
Setelah Kejadian Beberapa hari kemarin, Delia nampak begitu sedih, entah apa yang di rasakan hatinya, hatinya begitu sakit dengan lontaran perkataan Abay, dengan rayuan, perhatian, beribu maaf, itu tak ada arti bagi Delia.
Delia Memang sulit mengartikan perasaannya sendiri, setiap kali ia memandang Raut muka Sang suami, pasti rasa sakit itu akan tetap menyelimuti hatinya,apakah Delia trouma?
Jawaban nya adalah iya, bagaimana pun Delia sudah mengalami kehidupan yang teramat sulit, bahkan sampai sekarang ia belum menemukan Ibu kandungnya sendiri, sedangkan sang Ayah? Sang ayah Di sekap oleh sang suaminya sendiri, Delia tidak memepersalahakan jika sang ayah di hukum, bahkan dia setuju lantas perbuatan ayahnya yang menghukum keluarga Suaminya sendiri, bahkan bagi Delia hukuman itu kurang untuk sang ayahnya.
Dalam seminggu ini Delia Diam, tidak bicara dengan siapapun,dia mengurung diri di sebuah kamar tamu, ketika waktunya makan, dia akan di suap oleh para OB pekerja rumah, karna ia tidak ingin bertemu dengan Abay, atau siapapun,keluarga abay pun memahami keadaan Delia.
Bohong !! jika ia tidak merindukan pelukan Sang suami di malam hari,Dia sangat merindukan pelukan sang suaminya itu, tapi dia bingung!
__ADS_1
Delia POV
*Aku bosan jika harus berdiam diri, menutup mulutku untuk bicara, tetapi aku bingung apa yang harus aku lakukan? Aku malu, aku malu dengan perbuatan dirikuh sendiri? Tapi aku bingung? Haruskah aku meminta maaf atas semua kesalahan Papakuh? Dan dimana ibuku? Apakah ibukuh tidak menginginkan dirikuh? Apa ibukuh sengaja meninggalkan kuh bersama papa? Apa ibukuh masih hidup? Apa? Apa? Hikss..
Aku merasa hidup di dunia ini tidak ada yang menginginkan dirikuh, kenapa hidupkuh begitu menyakitkan? Kenapa? Dari kecil aku selalu di sakiti? Aku mengingat semua kejadian itu? Aku ingin membenci papa! Tapi papa lah yang memberikuh kehidupan walau dengan kepahitan. Aku juga ingin membenci suamikuh sendiri, tetapi dialah yang menyelamatkankuh dan memberikuh kehidupan baru walau setajam perisai bambu. Lantas apakah aku harus membenci mereka yang telah memberikuh kehidupan walau sesakit ini? Apakah selamanya hidupkuh akan sesakit ini?
Aku tahu betul, jika dia membentaku karna emosional dia? Aku tidak masalah jika aku selalu disakiti, mungkin inilah takdir yang tuhan berikan kepadakuh, Ini jalan hidupkuh yang sangat berliku, inilah hidupkuh yang Sangat pahit dan tajam.
Lantas? Apa aku harus mencari ibu kandungkuh sendiri? Apakah dia masih ada? Apakah ibu menginginkankuh? Apakah dia sudah memiliki keluarga baru yang bahagia? Sehingga melupakan dirikuh? Apa sejahat itu ibukuh? Apakah sejahat itu ibukuh tega berselingkuh dan meninggalkan aku hikss... Ibu macam apa sia itu! Tega meninggalkan sang Putri masih balita, demi sosok lelaki yang baru hikss.. Aku ingin membenci ibukuh juga, tapi dialah yang melahirkan dirikuh hikss..
__ADS_1
Seminggu ini aku mengurung diri Di dalam kamar tamu, aku tidak ingin bertemu dengan siapapun, terkadang aku tidak berselera makan. Suamikuh hanya beberapa kali tapi sering, mengunjungikuh dan beberapa kali pula ia meminta maaf, tapi aku hanya diam dalam seribu kata.
Setelah beberapa kali aku memikirkan hidupkuh yang berliku seperti tikungan tajam berbahaya ini, aku harus bangkit! Aku kuat! Aku harus menepis rasa kesedihan ini secepag mungkin! Aku akan mencari ibu kandungkuh, dan akan aku pastikan sendiri apakah ibukuh akan menerimakuh atau sebaliknya, aku sudah siap apapun resikonya.
Dan aku akan pastikan, aku ingin membalas cinta yang belum sempat aku utarakan, aku akan Meminta maaf atas apa yang telah papakuh perbuat, aku akan melakukannya! Aku kuat.
Malam ini aku sudah mengambil sebuah kesimpulan, Semoga apa yang aku pilih menjadi jalan terbaik untukuh dan yang lainya.
Kemudian aku pergi kekamar mandi, aku basuh mukakuh dengan air wudhu, kemudian aku rentangkan sejadah di arah mentari terbenam, aku tunaikan sholat di malam yang penuh bintang ini, seraya berdoa untuk yang terbaik.
__ADS_1
aku mengambil al-Quran, Kemudian aku membacanya, entah berapa kali aku membacanya hingga aku tertidur di atas sejadah lembut ini*.