
Terlahir di dunia ini bukanlah pilihan kita, melainkan takdir diri kita sendiri. Terlahir di keluarga yang tak di inginkan bukanlah keinginan kita,melainkan takdir penentuan kita. Memiliki orang tua yang tak utuh bukanlah keinginan kita di dunia ini.Di benci, di siksa, di campakan, tak di anggap bukanlah keinginan kita. Jika kita bisa memilih diri kita sendiri untuk lahir kemana? Siapa? Apa latar keluarganya? Pasti semua orang akan memilih keluarga yang kaya raya, harmonis dan memiliki orang tua yang lengkap.
Because life is not a choice, but our own destiny.
******
Kediaman Granvina
"Cepat.Katakan apa yang akan kau tanyakan? apa,tentang Anak jala-ng itu? " ucap Sisi seperti menghina. Dirinya memang membenci Delia, Sisi lah yang memprovokasi Askah agar semakin membenci Delia.
"Tutup mulutmu itu Non Sisi. Putrikuh tidak seperti itu. " Ucap Nona Setia Glen abipurnama. Setia adalah ibu kandung dari Mairah Adnelia.
"Cih! Putrimu? Maksutnya putri yang tak di inginkan itu hah! " Ucap Sisi dengan logat menyeringai.
"Atau Anak haram? " sambungya lagi.
"Tutup mulutmu itu wanita tak bermoral. Putriku bukan anak haram kau cam kan itu!" pertegas Setia dengan emosi yang membara.
Sisi pun enggan menatap muka Setia. Memang Setia saat ini berbeda dengan Setia tang dulu.Dulu Setia wanita yang begitu buriq,kumal,tak memiliki apapun.Berbeda dengan sekarang dirinya menjadi jutawan setelah menikah dengan Glen Abipurnama.
"waktuku tak cukup untuk mendengarkan kau bicara di rumahkuh ini. Jadi cepatlah katakan apa tujuan kau datang kesini? Nona Setia." Tanya Sisi dengan malasnya
"Dimana putrikuh? " tanya Setia .
"ohhh Putrimu,pitrimu sudah terbuang hahahhaha... Kau tau?Nona Setia. Putrimu itu sangat menderita hahah.. Dan aku suka sekali menyiksanya upss.. Mulutku keceplosan. "Sisi menutup mulutnya, seolah-olah merasa bersalah.
Setia mengepalkan kedua tanganya. "Apa maksudmu? Nona Sisi." Gretak Setia dengan gigi geram.
"Aku sungguh takut dengan dirimu Nona Setia. Emm maksudku itu, Putrimu kan putri yang tak di inginkan. Apa salahnya jika aku menyiksanya hahah..? " Sisi tertawa lantang
Berhasil membuat Setia geram.
"Diam. Kau tak tahu apa pun kejadianya. Sekarang ku tanya di mana Suamimu.Nona Setia? "
"Kenapa kau tanyakan Suamikuh? Atau jangan-jangan kau kembali kesini hanya ingin merebut Suamiku lagi seperti dahulu. Wah wah wah,ternyata jiwa pelakor di dirimu itu tak pernah hilang dari SMA dulu ya. " Sindir Sisi.
__ADS_1
"Kau! " Geram Setia. Ingin sekali ia mencakar muka Tante girang ini. Tuduhan Sisi begitu salah padanya, dirinya tak pernah menjadi pelakor seumur hidupnya.
"Nona Setia. Silahkan kau angkat kaki dari rumahkuh! Sebelum kekasaran dirikuh menyakitimu. " Usir Sisi sembari menatap jengkel kearah Setia.
"Sebelum kau usir, aku sendiri yang ingin angkat kaki dari rumah sumpek mu ini. " Setia sengaja kembali menyindir Sisi. Karena dirinya kini bukanlah Setia yang dulu. Setia yang kalem, lemah lembut itu sudah mati.
"Jaga ucapanmu Nona Setia. "
"Aku permisi. " Setia meninggalkan kediaman Granvina.
Bagi Setia. Kediaman Granvina adalah tempat neraka yang pernah ia rasakan selama 13 tahun lamanya. Kediaman yang menyesatkan bagi dirinya sendiri. Jika dilihat di setiap sisi sudut rumah ini tersimpan rasa sakit hati yang bisa membuatnya gila jika di pikirkan lagi.
Dirinya tahu persis jika putrinya di perlakukan seperti dirinya dahulu. Ingin sekali ia merebut Delia dari siksaan mantan suaminya Askha.Namun, takdir memiliki kenyataan, untuk merebut anaknya bukanlah perkara yang mudah, memangnya dirinya dulu punya uang?.Dari itulah Setia memutuskan dirinya untuk pergi bersama Glen keluar negri.
*******
Di sisi lain. Keluarga Chandragunah sedang menonton televisi bersama. Bukan film yang romantis, bukan pula film indonesia, melainkan film India leca leca nehi nehi. Jika di keluarga miliarned lainya memilih untuk tidak bergaul dengan dunia film, atau kegiatan menonton televisi di rumah melainkan sibuk beraktivitas berpolitik.Sedangkan keluarga ini sangatlah aneh, mereka lebih memilih menonton bersama di depan televisi, merentangkan karpet berbulu, menyiapkan beberapa bantal untuk tiduran, tak lupa cemilan olahan rumahan. Mereka berbaris seperti ikan sarden di depan televisi.
Kebetulan Abay dan Delia sudah pulang sejam yang lalu. Mereka juga ikut adil dalam menonton ala bioskop di rumah ini bersama keluarganya yang aneh ini.
"Mantu Mama yang tersayang. Ayo ikut mama ke kamar dulu. " Ajak kiran di sela-sela persiapan untuk menonton Serial Bioskop ala rumahan.
"Sebentar Mama pinjem sebentar gaa lama." Ucapnya sambil merangkul Mantu kesayanganya untuk berjalan menuju kamarnya. Entahlah Mama Kiran Memiliki ide apa. Abay hanya menatap istrinya yang sudah menjauhi area ruang keluarga.
"Abay. Ayolah bantuin papi mengangkat meja ini kesana. " ucap Papa Hendra.Memang malam ini akan menjadi malam bersejarah. Mereka akan menonton Bioskop ala rumahan film Leca leca nehi nehi.
"Siap pa.. " Abay dan hendra sibuk memindahkan meja dan sofa kesebrang sana. Karena mereka akan membentang Karpet empuk disini.
Kakek Adi sibuk mendekor televisi yang akan mereka tonton nanti. Kakek Adi ingin jika mereka menonton film kelak akan menjadi Suasana india yang sebenarnya walau bukan nyata.Ya, walaupun kakek Adi mendekornya seperti anak SD, tapi sudah cukup untuk menambah kesan abstrud mereka untuk malam kelak.
"Baiklah sudah selesai. Kita cek dulu oke. Meja sudah di pindahkan📝Karpet sudah📝Bantal sudah📝Selimut sudah📝Cemilan sedang di proses📝Dekor tv sudah📝karpet yang empuk iya, sudah📝 terus... " Kakek Adi sedang mengecek catatannya. Memang kebiasaan dirinya, setiap mengadakan sesuatu pasti dirinya akan mencatat segala yang akan dilakukan. Katanya biar tidak ada yang ketinggalan.
"Teruss.. Kostummm..." Sambung Mama Kiran Dan Delia yang sedang menenteng pakaian india di tanganya.
Semua mata beralih ke arah Sumber suara. Bagaimana tidak jadi pusat perhatian. jika mereka melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa baju india yang di bawa mereka begitu aneh.
__ADS_1
"Ma. Mama tidak bercanda kan. " tanya Papa Hendra. Matanya tak lepas dari baju yang di tenteng oleh dua wanita cantik itu. Kiran hanya senyum-senyum.
Kakek Adi Dan Abay menepuk jidat mereka sendiri. Mereka sudah membayangkan jika mereka memakai baju itu sangatlah risih, Panas, hareudangggggg...... entahlah apa saja yang ada di pikiran mereka saat ini.
"Sudah-sudah, Kita membersihkan diri dulu untuk sholat maghrib. " Ucap Kakek Adi memecahkan kebingungan ini.
"Baiklah kek. Tapi setelah itu kalian pakai baju kurta dan dhoti ini. " Ucap Delia semangat 45.
Papa Hendra, kakek Adi dan Tuan ferguso menggelengkan kepala sembari melongo memandangi kurta dan Dhoti yang di pegang oleh Mama kiran dan Delia.
"Pa. Kek. Kita harus melarikan diri. Satu.. Dua.. " ucap abay, sambil berucap memberikan aba-aba untuk pergi ke kamar mandi mereka masing-masing.
"Tiga. " ucap kompak mereka bertiga,setelah itu mereka berlari berpencar,berlari kesana kemari.untuk menghindari keinginan kedua wanita cantik itu.
"Heiii...jangan kabur kalian." teriak Mama Kiran sambil berlari untuk menangkap suaminya. tapi dirinya terlambat saat suaminya mengunci pintu dapur.
"paa.kek,Mas Abay,kalian jangan kabur. pokonya malam ini kita akan menonton khas India titik tidak pakai koma.kalian harus nurut." teriak Delia di ruang tamu.berhasil mengundang tawa bagi Bik Ninik,bik Ija,pak juu dan Mang ujang.
************
hai readers 🍭
tetap suport author ya gaiss😍😍
tinggalin jejak kalian agar author semakin bersemangat untuk menulis karya ini 🙏
like
like
like
koment
koment
__ADS_1
koment
see you 😍😍😍😍😍