Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler

Stake Of Liberty : The Journey Of Worldruler
Inspektur Rimmer


__ADS_3

22-08-2016 / 14:45


"Begitulah ceritanya, bagaimanapun juga Kak Farel adalah orang yang menyelamatkan kampung halamannya. Meskipun bagimu ia adalah musuh, dia pantas dihormati bukan?" Farel menyeruput Nusanmie yang ia pesan.


"Aku penasaran, kenapa ia berjuang sejauh itu?" tanya Urfana disela-sela kunyahan.


Urfana dan Valin, menyantap Nusanmie barengan dalam satu mangkok besar.


Eh? Anak sekolahan mana itu?


Wah, siapa itu? Ada cowok ganteng bgt di sekolah kita!


Dia anak Taekwondo? Meskipun dia pakai seragam sekolah tapi ia memakai celana dan sabuk Taekwondo?


"Dia ini, kemana-mana selalu diperhatiin cewek....Aku kan ganteng juga." tercetus kata-kata iri dari mulutnya Keisal.


Melviana mencubit Keisal dengan keras, "Makannya, jangan jadi ketua preman. Gaada yang berani deketin kamu meskipun kamu ganteng."


"Oiya? Terus kenapa cewe ini ga takut sama aku? Aku kan ketua preman?" balas Keisal terhadap Melviana yang mengkritiknya.


Melviana menempelkan kepalannya di dagu Keisal, "Apaan sih, kamu mah satu kali pukul juga keok. Mau aku pukul?"


"Engga ah takut."


Keisal kemudian mengambil sumpit dan mengambil mie dalam mangkok milik Urfana dan Valin dengan jumlah yg cukup banyak.


"Si paling rakus, ngambilnya banyak banget padahal ga bayar." Valin menggebrak meja, ia agak kesal dengan Keisal yang bertindak dengannya."


"Bu! Nambah dua porsi lagi mienya!" kata Urfana.


"Dua ini aku yang bayar, jangan panik. Kita campurin. Melviana sayang, sini yuk! Makan bareng." ucap Keisal.


"Ogah. Mau beli jus depan sekolah, bye."


Gadis itu kemudian mengambil langkah dengan berjalan lebih feminim. Keisal yang melihat itu mimisan karena pesona Melviana yang terkesan menggoda lelaki.


"Huaa, darahnya nyatu sama ke Mie!!" Urfana panik.


"Sialan, jorok. Kau saja yang habiskan dipiring ini. Aku mau ambil yang lagi dibikin!" Valin menjauh dari piring tersebut.


"Eh?! Aku kan cuma mimisan?! Kenapa kalian menjauh!" ujar si paling aneh di antara mereka bertiga.


Bullying beserta kegiatan gelap yang terjadi di sekolah ini sudah tidak ada lagi, semenjak Urfana dinobatkan sebagai raja dari para murid mulai dari angkatan kelas 10 hingga 12 SMK.


Troy-Skusher telah menunaikan janji mereka untuk berhenti memintai dana melalui sekolah dan mulai beralih ke bisnis perbengkelan yang mereka lebarkan sayapnya ke daerah kedudukan Troy-Skusher didaerah Bandung Utara.


Fire Rainbow bar yang terletak di daerah Lembang pun kini tidak menjalani lagi bisnis pertarungan yang diselenggarakan di Skusher-Arena. Arena tersebut kini berubah menjadi lapangan pertandingan basket.


Keisal yang kini menjadi ketua bayangan dari Troy-Skusher menyerahkan segalanya pada Hasan dan Ranggi untuk membawa perubahan yang lebih baik ke gang ini.


Keisal juga ingin menyembuhkan dirinya dari kecanduan narkoba dan sekolah kembali dengan baik.


Namun, tidak semudah itu bagi Keisal untuk menghadapi perubahan. Tidak setelah riwayat sembilan nyawa yang ia renggut masih menghantui dirinya.


"Aku sudah melakukan penyelidikan terkait ketua geng yang disebut Troy-Skusher, 9 pembunuhan, keributan dan vandalisme yang terjadi di kota ini." ucap seorang petugas Inspektur yang berasal dari Badan Kepolisian Kriminal Negara.


Inspektur Heidel Rimmer, dari Badan Kepolisian Kriminal Negara (disingkat BKKN)


BKKN merupakan lembaga yang bekerja dibidang penanggulangan dan penyelidikan yang dikhususkan terhadap kriminal.


Heidel Rimmer, pria dengan jas hitam mewah dan koper hitam yang dijinjing, datang ke sekolah SMK Negeri 2 Ciwalung.

__ADS_1


Keberadaannya di sekolah ini saja memberikan aura yang cukup mencekam bagi Satpam penjaga dan juga para murid yang berkeliaran.


Melviana yang baru saja berjalan ke depan gerbang langsung mengenal bros yang dipasang di kerah jas tersebut.


"Tidak.... Untuk apa pihak BKKN datang kemari?...." wajah gadis itu agak memucat.


Melviana kemudian memutar balik dan menarik Keisal dan membawanya pergi, bersama dengan Hartono yang baru saja memesan pulsa dan belum bayar.


Urfana dan Valin bertanya-tanya mengenai apa yang sedang terjadi. Mereka langsung memakan mienya dengan cepat lalu membayar mie tersebut dan pulsa milik Hartono.


Mereka berdua kemudian mengejar Melviana yang menarik Hartono dan Keisal.


"Psst, ada apa?!" tanya Urfana.


"Ini mungkin karena kejadian Grand Angkasawira kemarin. Kupikir kita sudah menyembunyikannya dengan baik." kata Valin.


"Hei, pura pura ga kenal.....!!" bisik Melviana.


Mereka berlima berjalan cepat


"Urfana, panggil Fadhilah dan suruh ke rumahmu. Kita akan membahas ini dengan serius nanti. Meskipun kita dibawah umur, begitu BKKN mengungkap semuanya dan kita semua akan di penjara dalam waktu yang cukup lama." Melviana kemudian membuka pintu mobil belakangnya dan mendorong Keisal masuk.


Mereka berlima memutuskan untuk berpisah sementara dan pura-pura mengenal.


Valin malah tersenyum di situasi yang gawat ini.


"Hei, Urfan. Kita agak santai aja, lagian dia ga kenal kita." Valin merangkul Urfana.


"Kamu siapa?" tanya Urfana.


Urfana bertindak pura-pura tak kenal, benar-benar berakting seperti tidak kenal. Valin malah mencoba sok akrab, ia sangat mencintai humor gelap dan rasa greget pada detik-detik bahaya.


Langkah-langkah yang diambil oleh sang Inspektur terdengar seperti sepatu kuda.


Sungguh suara yang sangat memancing perhatian dan terdengar asing bagi siapapun yang disana.


"Tidak pernah terpikirkan bahwa kami akan kedatangan tamu dari BKKN, perkenalkan nama saya Ridwan Tanwiro. Walikelas Jurusan Perhotelan."


Ridwan dan Rimmer bersalaman.


"Inspektur Heidel Rimmer dari BKKN. Permisi jika saya datang tanpa ada pemberitahuan, ada hal yang sangat penting yang saya harus periksa. Ini menyangkut beberapa murid yang berkaitan dengan kasus besar. Apa boleh saya bertemu kepala sekolah?"


"Biar saya antar ke ruangan kepala sekolah, beliau pasti senang menyambut Anda tuan."


Inspektur Heidel Rimmer, orang yang bisa mencium bau tikus pada seseorang dan memiliki otak seperti server.


Telah membongkar identitas pelaku kejahatan utama sebanyak 97 kasus sejak pertama berkarir di tahun 2008. Orang yang tak pernah mengambil libur dan bersenang-senang dengan bermain detektif layaknya di film.


Kedatangannya yang mengejutkan kepala sekolah membuatnya merasa bahwa Inspektur Rimmer adalah orang yang benar-benar mencuri oksigen di ruangannya.


"Se.... Selamat sore pak, saya tidak mengira akan kedatangan pihak BKKN ke sekolahan kami. Memangnya sekolah kami berbahaya ya?" Kepala sekolah panik, ia pernah di suap oleh Keisal dalam jumlah yang besar untuk melancarkan praktiknya.


"Anda bapak Yayan Gunawan, kepala sekolah SMK Negeri 2 Ciwalung. Sekolah yang saat ini sedang mengerami telur yang memiliki julukan Jaeger, Killing-Maniac, dan Dark Angel."


"Siapa mereka? Saya tak pernah mendengarnya?" Kepala sekolah, mulai berkeringat.


Bau tikusnya sudah tercium dari tempat Inspektur Rimmer.


Inspektur Rimmer menatap Kepala sekolah dengan serius. Ia tak sekalipun berkedip dalam 10 detik.


Rasa tak nyaman itu membuat Kepala sekolah gemetaran, tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengelabui orang kompeten selevel agen CIA di dunia nyata.

__ADS_1


Rimmer melihat ibu pemilik kantin melewat, "Anu, bisa buatkan kopi hitam untuk saya?" ia memesan kopi hitam, supaya pembicaraan terasa lebih santai.


"Kopi susu! Untuk saya kopi susu!" dengan cepat sang Kepala sekolah menyambung perintah itu.


Mereka berdua kemudian berdiam diri tanpa menukar kata satu sama lain, dengan sabarnya mereka menunggu menu yang sedang di pesan.


3 menit telah berlalu, pesanan mereka berdua telah tiba dan ditaruh di atas meja.


"Saya harap dengan pesanan yang disuguhkan, mampu mencairkan suasana dengan lebih baik dan obrolan ini akan jauh lebih lurus dan tidak menegangkan."


"Anda... Anda boleh melanjutkannya kembali Inspektur."


Sang Inspektur mengambil beberapa dokumen berupa kertas laporan, buku pengamatan sikap kriminal, dan beberapa foto yang diambil dalam TKP tercantum.


"Rahmania Urfana, pembunuh Oktavial Ragania......"


Satu demi satu ia menyusun foto dan mengeluarkan buku catatan yang terdapat informasi mengenai anak-anak itu.


"Keisal Saniswara, ketua geng Troy-Skusher yang membunuh 9 orang. Diduga juga menjalankan bisnis praktek gelap di setiap sekolah yang dikuasai."


Urfana telah bekerja sama dengan Keisal, itulah yang membuat Inspektur ini mulai menelusuri sekolah ini.


Itu semua karena kasus pembantaian yang terjadi di Hotel Grand Angkasawira. Dimana cukup banyak orang yang mati karena dugaan banyak orang bahwa mereka pelakunya. Identitas yang tercatat secara data membuat mereka lebih mudah dicari.


Apa yang sebenarnya Jaeger dan Killing-Maniac lakukan di Hotel itu?


Masih terputar pertanyaan itu di kepalanya. Dan kemudian pria itu mendekatkan foto Urfana dan Keisal, kemudian ia mengelompokkan mereka dan mengeluarkan satu foto lagi yang terpisah dari Urfana dan Keisal.


Foto Liran, yang tidak lebih hanyalah pas foto 3x4 yang ditemukan dalam rumah yang disita pejabat Tsajaka.


"Liran Al-Qaesim, yang satu ini tak ada kaitannya dengan mereka. Tapi kudengar ia adalah buronan seperti Urfana semenjak Natalia Unkulla mati, ia berkeliaran di kota Cimahi berdasarkan informasi para warga yang polisi dapatkan."


Inspektur Rimmer menyeruput kopinya dengan pelan.


"Ia berjalan kesana, dan tak ditemukan lagi petunjuk apapun. Dan ketika ia berada disana, perang terjadi tanpa satupun penjelasan yang dapat disimpulkan dengan baik oleh penduduk lokal. Anak ini adalah prioritas saya sekarang."


Kemudian, Kepala sekolah memberanikan diri untuk bertanya, "Lalu, apa ada yang dapat saya bantu untuk melancarkan penyelidikan Anda?"


Inspektur Rimmer memberikan salah satu kartu tanda pengenalnya pada Kepala sekolah, Yayan Gunawan.


"Hubungi mereka esok hari, tolong. Saya ingin mereka dipanggil sesegera mungkin. Akan lebih baik ketika waktu bersekolah."


Inspektur Rimmer mulai bernafas lebih lama dan lebih santai, ia sedang berusaha fokus untuk mendapatkan sudut padang sikap mereka melalui pengamatan dari informasi dan foto.


"Saya.....adalah Urfana, saya adalah Keisal..."


"Eh, pak Inspektur kenapa? Anda melamun sesuatu ya? Uhuh, akan saya ambilkan cemilan." Kepala sekolah kemudian lari ke ruang guru untuk meminta cemilan.


Inspektur Rimmer memperhatikan foto Urfana dan Keisal bersamaan.


"Saya.....adalah Urfana, saya bekerja sama dengan Keisal demi mencapai tujuan. Dan Saya adalah Keisal, saya bekerja sama dengan Urfana demi mencapai tujuan...."


Inspektur itu menerapkan metode pengungkapan fakta dengan mencoba bertindak dan berpikir seperti mereka berdua.


Saya adalah, Urfana dan Keisal


Inspektur melotot dengan tajam kepada kedua foto dan informasi itu, ia masuk lebih dalam ke alam bawah sadarnya.


Inspektur Rimmer, masuk kedalam mimpi dengan meditasinya untuk membongkar rahasia Urfana dan Keisal.


Nah, katakan padaku. Siapa kalian sebenarnya?

__ADS_1


.......Bersambung.......


...----------------...


__ADS_2