
Prangggg.....
Mangkuk yang berisi Sup Ayah Panas itu, pecah berhamburan di lantai.Kuah panas sup sedikit melukai kaki Delia. Tapi dirinya tak merasaka sakit, matanya fokus menatap banyak pasang mata yang menatapnya. "Ka-lian? Ma-s Ab-ay? Kenapa kalian a-da di-sini? "
Delia semakin mati kutu di buatnya, kenapa suaminya bisa ada di tempat ini bersama Jey, Joy, dan siapa dua orang asing itu?
Perlahan tapi pasti semua orang meninggalkan ruang dapur tersebut. Tinggalah Abay dan Delia saja di dalam ruangan dapur ini.Abay tak bergeming sama sekali, Matanya fokus menatap seseorang yang telah membuatnya gila dalam kurun waktu 2 bulan lebih. Delia tak berani menatatap mata elang milik Abay, ia terus menunduk seraya berdoa, demi keselamatan dia dan anaknya kelak.
"Tolong per-gilah, " Ucap Delia gemetar, tanganya melintir baju bagian bawah miliknya. "Men-jauhlah." Sambungnya, saat ia merasakan suaminya Abay sudah ada di hadapanya saat ini.
Abay tak bergeming sama sekali. Matanya terus menatap Delia dari atas hingga bawah. Hal itulah yang ia lakukan. Tak banyak kata yang bisa Abay ucapkan, dia bukan tipe orang yang pandai merayu, apalagi membujuk seseorang wanita. Itu bukan kepandainya.Delia semakin gemetar, mukanya mulai memucat, ingin sekali Delia berlari saat ini juga, tapi itu tidak bisa ia lakukan.
Tak ingin berlama-lama, Dengan cepat Abay menggendong tubuh mungil Istrinya yang mulai berisi itu.Delia Sangat terkejut saat dirinya terasa melayang di udara.
"Lepaskan Aku!, Joy.. Jeyy.. Tolong Kakak. Kenapa kalian meninggalkan Kakak. Dia lelaki yang jahat. Heyyy... Lepaskan aku.. Hiksss.. Hikss.. Tolong jangan sakiti kami. " Delia meronta saat Abay menggendong tubuhnya, tapi tenaganya kalah jauh dari tenaga Aironman ini. Alhasil Delia pasrah saja. Mungkin hari ini dia akan mati bersama anaknya.
Perlahan Abay memasangkn seatbelt untuk istrinya. Sekilas pandangan mereka bertemu, tapi itu tidak bertahan lama, karena Delia menundukan kepalanya seraya meneteskan air mata.Tak ada sepatah kata yang telontar dari mulut pria Arogan ini, jangankan bicara, Senyun saja dia tidak.
__ADS_1
Mobil Milik Abay berjalan mencari Hotel Bintang lima terdekat, yang ada di negara Australia ini. Saat mereka sampai di sebuah Hotel bintang lima. Abay tak perlu lagi memesan kamar. Sepertinya Tuan Arogan ini bekerjasama dengan pemilik Hotel ini. Itulah sebabnya ia langsung di sediakan kamar VVIP kelas atas. Delia tak memikirkan hal itu, yang ada di otaknya saat ini adalah bagaimana caranya ia bisa bebas dari cengkraman lelaki ini, yang akan membunuh mereka kelak.
Abay tak melepaskan genggaman tanganya di tangan kanan milik Delia, sehingga tangan mereka basah oleh keringat mereka berdua.Delia pasrah, mungkin hari ini, hari terakhir untuk mengirup udara segar di muka Bumi yang tak pernah bersahabat olehnya. Nyatanya, dimanapun ia berkelana, pasti ia akan merasakan sakit itu lagi. Mungkin disinilah hari terakhir ia hidup di Dunia yang begitu keras,pikirnya.Di negeri orang.
"Masuk. " Sepatah kata yang baru Abay ucapkan sejak awal pertemuan mereka sendari tadi.Delia yang begitu pasrah pun mengikuti perintah malaikat pencabut nyawa ini.Ia memasuki kamar Hotel yang sangat mewah."Miris sekali. Sebelum aku pergi. Aku sudah di sungguhi kamar hotel yang begitu mewah. " batinya, Sambil tersenyum devil.
Abay menutup pintu kamar Hotel ini. Kakinya terus melangkah untuk menggapai sang istri yang sedang berdiri kikuk di dekat sofa. Wanita yang sudah membuatanya gila bebrapa bulan ini, sekarang sudah ada di hadapanya.Ingin sekali ia menangis saat ini juga, tapi bukan itu caranya, ia akan tetap bersikap Arogan untuk memikat hati istrinya lagi.
langkah demi langkah, Abay terus berjalan sambil menatap tajam ke arah mimik muka Delia. Delia semakin bergetar, tubuhnya panas dingin, Tapi ia sudah pasrah, ia memajamkan mata saat tubuh kekar suaminya telah berdiri tegap di hadapanya. Segaris senyuman Abay lemparkan saat melihat muka imut istrinya itu. Nampak sekali di mata Abay, jika istrinya itu ketakutan.
Kedua tanganya ia ulurkan untuk memeluk wanita yang ia ridukan selama ini. Delia yang tadinya memejamkan mata, sekarang ia membulatkan mata saat ia rasakan ada sebuah pelukan hangat yang ia rindukan selama ini. Ada rasa nyaman yang Delia rasakan. Tapi segera ia tepis perasaan itu. "Lepas! Jangan membuang waktumu hanya untuk membunuh kami." ucapnya sambil mendorong tubuh kekar sang suami, tapi itu sia-sia, toh kekuatan Delia berbanding terbalik dengan kekuatan Abay. "Lepaskan akuu.. Hikss.. Jika kau ingin membunuh kami, bunuh sekarang! Jangan buang waktuku untuk bersedih! Lakukan S-" Ucapnya sambil memukul Dada bidang suaminya menggunakan kedua tanganya. Ucapan Delia langsung terpotong oleh bungkaman Abay.
Cup
Cupp
"Jangan katakan itu lagi,Atau aku akan menghukumu lagi. " Ucap Abay dingin, Namun bisa menghipnotis Delia menjadi tenang dengan seribu bahasa. "Jangan mencoba lari lagi.Dimanapun kau berada, aku selalu mendapatkanmu. " Sambungnya, sambil mengelap sudut bibir Delia yang basah akibat perlakuanya tadi.
__ADS_1
Delia membulatkan kedua matanya.Kejutan apa lagi ini? , benarkah seperti ini? , ingin sekali Delia terbang saat ini juga, tapi ia masih mengingat perkataan suaminya dahulu, yang ingin membunuh calon anaknya. "Bunuhlah-"
Cupp
Lagi lagi Delia tak bisa berbicara, kali ini, Abay melakukanya dengan sangat lembut, Delia yang terbuai mulai mengikuti permainan Suaminya itu, Abay menuntun Delia untuk duduk di sofa, Karena ia tahu bahwa tubuh istrinya itu akan melemah saat ia melakukan serangan seperti ini. Lama mereka melakukanya. Aksi mereka terhenti ketika mereka kehabisan nafas.
"sayang.kau salah paham, Kau tahu aku cemburu padamu, aku memang salah tapi aku melakukanya karena aku mencintaimu, Sayang." Abay menuntun kedua tangan Delia untuk menyentuh dadanya, agar Delia dapat merasakan detak jantungya. "Kau tahu sayang?, Sakitnya hatiku ini disini. Hatiku begitu hancur, saat kau bersamanya di suatu kamar berdua saja. Hatiku terluka.Sayang. " Ucapnya sambil menitihkan air mata.Delia tak bisa menahan diri lagi, ia ikut menagis saat pengungkapan Abay yang begitu lembut dan dingin, terbelum lagi, ia bisa merasakan detak jantung Abay yang begitu cepat dari biasanya.
"Maafkan Mas Sayang.Jangan pernah tinggalkan Mas lagi.Kau tahu? Mas seperti kehilangan raga tanpamu,
mas persis sekali seperti mayat hidup, hari-hari Mas begitu hampa tanpamu. " Abay mengelus perut Delia yang mulai menonjol. " Anaku... Maafkan Papa Nak. Papa ngaku salah. " Abay mencium Perut Delia dengan penuh kasih sayang. Delia pun bisa merasakan ketulusan suaminya ini.
"Sayang.Marahi Mas, Mas wajar mendapatkan semua Amarahmu. Kau boleh bertindak apapun kepada Mas. Tapi jangan pernah tinggalkan Mas lagi. Sayang. " Delia tak bisa memafkan dengan begitu mudah. Ia belum sepenuhnya percaya kepada suaminya ini.
"Aku tahu.Ternyata Sekenario Tuhan itu jauhh di luar ekspetasi ku.Aku pikir kau akan membunuh kami.Aku tahu, ini sebuah kesalah pahaman. Tapi aku belum bisa memafkanmu.Beri aku waktu,Salah kau sendiri, ketika aku mulai mencintaimu dengan tulus,kau tega memberikan goresan di hatiku. Goresan itu belum sepenuhnya hilang.Dan mungkin itu akan membekas."
"... "
__ADS_1
Nungguin yaa?? Pal balee pal balee.. Pal bale pal balee baleee
Maaf baru bisa up gaiss.. Author baru sehat😗😗 tetap suport author gais💖