
Setelah beberapa minggu, Delia melahirkan kedua putranya. Sekarang kondisi Delia kembali fit seperti biasanya, hanya saja ia sudah di sibukan mengurus kedua twins baby yang sedikit rewel. Sedangkan Abay, tuan ferguso itu nampak membagi waktu antara keluarga dan kantor, tapi tetap saja ia harus konsisten untuk mengatur dan membimbing perusahaan dari compang camping masalah perusahaan, sebagai kepala keluarga dan juga sebagai Bos di Group Chandragunah, ia harus memiliki jiwa yang begitu tegar dalam memecahkan masalah, tentu juga konsisten dalam membagi waktu. Bahkan ia berencana akan melepaskan Askah Granvina. Bagaimanapun Askah adalah Papa Meta.
Melepaskan Askah, bukan cuma-cuma saja, ia sudah memiliki konsekuensi untuk Askah ketika telah di keluarkan dari jeruji besi di suatu pulau kematian. Bahkan perusahaan Granvina Group telah lama mati dan lenyap. Sebagai makkluk sosial, tentu saja Abay merasakan apa yang di rasakan Meta. Meta tetaplah seorang anak yang ingin di dampingi oleh kedua orang tuanya ketika menikah. Abay tak ingin, pernikahan menyedihkan terjadi lagi kepada Meta. Cukup dirinya saja dan Delia yang merasakan pernikahan paling buruk di Dunia ini. Abay hanya bisa melepaskan Askah tidak untuk melepaskan Sisi, karena Sisi memiliki masalah tentang pelanggaran UU, jadi Sisi tanggung jawab Negara, bukan tanggung jawab Abay.
Rabu kemarin, Askah di jemput oleh anggota Golpateng untuk kekediaman Chandragunah. Meta dan Delia menantikan kedatangan Askah dengan perasaan getir. Askah bukanlah Askah yang dulu. Bukan Askah yang bertubuh kekar penuh pesona. Sekarang dia berbanding 100% dari dahulu, badanya kecil,muka nya keriput, senyumannya hilang. Jiwa kepemimpinannya tak ada lagi.
Miris sekali nasif Askah. Mungkin ini lah hukum karma, apa yang kita perbuat hari ini, pasti akan terjadi di hari esok pada kita. Jadi berlaku baiklah kepada siapapun. Jangan pernah menghukum orang melebihi hukum tuhan yang maha kuasa. Karena hukum karma itu benar adanya, mungkin bukan hari ini, mungkin hari esok karma itu datang.
"Papa. " Seucap kata yang keluar dari bibir tipis milik Meta, setu kata penuh makna dan penekanan. Askah melihat putri emasnya, kemudian beralih ke Delia yang menggedong dua bayi di pangkuanya. Hati Askah berdesir,terbelum lagi dia melihat orang tua kandung Delia ada di sebelah suami Delia. Hatinya semakin ciut, Melihat semua orang bahagia bersama keluarganga, Askah menjadi tahu, apa Arti keluarga sebenarnya. Keluarga adalah tempat ternyaman untuk kita kembali, Keluarga adalah tempat kita berlindung, tempat kita berkumpul, tempat kita merayakan sesuatu bersama. Tak hanya itu, Keluarga adalah harta kekal, harta yang tak bisa di pinjam atau di tukar dengan sejumlah nominal uang, harta yang bernilai melebihi mata uang negara.
"Papa.. " Meta berlari memeluk sang Papa yang telah ia rindukan. Askah dengan senang hati memeluk putri tercintanya itu. "Papa, kau jahat! " Meta benci dengan kelakuan papanya, tapi ia tak ingin membenci papa yang mengajarinya cinta untuknya.
"Maafkan Pa-pa. " Suara serak milik Askah, berhasil menghipnotis semua orang, terutama Toni yang sedang duduk di sebelah Abay. "Ma-afkan Papa, Maa-fkan Papa, yang sangat buruk hati ini. " Setetes cairan bening membasahi pipi Askah yang terlihat mulai keriput. "Sutt... Cukup, Papa. Meta hanya ingin Papa kembali dengan hati yang baru. Me-ta, Me-ta. " Ucapnya terbata bata, air matanya terus mengalir. "Meta, Merindukan papa, papa tahu, Meta seorang diri di dunia ini, tanpa papa. Hikss... PAPA.. " sambung Meta.. Di ujung kalimatnya ia menekankan kalimat PAPA. Semua orang menitihkan air mata, ikut hanyut kedalam suasana hati Meta.
Kedua tangan Askah bergetar, perlahan ia mengusap air mata putrinya sembari bergetar. Ia tak tahu apa yang telah terjadi pada putrinya. Tapi ia mengetahui sifat asli istrinya Sisi. Mungkin ini karma kedua untuk Askah. Karma keduanya yang melibatkan putri kesayanganya sendiri, karena ia dahulu memisahkan Anak Setia dari keluarga yang hangat ini. Lagi dan lagi, Askah menyesali perbuatan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis, putri papa. Sekarang papa Ada bersamamu. " Lama mereka melepaskan rindu. Sedangkan Glen pindah posisi duduk di sebelah putrinya, dan di sisi kiri ada Joy dan Jey. Glen terus mengusap rambut Delia. Sesekali ia mengajak bercanda twins baby.
********
Keesokan harinya. Askah enggan untuk keluar dari kamar tamu yang di persiapkan oleh Keluarga Chandragunah, Askah merasa ta enak hati, ketika ia mengingat kejahatan yang di lakukannya di masa lampau. Rasanya ia tak sanggup untuk menatap muka Delia.
Tokk.. Tokk..
Mau tak mau Askah berjalan menuju pintu, ketika mendengar gedoran pintu di sela ketidak enakan hatinya. Ketika pintu terbuka, betapa kagetnya Askah. "De-lia? " Askah kaget bukan main, rasanya ia ingin lari dari kamar ini.
Delia duduk di sofa, diikuti oleh Askah. Askah semakin merasa bersalah, ketika melihat senyum Delia. Hatinya sakit sekali. Entah angin mana yang membawa Askah untuk sujud di kaki Delia. Membuat Delia terkejut. "Om, jangan lakukan itu. Kumohon, " Askah semakin sedih. Apa tadi om? Bukan papa lagi?. Hatinya ciut, saat mendengar panggilan om.
"Tidak, maafkan Papa Delia. Maafkan papa yang sudah menghancurkan kehidupanmu. " Askah bersujud di kaki Delia, sambil menanagis, ia merasa menyesal sekali. Kali ini permintaannya tulus tanpa ada rasa kebencian lagi. Delia mengangkat kedua bahu Askah agar berhenti bersujud di kakiinya. "Om, aku sudah memafkan om. Semua sudah terjadi. Biarlah semuanya menjadikan pelajaran untuk kita semua. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Dan semua kesalahan itu akan di maafkan jika kita benar sudah bertoubat, aku sudah memafkan om sejak lama. "
"Maafkan Papa. Delia. "
__ADS_1
"Iya om. Delia sudah memafkan om. "
"Terimakasih Delia. Apakah Papa boleh memelukmu Untuk pertama dan terkahir kalinya? " Permintaan pertama Askah dan terakhir.Nyatanya, Askah tak pernah memeluk Delia sekalipun itu.
Delia menganggukan kepala. Dengan cepat Askah memeluk tubuh Delia dengan perasaan haru. Delia membalasnya dengan ketulusan. Delia memang wanita yang rendah hati.Namun Delia tak ingin lama-lama berada dalam situasi ini.
"Om. Aku harus mengganti popok Dalfa dan Dalfi. " Ucapnya, kemudian berdiri. Askah hanya melihat punggung Delia yang semakin jauh. Ada rasa lega yang ia dapatkan, ketika meminta maaf kepada Delia.
Inilah pelajaran untuk kita semua. Jangan pernah melukai hati seseorang, baik fisik atau raga, janganlah sesekali melakukanya. Karena suatu saat kelak, pasti kita akan mendapatkan balasan yang setimpal. Berbuat baiklah kesemua orang, bertutur lembutlah kesemua orang, agar orang mendekatimu. Jaga lah tata krama di hadapan orang yang lebih tua dadi kita. Pandanglah orang lain dengan penuh penafsiran. Jika ia lebih tua dari kita, hargai dan hormari dia seperti kita menghormati kedua orang tua kita, jika dia lebih muda dari kita, pandanglah dia seperti kita memandang adik kandung kita sendiri. So, kita sama-sama makhluk Sosial.
Halloo gaiss🤗🤗
Bagaimana Pendapat kalian tentang part ini??
Yukkk mampir ke cerita author yang bikin kalian jingkrak jingkrak gaa karuan. Ayolah gaiss.. Judulnya, Untukmu Dave, Mr. Chef. sekaligus olahraga mulut heheheh😂
__ADS_1