
Pagi itu, Abay melakukan Meeting dengan Tuan Abraham, saat mulai pembangunan Prooyek baru di bidang IT Akbar selalu di sungguhi dengan kesibukan yang extra dari biasanya. Tentu saja Meeting yang di lakukan tidak bisa di wakilkan oleh sekretaris Marco.
Sebelum melakukan Meeting Abay dan Marco di hebohkan dengan karyawan baru, yaitu pengganti Staf HRD yang lama. Staf HRD yang baru itu bernama Kei Karunisa, Kei membuat masalah yang rumit saat mengatur pengelolahan lapangan kerja di proyek baru. Pago yang rumit bagi Abay.
Setelah selesai mengurus kesalah pahaman pagi ini dan juga melakukan Meeting, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 11 siang.Abay dan Marco kembali kedalam ruangan mereka untuk beristirahat. Apalagi sekretaris Rena sudah mengundurkan diri beberapa hari yang lalu. Pekerjaan mereka semakin menumpuk.
"Apa? CCTV nya belum selesai? " Teriak tuan ferguso saat mengetahui CCTV yang di perbaiki oleh Viie belum kelar.
"Ya gitu. " Ucap Marco cuek bebek.
"Gue gaa tau pokonya CCTV itu harus selesai dalam minggu ini, kalau tidak-. " Ucap Abay yang terpotong dengan ucapan Marco.
"Kalau tidak kalaian semua akan saya bunuh, semua fasilitas saya tarik. " Sambung Marco, sedikit menuruti logat Ancaman bos kita ferguso.
"Baguss.Cepat selesaikan. " Ucap Abay tanpa menghiraukan Marco lagi, tangannya sibuk menari di atas keyboard.
"Ya ya ya. Oh yaa bro kata lu Delia hamil? Tapi lu masih ragu? Gaa salah? " Tanya Marco bingung, memang sejak kemarin Marco ingin menanyakan hal ini kepada bosnya.
"Hemm.. " Ucap Abay, masih fokus dengan lapton di hadapanya.
"Wah, lu gaa bisa kek gitu bro,Kalau lu cinta ama tu Delia, gaa mungkin lu gaa percaya ama dia, kalau lu gaa percaya ama dia, berarti lu gaa cinta ama Delia. Wah gaa bener ni makhluk sebuah ni bla bla.. " Marco mengoceh terus, seola dialah pakar cinta sesungguhnya.
"Sudah? "
"Apanya yang sudah? "
"Bacod nya? "
"Gila lu ya bos, menatang gue zomblo ganteng ini di anggap bacod, heii! Gue lebih paham dalam urusan cinta mencintai. " Ucap Marco yang hanya di abaikan oleh tuan ferguso.
"Entar nyesel lu bos, ******. " Batin Marco mengumpat Bos nya ini.
__ADS_1
"Lah terus? langkah lu menangani ketidak percayaan lu tentang anak itu gimana? " Tanya Marco serius.
Marco masih memikirkan tentang perasaan Delia, jika Delia mengetahui kalau suaminya membohonginya. Tak terbayang oleh Marco apa yang akan terjadi jika Delia mengetahui kebohongan suaminya. Apalagi jika itu bukan anak bosnya, mungkin bosnya tak segan-segan untuk membunhnya. Egois? Memang lah egois tuan ferguso itu.
"Langkah apanya? " tanya Abay ulang.
"Ya langkah lu Lah, semisal itu anak lu, lu mau apain? Semisal itu bukan Anak lu? Lu mau apain? " Tanya Marco Serius, sekaligus kepo.
"Kalah itu Anak gue,Tentu gue terima dengan lapang dada kehadiranya lah. " Ucap Abay.
"Kalau bukan darah daging lu? Lu mau apain? Jangan berbuat egois bos entar nyesal. "
"Tentu saja, gue akan menggugurkan Anak itu, tanpa Sepengetahuan istriku. " Ucap Abay kepada Marco.
"Lu gila ya boss, egois bener, anak itu gaa berdosa. Dan lu? Ahhh sudahlah males gue dengar ucapan bos kek lu! GAA punya hati nurani! " Ucap Marco Kesal.
Brug...
"Itu suara apa? " Tanya Marco, Abay hanya mengangkat bahunya tanda tak peduli. Sedangkan matanya fokus melihat jam karena sudah memasuki waktu makan siang.
"Kok Delia belum datang ya,gaa biasanya istriku telat. " Batin Abay sambil melirik jam tanganya lagi.
"BOS. " Teriak Marco di depan pintu, saat melihat kotak nasi yang sudah berhambutan di lantai serta ponsel bermika pink yang Marco pikir itu handpone milik Delia.
Abay mengunjungi Marco yang kelihatan Panik. "Apa? " Tanya Abay kepada Marco.
"Itu. " Tunjuk Marco ke kotak nasi dan ponsel yang tergeletak di lantai.
"Kenapa bisa seperti ini, ini kan ponsel milik istriku. " Ucap Abay yang mulai panik. "Atau jangan-jangan?Gaa ini gaa boleh terjadi. " Ucapnya yang semakin panik
"Jangan-jangan Istri lu dengar apa yang kita katakan tadi. Tuh kan nyesel lu. Mending lu cari istri lu. " Ucap Marco sembari menatap kepanikan raut wajah bosnya itu.
__ADS_1
Tanpa membalas ucapan Marco, Segera Abay berlari memasuki Lip, kemudian bertanya pada salah satu staf kantor mereka
"Kalian Lihat istrikuh? " Tanya Abay Panik
"Iya tuan, tadi kami melihat Nyonya berlari sambil menangis. " Ucap karyawan A
Di sisi lain, tepatnya di sudut tangga ada seorang wanita yang menyaksikan kepanikan Targetnya. "Bagus. Tanpa mengotori tangan dan mulutkuh semuanya berjalan mulus. " ucap Kei menyeringai.
Abay berlari keluar kantornya.Tujuanya saat ini adalah untuk mencari keberadaan istrinya itu. Abay yakin jika Delia istrinya tadi mendengar ucapanya dengan Marco. Beribu umpatan yang di layangkan Abay pada dirinya sendiri.
segera Abay menaiki mobil lomborgini miliknya. Kemudian mempacuhkan gas memcahkan jalanan aspal di siang hari ini. Dirinya melupakan bahwa ia belum makan siang hari ini.
"Sayang kamu diamana? Kumohon jangan salah paham " Gumam Abay, matanya terus menengok kiri dan kanan jalanan di dekat kantornya penuh harapan tentamg keberadaan istrinya.
"Sayang, jangan buat mas panik. Kamu diamana. " Teriak Abay frustasi karena dirinya sudah mengelilingi kota metropolitan hampir 3 jam lebih.
**********
Saat ini Delia berada di suatu desa. Dirinya pun tak tahu desa apa ini. Yang jelas dia meminta kepada supir taxinya untuk mengantarkanya jauh dari kota pencakar gedung ini.
Kakinya terus berjalan tak tahu Arah dan tujuan,Separuh orang mengatai dirinya orang gila. Tapi dia tak peduli dengan ucapan orang atau pun dengan penampilanya yang persis dengan gelandangan.
"kenapa nasib kita sama nak? Nasib kita sama sama tidak di inginkan.kenapa tidak aku saja. Jangan anaku ya tuhan. Kenapa dunia ini tidak adil sekali untuk diriku ini. " gumam Delia sambil berderai air matanya. Tanganya terus memegang perutnya yang terasa nyeri.
"Papamu sendiri sudah berencana untuk membunuhmu, kenapa dia bohongi mama nak, kenapa? Kenapa hikss.. Cinta yang di berikanya selama ini apa? Apa itu sandiwara? Kenapa semuanya jadi seperti ini ya tuhan? Hikss..hikss "
Delia merintih saat perutnya serasa di tusuk oleh pisau. Kakinya seakan rapuh ingin patah saat ini juga, hatinya sangat sakit saat mengingat ucapan suaminya.
Brug..
Delia tersungkur di pinggiran jalan yang sepi. Matanya terpejam merasakan hari yang begitu sakit yang pernah ia rasakan. Untuk kesekian kalinya ia merasakan sakit yang teramat sakit saat orang di sekitarnya tak mengharapkan kehadiranya. Memang bukan kehadiran dirinya, tapi kehadiran anaknya. Tapi, jika suaminya sendiri sudah berencana akan membunuh anak yang ada di dalam kandunganya ini, itu sama saja jika suaminya ingin membunuh dirinya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalean gaissšā¤