tidak tahu bahwa Melviana hadir ditempat ini, namun ia hanya mengikuti apa yang obat perintahkan pada sel tubuhnya.


Danawi yang sangat ingin melihat Urfana dihajar dengan brutal seolah-olah sedang melihat ikan yang memanjat pohon.


Keisal lalu merasa mual dan pergi menjauh dari Urfana, ia memuntahkan darah dan mulai berhalusinasi.


"Keisal...."


"Guhahahahaha!!!" Keisal kemudian mengeluarkan tawaan gila yang ditunggu-tunggu oleh semua penggemarnya.

__ADS_1


Tubuhnya sangat panas, dan ia mulai kehilangan kesadaran moral dan mulai menatap lawannya seperti berburu mangsa.


"Mengapa kau menculik Fadhilah?"


Keisal melompat kearah Urfana dan menendang sikut kirinya yang melindungi wajahnya. Sikutnya patah setelah menahan tendangan itu.


Rambut Urfana dijenggut oleh Keisal, Keisal mematahkan tulang hidung Urfana dengan serangan lututnya.


Keisal mendorong Urfana lalu melancarkan serangan Uppercut yang membuat Urfana terjatuh.


"Lagi-lagi Killing-Maniac, menyelesaikan pertarungan dengan cepat !!"


"Aku kecewa denganmu, kukira kau akan memuaskan diriku. Yah, tidak masalah. Karena besok aku akan tidur dengan Fadhilah."


Keisal menjilat darah Urfana yang tercecer pada lantai area bertarung.


"Gadis itu sangat cantik dan menggoda. Badannya mulus dan wahahaha."


Urfana berusaha bangun dengan kaki yang sudah tak bertenaga, tangan kirinya retak dan patah. Bahkan kepalanya berdarah oleh tekanan fisik yang Keisal berikan.


"Kak, kakak lama sekali ke toilet." sapa salah satu anggota Taring-Harimau terhadap Toriko.


"Keisal? Sedang lawan siapa dia?" tanya Toriko.


"Hanya kroco yang besar kepala. Lihatlah seberapa terbantainya oleh Keisal." balas jawab anggota tersebut.


"Tch." Toriko membalikkan wajah dan memilih untuk pulang melalui koridor umum.


"HUAAAAAAAHHHHH" Keisal teriak kesakitan. Hingga menangis.


Ia tak menyangka bahwa Urfana akan melompat dan merobek kulit dipundaknya sampai terlihat daging.


Setelah itu, Urfana langsung melancarkan seluruh serangan yang diarahkan oleh mata kanannya secara sempurna.


Ia memaksakan diri dan menganggap bahwa rasa sakit miliknya hanyalah tipuan.


Urfana benar-benar marah, amat sangat marah, dipenuhi dengan dendam dan naluri pembunuh.


...Aku sudah berjanji padanya......


Urfana mulai bertarung dengan lebih kotor, bahkan ia sama sekali tak peduli jika Keisal mati dengan cara yang tidak manusiawi.


"Oi... OI! Seseorang hentikan dia!!" teriak Danawi yang melihat Keisal dihajar tanpa ampun.


......Untuk selalu mengingat dan melindunginya.......


"Ini terlalu sadis!!" Reggie terkejut melihat Urfana yang sebegitu jauhnya menghajar Keisal.


...----------------...


"Ada apa dengan penutup mata itu?" tanya Jason di halaman belakang rumah Urfana.


"Ini? Aku....."


"Tak apa, aku takkan bilang Urfan."


Urfana membuka penutup matanya, terlihatlah mata kanan berpupil merah yang dapat bersinar.


"Whoa... Lihat mata itu, itu membuat tubuhku kesemutan hahahaha."


"Bagaimana menurutmu?" tanya Urfana sambil tersenyum.


"Kalau begitu, Rahmania Urfana akan kembali menjadi orang itu."


"Ya..... Dia hanya tertidur, dan akan bangun ketika waktunya sudah tepat." balas Urfana yang menyiapkan kuda kuda tinju melawan Jason.


Keisal kewalahan menghadapi Urfana yang mengamuk. Meskipun ia masih berada dalam kondisi prima, tetapi tubuhnya tiba-tiba tak bisa menerima serangan yang Urfana berikan.


Keisal bukanlah satu-satunya monster ketika sudah mengamuk, diri Urfana yang paling gelap akan bangkit ketika ia sudah berada diambang pupus harapan.


Jika Melviana adalah pemicu Keisal, maka Fadhilah adalah pemicu Urfana. Jason selalu berada di level yang sama dengan Keisal dan ketua geng lainnya, dan Jason pernah menyaksikan dirinya dihabisi Urfana ketika SD.


Namun hari ketika Jason dihabisi bukanlah karena Fadhilah, namun karena Kartu Memori GS2 yang berisikan save banyak game dihancurkan oleh Jason.


"Keisal, kau pasti bisa!!" teriak Junadi memberikan dukungan pada bosnya.


"Jaeger...itu pasti dia..." ucap Toriko melihat Urfana.


Orang yang sedang menghajar Keisal adalah Jaeger, didalam kota ini lebih identik dengan sebutan Jeger yang artinya adalah jagoan.


Jaeger adalah sebutan untuk seseorang yang bertarung seperti serigala yang memburu mangsanya, tidak ada yang bisa membaca serangan seorang pemburu karena ini bukan soal bertarung, namun membunuh.


Urfana membawa sisi gelap dari masa lalunya ke kehidupan normalnya,


Ketika ia keluar dari SMP saat kelas 1, ia hidup sebagai serigala di jalanan. Tidak ada satupun dari mereka yang tahu tentang masa lalu Rahmania Urfana.


Makan atau dimakan, itulah kejamnya dunia ini.


"Serigala, tidak akan salah dalam memilih mangsa ketika ia lapar. Ia tahu apa yang akan ia makan." Toriko mulai tertarik dengan Rahmania Urfana, lebih tepatnya mendewakan dirinya.

__ADS_1


Wargiant turun ke arena dan berlari ke arah Urfana.


Hasan dengan sergap langsung menghentikan Wargiant dengan menjatuhkannya.


"Hasan, kenapa kau menghentikan Wargiant? Kau dipihak siapa?!" teriak Junadi yang marah.


"Pihakku." balas Rion dengan santai dari tempat penonton.


Rion langsung turun kebawah sambil melakukan lompatan akrobatik.


"Melvi... a..." Keisal sudah sekarat.


Urfana kemudian kehilangan kesadarannya dan masuk kedalam ingatan yang sedang Keisal pikirkan.


Ia melihat percakapan antara Keisal dan Melviana dalam ingatan milik Keisal


"Melviana ini semua hanyalah salah paham"


"Kau sudah merusak segalanya Keisal, aku membencimu. Dan akan selalu membencimu !!"


Urfana kemudian meraih kesadarannya dan berhenti memukul Keisal.


Semua anak buah Keisal turun ke bawah arena dan mengepung Rion dan Hasan.


"Hasan?!" teriak Melviana, ia berdiri dan berjalan ke pagar.


"Melviana?"


"Sial, ini jadi cukup berbahaya." ucap Hasan.


"65 Troy-Skusher dengan eksekutifnya melawan Hasan, Si Jepang dan Urfana." ucap Vicky sambil mengayunkan tongkat pemukulnya.


"Salah!!" teriak Ranggi.


Semuanya menoleh pada layar yang digantung di setiap spot arena.


"Melawan Clubboys dan melawan Taring-Harimau." Ranggi melakukan siaran langsung dari ruangan VIPnya.


"Kerja bagus Ranggi, kau ternyata bisa diandalkan!" ucap Obani yang keluar dari ruangan Keisal bersama dengan Jennifer.


Lalu terlihatlah 50 personil Painraiders yang menghalang masing-masing 8 koridor termasuk pintu rahasia ke Bar Cafe Rainbow.


"Troy-Skusher, Clubboys, Taring Harimau. Menyerahlah sekarang juga, jika kalian menyerahkan diri disini takkan ada yang harus mati. Begitu juga dengan para penonton." ucap Ranggi, mengancam teman-temannya sendiri dan geng lainnya.


"RANGGI!!" teriak Fernando yang marah setelah ia tahu bahwa Ranggi berkhianat.


Pada saat itu juga, Clubboys dan Taring-Harimau yang tadinya ingin saling membantai satu sama lain bersama dengan Troy-Skusher merubah pikirannya.


Mereka saling menatap satu sama lain tanpa adanya rasa benci dan memutuskan untuk bekerja sama melawan musuh yang lebih kuat, Painraiders.


"Handphone kalian semua sudah kami sita sebelum masuk ke pertandingan. Takkan ada yang bisa lari atau menghubungi bantuan."


Ranggi menutup semua akses jalan keluar dan membiarkan Painraiders membantai semua yang disini.


Siaran langsung berubah menjadi seluruh visual kamera CCTV, ia berencana untuk menjual semua video tersebut untuk keuntungan pribadi.


Jennifer menatap Rion dari jarak jauh dan ia terkejut melihat keberadaannya disini. Tentunya sebagai orang nomor 2 di Painraiders tidak dapat dipungkiri bahwa ia tak mengenal sesama anggota dari Undervalue.


"Phaseon?! Shadow Snake!!"


Phaseon, adalah nama kode samaran yang digunakan Rion sebagai identitasnya di Undervalue, Shadow Snake adalah julukan yang diberikan padanya.


Rion menatap ke arah Jennifer dan mengenalinya. Rion hanya membalas ekspresi Jennifer dengan senyuman.


Pada dasarnya bagi Obani dan Jennifer, 3 Geng yang sedang terkurung ditempat ini hanyalah mangsa yang siap dilahapnya, namun fakta bahwa tangan kanan Raja No. 1 Undervalue ada disini adalah miskalkulasi dan resiko berbahaya yang tak dapat diabaikan.


"Ugh..." Urfana mencoba berdiri, tubuhnya masih merasa sakit akibat pertarungan yang sudah terjadi.


"Urfana, diamlah bersama Keisal." ucap Hasan.


Hasan mencari keberadaan Liran karena ia harus melindungi adik kelas basketnya, mereka berdua memiliki hubungan baik selama eskul.


Danawi, Wargiant, dan Junadi kemudian berlari mendekati Keisal untuk melindunginya.


"Maaf kawan, kukira kau berkhianat." ucap Junadi pada Hasan.


"Tak apa, tolong lindungi Keisal dan Urfana. Mulai saat ini aku adalah wakil ketua Troy-Skusher, dan Urfana bukan musuh lagi, melainkan sekutu." Hasan mengambil kendali organisasi dan menjadi perwakilan geng saat ini.


"Hasan!!! Aku akan mencari cara untuk membuat kita terhubung keluar!!" teriak Fernando.


Vicky dan Fernando langsung pergi, bertarung untuk mendapatkan akses ke ruangan kantor Keisal.


Rion tidak mengkhawatirkan Melviana karena ia bersama dengan pengawalnya, ia sudah mengetahui kekuatan pengawal tersebut.


"Painraiders........." Urfana mengeluarkan suara yang berat dan penuh serak.


"Urfan?" tanya Rion.


Urfana berdiri dengan sendirinya, ia mengeluarkan aura berwarna merah yang terpancar dari matanya. Semua orang terkejut melihat adanya gelombang angin yang disebabkan oleh Urfana.

__ADS_1


"Kalian akan membayar untuk semuanya!!!"


.......Bersambung.......


__ADS_2